
"Ngga, ayolah ajarin gue," rengek Filla yang ditemani Fida dan Rafi didepan Rangga, ini permohonan untuk kesekian kalinya yang meraih gelengan kepala Rangga. "Ngga, pelit banget sih sama ilmu," celetuk Filla sambil memainkan tangan Rangga.
Rangga masih diam sambil mengeleng.
"Bang, ayolah, Kak Filla nggak ada persiapan sedikitpun," bujuk Fida membantu.
"Nggak, ya nggak. Kalian nggak bisa bahasa indonesia? Lagian ngajarin ni anak nggak ada faedahnya," celetuk Rangga menatap Filla sengit.
"Yaudah gampang, kalau Bang Rangga nggak mau bantu Kak Filla, aku juga nggak mau bantu Bang Rangga belajar Matematika," ancam Rafi yang meraih tatapan tajam Rangga.
"Lo kok bela dia sih Fi? Nggak asik ah lo Fi," ucap Rangga kesal.
"Yaudah, aku ngajarin Kak Filla aja. Ayo Kak kita belajar Matematika," ucap Rafi menarik tangan Filla beranjak pergi.
"Oke. Gue ajarin Filla. Puas?" tanya Rangga kesal.
Filla dengan senyum kembali duduk. Mencubit gemas pipi Rangga, "Baik banget sih," ucap Filla gemas yang membuat Fida dan Rafi tertawa.
"Kalau ada maunya aja, dipuji-puji gue," celetuk Rangga yang meraih cengiran khas Filla. "Dan Rafi, ah Kakak makin sayang deh sama kamu," ucap Filla sambil mengelus rambut Rafi. Sedangkan Rafi hanya tersenyum sok coll.
"Sekongkol aja terus," ucap Rangga yang membuat semua orang tertawa.
******
"Sekarang kita belajar Fisika mumpung lagi jam kosong, lo kerjain soal yang ini," Rangga memberikan Filla buku fisika.
Filla menghela napas, "Dirumah aja Ngga, disekolah nyantai aja," celetuk Filla.
"Sekarang atau nggak selamanya," ucap Rangga tegas membuat Filla hanya menghela napas dan menuruti perintah Rangga.
Filla mengambil makanan yang sudah tersaji sejak tadi dimeja. Mereka sekarang memang sedang dikantin karena bu Irene yang tidak masuk kelas gara-gara sakit perut. Dengan cepat Rangga menepis tangan Filla.
"Kerjain dulu baru makan," ucap Rangga.
"Yaelah Ngga, makanan ada untuk dimakan bukan diliatin, gimana otak gue mau encer kalau perut nggak diisi," jawab Filla sambil mengambil kue lagi. Tapi dengan cepat ditepis Rangga.
"Nggak boleh, kerjain dulu baru makan," ucap Rangga yang sudah memasukkan semua Rainbow cake kesukaan Filla kedalam mulutnya.
"Ngga resek banget sih, lo boleh makan, gue nggak," perotes Fila.
"Guru boleh dong, murid mah nanti," celetuk Rangga. "Kerjain sebelum gue hilang mood buat ngajarin lo," ancam Rangga.
Filla hanya diam dan berusaha mengerjakan soal yang diberikan Rangga. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung cara memulai mengerjakan soal yang diberikan Rangga, "Ngga, gue lupa rumusnya," seru Filla pelan hampir tak terdengar.
"Demi apa Fill, lo nggak bisa ngerjain soal ini, selesai deh Fill," ucap Rangga kesal. "Yaudah deh, buka halaman 13, disana ada rumusnya," ucap Rangga mengalah.
"Wah, beneran ada loh, kok lo hapal sih halamannya?" tanya Filla heran.
Rangga tersenyum sombong, "Itu semua udah diluar kepala gue," ucap Rangga sambil menarik turunkan alisnya.
"Gue juga diluar kepala tuh, sampai sangking diluarnya, nggak inget semua." celetuk Filla kesal, lalu kembali mengerjakan soal yang diberikan Rangga.
