Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 66


__ADS_3

"Kenapa Fill?" tanya Rangga setelah berhasil menarik tangan Filla.


"Bukan urusan lo," ucap Filla.


"Oke," Rangga menarik Filla menuju parkiran.


Filla hanya mengikuti tanpa mau membantah, malas berdebat dengan Rangga didepan umum, hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.


"Mau kemana lagi?" tanya Rangga ketika mereka tepat berada disamping motor milik Rangga.


Filla mengerutkan keningnya, "Pulang la, mau ngapain lagi?" tanya Filla.


"Makan dulu ya," tawar Rangga.


Filla menggeleng, "Gue belum laper, gue mau pulang, kalau lo mau makan gue bisa naik taksi," jawab Filla cepat.


Rangga menarik tangan Filla, "Oke kita pulang," Rangga menempatkan diri diatas motornya.


Rangga menghentikan laju motor saat mereka di depan lampu lalu lintas, "Fill semester ini kamu ambil mata kuliah umum yang mana?" tanya Rangga.


Filla terdiam sebentar, "Belum tahu," jawab Filla singkat tanpa mau memperpanjang obrolan dengan Rangga, ia hanya berharap waktu cepat berlalu dan Rangga tidak berada di sekitarnya lagi.


Rangga memilih diam setelah mendapati jawaban Filla.


Selang beberapa menit mereka sampai dihalaman rumah bunda, Filla langsung turun dan membawa belanjaan kedapur.


"Bun, Ini dagingnya," ucap Filla ketika masuk kepintu penghubung dapur dan ruang makan.


"Taruh disitu Kak, makasih ya," ucap Bunda.


"Masih ada yang perlu Filla bantu Bun?" tanya Filla sambil melirik dapur yang sudah sangat rapi.


"Udah semua Kak," ucap bunda.


Filla mengangguk, "Yaudah Filla pulang ya, kalau ada apa-apa telpon Filla aja," ucap Filla sambil menyalami bunda.


Bunda mengangguk, "Siap Kak, Kakak istirahat aja, nanti malem bau kesini lagi," ucap Bunda.


"Oke Bunda, yaudah Filla pulang dulu."


"Oiya Kak, temen Kakak ajak aja nanti malem, Bunda juga kan mau tahu," ucap Bunda menaikkan kedua alisnya.


Filla tersenyum, "Temen Filla cewek semua Bun."


"Cowok juga nggak apa-apa," ledek Bunda sambil mencubit pelan pipi Filla.


"Bunda," rengek Filla yang meraih tawa keras Bunda. "Yaudah iya," ucap bunda mengalah.


Filla berjalan keluar setelah pamit dengan bunda, matanya menatap punggung Rangga yang berada diruang keluarga sambil menonton TV, jika dulu mungkin ia akan dengan cepat mengambil kesempatan duduk disebelah Rangga.


Namun sejak hari ketika ia berniat melupakan, maka hal itu akan menyulitkan dirinya, Filla berjalan meninggalkan Rangga dan juga harapan yang pernah ia damba.

__ADS_1


******


Filla menatap layar ponselnya yang menyala setelah bunyi dering pesan terdengar, Filla menggeser dengan malas menuju meja disambing kanan tempat tidurnya.


"Kak Rafael?" ucap Filla pelan.


From Rafael


Filla, ini Rafael, di save ya nomornya.


To Rafael


Iya Kak, siap


Filla hanya menjawab singkat lalu kembali meletakkan ponselnya dinakas, Filla terlentang lalu menatap langit-langit kamarnya yang indah dihiasi bintang, mama dan papa memang mendesain kamar Filla seunik mungkin dan Filla sangat menyukainya.


Ketukan pintu membuyarkan lamunannya, "Non," panggil seseorang dibalik pintu, Filla ketahui pasti itu bi Surti.


Filla berjalan mendekati pintu dan membukanya, "Iya Bi," jawab Filla sambil tersenyum.


"Maaf Non kalau Bibi membangunkan," ucap bi Surti sambil menunduk merasa bersalah.


Filla tersenyum, "Bibi, kenapa masih begitu? Filla jadi merasa bersalah kalau Bibi takut sama Filla," jelas Filla sambil memegang bahu bi Surti pelan.


Bi Surti mendonggak lalu tersenyum, "Ini Non, ada cemilan, tadi Bibi bikinin, siapa tahu Non suka," ucap bi Surti sambil menyodorkan cemilan yang sudah ia bawa dengan nampan.


Filla tersenyum antusias, "Filla udah lama nggak makan ini, pasti enak," ucap Filla sambil mengambil nampan dari tangan bi Surti.


