Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 148


__ADS_3

~2 Tahun kemudian~


Dua tahun berlalu, Filla berhasil menyelesaikan studinya dan memilih mencari pengalaman bekerja disalah satu butik ternama di Milan, selama setahun belakangan dirinya meraih banyak penghargaan dan cukup dikenal sebagai designer muda yang menginspirasi.


Dirinya sejak dulu memang memiliki banyak penggemar di sosial media, berkat dorongan dari Iren sahabatnya selama 3 tahun di Milan akhirnya Filla memberanikan diri menggunakan sosial media juga menjadi salah satu sumber penghasilannya.


Pertama kali bertemu Iren, Filla sangat terkejut karena Iren pernah ada didalam dunia mimpinya, Iren yang dulu adalah teman kerjanya di cafe selama di Singapura, Iren masih orang yang sama namun tentu saja tidak mengenalnya.


Iren berasal dari Jakarta, studinya di Milan adalah permintaan kedua orangtuanya berbanding terbalik dengan papa dan mama yang sebenarnya berat melepas Filla. Filla dengan mudah dekat dengan Iren karena Filla tahu banyak tentang Iren.


Mereka bahkan akhirnya memutuskan tinggal bersama dalam satu apartemen, Iren menjadi roommate yang membuat Filla merasa punya keluarga walau sendiri di salah satu kota fashion ini.


Filla menyusun bajunya dalam koper, "Besok jam delapan kan?" tanya Filla sambil menutup lemarinya.


Iren yang juga bolak-balik mengambil barangnya mengangguk, "Yoi," ucap Iren sambil memasukkan beberapa barangnya kedalam koper. "Tapi lo serius cuma akan 2 minggu disana?"


Filla mengangguk sambil memasukkan power bank kedalam koper bagian depan, "Ya, sekalian buat acara dan ultah adek gue, dia udah ngancem bakalan marah kalau kali ini gue nggak pulang juga," ucap Filla sambil mengingat ucapan Tita saat mereka telponan semalam.


"Lagian lo, tiga tahun nggak pernah nyempetin pulang, apa susahnya tinggal liburan disana beberapa hari, duit lo juga banyak," ucap Iren.


Filla tersenyum, "Ya, kali ini gue nggak mau bantah lo," ucap Filla mengalah karena ucapan Iren ada benarnya.


"Lo beneran akan balik lagi kesini setelah semua urusan di Indonesia selesai? Kayaknya udah cukup lo cari pengalaman di sini, lo nggak mau gitu kumpul sama keluarga lo lagi?"


Filla tersenyum tipis, "Ya mau, tapi lebih nyaman disini."


"Lebih nyaman atau karena melarikan dirinya belum cukup?" ledek Iren, Iren memang tahu banyak tentang Filla, tiga tahun tinggal bersama membuat Filla tidak menyimpan rahasia apapun pada Iren begitupun sebaliknya.


"Mulai lagi lo," ucap Filla sambil tertawa.


"Tapi bener kan? Seganteng apa sih tuh orang sampai bikin lo sekolah sejauh ini dan mau tinggal jauh dari keluarga? Penasaran gue," ucap Iren sambil menutup kopernya lalu meletakkannya di pinggir meja rias.


Filla mengangkat kedua bahunya, "Gue udah berhasil lupain dia Ren, tapi gue nggak yakin udah menghapus bersih semua perasaan untuk dia," ucap Filla jujur.

__ADS_1


"Kalau nggak bisa dihapus, kenapa nggak lo gambar atau tulis ulang aja," Iren menepuk bahu Filla lalu bejalan mendekati kamar mandi, "Gue mandi duluan," ucap Iren.


Filla tersenyum lalu mengangguk, "Jangan lama-lama, gue juga mau mandi," teriak Filla agar Iren didalam sana mendengarnya.


"Bodo Amat," ucap Iren membuat Filla tertawa.


Filla menarik laci paling bawah disebelah tempat tidurnya, dirinya terdiam saat mendapati gelang tangan yang Rangga berikan saat terakhir kali mereka bertemu, "Gini kalau 3 tahun nggak ada gunanya buat berusaha ngelupain," ucap Filla lalu tersenyum, menertawakan dirinya sendiri yang bahkan saat pergi pun masih menyimpan barang tentang Rangga. "Dasar Bucin," ucapnya mengatai diri sendiri.


