Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 134


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh semua mahasiswa tingkat atas termasuk Filla tiba, Filla dengan kebaya ungu muda model peplum asimetris ditambah aksen ruffle diagonal di bagian depan yang dipadukan dengan bawahan kain ikat batik dengan warna senada tampak cantik bersama ketiga sahabatnya.


"Selamet ya," ucap Ola yang langsung memeluk Filla.


"Makasih udah sempetin dateng."


Reya juga tampak cantik dengan kebaya abu-abunya, "Tumben modal, bawa buket segala," ledek Reya saat Ola memberikan buket bunga padanya.


"Udah sarjana masih aja resek," ucap Ola namun tetap memeluk Reya. "Selamet anak kecil," Ola mengelus rambut Reya.


Reya tertawa.


"Selamet Fill, jadi pengen wisuda lagi," ucap Caca sambil memeluk Filla.


"Tahun depan lo pasti wisuda Ca, gue doain pokonya," ucap Filla membalas pelukan Caca.


"Aamiin," ucap mereka serentak.


"Yaudah yuk, kita foto-foto," ajak mama yang berjalan beriringan dengan papa dan Tita.


"Siap Tan," Caca lebih dulu mengekori mama membuat ketiga sahabatnya menggeleng, Caca adalah manusia yang tidak bisa menolak acara foto-foto.


Mereka mencari tempat yang bagus untuk foto-foto, papa sengaja menyewa fotografer kenalannya hanya untuk mengabadikan momen hari ini.


Setelah acara formal didalam gedung akhirnya Filla merasa bebas bergerak sekarang, sejak tadi dirinya sangat gugup sampai rasanya tidak bisa bernapas. Filla lulus dengan pujian, membuat papa dan mama sejak tadi mengatakan mereka bangga pada Filla.


Mereka banyak mengabadikan momen dengan berbagai pose, baik Filla dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya, Filla bahagia dengan hari ini, semua orang berkumpul untuk mengucapkan selamat padanya, rasanya 4 tahun mengejar gelar sarjana terbayar hari ini.


"Kakak, Bunda mau foto sama Kakak," ucap bunda yang berjalan mendekati Filla.


"Boleh Bunda, santai-satai," ucap Filla membuat ayah tertawa.


"Tau Dira, entar jatuh gawat," ledek mama sambil tertawa.


"Ngeledek kamu Mi," ucap bunda sambil menepuk pelan bahu mama, membuat mama tertawa.


Filla merangkul ayah dan bunda, "Senyum dong Bunda," ucap Filla sengaja meledek bunda.


"Udah Kakak," ucap bunda sambil lebih melebarkan senyumannya.


"Rangga sini," panggil bunda sat melihat Rangga yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya.


Rangga berjalan mendekati mereka, "Iya Bun."


"Foto dulu," ajak bunda membawa Rangga ketengah, dimana posisi ini membuat Rangga tepat disebelah Filla, mereka diapit oleh bunda dan ayah.


Filla berdehem pelan saat bahunya bertemu dengan bahu Rangga, dirinya sempat menoleh pada Rangga membuat tatapan mereka bertemu.


"Hmm," gumam Reya membuat Filla kembali fokus pada kamera.


"Siap," ucap fotografer sambil mengangkat jempolnya.


Filla menghela napas, berada disebelah Rangga ternyata membuatnya lupa cara bernapas.


Filla kembali berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


"Hampir aja jatuh ke lubang yang sama," bisik Reya saat Filla berdiri disebelahnya.


"Hush, jangan resek," Filla menyenggol bahu Reya.


"Bener tahu, Filla terlalu lama move on," ledek Caca yang diangguki Reya dan Ola.


"Kalian jangan resek, entar ada yang denger," bisik Filla membuat ketiga sahabatnya tertawa.


"Fill," panggil Ola sambil menyenggol bahu Filla.


Filla menjauhkan bahunya dari Ola, "La please jangan resek," ucap Filla mulai kesal dengan tingkah sahabat-sahabatnya.


"Filla, itu Kak Vino," ucap Ola sambil menunjuk ke sisi kiri Filla.


Filla menoleh, dirinya tersenyum saat Vino datang dengan membawa buket bunga besar, banyak mahasiswi yang menatap kagum pada Vino.


Vino berjalan mendekati Filla sambil tersenyum.


"Cie Kakak," ledek mama sambil mencolek bahu Filla.


"Apa sih Mah," Filla tak bisa menahan wajahnya agar tidak tersenyum.


"Bun, Rangga gabung sama temen-temen dulu ya," ucap Rangga yang meraih anggukan bunda.


