Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 162


__ADS_3

Filla tampak cantik dan elegan dengan dress abu-abu yang kembaran dengan ketiga sahabatnya.


Ola tampak cantik dengan gaun putihnya, seperti kata orang jika akan menikah tentu terlihat wajahnya menampilkan kebahagiaan.


"Makasih ya guys, kalian ada di hari istimewa gue," ucap Ola sambil melihat bayangan keempat sahabatnya dari cermin.


Mereka semua tersenyum lalu berdiri mengelilingi Ola yang selesai dengan persiapannya.


"Selamet ya, gue ikut seneng," ucap Filla sambil tersenyum, matanya sedikit berkaca, mereka menjadi saksi bisu perjalanan cinta Ola sampai pada titik ini.


"Makasih Fill."


"Udah jangan pada pengen nangis, make up mahal," celetuk Reya.


"Ya gitu kalau hati udah sekeras bata," ledek Caca sambil menyenggol bahu Reya.


Reya menatap sengit Caca, "Biarin dari pada lembek kayak lo," ucap Reya membuat yang lain tertawa.


"Udah ah, kalian mau debat sampai kapan? Pestanya bentar lagi mulai," ucap Iren menengahi.


Akad nikah Ola dan Jiel memang dilaksanakan tadi pagi, dan sekarang tinggal acara resepsi yang diselenggarakan disalah satu hotel bintang lima.


Mereka berempat mengantar Ola keluar dari dalam ruangan, menemui Jiel yang menunggu didepan didepan pintu sambil tersenyum.


"Nyengir mulu Yel, gue liat-liat," ledek Caca.


"Biarin lagi Ca, orang lagi seneng," bela Iren sambil tertawa.


"Tau lo Ca, resek bener," celetuk Jiel lalu kembali tersenyum pada Ola dan mengulurkan tangannya meminta tangan Ola.


Tanpa basa-basi, Ola menyambut tangan Jiel sambil tersenyum.


"Udah gih sana, tamu udah pada nungguin," ucap Filla yang langsung diangguki Jiel.


"Gue kesana dulu," pamit Ola yang diangguki keempat sahabatnya.


"Ngga nyangka gue, Ola akhirnya nikah, setelah drama panjang pengen tinggal di Bandung atau Singapura."


Filla tertawa diikuti yang lain, "Bener banget Rey, mereka berdua cocok banget sama-sama suka bingung nentuin pilihan masing-masing, gue nggak nyangka Ola akhirnya nemuin pelabuhan terakhirnya."


"Eh bukannya itu Salsa?" tanya Caca sambil menunjuk kearah para tamu dekat bagian kiri ruangan.


Sontak Filla dan yang lain mengikuti arah pandangan Caca.


"Mana?" tanya Iren saat tidak mendapati Salsa yang Iren maksud.


"Tadi ada," ucap Caca ragu sambil menggaruk tengkuknya.


"Salah lihat kali? Lagian Ola atau Jiel buat apa ngundang tu anak, nggak ada faedah," ucap Reya.


"Udah mungkin Caca salah lihat, mending kita kesana, nyamperin temen-temen yang kita kenal," ajak Filla.

__ADS_1


"Gue nyamperin Zaki ya, kasian dia cukup lama gue tinggalin," ucap Caca.


"Tau deh yang udah nikah," ledek Iren.


"Makanya nikah," ucap Caca sambil melambaikan tangan.


"Makanya jangan diledekin biar nggak senjata makan tuan, gigit jari kan sekarang?" ledek Reya.


"Udah ayo," Filla menarik kedua sahabatnya.


********


"Hai Fill, kemaren gue lihat lo di acara TV, keren banget," ucap Gita salah satu teman SMA Filla saat di Jakarta.


Filla tersenyum, "Lo apa kabar?"


"Baik gue."


"Lo ngilang setelah kejadian waktu itu, nggak nyangka gue bakalan ketemu sekarang," ucap Sarah sambil menyesap minuman dalam gelas yang ia pegang sejak tadi.


Filla hanya tersenyum, "Oiya, kenalin mereka sahabat gue," ucap Filla memperkenalkan Reya dan Iren.


Mereka saling berjabat tangan dan menyebut nama masing-masing sambil tersenyum.


"Sayang banget 2 tahun lo cuma tidur dirumah sakit ya Fill," ucap Sarah.


Filla hanya tersenyum, sebenarnya sangat tidak mengenakan jika orang lain mengasihani 2 tahun hidupnya selama koma. Namun mau bagaimanapun ucapan seperti itu tetap akan Filla dengar sampai kapanpun.


Iren mengerutkan kening, "Nyari kerjaan? Maksudnya?" tanya Iren tak habis pikir.


"Ya, Filla pasti susah banget masuk ke Jakarta Fashion Week, temen gue cerita banyak banget designer yang ngelakuin segala cara buat jadi bagian disana.


Filla tahu arah pembicaraan teman lamanya ini, namun Filla terlalu sering mendengar ucapan meremehkan jadi dirinya terbiasa dan tahu cara menyikapinya.


