Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 27


__ADS_3

Rico hanya diam dan mulai memejamkan matanya, untung Rico tipe anak yang bisa dibujuk, "Syukur udah tidur lagi," ucap Filla pelan lalu kembali duduk didepan TV, sekarang baru jam 4 sore, masih banyak waktu yang akan mereka lalui dengan rintangan, Filla jadi Ingat mamanya, mungkin dulu mamanya juga tak kalah capeknya mengurus dirinya yang pembangkang.


Bahkan Filla merasa dirinya yang mengurus anak yang masih bisa dibujuk saja susahnya minta ampun, apalagi mamanya yang mengurusnya selama ini tanpa kata lelah. Makasih Ma, selalu sabar ngadepin Filla, semoga Mama sama Papa baik ya disana, batin Filla.


"Duh lama banget ya, mereka pulang," ucap Rangga yang ikutan duduk disebelah Filla.


"Ya, lama lah Ngga, kan Bunda bilang pulangnya jam 10 malem," celetuk Filla sambil memencet remot menghidupkan TV, entah sudah berapa chanel yang ia ganti, menurutnya tak ada Film yang seru yang bisa ditonton.


"Bisa nggak, nggak ganti-ganti chanel? Pusing gue," gerutu Rangga yang menyenderkan tubuhnya disenderan sofa.


"Abis nggak ada yang seru," ucap Filla lalu ikutan bersender disebalah Rangga. "Oiya Ngga, lo punya DVD film-film apa gitu nggak?" tanya Filla.


Rangga berfikir sejenak, "Nggak punya gue," ucap Rangga santai.


"Yah," ucap Filla lemah. "Ngapain dong kita sekarang?" tanya Filla tanpa melihat kearah Rangga.


Rangga menjentikan jari, "Gue baru inget, Tiara sama Fida suka sama film deh, coba lo lihat kekamar mereka, siapa tahu ada," ucap Rangga yang langsung membuat Filla berlari tanpa kata, membuat Rangga tertawa melihat kecepatan Filla.


Beberapa menit kemudian, Filla datang dengan sekotak DVD ditangannya, "Gila Ngga, liat deh mereka punya koleksinya banyak banget," ucap Filla histeris menunjukan banyaknya DVD miik Tiara dan Fida saat duduk didepan Rangga.


"Mereka dapet dari mana sih?" tanya Filla.


"Mereka itu masih punya Kakak sebenernya, tapi kuliah di Malang, jadi mereka dititipin disini karena Kakaknya nggak mungkin bisa jaga dan biayai mereka dan DVD itu dari Kakak mereka, setahu gue setiap bulan Kakak mereka bakalan kirim DVD, makanya banyak," jelas Rangga.


"Berarti Fida sama Tiara adik kakak?" tanya Filla baru menyadari hal tersebut.


Rangga mengangguk.


"Pantesan mirip," celetuk Filla sambil melihat-lihat DVD film ditangannya. "Mau nonton yang mana nih?" tanya Filla.


"Terserah, lagian gue nggak mau nonton," ucap Rangga ketus.


Filla mengibaskan tangannya berulang, "Terserah deh, awas entar perotes," Filla mengambil satu DVD yang tertera jelas di covernya Film horor Indonesia. Dengan cepat Filla memasang DVD dan kembali duduk disebelah Rangga. Baru musik pembuka saja sudah terdengar seram.


Rangga membulatkan matanya melihat TV yang sudah menampikan adegan pembukaan yang super dibuat seram, "Film horor?" tanya Rangga menatap Filla yang sedang menyaksikan Film dengan serius.


Filla mengangguk, masih memusatkan perhatiannya pada Film yang ia putar.


"Fill, jangan becanda deh, ini sepi loh kita," ucap Rangga.


"Kenapa sih? Takut?" tanya Filla sambil melihat kearah Rangga.

__ADS_1


"Ya nggaklah," elak Rangga cepat sambil menyembunyikan rasa takutnya yang sudah hampir keubun-ubun.


Filla kembali melihat ke TV, "Apaan yang ditakutin sih? Ini tuh orang biasa kayak kita, ngapain takut, kita takut mereka enak dapet duit saat shooting," celetuk Filla.


"Ya tapi nggak horor juga dong Fill," ucap Rangga.


"Udah sih, kata lo tadi terserah," bantah Filla tak peduli.


"WAAAA," teriak Rangga membuat Filla menoleh. "Waa, ada nyamuk maksudnya," elak Rangga cepat saat melihat Filla yang tertawa.


Filla menggeleng, "Bilang aja takut," celetuk Filla.


"Siapa yang takut, WAAAA ...!" teriak Rangga lagi saat melihat hantu yang sudah mulai muncul di film.


Tawa Filla mengelegar melihat hantu yang terpampang di TV. "Lucu banget make up nya," celetuk Filla membuat Rangga menatap heran.