__ADS_1
Saat mereka sedang bercanda, datang Bianca dan teman-temannya menghampiri Filla, semua mata tertuju pada Bianca, "Rangga, kenapa sih setiap gue liat lo sama ni cewek mulu?" tanya Bianca yang sudah berdiri tepat disamping Rangga.
"Urusannya sama lo?" ucap Rangga balik bertanya.
"Rangga, dia itu cewek murahan, jadi jangan pernah deket sama dia," ucap Bianca tegas.
"Dan lo, belum cukup gue buat lo menderita?" tanya Bianca tepat diwajah Fila.
Filla menatap Bianca dengan tajam, "Gue lupa, apa yang udah lo lakuin sama gue," ucap Filla tegas lalu kembali membaca buku Fisika pemberian Rangga.
"Lo. Mau gue guyur di toilet dan gue sebar foto-foto lo," tanya Bianca yang mulai keluar emosinya, semua orang menatap Bianca tak percaya, primadona sekolah melakukan hal sekeji itu, pem-bully-an. Sedangkan teman-teman Bianca sibuk menahan Bianca.
"Bianca, jangan bongkar semua disini," bisik temannya dengan gelisah.
Bianca tiba-tiba diam, ia tak menyadari ucapannya tadi akan membuatnya jadi publick enemy disekolah.
"Oke, selesai," ucap Filla lalu berdiri menyamai Bianca. "Omongan lo ada disini. Gue tinggal kasih ke guru BK, lo siap-siap terima hukumannya," ucap Filla sambil memamerkan ponselnya yang mengulang ucapan Bianca tadi.
"Lo-" ucap Bianca tak percaya. "Berani lo kasih itu ke guru BK, gue sebarin foto Hot lo," ancam Bianca sambil menunjukan ponselnya pada Fila.
Filla tersenyum sinis. Dengan gerakan cepat Filla mengambil ponsel Bianca dan memasukkannya dikuah bakso milik Rangga Membuat semua orang terkejut termasuk Rangga.
"Apaan lo?" tanya Bianca melihat ponselnya yang telah basah dan dalam keadaan mati.
Filla mengambil ponsel yang terlihat dengan tetesan kuah bakso lalu membantingnya kelantai, membuat layar ponsel tersebut pecah. lalu meletakkan kakinya diatas ponsel Bianca, dan menginjaknya sekuat tenaga sampai ponsel Bianca hancur.
"Ini buat sakitnya gue, lo perlakuin kayak binatang. Dan ini," ucap Filla sambil menginjak lebih kuat ponsel Bianca. "Buat betapa susahnya gue lewatin hari gara-gara tangan busuk lo!" bentak Filla membuat semua orang terdiam.
Fila dengan kuat menendang ponsel Binca yang sudah tak berbentuk ke dinding, lengkap sudah, ponsel itu tak akan bisa berfungsi lagi, "Lo pikir lo siapa? Bisa seenaknya nindas orang lain? Diatas langit masih ada langit. Siap-siap aja kelakuan lo sampai ketangan kepala sekolah," ucap Filla sambil tersenyum walau terihat jelas ia memaksanya.
"Berani Lo, gue bakalan-," ucap Bianca terputus saat menyadari perlindungan satu-satunya sudah hancur akibat ulah Filla.
Fila melipat tangan didepan dada, "Apa? Ancaman lo udah rusak?" tanya Filla. "Jangan pernah anggap remeh semua orang lagi, atau lo tahu akibatnya," bentak Fila lalu menarik Rangga menjauh dari kerumunan siswa dan siswi lain yang mulai bertepuk tangan dengan keberanian Filla, sedangkan Bianca hanya bisa terduduk lemas.
******
Hikks ...
Setelah membawa Rangga sampai Balkon sekolah, Fila sakarang memenuhi telinga Rangga dengan tangisannya. Rangga yang ditarik hanya bisa mengikutinya saja tanpa menolak.
"Lo menang, kok nangis?" tanya Rangga frustrasi melihat Filla yang menangis sejak tadi.
Filla melihat kearah Rangga lalu kembali menangis.
"Gue ... hiks ... gue-," ucap Filla sesegukan karena isak tangisnya.