"Yang gue nggak paham malah informasi dari temen lo valid atau nggaknya, karena Jakarta Fashion Week, bukan acara abal-abal yang bisa lo remehin kayak gitu sih," ucap Iren tenang namun penuh penekanan.


"Oya? Gue cuma prihatin aja kok sama Filla, dia harus berusaha lebih ekstra dari orang lain cuma karena-," ucapan Sarah terhenti.


"Hmm, Sarah, Gita, makasih banget udah berusaha perhatian, tapi kayaknya nggak perlu, hidup gue cukup nyaman kok nggak seperti banyangan kalian, dan bukan gue yang ngemis buat pamerin karya di Indonesia, lo punya ponsel kan? Punya kuota? Cari aja nama gue kayaknya informasi disana cukup buat ngegambarin seberapa nyamannya hidup yang kata lo harus kerja lebih ekstra."


Filla tersenyum lalu meninggalkan Sarah dan Gita dengan wajah tidak suka yang mereka tunjukkan pada Filla.


"Ketik FILLA AGATHA," ucap Iren sambil menekankan tiap ucapannya lalu berjalan mengikuti Filla dan Reya yang berjalan menjauh.


"Pada nggak jelas," ucap Iren kesal.


Filla tersenyum, "Biasa, mereka emang suka ngomong kayak gitu kok, gue udah biasa denger ucapan meremehkan kayak tadi, mental gue terlalu baja buat merasa terpengaruhi."


Reya tersenyum, "Lo lebih hebat dari mereka Fill, percuma lebih cepet berkarir tapi nggak punya attitude."


"Bener banget, mereka tahu apa tentang lo, seberapa hebatnya lo di Milan, kesel banget gue, pengen banget tabok tu mulut pake karya-karya lo Fill."

__ADS_1


Filla tertawa, "Kok jadi kalian yang marah sih?"


"Abisnya kesel," ucap Reya diangguki Iren dengan cepat.


"Udah ah, gue mau ke toilet dulu," ucap Filla, lalu melangkah keluar dari ruangan pesta.


"Mau kita temenin?"


Filla menggeleng lalu berjalan cepat meninggalkan Iren dan Reya.


*******


Filla berjalan keluar dari toilet yang sangat sepi, dirinya bercermin sebentar, merapikan dress dan rambutnya, lalu berjalan keluar.


"Salsa? Mau kemana?" tanya Filla ketika tangannya ditarik paksa oleh Salsa menaiki tangga. "Lepas! Lo gila?" bentak Filla berusaha melepas tangannya.


Salsa melepas tangan Filla saat berada didepan sebuah pintu dilantai teratas, menatap Filla tajam, "Gue udah minta baik-baik lo jauhin Vino, tapi apa? Vino malah ngirim surat cerai!" bentak Salsa.


Filla menghela napas, "Urusannya sama gue apa? Gue nggak mau debat diacara penting sahabat gue," Filla berbalik dan berjalan meninggalkan Salsa namun langkahnya terhenti saat tangan salsa menahan tangannya.


"Gue belum selesai! Lo nggak paham kalau semua ini gara-gara lo balik ke Indonesia, Vino berubah total, dasar pelakor!"


Filla tersenyum sinis, "Pelakor? Nggak salah? Lo yang rebut dari awal, masalah rumah tangga lo jadi urusan lo jangan libatin gue."


"Lo pelakor, dia suami gue!" teriak Salsa.


"Terserah, gue nggak mau berurusan sama lo," Filla berbalik tak ingin menambah panjang permasalahan, dirinya tahu saat ini Salsa dalam keadaan tidak baik-baik saja, terlihat jelas dari penampilannya yang berantakan.


"Munafik!" Salsa menarik tangan Filla dan mendorong Filla masuk kedalam pintu yang ternyata adalah pintu rooftop.


BRAAAK...


Salsa menutup pintu dengan kuat lalu menguncinya dengan rantai yang sepertinya sudah ia siapkan, "Membusuk lo disana pelakor!"


"Buka!" Filla berteriak sambil menggedor pintu sekuat tenaga. Filla sesekali melihat kebelakang, dirinya sendiri diatap gedung yang cukup gelap, dirinya benci suasana seperti ini.


"Jangan main-main sama gue, lo pikir lo bisa ambil Vino dari gue? Nggak akan pernah!" teriak Salsa lalu menendang pintu menyebabkan suara nyaring terdengar.


"Buka," teriak Filla tak menyerah, walau ia tahu pasti Salsa sudah tak disana.


"Stop."


Filla tekejut saat tangannya ditahan seseorang, dirinya salah jika berpikir hanya sendiri di sini.


"Rangga?" Filla bernapas lega, setidaknya dirinya tidak sendiri sekarang, terlepas siapapun yang akan bersamanya.


"Tangan kamu bisa sakit," Rangga menarik Filla dalam pelukannya, mengusap puncak kepala Filla. "Kamu tenang, kamu nggak sendiri," ucap Rangga.


Filla tanpa berpikir panjang membalas pelukan Rangga, menyembunyikan wajahnya didada bidang milik Rangga.


**********

__ADS_1


__ADS_2