Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 142


__ADS_3

"Maksud lo apa Kania?" tanya Filla heran.


Kania melipat tangannya didepan dada, "Gue cuma mau kasih tahu lo buat jauhin Rangga," ucap Kania dengan tatapan tajam.


"Gue emang nggak pernah deketin Rangga."


"Omong kosong, setelah lo putus dari Vino, Rangga berubah, itu pasti gara-gara lo!" ucap Kania mulai memanas.


Filla menghela napas, "Please Kania, jangan kekanakan, gue nggak ada hubungan apa-apa sama Rangga, lo tahu sendiri gimana Rangga selalu bersikap sama gue."


"Itu dulu, gue nggak bodoh untuk tahu kalian saling suka, tapi inget semua karena lo ngegodain Rangga, kalau nggak, Rangga nggak akan mutusin gue!" Kania mendorong tubuh Filla sampai membentur pintu.


"Aw," Filla memegang lengannya yang terasa nyeri. "Lo apa-apaan sih Kania? Gue nggak punya waktu buat ladenin lo," ucap Filla lalu berbalik berusaha membuka pintu. "Paman," panggil Filla kencang.


"Percuma, dia nggak bakalan dengerin lo, orang dia udah pulang," ucap Kania lalu tertawa.


Filla membulatkan mata.


"Gue lepasin lo asal janji nggak akan ganggu hubungan gue sama Rangga."


Filla menatap Kania dengan tatapan muak, "Gue udah bilang, gue sama Rangga nggak ada hubungan apa-apa!"


Kania menarik tangan Filla lalu mendorong Filla sampai kening Filla membentur meja, "Itu buat lo yang munafik!" Kania membuka pintu lalu menguncinya dari luar.


"Kania! Kania!" teriak Filla sambil menggedor pintu, dirinya memegang kening yang sedikit nyeri. "Berdarah," ucap Filla saat melihat darah ditangannya.


Filla menggedor berulang pintu namun hanya suara Kania tertawa yang terdengar.


"Lo disitu sampai besok, salah sendiri nggak mau ikutin mau gue," ucap Kania dari luar.


"Kania, buka!" Filla berusaha keras menggedor namun percuma, suara langkah kaki Kania tetap menjauh.


Filla mendudukkan diri dilantai, dirinya meronggoh ponsel yang ada didalam sana, sialnya ponsel tersebut mati, membuat Filla melempar kembali ponselnya kedalam tas.


"Ah," teriak Filla saat lampu dimatikan, ia tidak bisa melihat apa-apa sekarang. "Kania buka!" teriak Filla berulang sambil menggedor pintu.


Filla menangis, dirinya sejak kecil sangat takut dengan kegelapan, Filla merapatkan kakinya lalu membenamkan wajahnya diatas lutut. lebih baik gelap karena menutup mata daripada melihat sekeliling.


Filla terisak tidak berani membuka matanya, "Buka," ucapnya pelan sambil menepuk pintu berulang, namun sepertinya percuma, Kania tidak akan kembali.


*******


"Hallo Ngga," Kania langsung duduk disebelah Rangga yang sedang duduk diruang keluarga sambil menonton film bersama Fida dan Ara.

__ADS_1


Rangga menggeser duduknya membuat Kania berdecak kesal.


"Rangga kenapasih?" Kania kembali menggeser duduknya mendekati dan bergelayut pada lengan Rangga.


Rangga berjalan ke dapur meninggalkan Kania.


Kania dengan cepat mengejar Rangga, "Oh mau minum, bilang dong sayang, aku bisa ambilin," ucap Kania manja.


"Lepas!" bentak Rangga.


"Rangga kenapasih, aku udah minta maaf kenapa masih marah sampai sekarang?" tanya Kania sambil menghentakkan kakinya.


Rangga mendekat lalu menatap tajam Kania, "Lo belum paham? Kita udah putus, nggak ada hubungan apa-apa, jadi berhenti nampakin muka didepan gue!" bentak Rangga.


Kania menatap Rangga, "Apa ini karena Filla?Iya?" bentak Kania tak kalah keras.


"Nggak ada hubungannya sama Filla, lo ngaca sendiri, lo bukan Kania yang gue kenal dulu, lo egois, matre," teriak Rangga mengeluarkan semua unek-uneknya.


