Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 107


__ADS_3

"Tapi selamet Rey, akhirnya," ucap Ola merasa senang dengan keberhasilan sahabat- sahabatnya.


Reya memamerkan gigi rapinya, "Makasih," ucapnya senang, akhirnya ia bisa membagi kebahagiaanya setelah menyimpan hampir 2 hari untuk membuat kejutan.


"Wait, gue masih penasaran sama lo Fill," ucap Ola dengan tatapan menyelidik.


Filla mengangkat kedua alisnya penasaran, "Maksudnya?" tanya Filla.


Reya ikut menatap Filla dengan tatapan menyelidik, "Gue setuju sama lo La," ucap Reya yang mengerti arah pembicaraan Ola.


"Stop!" ucap Caca sambil merentangkan tangan. "Kenapasih? Cacanya diajak dong biar bisa ikut nimbrung gitu," ucap Caca sambil mempautkan bibirnya.


"Ca, sabar ya, butuh pemikiran tinggi kayak Reya yang bisa nimbrung di obrolan gue," ucap Ola.


Caca mengerutkan alisnya, "Maksudnya?" tanya Caca masih tidak paham dengan ucapan Ola.


"Maksudnya pikiran lo cetek Ca," ucap Filla meledek Caca.


Caca menggaruk keningnya yang tak gatal, "Diem aja deh, tambah nggak paham," ucap Caca sambil menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi.


"Nah itu lebih baik," ucap Ola membuat Reya dan Filla tertawa. "Stop, kembali ke cerita awal, jadi pasti ada lagi kan yang mau lo sampein? Nggak mungkin cuma bilang mau sidang, lo nggak ngizinin Jiel deteng," ucap Ola.


Filla tersenyum lalu menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi, "Segitunya, lagian Jiel mau ngapain kesini? Ikutan peluk-pelukan sama kita?" tanya Filla meledek.


"Ya nggak gitu juga," ucap Ola sambil meminum air putih didepannya.


"Tapi insting lo tajem banget la, sebenernya gue mau bilang kalu gue …," Filla sengaja menghentikan ucapannya, mempersiapkan diri mengatakannya.


Ola, Caca dan Reya mendekatkan diri pada Filla, seperti tak ingin ketinggalan satupun cerita Filla.


"Gue memutuskan buat nerima Kak Vino," ucap Filla dengan satu kali tarikan napas.


"Oh," ucap sahabat-sahabatnya bersamaan temasuk kembali menyenderkan tubuh mereka kembali pada senderan kursi.


"Reaksi macam apa ini? Gue mempersiapkan diri lama banget buat jujur," ucap Filla heran dengan reaksi ketiga sahabatnya.


Reya, Caca dan Ola saling pandang bergantian.


"Terus mau kita teriak-teriak gitu?" tanya Ola. "Kita udah tahu lo bakalan terpikat sama ketampanan Kak Vino, jadi udah nggak kaget kalau lo bakalan nerima dia," ucap Ola yang meraih anggukan Reya dan Caca.


"Nggak asik kalian," ucap Filla sambil menyeruput lemon tea kesukaannya.

__ADS_1


"Jadi gimana? Udah sampai mana perasaannya?” tanya Reya sambil mengangkat kedua alis tak lupa dengan senyumannya.


"Iya, tinggal gue dong yang jomblo," ucap Caca sambil mempautkan bibirnya.


"Terus Andre tuh apa? Roti?," tanya Reya.


"Oiya, eh tapi Andre pacar gue Rey bukan roti," ucap Caca tak terima.


Reya mengaruk kepalanya dengan kesal, "Sumpah kalian nemu dimana sih seonggok manusia ini?" tanya Reya kesal pada Ola dan Filla yang hanya menaikkan kedua bahu mereka sambil tertawa.


"Serius aku tuh Reya, Andre bukan roti," ucap Caca masih kekeh dengan ucapannya.


Reya memaksa senyum pakasanya,l, "Yang bilang Andre roti siapa Caca? Astagfirullah," ucap Reya. "Stop, baiklah gue yang salah, Andre pacar lo bukan roti," ucap Reya saat Caca hampir menyahut ucapannya, daripada panjang kali lebar, kali tinggi ditambah luas alas, lebih baik Reya memilih mengalah.


Caca mengangguk merasa bangga Reya mengakui kesalahannya.


"Udah bahas rotinya? Jadi gimana Fill?" tanya Ola bersemangat jika membahas hubungan Filla, karena walau terpisah beberpa tahun dengan Filla, bisa dibilang Ola lebih banyak menghabiskan waktu disamping Filla, ia tahu pasti bagaimana Filla menolak semua pria yang hampir sempurna diluar sana.


