
"Kenapa?" tanya Kania ikut menoleh pada arah pandang Rangga. "Kamu kalau mau liatin kesana mending gabung," ucap Kania dengan tegas berdiri.
"Kania! Apaansih?" ucap Rangga kesal melihat tingkah Kania sambil menarik tangan Kania agar tidak mendekati meja Filla dan Vino.
Kania dengan kuat menghempas genggaman Rangga pada tangannya sampai terlepas.
Rangga menarik rambutnya sendiri tak mampu menahan Kania, tidak ada pilihan selain mengikuti langkah Kania, memastikan agar Kania tidak membuat keributan.
"Hai, boleh gabung?" tanya Kania saat berada disebelah Filla dan Vino.
Filla diam tak tahu akan menjawab apa untuk pertanyaan Kania.
"Boleh Kan?" tanya Kania, terlihat jelas nada memaksa.
"Kania, kita punya meja," ucap Rangga masih berusaha menarik tangan Kania.
"Nggak apa-apakan sekalian gabung?" tanya Kania masih betah.
Vino menatap Filla lalu mengangguk, "No problem," ucap Vino. "Sini dek," ajak Vino sambil menarik kursi disebelahnya.
Filla meraih tasnya lalu menempatkan diri disebelah Vino, sedangkan Vino sibuk memindahkan makanan milik Filla di depan Filla.
"Makasih Kak."
Kania langsung menempati tempat duduk Filla tadi diikuti Rangga disebelahnya, "Kebetulan ketemu disini," ucap Kania sambil tersenyum.
"Kita dari toko buku, cari bahan buat tugas," jawab Filla sambil tersenyum, walau ia tidak menyukai Kania, tentu saja sikap Filla harus menggambarkan sebaliknya.
Kania mengangguk, "Kita juga dari toko buku, tapi kok nggak ketemu ya Ngga?" ucap Kania sambil bergelayut ditangan Rangga.
Filla yang tanpa sengaja menatap tangan mereka membuang pandangannya kesamping hingga bertemu tatap dengan Vino.
Vino dengan tatapan teduhnya tersenyum pada Filla, "Kamu kalau makan masih sama kayak waktu kecil," ucap Vino membuat Filla menatap dengan tanya.
Vino mengusap sudut bibir Filla dengan jempolnya, membuat Filla tersedak.
"Ni," ucap Vino dan Rangga berbarengan.
Filla menatap dua gelas yang disodorkan kearahnya, bahkan tersedaknya tak terasa ketika melihat perlakuan Rangga dan Vino didepannya.
Filla langsung mengambil minumannya sendiri membuat Rangga dan Vino meletakkan kembali gelas yang mereka sodorkan.
"Makasih," ucap Filla masih terbatuk.
"Pelan-pelan," ucap Vino sambil menggosok punggung Filla.
Sedangkan Kania hanya menatap sebal pada Rangga.
Rangga menatap Vino dan Filla bergantian, entah apa yang dirasakan hatinya untuk sekarang, yang membuatnya bingung dirinya bukan mencemaskan Kania yang makin marah padanya.
Rangga membuang muka menatap kesamping, ada rasa yang terasa tidak asing menatap perlakuan Vino pada Filla tapi pikirannya tetap menolak.
Sejak tadi Kania menyenggol kaki Rangga, merasa kesal karena sikap Rangga, sedangkan Rangga tidak memperdulikan dan memilih menikmati makanannya yang sudah dipindahkan pelayan kemejanya.
"Acara apa ni? Nggak ngajak," ucap Ola membuat yang lain sedikit terkejut.
__ADS_1
Ola datang dengan pria yang Filla tebak adalah Aziel atau yang sering Ola sebut Jiel, dalam beberapa bulan, Filla, Caca, dan Reya selalu mendengar tentang Jiel, entah Jiel cool
atau Jiel romantis lah, akhirnya Filla bisa menemui sosok yang ia kira hanya fantasi Ola.
Filla dan Ola cepika-cepiki seperti biasanya.
Filla tersenyum meledek pada Ola, "Oh," ucap Filla.
"Jangan resek," ucap Ola dengan wajahnya yang sedikit memerah. "Kenalin, Aziel," ucap Ola memperkenalkan pria disampingnya.
Mereka saling menyebutkan nama satu persatu.
"Double date nih?" tanya Ola.
"Jangan ngadi-ngadi, lo yang harus diintrogasi," ucap Filla lalu mengajak Ola duduk disebelahnya
"Ini nggak apa-apa kita gabung?" tanya Aziel sebelum duduk disebelah Vino.
"Santai, kita berempat juga baru gabung," ucap Vino sambil menepuk bahu Jiel.
"Oiya Fill, nih dari Caca, yang ini buat lo dan satunya tolong kasih ke Reya ya, gue belum ketemu," ucap Ola sambil memberikan dua buah kotak pada Filla setelah meronggohnya dari dalam tas.
Filla mengambilnya penuh tanya, "Dalam rangka apa?" tanya Filla penasaran.
"Lo lupa atau gimana sih? Caca kan janji kalau papanya balik, bakalan minta oleh-oleh buat kita," ucap Ola.
