Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 69


__ADS_3

Filla menatap ponselnya yang masih menampilkan chat dari Rangga, mungkin dulu ia sangat mendambakan nama Rangga muncul dalam pesan WhatsAppnya. Namun memilih melupakan Rangga membuatnya bimbang dengan perasaannya.


Filla melepas ponselnya dan berbaring telentang menatap langit-langit kamarnya sambil menghela napas.


Ponselnya kembali berdering, Filla dengan cepat menoleh, tanpa ia bisa pungkiri semua tentang Rangga terasa membuat tubuhnya refleks.


Tanpa sadar ia menghembuskan napas kecewa saat nama Rafael muncul dilayar ponselnya.


"Filla sadar," ucapnya sambil menepuk kepalanya sendiri, lalu mulai membaca pesan dari Rafael.


From Rafael


Malam ini ada waktu?


Filla berpikir sejenak, lalu mengetik beberapa huruf di keyboard ponselnya.


To Rafael


Ada Kak, ada apa?


Tanpa menunggu lama notifikasi dari Rafael terlihat dibagian atas ponsel Filla.


From Rafael


Mau temenin aku ke Mal? Ada yang mau dibeli.


To Rafael


Boleh Kak


Filla meletakkan ponselnya dimeja sebelah tempat tidur, lalu berbalik dan menarik selimut, ia tak berniat tidur namun rasanya sangat malas, Filla berusaha memejamkan matanya tanpa penasaran dengan balasan Rafael.


"Akak, bukan dari Abang," teriak Tita yang langsung menerobos masuk.


Filla menyipitkan matanya lalu berusaha duduk dan menyadari kehadiran Tita sambil berlari membawa sebuah kotak.


"Jangan lari Tita," ucap Filla saat Tita sudah duduk dihadapannya dan menyodorkan kotak yang ia bawa.


"Bukan dari Abang," ulang Tita sambil tersenyum.


Filla mengambil kotaknya, "Abang siapa?" tanya Filla sambil mengerutkan keningnya, menerjemahkan ucapan Tita.


"Abang Angga," ucap Tita yang polos dan belum bisa jelas menyebut nama Rangga.


"Buat Kakak?" tanya Filla memastikan.


Tita mengangguk cepat, "Kata Abang, kasih Kakak Illa, tapi itu bukan dari Abang," ucap Tita polos mengingat ucapan Rangga.


"Tapi ini dari Bang Rangga?" tanya Filla sambil tersenyum.


Tita mengangguk, "Tapi kata abang bukan dari abang," ucap Tita masih kekeh dengan ucapannya.


"Oke Ta, bukan dari bang Rangga," ucap Filla meyakinkan tapi tak bisa menyembunyikan senyumnya.

__ADS_1


Rangga salah mempercayakan Tita memberikan kotak itu pada Filla jika tidak ingin ketahuan, Tita terlalu polos jika disuruh berbohong.


"Makasih ya, abang bilang apa lagi?" tanya Filla penasaran.


"Itu rahacia, kata Mama ndak boleh ngomong calau rahacia," ucap Tita membuat Filla gemas.


"Oke, makasih," ucap Filla sambil memeluk Tita.


Tita membalas pelukan Filla, "Tita mau main dulu, ada bang Anton di bawah," ucap Tita.


Filla mengangguk, "Inget jangan lari," pesan Filla sambil mencubit pelan hidung Tita.


Tanpa membantah Tita berjalan keluar dari kamar Filla membuat Filla tersenyum melihat tingkah nurut Tita, walau Filla tahu pasti saat pintu kamarnya tertutup Tita akan berlari kembali.


Tita menatap kotak pemberian Rangga, ia tak bisa menyembunyikan senyum senangnya, sesaat Filla tersadar lalu memukul kepalanya sendiri namun tak bertahan lama, melihat kotak itu dipamgkuannya ia akan refleks tersenyum.


Filla membuka kotak itu dengan hati-hati tidak ingin merusak benda pertama yang Rangga berikan walau hanya sebuah kotak.


Filla membulatkan matanya saat 10 kotak cokelat kesukaannya disana, "Coklat?" Filla menatap dengan berbinar. "Dari mana Rangga tahu?" tanyanya pada diri sendiri walau ia tahu pasti tak akan mendapat jawaban.


"Filla please sadar," ucapnya mengingatkan diri sendiri sambil menutup kotak tersebut, "Nggak bisa, ini sweet banget," Filla membuka kembali kotaknya dan tersenyum senang.


