
Rangga berjalan masuk kedalam sebuah cafe, dirinya melangkah mendekati Putra yang duduk disudut kanan cafe.
"Tra," sapa Rangga sambil memegang bahu Putra.
Putra menoleh tanpa ekspresi sambil ikut menepuk bahu Rangga. "Gue pikir nggak bakalan dateng," ucap Putra sambil melingkari gelas dengan jari telunjuknya.
Rangga tersenyum tipis, "Lo galau gini, gimana gue bisa nolak dateng," ucap Rangga.
Putra tersenyum tipis, "Gue ngerasain jadi lo," Putra tersenyum seolah mengatai dirinya sendiri.
Rangga menepuk bahu Putra, "Ada apa?" tanya Rangga.
Putra menoleh pada Rangga lalu menyesap minuman yang sejak tadi hanya ia pandangi, "Gue udah putus," ucap Putra lalu kembali menoleh pada kaca jendela cafe yang menampilkan aktivitas jalan raya didepan sana.
Rangga menghela napas, lalu menyesap minuman yang sempat ia pesan tadi.
"Udahlah," ucap Putra memaksa senyumnya, "Lo gimana? 1 tahun kepergian Filla masih lo sesali?" tanya Putra.
Rangga menaikkan kedua alisnya lalu tersenyum miris, "Mungkin udah jadi hukuman buat gue," ucap Rangga.
"Kadang butuh kehilangan buat tahu dia lebih berharga dari apapun," ucap Putra.
Rangga menepuk bahu Putra, "Sekarang, hubungan kalian benar-benar berakhir atau masih bisa lo perbaiki?" tanya Rangga.
"Awalnya gue kira bisa, ajakan dia buat berteman gue kira bisa bikin kami memulai kembali, nyatanya nggak," ucap Putra.
"Kenapa lo setuju untuk putus? Kalau akhirnya lo sendiri yang merasa sakit."
"Katena dia yang minta," ucap Putra lalu menunduk, banyak yang menjadi beban pikirannya, dan Rangga tahu itu.
Rangga menghela napas, "Bukannya dia sering minta putus saat kalian bertengkar?" tanya Rangga, dirinya tau pasti bagaimana hubungan Putra dan pacarnya.
"Ya, namun ada di satu titik dia cuma diam, gue kira dia memahami masalah yang terjadi nyatanya dalam diam dia menyiapkan perpisahan paling menyakitkan."
Rangga menepuk berulang bahu Putra, "Kalau gitu kejar, jangan menyerah, jangan lo hukum diri lo sendiri dengan penyesalan."
Putra menghela napas, "Rara punya orang lain yang lebih baik dari gue Ngga," ucap Putra pasrah.
"Yang lo lihat belum tentu sama kayak apa yang terjadi di lapangan Tra, lo harus pastiin itu,"
Putra menggeleng, "Gue baru paham bahwa pria berteman dengan wanita karena dia menyukainya tapi tidak untuk wanita, mereka berteman karena mulai tidak menyukai. Dan Rara ada pada pase itu."
Rangga teringat ajakan pertemanan terakhir Filla, ucapan Putra seolah juga tertuju padanya, Rangga menyesap kembali minumannya, lagi-lagi dirinya akan menyesali kesempatan yang ia sia-siakan selama ini.
Filla seolah menyiapkan diri menghapus Rangga sedangkan Rangga masih berada dititik awal.
__ADS_1
*******
Rangga duduk di kursi dekat balkon kamarnya, sejak tadi dirinya masih menatap balkon Filla yang hampir setahun tidak pernah dibuka, Filla bahkan tak berniat untuk pulang walau sesaat.
Rangga berusaha keras menjalani masa-masa kuliahnya walau bayangan Filla selalu hadir, Rangga termenung sambil memegang buku kecil pemberian Filla.
Membacanya Rangga soalah diberitahu bahwa begitu banyak kesempatan yang ia sia-siakan, yang tersisa hanya penyesalan yang tidak miliki arti.
Semua orang disekitar Rangga tentu menyadari setiap perubahan sikap Rangga setelah kepergian Filla, hidup Rangga seolah dirubah dengan sendirinya.
Rangga teringat percakapannya dengan Filla, dan setiap mengingatnya Rangga membenci sikapnya sendiri.
Rangga menaiki motornya yang ada diparkiran kampus, mencoba memasang helmnya sampai tangan Filla menggenggam lengannya membuat aktivitasnya terhenti. "Apalagi?" Rangga bertanya dengan wajah malasnya.
Filla masih dengan senyuman tanpa beban, senyuman yang mungkin tidak pernah akan seseorang tunjukkan ketika mendapat perkataan kejam bahkan sebelum berbicara, "Nebeng ya?"
