
"Kita ngapain kesini lagi?" tanya Filla saat menyadari Rangga membawanya kembali ke dapartemen store yang kemarin mereka kunjungi.
Rangga hanya tersenyum sambil terus menarik pelan tangan Filla menuju pakaian wanita, "Kamu suka baju ini kan?" tanya Rangga sambil mengambil dress biru yang kemarin sempat Filla pegang.
Filla mengerutkan kening, "Ya suka, terus?" tanya Filla bingung.
Rangga memegang kedua bahu Filla, "Maaf ya soal kemaren, kamu sampai nggak jadi beli baju, hari ini kamu boleh beli apapun aku temenin."
"Yaudah ayo," ucap Filla yang mulai mengedarkan pandangan membuat Rangga mengacak rambutnya. "Rangga! Berantakan," ucap Filla pelan dengan penuh penekanan.
Rangga tersenyum sambil merapikan kembali rambut Filla yang sedikit berantakan karena ulahnya.
Filla membeli beberapa baju yang ia butuhkan untuk beberapa hari kedepan selama liburan, Rangga membuntuti dirinya tanpa mengeluh walau Filla tahu, mungkin didalam hatinya Rangga mulai merasa bosan.
Filla berdiri sambil melihat dua stel baju dan dua buah jaket ditangannya.
"Udah?" tanya Rangga antusias dan penuh harap.
"Kamu bosen?" tanya Filla.
Rangga dengan cepat menggeleng, "Nggak, nggak sama sekali," ucap Rangga berusaha meyakinkan Filla.
Filla tersenyum, "Udah ngaku aja, aku lama kan?" tanya Filla sambil berjalan menuju kasir.
Rangga menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum, "Bingung aja, kamu bisa habisin waktu dua jam cuma buat empat buah baju, aku pikir kamu bakal borong satu toko," ucap Rangga.
Filla tertawa mendengar ucapan Rangga, "Ya nggak mungkin di borong juga, lagian itu cepet tau," ucap Filla membela diri.
Rangga mengangguk pasrah, tak ingin membantah Filla, tujuan utamanya sekarang adalah mendapat maaf dari Filla bukan menambah masalah lagi jika berdebat.
"Totalnya satu juta seratus Mbak," ucap kasir dengan sopan.
Filla tersenyum sambil meronggoh dompet didalam tasnya.
"Pake ini aja," ucap Rangga sambil menyodorkan credit card miliknya.
Filla menahan tangan Rangga, "Ini belanjaan ku, biar aku yang bayar," ucap Filla berusaha menolak.
"Aku suami kamu, jadi biar aku yang bayar," ucap Rangga sambil tersenyum membuat mbak yang ada dikasir berusaha menahan tawa karena tingkah mereka. "Pake ini aja Mbak," ucap Rangga.
Filla menghela napas, berdebat dengan Rangga sekarang hanya akan membuatnya malu lebih lama, Filla akhirnya membiarkan Rangga membayar belanjaannya.
__ADS_1
Setelah pembayaran selesai, Rangga menyimpan kembali credit card miliknya kedalam dompet, "Udah?" tanya Rangga saat mereka mulai berjalan keluar.
"Kenapa dibayarin? Aku bisa bayar sendiri Ngga," ucap Filla.
Rangga merangkul bahu Filla lalu tersenyum, "Wajar dong, bayarin istri, udah yang penting kamu seneng, dan jangan lupa dipake."
Rangga menghela napas, "Kalau gitu kapan-kapan aku yang bayarin kamu," ucap Filla.
Rangga menghentikan langkahnya lalu menatap Filla yang berada disampingnya, "Aku bukan orang asing Fill, jadi jangan ada rasa nggak enakan atau pengen balas budi," ucap Rangga serius.
Filla diam, entah bagaimana dirinya akhirnya mengangguk tanpa membantah lebih dari biasanya, seolah tatapan Rangga pada matanya adalah hipnotis yang membuat Filla begitu terpengaruh.
"Nah gitukan pinter," Rangga mengusap puncak kepala Filla lalu menciumnya.
Filla menepuk bahu Rangga, "Malu diliatin orang," ucap Filla.
Rangga tersenyum, "Berarti kalau nggak ada orang boleh?" tanya Rangga sengaja membuat Filla salah tingkah.
"Tau ah," Filla berjalan mendahului Rangga, dirinya tak ingin membuat wajahnya tambah memerah karena ulah Rangga.