Filla mengangkat kedua bahunya, "Gue mau berusaha mencintai kak Vino pastinya, kak Vino bilang, dia mau berusaha sama- sama buat gue lupain Rangga," ucap Filla, menyebut kembali nama Rangga mengingatkannya pada pertemuan terakhirnya dengan Rangga kemarin.


"Sosweet banget sih kak Vino," ucap Ola sambil menopang dagunya dengan tangannya.


"Kak Vino orangnya dewasa banget Fill, dengan dia ngomong kayak gitu sama lo, dia bener-bener sirius buat ngejalanin ini sama lo, gue yakin," ucap Reya sambil menepuk bahu Filla memberi semangat.


"Jadi, ayo lupain Rangga," ucap Ola dengan antusias.


Filla hanya tersenyum, andai bisa semudah itu untuk dirinya melupakan, mungkin tidak akan semenyakitkan ini jika mengingat semua hal tentang Rangga.


Ponsel Filla berbunyi, membuat Filla meronggoh tasnya, nama Vino dengan emote hati tampil dilayar ponselnya, ia sengaja berusaha keras melakukan apapun agar tidak menyakiti Vino dan mengahargainya, salah satunya memberikan ruang dalam hatinya untuk Vino.


"Nghem, pacar tuh," ucap Ola sambil menunjuk pintu masuk cafe dengan isyarat wajahnya, membuat Filla dan yang lain serentak menatap arah pandang Ola.


"Kakak," ucap Filla saat mendapati Vino yang masuk kedalam cafe dengan ponsel ditelinganya, tidak menyadari kehadiran Filla dan yang lain.


"Dia nggak sadar kayaknya, angkat aja, sekalian kasih surprise," ucap Reya.


Filla mengangkat telpon dari Vino, "Hallo Kak," ucap Filla membuka pembicaraan. Filla melihat kearah Vino yang sudah menaiki tangga ke lantai atas.


"Dek, lagi dimana? Kakak lagi di cafe deket kampusmu nih? Mau makan siang bareng?” tanya Vino.


"Udah sana, kita juga udah mau bubar," ucap Ola berbisik tanpa mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Bentar Kak," ucap Filla sambil menjauhkan ponselnya. "Seriusan?" tanya Filla pada ketiga sahabatnya.


Mereka mengangguk antusias, sambil mengisyaratkan Filla untuk menemui Vino.


"Sana, gue juga udah mau dijemput Jiel," ucap Ola.


"Iya, sana," ucap Caca dan Reya yang meraih anggukan Filla.


"Kabarin gue kalau dah sampai rumah," ucap Filla yang meraih anggukan dari ketiga sahabatnya, ditambah dukungan antusias dari mereka bertiga.


Filla berjalan meninggalkan ketiga sahabatnya.


******


"Hallo Kak," ucap Filla setelah menempatkan ponselnya kembali ketelinga.


"Iya dek, Kakak ganggu kamu ya? Kamu masih ada kelas?" tanya Vino, terdengar nada khawatir dari ucapnnya.


"Nggak kok,” ucap Filla, Filla tersenyum saat mendapati Vino duduk dengan membelakanginya, kesempatan untuk mengejutkan Vino. Filla berdiri dibelakang Vino.


"Kamu lagi dimana?" tanya Vino.


"Dibelakang Kakak," jawab Filla.


"Maksudnya?" tanya Vino dengan alis mengkerut, bingung dengan ucapan Filla. Sampai ia menyadari dan berbalik, ia tak bisa menahan tawanya saat Filla berdiri sambil melambaikan tangan dibelakangnya. "Kok bisa disini?" tanya Vino yang langsung berdiri dan mengacak rambut Filla.


"Kakak, aku rapi gini masak rambutnya diberantakin?" ucap Filla pura-pura kesal.


"Iya maaf, abisnya gemes," ucap Vino lalu merapikan rambut Filla, dan membawa Filla duduk dikursi dihadapannya. "Gimana bisa tiba-tiba dibelakang Kakak, baru aja tadi mau ngajakin makan siang," ucap Vino sambil meletakkan ponselnya diatas meja.


Filla tersenyum, "Aku tadi lagi ngumpul dibawah sama temen-temen, aku udah kasih tahu Kakak kan pagi tadi lewat chat kalau aku bakalan pulang telat."


Vino mengangguk, "Jadi temen-temenmu mana? Kakak mau sapa," ucap Vino.


"Udah pulang Kak, tadi mereka antusias banget waktu Kakak masuk kedalam cafe, makanya aku disuruh langsung nyamperin Kakak, dan mereka balik," jelas Filla sambil tersenyum.


Vino ikut tersenyum, "Harusnya tadi panggil aja waktu Kakak masuk," ucap Vino.


"Nggak sempet, Kakak jalannya kan cepet banget."


"Iya nanti jalannya dipelanin deh," ucap Vino berhasil membuat Filla tertawa.

__ADS_1


******


__ADS_2