
Filla dan Rangga masuk kedalam butik milik mama, seperti yang sudah dijadwalkan, Filla dan Rangga harus fitting baju pernikahan mereka.
"Selamat datang Mbak Filla dan Mas Rangga," ucap beberapa karyawan mama. "Mari."
Filla dan Rangga hanya tersenyum lalu mengikuti karyawan yang Filla ketahui dari mama namanya Dahlia.
Rangga mengikuti karyawan pria dan Filla mengikuti Dahlia, mereka berpisah tanpa sepatah katapun. Rangga memang tipical pria dingin untuk semua orang kecuali keluarga, lihat saja sekarang, ketika sampai di butik Rangga menjadi orang yang irit berbicara.
"Ini Mbak Filla, gaun sesuai desain yang mbak Filla kasih," ucap Dahlia sambil membawa gaun yang dimaksud.
Filla hanya tersenyum lalu memperhatikan tiap detail gaun, "Aku coba dulu ya Kak," ucap Filla yang meraih senyuman dan anggukan dari Dahlia.
Dahlia meninggalkan Filla sendiri sekitar 10 menit lalu kembali setelah Filla sudah mengenakan gaun pengantinnya.
"Wah Mbak Filla cantik banget, gaunnya cocok banget," ucap Dahlia kagum saat melihat Filla dari pantulan kaca.
Filla tersenyum, "Makasih Kak, Oiya Kak, agak kurang nyaman dibagian pinggang," ucap Filla sambil memegang pinggangnya, "
Dahlia mendekat lalu mengangguk, mengerti maksud ucapan Filla, mereka berdiskusi kecil perihal tambahan sesuai keinginan Filla, tanpa Filla sendiri sadari dirinya bersemangat menyiapkan gaun, entah karena memang fashion-nya disana, atau karena hal lain.
"Yaudah Mbak Filla, kita temuin Mas Rangganya dulu, buat lihat," ajak Dahlia.
"Nggak usah Kak, aku langsung ganti baju aja," ucap Filla.
"Loh," Dahlia menatap heran, karena tidak biasanya seorang pengantin tidak ingin dilihat calon suaminya sendiri.
"Nggak apa-apa Mbak," ucap Filla.
Dahlia hanya mengangguk tanpa membantah.
******
"Kenapa tadi aku nggak boleh lihat kamu," tanya Rangga saat mereka berada dalam mobil.
"Buat apa?" tanya Filla tanpa menoleh.
Rangga tersenyum kecut, sepertinya menaklukkan hati Filla masih butuh banyak waktu.
"Gimana bajunya?" tanya Rangga mengalah.
"Lumayan."
Rangga menghela napas, "Kita makan dulu ya, abis itu baru lanjut cari cincin."
Filla hanya mengangguk tanpa menoleh, dirinya sibuk memainkan ponsel, sebenarnya kapanpun bersama Rangga, jantung Filla tak bisa diajak kerjasama, untuk itu Filla selalu menyibukkan diri agar mengurangi rasa canggung.
Rangga memarkirkan mobil pada parkiran salah satu restoran, "Yuk," ajak Rangga sambil mengusap puncak kepala Filla. Dirinya bersiap keluar dari mobil.
__ADS_1
Filla menghela napas, entah sampai kapan dirinya harus seperti ini.
Mereka berjalan masuk kedalam Restoran dengan corak Indonesia yang khas, seorang pelayan menyambut mereka berdua dan mengantarkan pada salah satu meja kosong.
Filla menghela napas saat semua perempuan menatap kagum pada Rangga, memang sudah menjadi nasip Filla sepertinya dikelilingi pria yang selalu jadi pusat perhatian.
"Kamu mau makan apa?" tanya Rangga saat mereka sudah duduk.
Filla membuka buku menu, "Samain aja," ucap Filla tanpa berniat membaca menu yang ada.
Rangga mengangguk.
Filla sedikit risih dengan dua wanita yang duduk dimeja sebalah mereka, sejak tadi Filla banyak mendengar pujian yang mereka lontarkan untuk Rangga. Entahlah rasanya Filla mulai kesal, dan dapat Filla sadari rasa kesal untuk situasi ini jauh lebih besar daripada rasa kesal saat kejadian yang sama bersama Vino.
"Kamu udah mikirin souvenir apa yang kamu mau buat pernikahan kita?" tanya Rangga.
Filla menatap Rangga, "Kayaknya gue serahin ke mama aja, mama sering ngerjain masalah itu."
Rangga mengangguk, lalu menggenggam tangan Filla membuat Filla terbelalak, "Aku tahu ini sulit buat kamu, aku nggak bisa janji akan buat kamu selalu bahagia, karena kebahagiaan kamu yang rasain, tapi aku akan selalu berusaha buat nggak akan pernah bikin kamu nangis lagi," ucap Rangga serius.
