
"Fill, sarapan udah gue buatin di apartemen," ucap Rangga yang sudah berada didalam apartemen Filla.
Filla menoleh sebentar, "Hem," Filla kembali sibuk didepan wastafel cuci piringnya.
"Ngapain sih? Cepetan atau gue makan sarapan duluan," ucap Rangga.
Filla menoleh dan menghentakan kakinya, "Sewot mulu sih Ngga, nggak bisa santai aja kalau ngomong? Lama-lama gue juga nggak betah!" bentak Filla lalu meninggalkan Rangga dan masuk kedalam kamarnya.
Rangga diam melihat tingkah Filla, "Dateng bulan," ucap Rangga pelan sambil mengangguk, meyakini tebakannya.
Rangga berjalan kearah wastafel dan melihat genangan air penuh disana, Rangga menggeleng, ia yakini tadi Filla pasti ingin membenarkannya.
Filla keluar dari kamar dengan setelan kampusnya, "Ngapain masih disini?" tanyanya kesal karena Rangga masih berada di apartemennya.
Rangga tak menjawab dan memilih melanjutkan membenarkan wastafel.
"Nggak usah, entar gue panggil tukang."
"Ngabisin duit, emamg lo punya duit?" ucap Rangga dengan nada meledek.
Filla dengan kesal menarik Rangga keluar dari apartemennya.
"Kenapa sih? Ditolongin bukannya terimakasih!" bentak Rangga kasar.
"Gue bukan gelandangan paham, lo pikir didunia ini cuma lo yang bisa seenaknya bersikap sama orang lain? Terserah gue mau pakai duit gue buat apa, gue nggak pernah minta duit lo!" Filla membanting pintu keras membuat Rangga terperajat.
******
Filla duduk dikursi dekat taman kampus, mata kuliah pertamanya sudah selesai dan 30 menit lagi lanjut mata kuliah kedua.
Filla memakai headsetnya dan mulai membaca beberapa buku desainer terkenal yang ia beli beberapa minggu lalu. Sesekali ia bersenandung mengikuti alunan musik yang ia dengar.
Kotak bekal tiba-tiba berada di pangkuan Filla, Filla mendonggak, lalu mengerutkan keningnya.
"Sarapan, lo nggak sempet sarapan tadi, gue juga nggak bisa ngabisin makanan sebanyak itu," ucap Rangga yang sudah menempatkan diri disebelah Filla.
Filla mengangguk lalu kembali menatap desain-desain baju yang akan membantu tugas kuliahnya nanti.
"Lo lagi datang bulan?" tanya Rangga santai.
Filla menoleh lalu kembali menatap buku yang ia pegang, "Hmmm," ucapnya malas.
"Pantesan," celetuk Rangga.
__ADS_1
"Apaan?" tanya Filla penasaran, ia sudah menutup bukunya dan menatap Rangga meminta penjelasan.
"Ia pantesan kayak singa," ucap Rangga sambil menyenderkan punggungnya kesenderan Kursi.
Filla menatap malas, "Resek, nih makanannya kasih ke Vebi aja, gue dah sarapan," Filla berjalan meninggalkan Rangga.
Sikap ini yang bakal bikin gue berharap, batin Filla saat ia berjalan meninggalkan Rangga.
Filla masuk kedalam kelas dan dududuk disalah satu bangku di bagian tengah saat ia melihat Reya yang sudah melambaikan tangan semangat padanya.
"Lo kemaren kemana ayo?" tanya Reya sambil menunjuk Filla dan tersenyum mengejek.
Filla mendudukan diri disebelah Reya, "Ke Mal," jawab Filla singkat sambil mengeluarkan laptop dan bukunya diatas meja.
Reya menyenggol bahu Filla, "Nggak bisa apa kalau gue nanya jawabnya punya ekspresi gitu, garing gue becanda sama lo." celetuk Reya.
Filla tertawa, "Lonya kepo," Filla membuka laptopnya.
"Siapa yang kemaren? Gila gue pikir Rangga adalah satu-satunya pria tampan dalam hidup lo, ternyata Rangga mah kalah," ucap Reya yang mulai semangat kembali.