Filla mengambil gelang tersebut lalu menaruhnya didalam koper dan menutup koper tersebut setelah menyelesaikan acara beberesnya, Filla menempatkan kopernya disebelah koper Iren.


Notifikasi membuat ponselnya menyala, Filla mendudukkan diri di kasur lalu mengambil ponselnya di atas meja, "Buat apa coba, ngehubungin terus? Udah nikah juga," ucap Filla sambil menghapus pesan dari Vino di DM instagram tanpa membacanya, Filla memang memblokir semua akses Vino untuk menghubunginya kecuali di Instagram.


"Lama-lama aku blokir juga nih," ucap Filla.


"Kenapa? Si suami orang?" tebak Iren sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu berjalan menuju meja rias.


Filla mengangkat kedua bahunya malas.


"Udah gue bilang blokir aja, dikatain pelakor baru tahu lo," ucap Iren sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Iren tertawa lalu kembali mengeringkan rambutnya, Iren berbalik menatap Filla yang masih sibuk memainkan ponselnya, "Lo nggak mau pertimbangin lagi buat tinggal dan berkarir di Indonesia aja? Lagian banyak banget orang yang butuh lo di Indonesia, lo juga banyak banget dapet tawaran selama setahun terakhir."


Filla mengalihkan tatapannya pada ponsel, "Gue belum pikirin Ren."


"Lo yakin akan nyaman tinggal di Milan tanpa gue? Secarakan cuma gue temen lo," ucap Iren sengaja meledek.


"Kampret lo, temen gue banyak," ucap Filla tak terima dengan ledekan Iren.


Iren tertawa, "Tapi lo bayangin deh, tanpa gue hidup lo akan gimana."


"Tentram keknya," ucap Filla sengaja membalas Iren.


"Ngeselin banget lo," ucap Iren lalu berbalik menghadap kaca.

__ADS_1


Filla tertawa, "Lo aja lanjutin kerja disini, ngapain juga di Jakarta, lo jomblo juga," ledek Filla.


"Eits mulut, makanya gue pulang, buat cari jodoh, bule nggak mau sama gue, siapa tahu di Jakarta banyak jomblo juga biar saling melengkapi," Iren tersenyum membayangkan kembali ke Jakarta seperti tahun-tahun sebelumnya.


"Centil," celetuk Filla.


"Biarin."


Filla menggulir layar ponselnya melihat beberapa postingan sahabat-sahabatnya sampai jarinya berhenti ketika foto Rangga muncul.


Filla menatap foto Rangga yang memegang kamera sambil tersenyum, tanpa sadar Filla mengelus wajah Rangga sambil tersenyum.


"Gini nih, move on gatot," ucap Iren yang ikut duduk dan bersender di kasur sebelah Filla.


Filla mengalihkan pandangannya, "Gatot apaan coba?"


"Gagal total, kayak lo gini, berusaha move on bertahun-tahun nggak ada guna, buat apa coba? Ngorbanin perasaan sendiri, harusnya lo cari tahu kenapa bahkan tanpa melihat dia perasaan itu tetap ada.


"Sial," ucap Filla saat jarinya tanpa sengaja menyukai foto Rangga. "Lo sih, gimana nih," ucap Filla panik sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Iren.


Iren memutar bola mata malas, "Mau gimana lagi? Santai kali, lebay amat," ledek Iren.


"Santai apaan kalau gini, entar Rangga mikir macem-macem gimana?" tanya Filla dengan wajah paniknya.


"Lebay banget, mimpi apa gue sahabatan sama orang kayak lo, lagian Rangga juga bisa aja nggak sadar sama like lo itu," ledek Iren sambil bergidik ngeri.


Filla menampar lengan Iren kesal, "Gara-gara lo nih."


Iren mengangkat kedua bahunya tak perduli, "Terima nasip aja, mungkin udah takdir lo."


"Kampret," ucap Filla lalu melempar ponselnya keatas kasur dan menutup wajahnya sambil berbaring.


"Terima aja, oke," ledek Iren lalu tertawa sedangkan Filla menatapnya dengan tatapan sebal. "Lebih baik lo mandi," ucap Iren menepuk kepala Filla pelan.

__ADS_1


******


__ADS_2