Filla menatap dalam mata Rangga, "Lo nggak perlu janji apa-apa," Filla menarik tangannya dari genggaman Rangga membuat Rangga sedikit kecewa.
Rangga berusaha tersenyum, "Yaudah aku ke toilet dulu ya," ucap Rangga yang langsung beranjak saat meraih anggukan Filla.
Filla menangkup wajahnya sendiri saat Rangga mulai berjalan pergi, "Jahat banget sih gue," ucap Filla pada dirinya sendiri. Filla menatap punggung Rangga yang mulai menghilang.
"Udah pasti adeknya, cepet susul."
Filla melipat kedua tangan didepan dada, sambil melihat pada lorong toilet, dirinya sedikit senang saat melihat Rangga berjalan mendekat sambil tersenyum.
Filla membulatkan mata saat wanita yang tadi terlihat jelas sengaja menabrak Rangga. Dirinya langsung berdiri dan tanpa sadar berjalan mendekati mereka.
Rangga tersenyum saat Filla berjalan mendekat.
"Sorry Mas, saya nggak sengaja," ucap Wanita itu sambil tersenyum.
Rangga dengan wajah datarnya hanya mengangguk.
"Saya bantu bersihin Mas," ucap wanita itu sambil mengusap baju Rangga yang terkena minuman yang ia bawa.
"Kayaknya minta maaf cukup deh Mbak, nggak perlu ikutan bersihin kemeja calon suami saya," ucap Filla tegas.
Rangga membulatkan mata sambil menatap Filla tak percaya.
"Maaf Mbak," ucap wanita itu menunduk malu, ketika semua orang mulai menatapnya dengan tatapan tak suka. "Maaf Mas, permisi," ucap wanita itu laku berjalan cepat kembali kemejanya.
"Kamu bilang apa?" tanya Rangga tak percaya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Filla pura-pura bodoh, padahal dalam hati dirinya ingin sekali menjitak kepalanya sendiri, bisa-bisanya mengatakan Rangga calon suami seperti tadi.
"Tadi kamu bilang aku calon suami," ucap Rangga tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Emang bener calon suami kan?" ucap Filla balik bertanya.
Rangga mengangguk sambil tersenyum, "Kalau gini, rela deh ketumpahan jus setiap hari."
"Apaan sih, udah ah," Filla berjalan meninggalkan Rangga kembali ke meja mereka, sempat dirinya menatap sinis pada wanita tadi yang menunduk malu.
Rangga masih tersenyum menatap Filla.
"Jangan senyum kayak gitu, lo sengaja mancing biar mereka suka?" tanya Filla kesal.
Rangga menggeleng, lalu kembali membuat wajahnya terlihat serius, "Ini cukup?" tanya Rangga datar.
"Terserah."
"Seneng kalau kamu cemburuan gini," Rangga mengacak rambut Filla gemas.
"Nggak ada yang cemburu tuh."
Rangga hanya tertawa mendengar bantahan Filla, dirinya terlalu senang hari ini.
******
Setelah 30 menit berlalu, Mereka berjalan keluar dari restoran menuju parkiran.
Rangga menarik Filla dalam pelukannya saat Filla hampir saja di serempet salah satu motor yang melaju dengan cepat.
Pengendara motor itu berhenti dan bejalan mendekati Filla dan Rangga, "Maaf Mas, saya buru-buru," ucap Pengendara motor itu merasa bersalah.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rangga sambil mengecek keadaan Filla.
Filla hanya mengangguk, dirinya cukup syok dengan gerakan cepat Rangga.
"Bisa bawa motor yang bener nggak? Kalau terjadi sesuatu sama calon istri saya, anda berhadapan sama saya!" Rangga gak bisa menahan emosinya membuat Filla memeluk Rangga kuat.
"Udah Ngga, dia nggak sengaja," ucap Filla.
Rangga menghela napas, "Saya biarin untuk kali ini, jangan pernah bertemu saya lagi atau anda tau akibatnya."
Pengendara motor itu mengangguk takut, lalu membawa motornya pergi meninggalkan Rangga yang masih dengan amarahnya.
"Kamu seriusan nggak papa?" tanya Rangga khawatir.
Filla mengangguk membuat Rangga bernapas lega, tak bisa Filla pungkiri perlakuan Rangga hari ini membuat Filla terenyuh.
__ADS_1
Tanpa sadar Filla memeluk Rangga erat, Rangga sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba Filla, tapi dirinya tetap mengelus puncak kepala Filla dan memeluknya tak kalah erat.
*******