"Lucu?" tanya Rangga memastikan dan melihat lagi ke ayar TV yang masih menampilkan hantu wanita super seram. "Lucu dari mana coba? Serem gitu," ucap Rangga begidik ngeri.


Filla masih tertawa, "Yaampun Ngga, **** banget tuh setan, masak jalannya lelet gitu," koreksi Filla saat meihat suster ngesot yang menakutkan menurut Rangga.


"Ya iyalah, lelet, masak ngesot cepet?" celetuk Rangga yang terus bersembunyi dibelakang bantal.


"Bukan takut, nggak enak dilihat aja tuh muka setan," celetuk Rangga.


Dua jam berlalu dan Rangga tetap dengan cara menonton yang ekstrem bersembunyi dibelakang bantal, dan Filla sibuk tertawa melihat hantu yang ia rasa kocak. Akhirnya terdengar suara seram ending cerita. Filla menyenderkan tubuhnya ke senderan sofa.


Filla meihat ke sekeliling, masih sama sejak 1 jam yang lalu, semua masih tidur sedangkan Rangga masih bersembunyi dibelakang bantal disebelahnya. "Ngga, filmnya udah habis loh," Filla menggoyangkan tubuh Rangga.


Rangga mendonggak, "Udah? Syukur deh," ucapnya sambil kembali duduk dengan tenang setelah melihat TV yang sudah dimatikan Filla.


"Tapi gue mau lanjut film berikutnya," ucap Filla semangat.


Rangga membualtkan mata tak percaya.


"Sumpah, kalau lo berani mainin lagi film setan itu, gue keluar dari rumah," ancam Rangga kesal.


Filla tertawa sambil memegang perutnya, "Yaampun Ngga, seriusan takut?" tanya Filla.


"Iya. Puas?" ucap Rangga akhirnya mengakui ketakutannya.


"Ngaku? Seorang Rangga Ngaku, mukjizat sepertinya sudah ditunjukan," ucap Filla dengan lebaynya.

__ADS_1


"Please deh nggak usah lebay," celetuk Rangga.


OEKKKKKK...OEEKKKK ....


Tangisan Rain terdengar memecahkan suasana. Filla dengan cepat menghampiri Rain, jika terlalu lama membiarkan Rain menangis bisa-bisa yang lain ikutan bangun dan membuat kerusuhan.


Rangga juga ikut berlari mengejar Filla.


"Rain," panggil Filla lembut sambil mengangkat Rain dari box bayi. "Jangan nangis dong Rain," ucap Filla sambil menimang-nimang Rain. Tapi Rain masih tetap menangis bahkan lebih kencang.


"Fill sumpel pakai ini aja," ucap Rangga sambil memberikan sapu tangannya pada Filla.


Filla membulatkan matanya menatap Rangga dan sapu tangan yang ada ditangan Rangga, "Demi apa Ngga? Lo gila? Masak Rain disumpel sih biar diem?" tanya Filla tak percaya.


"Mau gimana? Mau denger dia nangis terus?" tanya Rangga sambil menaikkan alisnya.


"Tapi nggak disumpel juga Ngga," ucap Filla sambil tertawa. "Kocak banget sih," celetuk Filla sambil terus menimang Rain yang sudah mulai tenang. "Ngga, badannya kok panas ya?" tanya Filla saat menempelkan tangannya dikening Rain.


"Seriusan?" tanya Rangga sambil meletakkan punggung tangannya dikening Rain. "Ia panas, kita harus gimana?" tanya Rangga mulai cemas.


Filla menggeleng, "Gue juga nggak tahu Ngga, lo tahu gue baru pertama urus bayi kayak gini, mana cuma lihat Bunda lagi biasanya," aku Filla.


Rangga mondar mandir nggak jelas didepan Filla.


"Stop!" ucap Filla sambil menahan tangan Rangga. "Cari solusi bukan bikin gue tambah pusing," celetuk Filla sambil memegangi keningnya.


"Ini juga lagi cari solusi," ucap Rangga.


"Yaudah, kita coba kompres dia pake air hangat aja, siapa tahu demamnya bisa turun," ucap Filla. "Lo gendong dia dulu, gue mau ambil air angetnya," Filla memberikan Rain digendongan Rangga.


"Rain, jangan bikin cemas dong," ucap Rangga sambil menimang-nimang Rain.


"Ngga taruh diatas kasur sebelah Tita," ucap Filla dengan baskom kecil dan handuk.


Rangga dengan cepat mengikuti intruksi Filla.


"Lo kompres Rain ya Ngga, biar gue beilin sirup atau apa kek di Apotek," ucap Filla sambil belari kelantai atas mengambil dompetnya.


Beberapa menit kemudian Filla turun dengan jaket yang sudah melekati tubuhnya. "Yaudah Ngga, lo jagain dulu ya," ucap Filla yang meraih anggukan kepala Rangga.


******

__ADS_1


__ADS_2