"Gue apaan coba? Tolong deh pakai bahasa manusia, jangan bahasa kalbu, pusing gue nerjemahnya," cetuk Rangga yang meraih pukulan dari Filla tepat dikepalanya. "Kenapa nangis sih, lo tuh nggak salah dan lo itu hebat," ucap Rangga sambil memainkan alisnya.
"Gue kesel aja sama Bianca, nggak tahu kenapa, gue nggak bisa sejahat tadi, rasanya bertolak belakang sama hati gue. Ya walaupun dulu gue pernah juga bersikap kasar kayak gitu, tapi sekarang rasanya gue tahu sakitnya diposisi Bianca," jelas Filla sambil menghapus airmatanya dengan punggung tangan.
"Intinya lo udah selesein satu masalah lo. Inget senyum bisa ngehapus 1 masalah dalam hidup lo, jadi daripada nangis mending senyum," ucap Rangga sambil menaruh kedua telunjuk dipipinya masing-masing dan tersenyum lebar.
__ADS_1
Filla tersenyum melihat tingkah Rangga, "Makasih Ngga udah jadi orang yang peduli sama gue," ucap Filla sambil tersenyum.
"PD banget sih, siapa juga yang peduli sama lo, itu perasaan lo aja kali," ucap Rangga sambil membuang muka.
"Ngeselin banget sih, nyesel gue puji lo," teriak Filla yang berhasil membuat Rangga tertawa dan mengacak rambut Filla gemas.
"Pulang yuk, entar Bunda nyariin, lagian dari tadi udah bel pulang, gara-gara nungguin lo nangis gue jadi lama pulangnya deh," celetuk Rangga sambil menarik tangan Filla menuju parkiran.
Filla hanya mengikuti tarikan Rangga tanpa mau membantah.
"Fill, lo tahu nggak kalau batu dikantongin bisa nahan sakit perut?" tanya Rangga saat mereka sedang diatas motor saat melewati taman bermain.
"Nggak tahu, jadul banget sih, batu bisa nahan sakit perut? Emang dia balsem?" celetuk Filla sambil mengetuk helem Rangga yang ada didepannya.
"Makanya belajar, entar lo coba deh taruh batu disaku lo saat sakit perut," Rangga masih membahas batu yang Filla tak mengerti sama sekali.
"Nggak jelas banget sih? Ngelindur Mas?" ledek Filla.
"Nggak percaya," ucap Rangga yakin.
"Terserah deh Ngga," jawab Filla yang mulai sebal sendiri dengan ocehan Rangga.
Rangga menoleh kebelakang sebentar, "Fill, main tebak-tebakan yuk," ajak Rangga.
Filla mengerutkan keningnya, "Sekarang apa lagi Ngga? Main tebak-tebakan? ngelindur nih kayaknya," ledek Filla.
Rangga menoleh lagi, "Gimana? Ayolah, hitung-hitung biar nggak bosen sampai rumah," bujuk Rangga.
"Iya deh, apaan tebak-tebakannya?" tanya Filla mengalah.
"Gini Fill, dia belinya diwaktu yang beda, dibeli sama orang yang berbeda, ditaruh ditempat yang beda-beda juga, tapi selalu habisnya samaan, apa coba?" tanya Rangga.
Filla tampak berfikir dibelakang Rangga, "Apaan? Emmm, farfum?" tebak Filla.
Rangga mengeleng, "Bukan Fil, masak farfum habisnya bareng?" celetuk Rangga.
Filla tampak berpikir lagi, "Apa dong? Pengharum ruangan?" tebak Filla lagi.
Rangga kembali menggeleng, "Bodoh banget sih Fill, masak nggak tahu?" ledek Rangga.
"Tau ah, ngajak tebak-tebakan tapi dibilang bodoh," ucap Filla kesal Rangga mengatainya bodoh.
"Nyerah belum?" tanya Rangga.
"Iya nyerah,"
"Jawabannya kalender, Ahhahhahha," Rangga tertawa sendiri sedangkan Filla hanya bisa menampar punggung Rangga. "Sakit Fill," teriak Rangga.
"Rasain. Tebakan kok nggak mutu," celetuk Filla yang menambah cekikikan Rangga yang berhasil membodohinya.
******
__ADS_1