Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 163


__ADS_3

Rangga memundurkan tubuh Filla pelan, "Kamu tenang, atur napas," ucap Rangga.


Filla mengikuti ucapan Rangga, setidaknya cukup merasa tenang ada Rangga sekarang. Sampai dirinya mengerutkan kening saat menyadari bagaimana Rangga bisa ditempat yang sama seperti dirinya, "Lo bisa ada disini?"


Rangga menghela napas, "Kamu lupa aku memang suka menghindari keramaian?"


Filla menatap sekeliling rooftop dan bener, tempat ini cocok untuk Rangga, "Sendirian?" tanya Filla meyakinkan.


Rangga mengangguk.


Filla berbalik kembali mencoba membuka pintu.


"Percuma, pasti dikunci dari luar, aku lihat tadi kuncinya tergantung diluar," ucap Rangga.


Filla menghela napas, "Berusaha Ngga, kalau diem aja nggak ada yang berubah, lo mau kita disini sampai besok?" tanya Filla mulai kesal.


"Sini," Rangga menarik tangan Filla membawanya pada pinggiran rooftop.


Filla terpana saat melihat pemandangan dibawah sana, menampilkan lampu dari perkotaan yang cukup ramai.


"Dalam keadaan panik, semua yang dilakukan sama dengan percuma, mending nikmati dulu, ketemu nyamannya baru kita cari jalan keluar," ucap Rangga sambil menatap jalan raya dibawah sana.


Filla melirik kearah Rangga, melihat rahang tegas Rangga membuatnya meneguk saliva-nya, Rangga masih sama seperti dulu membuat Filla tak mampu berpaling.


"Jangan lama-lama natapnya, aku tahu wajahku susah bikin berpaling," ucap Rangga sambil tersenyum.


Filla membuang wajahnya, "PD banget lo," bantah Filla.


Rangga tersenyum, "Harus kalau itu."


"Udah ah, ayo pikirin cara keluar," Filla melipat tangan didepan dada sambil menatap Rangga yang masih betah menatap pemandangan dibawah sana.


Rangga berjalan menuju pintu diikuti Filla dibelakangnya. Dirinya mengintip pada lubang kunci dengan sebelah matanya, "Bener di kunci dari luar."


"Terus harus gimana?" tanya Filla mulai cemas, dirinya tidak ingin terus berada di rooftop ini, apalagi bersama Rangga sepanjang malam.


"Telpon temen-temenmu," ucap Rangga.


Filla menepuk jidatnya sendiri, bagaimana bisa ia melupakan hal itu, "Bentar," Filla meronggoh tasnya dan mengeluarkan ponsel.


Rangga menyenderkan tubuhnya pada pintu.


"Kenapa?" tanya Filla ketika mendapati perubahan ekspresi Rangga.


Rangga menaikkan kedua alisnya, "Nggak," ucap Rangga pelan.


Filla menatap layar ponselnya, belum ada jawaban dari Caca ataupun Reya, pilihan terakhir tinggal Iren, Filla menempelkan kembali ponselnya didekat telinga.


Dan sama saja, Iren tidak menjawab panggilannya seperti yang lain.


"Pakai," ucap Rangga sambil menyampirkan jasnya pada kedua bahu Filla. "Disini dingin," tambah Rangga.


Filla hendak melepas jas Rangga dari bahunya namun tangan Rangga menahan tangannya, "Gue nggak kedinginan, jadi nggak butuh jas lo," ucap Filla.


Rangga berdehem pelan, "Nggak usah nolak, aku tahu kamu dari tadi kedinginan," ucap Rangga.


Filla menghela napas lalu melihat kembali layar ponselnya, bagaimana bisa semua orang sulit dihubungi saat ini, Filla mencoba berulang memanggil nomor Iren, sesekali ia berdecak kesal ketika hanya suara operator yang terdengar.

__ADS_1


"Nggak di angkat?" tanya Rangga.


Filla mengangguk, "Pada kemana coba?" tanya Filla mulai kesal.


"Mungkin nggak kedengeran, disana kan ramai dan musiknya kenceng," jawab Rangga mencoba tenang.


Filla berjalan dan menempatkan diri duduk disebelah Rangga, menyisakan jarak diantara mereka.


"Kamu tenang dulu," ucap Rangga.


Filla menatap Rangga kesal, "Mau tenang gimana? Gue nggak mau nginep disini, apalagi sama lo," Filla menekan kembali ponselnya masih belum menyerah menghubungi satu diantara sahabatnya. "Lo juga berusaha telpon temen-temen lo kek, emang mau nginep disini?"


"Asal sama kamu," ucap Rangga santai.


"Nggak usah mulai deh Ngga," ujar Filla mengingatkan.


Rangga tersenyum, "Ponselku dipinjem Samuel tadi."


Filla menghela napas, berarti harapan satu-satunya adalah sahabat-sahabatnya, "Lo hafal nomor Samuel nggak? Biar gue coba hubungin dia, atau nomor lo sendiri," ucap Filla.