Filla mengangguk sambil tersenyum, lalu menyimpannya kedalam tas disebelahnya.
"Kalian baru nyampe atau udah muter-muter?" tanya Vino sambil meletakkan jus yang baru selesai ia minum.
"Baru sampai," ucap Jiel.
"Ngga, aku nggak nyaman disini," bisik Kania.
"Kamu yang minta," ucap Rangga.
Kania melenggus kesal, "Nggak peka," ucap Kania lalu kembali memakan makanannya dengan kesal.
"Oiya Jiel, lo kok mau sih sama Ola?" tanya Filla membuat Ola disebelah menginjak kakinya keras. "Sakit! Santai kali," ucap Filla, membuat Jiel dan Vino tertawa.
"Jangan didengerin, dia ratu kepo," ucap Ola sambil menoel bahu Filla.
"Oiya Filla, kayaknya gue pernah lihat lo," ucap Jiel.
Filla mengkerutkan keningnya, "Oya? Dimana?"
"Kayaknya kita satu sekolah waktu SMP," ucap Jiel mengingat-ingat.
Filla membulatkan mata, "Aziel Candra?" tanya Filla setelah mengingat salah satu kakak kelas saat dirinya SMP.
Jiel tersenyum sambil mengangguk, "Iya, tapi waktu lo masuk, gue udah kelas 3," ucap Jiel.
"Gue inget, wah keren lo La, dapet Kakak hits," ucap Filla sambil menampar Ola.
"Kok lo masih inget? Filla aja lupa," ucap Kania membuka suara setelah lama terdiam.
__ADS_1
Jiel meletakkan minumannya, "Filla jadi omongan satu sekolah waktu itu," ucap Jiel mengingat.
"Omongan apa tuh?" tanya Kania penasaran.
"Pasti cewek populer kan?" tebak Ola.
"Bisa aja karena hal lain kan?" tentang Kania atas ucapan Ola.
Ola memasang wajah kesal mendengar ucapan Kania, "Sumpah nggak suka gue," bisik Ola pada Filla.
Filla tertawa pelan, "Makanya pas lo dateng gue bilang gue seneng, ya ini," ucap Filla pelan.
"Beneran karena populer, dia dibicarain semua angkatan waktu hari pertama MOS," ucap Jiel.
"Udah ketebak, sahabat gue mana pernah dibicarain selain kepopulerannya," ucap Ola bangga dengan nada menyindir.
"Apaan sih kalian, berlebihan," ucap Filla sambil tertawa, "Pernah kok di jambak kakak kelas gara-gara pacarnya ngobrol sama gue," ucap Filla ketika teringat drama masa remajanya.
Semua tertawa kecuali Kania, Kania menginjak kaki Rangga yang juga ikut tertawa, "Nggak lucu," ucapnya sebal.
Rangga menjauhkan kakinya dari Kania, lama-lama sifat menyebalkan Kania terasa memuakkan untuk Rangga.
"Sombong banget lo," ucap Ola sambil tertawa.
"Ye, orang beneran," ucap Filla bangga membuat Vino tertawa sambil mengelus puncak kepala Filla.
"Tangannya aktif ya bun," ledek Ola.
"Nggak usah resek, atau gue bocorin ke Jiel," ancam Ola.
Ola diam teratur membuat Filla melipat tangannya didepan dada.
*******
"Kayaknya nasip semua cowok nungguin cewek belanja deh, kecuali Rangga," ucap Jiel.
mereka sekarang duduk di pancuran air depan salah satu make up store, Filla dan Ola sibuk memilih make up yang mereka butuhkan, sedangkan Kania berada disebelah Rangga tanpa berniat ikut bergabung dengan Ola dan Filla.
"Nggak semua cewek hobby belanja kek mereka," ucap Kania sinis.
Vino tersenyum pada Jiel yang menatapnya dengan tanya, "Susah ditebak," bisik Vino seolah tahu arah tanya Jiel.
"Gue ke toilet," ucap Rangga lalu melangkah menuju toilet diikuti Kania setelah meraih anggukan Vino dan Jiel.
Rangga menarik Kania ketempat yang lebih sepi.
"Kamu maunya apa Kania? Bicara sinis dari tadi," ucap Rangga kesal.
"Ya kamu, udah tahu aku nggak nyaman, mau aja ikut mereka terus dari tadi," ucap Kania sambil melipat tangan ke depan dada.
Rangga memegang kepalanya, "Yang mau gabung siapa? Kamu yang tiba-tiba nyamperin mereka dan nimbrung," ucap Rangga kesal.
"Tapikan maksudnya cuma waktu makan aja, abis itu pisah, tapi kamu kayak betah banget, kenapa? Karena Filla? Iya?" tanya Kania.
"Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu, udah aku males debat, kamu yang mau gabung kan? Yaudah lanjutin," ucap Rangga lalu meninggalkan Kania.
__ADS_1
"Rangga!" teriak Kania membuat orang di sekeliling melihat padanya sedangkan Rangga terus berjalan tanpa menoleh.
******