"Emang lo pernah nanya kalau mau nebeng? Nggak tahu malu," ucap Rangga.
Dan lagi Filla tidak pernah menyerah dengan segala ucapan Rangga, "Asik, naik nih," ucap Filla antusias.
Namun sekali lagi wajah Filla murung ketika Rangga dengan kecepatan tinggi meninggalkan Filla yang baru bersiap naik ke atas motornya.
Rangga menghirup napas dalam-dalam, dirinya memejamkan mata, merasakan sesak yang mungkin dulu Filla rasakan mendapati sikapnya.
Kepergian Filla adalah kesempatan terakhir yang juga Rangga sia-siakan, membuatnya sulit tidur dan mengesampingkan Filla dalam setiap harinya.
Rangga membuka buku yang Filla berikan, semua tentangnya ditulis rapi oleh Filla disetiap lembarnya.
Rangga mengusap pelan salah satu lembaran dalam buku yang berupa tulisan Filla tentang semua rasa sakit yang Rangga berikan.
"Sejahat itu aku sama kamu Fill," ucap Rangga.
Rangga membuka halaman terakhir, sengaja melangkahi halaman-halaman yang sudah sering ia buka.
Harusnya aku paham, mencintaimu akan sesakit ini...
Rangga meraba tulisan yang Filla tulis dengan tinta hitam, menyusuri tiap kata yang ada, tulisan tersebut seolah menyindirnya.
Dan lagi, melepasmu adalah pilihan terakhir yang ada...
Rangga memejamkan matanya, menghirup udara yang terasa menipis karena rasa bersalah yang ia rasakan.
********
Rangga berjalan masuk kedalam kamarnya, sampai pintunya terbuka dan Kania dengan senyuman khasnya antusias mendekati Rangga.
__ADS_1
"Rangga, aku panggil dibawah kok nggak ada respon?"
Rangga menghempas tangan Kania yang memegang lengannya, "Siapa yang suruh lo masuk? Keluar," ucap Rangga malas.
"Nggak mau, kenapa sih Ngga, apa susahnya balik kayak dulu?" ucap Kania sambil melipat tangan didepan dada.
Rangga tersenyum sinis, "Nggak ada tempat buat orang nggak berhak kayak lo, keluar!" bentak Rangga sambil menunjuk pintu kamarnya.
"Pasti gara-gara ini, kamu pasti di pelet karena buku ini," ucap Kania merampas buku ditangan Rangga.
Rangga terbelalak, "Balikin Kania!" ucap Rangga sambil menatap Kania tajam.
"Nggak akan, aku mau buang buku ini," ucap Kania lalu berlari keluar dari kamar Rangga.
Rangga dengan cepat mengejar Kania, mereka menuruni tangga, sampai pada lantai bawah Bunda menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kania balikin atau gue bikin lo nyesel," amarah Rangga benat-benar tidak bisa diatasi.
"Stop!" teriak bunda.
Kania berjalan mendekati tempat sampah di ruang keluarga, "Aku nggak segan-segan buat buang ini, pasti gara-gara buku ini kamu berubah," ucap Kania sambil memegang buku tepat diatas tempat sampah.
"Berani lo buang, gue nggak akan tinggal diam!"
"Kania balikin buku Rangga, dan sebaiknya kamu pulang," ucap bunda penuh penekanan.
"Nggak mau Bunda, Rangga berubah karena ini," ucap Kania memelas pada bunda.
"Kania balikin!" bentak Rangga menarik tangan Kania.
Kania menatap tajam pada Rangga lalu menjatuhkan buku tersebut dan membiarkannya dalam keadaan terbuka diatas lantai. lalu menginjaknya.
"Kania!" teriak Rangga sambil melihat buku pemberian Filla yang diinjak Kania tanpa dosa. Rangga menarik tangan Kania keluar dari rumah.
Kania tetap bertahan dengan menampar tangan Rangga, "Rangga sakit, jangan ditarik."
"Rangga, pelan-pelan nak, jangan kasar," ucap bunda mengingatkan namun Rangga tetap berada pada puncak kemarahannya.
Rangga mendorong Kania sampai tersungkur di teras depan rumah, "Gue udah peringati lo buat tahu batasan, jangan pernah nginjekin kaki kerumah ini atau lo tau akibatnya," Rangga membanting pintu sekuat mungkin membuat bunda mengusap dada.
"Sabar Ngga," ucap bunda berjalan mendekati Rangga.
Rangga yang teringat dengan buku pemberian Filla langsung berlari dan merapikannya, "Sial!" ucap Rangga kesal. "Maaf Fill," ucapnya lalu membawa buku tersebut kembali ke kamarnya.
******
__ADS_1