"Kan kamu punya nomorku."


"Nggak nyimpen," jawab Filla sekenanya.


Rangga menghela napas, "Sesusah itu simpen nomorku?" tanya Rangga.


Filla mengangkat kedua bahunya, "Nggak sempet," ucap Filla tanpa memperdulikan Rangga yang melihat kearahnya.


"Yaudah, tinggal buka pesan dari ku, kan ada nomornya."


Rangga menghela napasnya, "Sini," Rangga menarik ponsel Filla membuat Filla langsung menoleh padanya.


Rangga memasukkan beberapa digit angka lalu menempelkan ponsel Filla pada telinganya, "Sam, gue dan Filla kekunci di balkon, kesini sekarang," ucap Rangga. "Cepetan!" ucap Rangga lalu memutuskan panggilan dengan Samuel.


"Dari tadi kek," ucap Filla lalu kembali menyender pada dinding.


"Nih, jangan dihapus lagi, udah aku save nomorku, entar takutnya malah kamu nggak sempet kan," sindir Rangga sambil menyodorkan ponsel pada Filla.


Filla mengambil cepat ponselnya, "Pawangnya Beo?" Filla mengerutkan kening saat melihat Rangga menulis nama itu untuk nomornya diponsel Filla. "Apaan? Nggak jelas banget," ucap Filla.


"Jangan di hapus entar kamu juga ngerti," ucap Rangga menahan tangan Filla.


Filla menatap Rangga malas lalu masukkan ponselnya kedalam tas, "Yaaaaa!!" teriak Filla saat melihat kecoa yang mendekat di kakinya.


“Apa?” tanya Rangga yang ikut terkejut, sambil menangkap tubuh Filla yang menghambur kearahnya.


BRAAAAK....


Mereka berdua tersungkur di lantai dengan Filla berada diatas tubuh Rangga.


"Aw," ucap Rangga saat tangannya menahan berat beban tubuhnya dan Filla.


"Kecoa!" teriak Filla yang langsung berdiri menjauh dari kecoa meninggalkan Rangga yang masih tersungkur.


Rangga menginjak dan menggesek kecoa tersebut dengan sepatunya, "Udah," ucap Rangga berusaha berdiri.


"Beneran udah nggak ada?" tanya Filla was-wa, sambil melihat kecoa yang sudah gepeng lalu bergidik ngeri.

__ADS_1


"Kamu lihat sendiri kan? Udah mati," ucap Rangga.


Filla menghela napas, "Lo nggak apa-apa?" tanya Filla.


Rangga tersenyum meledek, "Khawatir nih?" Rangga mencolek dagu Filla.


"Rangga!" Filla mengusap dagunya dengan kesal. "PD amat!"


Rangga hanya tersenyum menanggapi kekesalan Filla.


"Rangga? Filla?" panggil seseorang dari luar.


"Disini, tolongin!" teriak Filla antusias sambil menggedor pintu.


Rangga menahan tangan Filla, "Sabar, Sam pasti denger, mundur," pinta Rangga sambil menarik tangan Filla.


"Bentar, gue minta kunci dulu, kalian sabar didalam sana," teriak Samuel.


Terdengar derap langkah menjauh.


"Fill?" Reya menggedor pintu membuat Filla kembali mendekat.


"Rey tolongin," pinta Filla.


"Lo tenang aja, Sam bentar lagi dateng," ucap Reya.


*******


Ceklek....


Pintu dibuka Samuel dengan cepat.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Reya yang langsung mendekati Filla dan mengecek kondisi Filla.


Filla tersenyum, "Nggak apa-apa," ucap Filla lega.


Reya membenarkan helaian rambut Filla yang berterbangan karena terpaan angin, "Kenapa bisa kekunci disini? Sama Rangga lagi," ucap Reya masih dengan wajah khawatirnya walau tak separah tadi.


"Tadi gue debat sama Salsa, berakhir gue kekunci," jelas Filla.


"Alhamdulillah kalian nggak apa-apa," ucap Samuel. "Lo udah gue bilang gabung ke pesta, masih aja suka disini."


Rangga tersenyum, "Kalau gue turun sama lo tadi, Filla sendiri disini," ucap Rangga santai membuat Filla menoleh.


"Bilang aja modus," ucap Samuel sambil menepuk bahu Rangga.


"Gila banget tu cewek, masih aja ganggu lo, kita kasih pelajaran aja Fill," ucap Iren mulai panas.


Filla menepuk bahu Iren, "Udahlah, gue males berurusan sama orang yang nggak penting sama sekali."


"Gitu aja terus, nggak ada yang selesai masalah lo, ilang satu dateng lagi yang baru, gue yang capek."


"Udah yuk kebawah, acara puncak udah mau mulai," ucap Samuel mengingatkan.


Filla tersenyum sambil merangkul Reya yang masih terlihat kesal, Reya memang selalu kesal jika seseorang menganggu Filla.


********

__ADS_1


__ADS_2