Kania melipat tangan didepan dada, lalu tersenyum, "Karena itu? Aku realiatis ya nggak ada perempuan yang nggak hobby belanja, itu kewajiban kamu sebagai pacar, buat memenuhi kebutuhanku."


"Gila," ucap Rangga hendak meninggalkan Kania.


"Aku udah lakukan hal lebih gila sama perempuan yang kamu sayang, pengen denger?" tanya Kania sambil tertawa.


Rangga berbalik, "Maksud lo apa?" tanya Rangga.


"Lo lakuin apa terhadap Filla?" tanya Rangga tegas.


"Wow santai, aku cuma kunciin dia dan matiin lampu, nggak terlalu kejam kan?" tanya Kania.


Rangga terbelalak, "Lo gila? Dimana dia sekarang?" tanya Rangga.


Kania tertawa, "Nggak akan aku kasih tahu," ucap Kania dengan tatapan tajam.


Rangga berlari meninggalkan Kania, ia harus menemukan Filla sekarang, Rangga tahu pasti bagaimana phobianya Filla dengan kegelapan.


"Rangga!" teriak Kania mengejar Rangga.


"Rangga, kenapa?" tanya bunda yang baru turun dari lantai atas menahan Rangga.


"Nanti Rangga jelasin, sekarang Filla butuh pertolongan," ucap Rangga.


"Filla, butuh pertolongan apa Ngga? Filla cuma ke toko buku depan komplek," ucap bunda heran.

__ADS_1


"Toko buku depan komplek?" tanya Rangga sambil memegang pundak bunda, bunda mengangguk.


Tanpa menunggu lama, Rangga berlari kencang keluar dari rumah meninggalkan bunda yang meneriakinya.


"Ada apa Kania?" tanya bunda menahan Kania yang mengejar Rangga.


"Bukan urusan bunda," ucap Kania lalu berlari mengejar Rangga.


Bunda menatap heran pada Kania, baru saja gadis yang selalu bersikap manis padanya berbicara tidak sopan.


*******


Rangga berlari kencang tanpa menghiraukan sekitar, ia hanya ingin sampai ke toko buku itu secepat mungkin, ia tidak bisa membayangkan bagaimana takutnya Filla sendiri disana.


"Sial," ucap Kania berhenti dengan napas terengah, dirinya tidak sanggup mengejar Rangga yang tak lagi terlihat.


Rangga berdiri tepat didepan toko buku, dirinya mendobrak pintu sekuat tenaga, sampai dobrakan ketiga akhirnya pintu itu terbuka.


"Filla, Fill," teriak Rangga melihat sekeliling.


"Tolong!"


Rangga mendengar suara lirih Filla, dengan cepat ia mendekati pintu dimana suara Filla berasal, "Fill, kamu tenang oke," ucap Rangga pelan.


"Rangga tolong," ucap Filla sambil menangis.


"Kamu menjauh dari pintu oke," ucap Rangga. Mendengar langkah kaki Filla, Rangga tanpa menunggu lama mendobrak pintu sekuat tenaga.


Dobrakan ketiga akhirnya pintu tersebut terbuka paksa.


Filla menghambur ke pelukan Rangga, dirinya menangis di dada bidang Rangga, "Bawa gue keluar, gue mohon," ucap Filla lirih sambil menangis.


Rangga mengusap puncak kepala Filla, menciumi puncak kepala Filla berulang, "Kamu tenang, ada aku," ucap Rangga memeluk Filla erat.


"Gue takut gelap," ucap Filla membenamkan wajahnya di dada bidang Rangga.


"Aku tahu, ayo kita keluar," ucap Rangga, membawa Filla keluar dengan posisi Filla masih memeluk dirinya.


"Apa yang terjadi?" tanya paman Roni terkejut saat mendapati pintu tokonya rusak.


"Maaf Pak, teman saya terkunci didalam, dan keadaannya sedang tidak baik, saya bawa dia dulu, urusan pintu dan kerusakan lainnya nanti saya ganti, ini nomor telepon saya," ucap Rangga memberikan kertas yang untung saja tertulis nomor ponselnya.


Paman Roni mengangguk, "Yasudah, kalian hati-hati, maaf karena ini salah paman juga," ucap paman Roni ikut prihatin dengan Filla yang masih menangis tanpa mau melepas wajahnya dari pelukan Rangga.

__ADS_1


Rangga mengangguk lalu membawa Filla ke taman komplek yang tidak jauh dari toko buku.


********


__ADS_2