Bibi tersenyum melihat Filla suka dengan cemilan yang ia buat.


Bibi tersenyum Kikuk, "Oke Filla," ucap Bibi walau masih kagok.


Filla tertawa, "Nah gitu dong, oiya makasih Bi makanannya," Filla mengangkat nampan menunjukkan pada bi Surti.


Bi Surti mengangguk sambil tersenyum, "Yaudah Bibi kedapur dulu ya Non eh Filla."


Filla tertawa, "Iya Bi, makasih."


Bibi mengangguk lalu meninggalkan Filla menuju dapur.


Filla meletakkan nampan berisi cemilan dimeja sebelah tempat tidurnya, lalu kembali membaringkan diri, rasanya penat setelah banyak mengerjakan tugas kuliah tadi pagi.


"Akak," teriak Tita yang sudah menerobos masuk kedalam kamar Filla dan ikut naik keatas kasur.


Filla mendudukan diri diatas kasur sambil tertawa melihat Tita yang sangat antusias, "Udah pulang adeknya kakak?" Filla langsung merentangkan tangan menunggu pelukan Tita.


Tita tanpa menunggu lama langsung melopat memeluk Filla, "Akak, Tita beli ini buat Akak," ucap Tita sambil menunjukkan sebuah kotak yang sudah dibungkus rapi pada Filla.


"Apa ini Ta?" tanya Filla.


"Buka dong," Tita menaikkan kedua bahunya, sangat imut menueut Filla.

__ADS_1


"Rahasia-rahasiaan ni maksudnya?" tanya Filla sambil mengacak rambut Tita.


"Kata Bunda bukan Rahasia tapi cuprais," ucap Titta membuat Filla tertawa dengan cara bicara Tita.


"Ok, cupraisnya kakak buka ya?"


Tita mengangguk cepat, ia sepertinya tidak sabar menunggu Filla membuka dan melihat kado pemberiannya.


"Wah," Filla terkagum mendapati kotak musik yang sangat indah. "Tita yang pilih?" tanya Filla sambil menatap Tita.


"Iya dong, api dibantu Mama," aku Tita.


Filla tertawa, "Makasih lo, Kakak suka," ucap Filla sambil memeluk Tita.


"Aduh anak-anak Mama, akur banget," ucap mama yang baru masuk kekamar Filla.


"Ma beneran Tita yang pilihin?" tanya Filla.


Mama ikut duduk dikasur Filla, "Iya Kak, dia sampai mohon-mohon sama Bunda buat beliin dulu, katanya nanti duitnya diganti sama tabungannya dia," jelas mama sambil tersenyum.


"Mama, itu Rahacia, kan Tita udah bilang adi, ah Mama tidak baik," ucap Tita sambil mempautkan bibirnya.


"Oh iya, Sorry Mama lupa," ucap mama sambil memeluk Tita. "Maafin ya Ta."


Tita mengangguk walau ia tetap mempaitkan bibirnya.


"Ini bibirnya kenapa masih begini?" tanya Filla sambil menunjuk bibir Tita yang sangan menggemaskan menurutnya.


Tita menggeleng, "Ndak kok," Tita tersenyum lalu memeluk mama erat. "Janji ya, anti ndak boleh lagi bejitu," ucap Tita sambil menatap harap pada mama.


Mama mengangguk cepat, "Aduh baiknya anak Mama," Mama memeluk erat Tita.


"Kakak juga punya kado buat Tita," ucap Filla saat teringat barbie frozen yang ia beli kemarin saat melihat toko boneka setelah membeli buku.


Tita menatap dengan antusias pada Filla.


"Tara," Filla menunjukkan barbie fozen yang masih rabi terbungkus dalam kotak teransparan.


"Ojen," teriak Tita sambil berlari menuruni kasur dan mendekat pada Filla yang berada didepan lemari.


Filla memberikannya pada Tita, "Suka nggak Ta?" tanya Filla.


Bunda ikut tersenyum, "Pasti suka itu Kak, Tita udah lama pengen itu, tadi udah Mama tawarin, katanya nanti aja, beli kado buat Kakak dulu," jelas mama.


"Yaampun adiknya kakak baik banget," ucap Filla memeluk Tita.


"Akak," teriak Tita membuat Filla melepas pelukannya. "Nanti Ojen cecak napas," ucap Tita sambil mengusap kotak yang membalut barbie frozennya.


Filla dan Mama tertawa lepas, Filla mengacak rambut Tita gemas.


"Api Maacih Akak," ucap Tita lalu menaruh kotaknya di lantai dan memuluk Filla erat.

__ADS_1


Filla san Mama hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu Tita.


******


__ADS_2