Filla mengetuk kepala Reya pelan dengan penanya, "Sumuanya aja lo bilang satu-satunya pria tampan, minggu lalu apa? penjaga perpustakaan lo bilang orang tampan juga dihidup gue."
Reya memamerkan gigi rapinya, "Kan bener," Reya menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum. "Penjaga perpus juga seseorang yang ada dihidup lo walau nggak penting-penting amat sih."
"Jadi siapa yang semalem?"
"Lo liat gue? Kenapa nggak manggil?" tanya Filla.
"Ogah, entar gue harus bersikap gimana coba? Gue cukup mengamati dari jauh."
"Itu kak Vino, dia tetangga gue pas masih kecil, udah kayak abang gue banget, dan kemaren dia tiba-tiba didepan gue setelah 7 tahun menghilang." jelas Filla.
Reya mengangguk, "7 tahun? Lumayan, lo suka nggak sama dia?" tanya Reya sambil menaikkan kedua alisnya.
"Dia udah kayak abang buat gue Rey, aneh kalau lebih dari itu."
"Oke, Vino, Vino itu buat gue," ucap Reya yakin.
"Maksudnya lo suka kak Vino dengan hanya sekali liat?" Filla menatap serius pada Reya.
Reya mengangguk, "Pesonanya itu Fill buat gue deg-degan, padahal cuma liat dari jauh, bantuin oke? Lo juga kan cuma kakak adek-an sama dia," Reya menggenggam tangan Filla dan memasang wajah penuh harap.
Filla tersiam sebentar, "Lo serius? Gue nggak mau ya kalau lo nggak serius, kak Vino bukan orang yang bisa lo buat main-main."
__ADS_1
"Siapa sih yang mau main-mainin cowok setampan itu," celetuk Reya. "Jadi mau kan?"
Filla mengangguk, tidak ada salahnya membantu Reya, mungkin Vino juga akan suka pikirnya.
******
"Ngga bisa bantuin gue ngejain soal ini nggak, susah banget," ucap Filla saat ia sudah masuk ke apartemen Rangga.
Rangga bangun dari baringnya di sofa, menempatkan diri menghadap Filla, "Ketuk dulu kali, main masuk aja."
"Lo juga biasanya gitu, langsung masuk apartemen gue nggak pake ketuk dulu tuh," ucap Filla sambil menyerahkan buku dengan soal-soal yang belum ia pahami.
"Nggak ngambek lagi? Perasaan tadi siang marah sama gue," sindir Rangga.
"Beda itu, marah sama lo pas gue nggak butuh aja, kalau butuh harus baikan lagi."
Rangga mengetuk kepala Filla dengan pulpen.
"Ih sakit Rangga, niat amat mukulnya," ucap Filla kesal sambil mengusap kepalanya.
"Enak banget, liat aja entar gue ganti pasword pintu," ancam Rangga.
Filla memilih diam dari pada diusir secara tidak hormat, saat ini ia butuh Rangga dan moto hidupnya adalah harus sabar saat membutuhkan Rangga.
Rangga memfokuskan diri menatap soal yang Filla maksud, "Gampang ini," ucap Rangga santai.
Rangga mulai menjelaskan cara penyelesaian soal-soal dan Filla memfokuskan diri memahami, jika tidak tentu saja Rangga akan marah seperti biasanya, dan Filla enggan mendengarnya malam ini.
Filla mengangguk paham saat Rangga selesai menjelaskan.
"Beneran paham atau takut gue omelin makanya pura-pura paham?"
"Beneran paham kali, gue udah pinter sekarang soal kek gini gampang." ucap Filla sambil membawa keluar buku yang ia bawa tadi.
"Kalau udah nggak butuh, kumat tuh judesnya," ucap Rangga sedikit berteriak karena Filla sudah keluar dan menutup pintu apartemennya.
Filla kembali membuka pintu apartemen Rangga.
"Apaan lagi?" tanya Rangga yang kembali duduk saat hampir membaringkan diri lagi.
Filla tersenyum lebar, "Lupa bilang, makasih Rangga yang ganteng sejagat raya," ucap Filla lalu benar-benar menutup pintu apartemen Rangga.
Rangga hanya bisa tersenyum melihat tingkah Filla yang selalu ajaib menurutnya.
__ADS_1
******