******


From Rafael


Aku jemput jam 8 ya


To Rafael


Nggak usah Kak, ketemuan disana aja langsung


Filla meletakkan ponselnya saat mendapat balasan setuju dari Rafael. Filla berjalan mengambil handuknya dan masuk kekamar mandi.


Tak membutuhkan waktu lama Filla selsesai berendam dan terlihat cantik dengan sweeter krem dan celana jins biru muda yang ia kenakan, tak lupa make up natural yang selalu menjadi andalannya.


"Kak, ayo makan malam dulu," ucap mama saat dirinya muncul dipintu kamar Filla.


Filla menoleh.


"Kakak mau keluar?" tanya mama melihat Filla yang sudah rapi.


Filla mengangguk, "Iya Ma, Filla makan diluar juga kayaknya, nggak apa-apa kan?" tanya Filla sambil menutup lipstilnya yang masih ia pegang tadi.


Bunda menaikkan kedua alisnya, "Sama siapa?" tanya bunda sambil berjalan masuk menghampiri Filla.


Filla ikut tersenyum, "Apaan sih Ma, jangan ngecengin dong," ucap Filla.


"Sama siapa? Rafael?" tebak mama yang sangat tepat sasaran.


Filla mengangguk, "Kak Rafael minta ditemenin ke Mal, katanya ada yang mau dibeli," jelas Filla.


"Oke, pulang jangan malem-malem ya Kak," nasihat mama lalu mencium puncak kepala Filla.

__ADS_1


"Siap Bu bos," ucap Filla sambil tertawa.


******


Filla melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangan kanannya, waktu masih menunjukkan pukul 7 malam, masih ada satu jam sebelum waktu yang ditentukan Rafael.


Filla memutuskan untuk singgah sejenak ke mini market dekat rumah, ia membutuhkan minuman segar sekarang.


Tak membutuhkan waktu lama mobilnya sudah terparkir didepat mini market, Filla masuk kedalam minimarket dan berjalan menuju kulkas disebelah kanan ruangan.


setelah merasa cukup dengan kebutuhannya Filla berjalan menuju mobilnya diparkiran, sampai tanganya ditahan. Filla menoleh, Rangga dengan mata hazelnya menatap Filla.


"Mau kemana?" tanya Rangga to the poin.


Filla menghembuskan napas, hampir ia menjerit karena terkejut dengan kehadiran Rangga.


"Keluar, ada apa?" tanya Filla santai walau hatinya dalam keadaan tidak baik.


Rangga melepas tangan Filla tapi tidak dengan tatapannya, "Pesan gue kenapa nggak di bales?" tanya Rangga.


Filla menatap malas, "Harus?" tanya Filla.


Rangga menghembuskan napas, "Oke, seperti janji gue, gue yang maju," ucap Rangga sambil maju selangkah membuat Filla melangkah mundur.


"Apa sih Ngga?" tanya Filla gugup.


Rangga tersenyum mengusap rambut Filla lalu melangkah mundur.


"Nih," ucap Rangga sambil menyodorkan setangkai mawar pada Filla.


Filla terkejut dengan apa yang Rangga lakukan, namun ia tak bisa menyembunyikan senyumnya saat Rangga membuang pandangan walau tangannya tetap menyodorkan bunga mawar pada Filla.


"Buat gue?" tanya Filla sambil menahan tawanya, ia tahu pasti kegengsian Rangga diatas segalanya saat ini.


Rangga menoleh lalu membuang wajahnya canggung, "Ambil," ucapnya malu tak berani menatap Filla.


"Ikhlas nggak sih, orang kalau kasih bunga itu lihat orangnya," ucap Filla sengaja mengolok Rangga.


Rangga memberanikan diri menatap Filla, "Ni," ucapnya walau terasa canggung.


Filla mengulum senyumnya, "Sejak kapan lo sok-sok-an romantis?" tanya Filla samb mengambil bunga pemberian Rangga. Tak bisa ia pungkiri sekarang didalam sana terasa banyak bunga bermekaran.


Rangga tersenyum, "Suka?" tanyanya penuh harap.


Filla hanya diam, "Cokelatnya juga," ucap Filla sambil mencium aroma bunga yang sangat ia sukai.


"Kok tahu?" tanya Rangga terkejut. "Tita kasih tahu?" tanya Rangga dengan raut wajah kesalnya.


Filla tertawa, "Tita nggak bohong sih, lonya aja kurang pinter, anak kecil disuruh bohong," ucap Filla masih dengan tawanya.


"Nggak apa-apa deh, besok mau ucapin makasih aja sama Tita," ucap Rangga sambil tersenyum.


*******

__ADS_1


__ADS_2