Filla menoleh melihat Rangga yang perlahan menjauh, dirinya merasa bersalah mengabaikan Rangga, namun inilah yang terbaik untuk situasi yang Filla punya sekarang.


Reya menyenggol bahu Filla, membuat Filla tersadar lalu kembali menatap Vino, Filla memasang kembali senyumannya.


"Selamet ya Dek," ucap Vino sambil menyodorkan buket bunga yang menupi wajahnya.


Filla menerimanya lalu tersenyum, "Gede banget Kak, kalau gini gedean bunga dari aku," ucap Filla membuat yang lain tertawa.


"Makasih ya Kak," ucap Filla sambil tersenyum.


"Maaf ya telat," ucap Vino memasang wajah bersalah.


Filla tersenyum lalu mengangguk, "Nggak apa-apa Kak."


Vino menyalami para orangtua satu persatu.


"Udah semua nih? Kalau gitu para orangtua mau pamit pulang," ucap Papa.


"Udah mau pulang?" tanya Filla.


"Kaki Bundamu itu udah nggak kuat pake sepatu tinggi," ucap mama sengaja meledek bunda, mereka memang suka saling meledek satu sama lain.


"Bilang saja kaki mu juga Mi," ucap bunda tak mau kalah membuat yang lain tertawa dengan celotehan mereka berdua.


"Yaudah, hati-hati," ucap Filla sambil memeluk mereka satu persatu.


*********


Filla dan ketiga sahabatnya duduk di kantin kampus, Filla dan Reya masih dengan kebaya yang mereka kenakan, setelah acara selesai mereka malah menyempatkan diri mampir di kantin.


"Nih," ucap Vino yang membawa nampan berisi minuman mereka semua.

__ADS_1


"Ya ampun Kak, Makasih lo," ucap Filla merasa tidak enak Vino membawa semua minuman mereka.


"Iya Kak, jadi nggak enak," ucap Ola cengengesan.


"Santai aja, kan aku yang mau," ucap Vino sambil tersenyum.


Caca menatap Vino sambil menggeleng, "Dimana lagi nemu pacar kayak Kakak," celetuk Caca.


Vino tertawa mendengar celetukan Caca, "Banyak yang lebih baik."


"Tapi Kakak paket komplit," ucap Reya sambil memandangi Vino.


Filla mengibaskan tangan ke depan wajah dua sahabatnya, "Woy, udah kali," ucap Filla.


Reya menghela napas, "Pelit banget sih."


Ola tertawa, "Lagian kalian."


Vino tertawa, "Tenang aja Dek, tetap kamu kok," ucap Vino sambil mengelus puncak kepala Filla.


"Oke fine, kita nyamuk, ini dunia mereka, kita ngontrak," ledek Reya membuat semuanya tertawa.


"Eh bukannya itu Salsa," ucap Filla sambil menyipitkan mata memfokuskan penglihatannya.


Vino ikut melihat arah pandang Filla, dirinya membulatkan mata saat melihat Salsa yang duduk di taman depan kampus.


"Salsa siapa?" tanya Ola yang berbalik.


"Oiya, lupa cerita, dia sempet DM aku, dia bilang udah pindah ke Singapura, tapi kok masih disini?"


"Mungkin ada keperluan," ucap Vino sambil menyesap minumannya.


Filla mengangguk namun tetap melihat pergerakan Salsa.


"Mana sih?" tanya Reya yang tadinya tak perduli. "Salsa Zylvi?" tanya Reya.


Filla mengangguk, 'Lo kenal Rey?"


"Dia nggak pindah ke Singapura kok, setahu gue malah cuma liburan kemaren, dia anak ekonomi, angkatan 2018," ucap Reya mengingat.


Filla mengerutkan keningnya, "Kenapa ngomong ke gue pindah ke Singapura?"


Reya mengangkat bahunya.


"Mungkin baru mau pindah," ucap Vino.


Reya menggeleng, "Nggak mungkin pindah Kak, orang dia baru aja masuk pemilihan putra-putri Ekonomi, masak pindah," ucap Reya.


Ola mengangguk, "Bener sih, kalau pindah nggak mungkin ikutan," ucap Ola yang diangguki Caca dan Filla.


"Yaudahlah, kita nggak tahu kenapa dia bohong dan nggak penting juga," ucap Vino.


Filla masih menatap Salsa dari kejauhan, "Kenapa aku ngerasa kalau Salsa ada hubungannya sama aku?" ucap Filla lalu menggeleng. "Udahlah."


Semua mengangguk, lalu kembali pada obrolan mereka yang sempat terhenti.

__ADS_1


Filla melihat Vino yang gelisah disebelahnya, dan ia yakin ada sesuatu yang Vino sembunyikan sejak pulang dari Singapura.


*********


__ADS_2