Rangga mengikuti Filla lalu kembali merangkul tubuh mungil milik Filla, "Kita nonton," ucap Rangga semangat.
Filla menoleh dengan mengerutkan kening, "Nonton? Nggak langsung pulang?" tanya Filla.
"Kamu dapet tiketnya? Bukannya susah buat dapetin saat lagi rame-ramenya kayak sekarang?"
"Bisa dong," ucap Rangga dengan bangga.
Filla hanya tersenyum mendengar ucapan Rangga.
**********
Mereka berdua duduk bersebelahan didalam studio bioskop, semua kursi terisi penuh oleh orang-orang yang berusaha keras membeli tiket agar bisa menonton film ini.
Film yang sangat Rangga tunggu dan sukai sejak dulu.
"Sayang," panggil Rangga pelan sambil mendekatkan diri kearah Filla.
Filla sedikit memundurkan wajahnya, Rangga benar-benar membuat jantungnya bekerja lebih cepat, apalagi mendengae panggilan sayang dari Rangga, Filla belum terbiasa sama sekali.
"Kita fokus nonton ya, jangan ngobrol atau apapun, aku nggak mau ketinggalan satu scene pun, kamu tahu kan ini film yang aku tunggu hampir delapan bulan untuk season tiganya?"
__ADS_1
"Iya, aku juga nggak akan ganggu, udah sana munduran," Filla mendorong tubuh Rangga agar tidak terlalu dekat dengan dirinya.
Rangga tersenyum, "Istri yang baik," Rangga mencium cepat pipi sebelah kiri Filla, membuat Filla terbelalak.
Filla menoleh pada Rangga yang memfokuskan pandangan pada layar, membuat Filla akhirnya hanya memegang pipinya yang dicium Rangga, bisa Filla katakan perlakuan Rangga tanpa dirinya sadari membuat hatinya berbunga.
Filla akhirnya memfokuskan diri menikmati film, dirinya cukup heran bisa ikut menemukan keseruan di film yang dirinya ragukan sejak awal.
Dua puluh menit film terputar, dua puluh menit pula Rangga menatap Filla yang ada disebelahnya, dirinya tak bisa mengalihkan pandangan dari Filla bahkan sedetik pun.
Sedangkan Filla malah sangat menikmati film dan ikut tertawa saat ada beberapa adegan lucu.
Dua jam berlalu, akhirnya tinggal intro yang ada dilayar, Beberapa orang mulai berjalan keluar dari studio, meninggalkan kursi-kursi yang awalnya penuh perlahan kosong.
"Ayo," ajak Filla saat mendapati Rangga malah masih menatapnya.
Rangga mengangguk lalu ikut beranjak dari duduknya.
Mereka keluar dari studio yang identik dengan cahaya remang, berjalan seolah mengantri dengan oranglain.
"Filmnya seru ternyata, aku pikir bakalan ketiduran selama dua jam," ucap Filla.
Rangga mengangguk, "Kamu berarti langsung loncat nonton season 3, bakalan lebih seru kalau kamu ngikutin dari season 1," ucap Rangga.
Filla mengangguk, "Menurut kamu scene paling bagus yang mana?" tanya Filla antusias, dirinya jadi suka film sejenis itu sekarang.
Rangga mengusap tengkuknya lalu tersenyum.
"Kalau menurutku, sedih banget waktu Brandon mati, padahal aku berharap banget itu cuma mimpi, eh ditungguin sampai ending tetep aja mati," Filla tertawa.
Rangga ikut tertawa, "Iya sedih, aku nggak nyangka aja peran utama bisa mati gitu aja," ucap Rangga.
Filla mengerutkan kening, "Peran utamanya nggak mati kok, Brandon itu anjing peliharaan bukan peran utama Ngga."
Rangga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tersenyum, "Sebenernya aku nggak nonton."
Filla tambah bingung, "Kenapa jadi nggak nonton? Kan ini film kesukaan kamu Ngga."
"Abis kamu lebih menarik perhatian buat di pandang, gimana aku bisa fokus? Bahkan aku kaget waktu film tiba-tiba ending dan aku masih tetep natap kamu.
Filla mengerutkan kening, "Apaansih Ngga?" Filla menampar tangan Rangga, dan lagi wajahnya kembali memerah, Filla berjalan meninggalkan Rangga, dirinya tidak ingin suara jantungnya yang kuat terdengar oleh Rangga.
__ADS_1
Rangga tertawa laku mengejar Filla dan kembali merangkul Filla.
********