
"Buat apa makasih sama Tita?" tanya Filla dengan alis mengkerut.
"Karena dia, gue bisa bikin lo ketawa," ucap Rangga serius membuat atmosfer diantara mereka jadi terasa canggung.
"Lo kok tahu coklat kesukaan gue?" tanya Filla menyelidik
Rangga menunjukkan buku kecil yang ia simpan disaku jaketnya.
Filla membulatkan matanya, buku catatan itu miliknya, ia tahu pasti isi didalam sana akan membuat Rangga kegeeran.
"Rangga, itu buku gue, lo dapet dari mana?" tanya Filla sambil meraih bukunya tapi terlambat tinggi badan Rangga menjadi penghalang, ia yang hanya sebatas bahu berjinjit seperti apapun tidak akan bisa meraih catatannya.
"Banyak banget tentang pesona gue disini, sebenernya nggak usah dicatet sih semua orang udah tau," sindir Rangga sambil tertawa.
"Rangga, lo baca?" tanya Filla khawatir dan kesal. "Balikin!" teriak Filla sambil berjinjit masih berusaha meraih catatannya.
Rangga akhirnya menyerah dan memberikan cacatanya pada Filla, "Nih, kasihan gue sama lo," olok Rangga sambil memegang puncang kepala Filla.
Filla dengan wajah kesal menarik buku catatannya, "Resek banget sih, itu privasi," ucap Filla sambil menatap tajam Rangga.
Rangga tertawa.
"Jangan ketawa!" bentak Filla masih menatap tajam Rangga. "Ngeselin," ucapnya lalu meninggalkan Rangga masuk kembali kedalam mini market.
Rangga sambil menahan tawanya mengikuti Filla masuk kedalam minimarket.
Filla mengambil tiga botol minuman dan menaruhnya dimeja kasir, matanya masih menatap sengit Rangga, Filla sangat kesal ketika mengingat isi dari buku catatannya, semua tentang Rangga tentu saja, dan Filla merutuki dirinya sendiri mengapa bisa buku itu ada di Rangga.
"Gue nggak baca semua kok," ucap Rangga membujuk Filla.
Filla menatap sengit, "Kesel," teriaknya sambil menangkupkan wajahnya.
Rangga tertawa, ia tahu pasti Filla sangat gengsi dengan isi buku catatannya sekarang.
"Beneran belom dibaca semua kan?" tanya Filla memastikan.
Rangga menahan senyumnya sambil mengangguk.
Filla berusaha santai, "Udahlah, jangan kegeeran itu kan dulu, sekarang mah nggak," ucap Filla lalu berjalan meninggalkan Rangga.
"Kok gitu? Disana ditulis loh kalau lo nggak akan bisa lupain gue," ucap Rangga polos.
Filla kembali kesal, "Sampai mana sih lo bacanya?" ia tidak bisa santai sekarang, ia ingat sekali tulisan itu baru ia tulis, berarti Rangga membohonginya mengatakan tidak membaca semuanya.
Rangga menahan senyumnya sambil mengakat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V, "Setengah," ucapnya meyakinkan. "Setengah selesai maksudnya," tambahnya lalu tertawa.
Fia memukul bahu Rangga kuat.
"Aww Filla!" Rangga Menggosok bahunya akibat pukulan Filla yang membuatnya terasa ngilu. "Jadi, mau kan temenin gue?" tanya Rangga.
__ADS_1
Filla mengerutkan alisnya, "Temenin kemana?" tanya Filla heran.
"Makanya kalau ada pesan dari gue tuh dibaca jangan diabaikan, gue kan ngajak lo temenin gue makan malem," ucap Rangga.
Filla mengingat-ingat, mungkin maksud Rangga adalah pesan yang Filla abaikan saat siang tadi.
"Gue ada janji," jawab Filla singkat.
"Kan gue duluan yang ngajakin," ucap Rangga kecewa.
Filla mengangkat kedua bahunya.
"Makan sama gue aja, gue mau ajak lo kesuatu tempat, dijamin lo suka," bujuk Rangga.
Filla menimbang sebentar, lalu mengangguk setuju.
"Seriusan?" tanya Rangga dengan wajah antusiasnya. "Gue jamin lo nggak akan nyesel milih gue," ucap Rangga semangat.
Filla menepuk bahu Rangga, "Siapa bilang gue milih lo, gue cuma mau makan laper," ucap Filla lalu melempar kunci mobilnya pada Rangga.
Rangga tak memperdulikan ucapan Filla yang terpenting sekarang Filla memilihnya.
Filla duduk dikursi penumpang sebelah Rangga, ia menatap ponselnya, sebenarnya ada sedikit rasa bersalah pada Rafael, namun ia sangat ingin bersama Rangga sekarang walau ia tak tahu ujungnya nanti.
To Rafael
Tanpa menunggu lama notifikasi pesan dari Rafael muncul.
From Rafael
Oke Fill, nggak apa-apa, bisa kapan-kapan juga.
Walau merasa bersalah pada Rafael, Filla tak bisa menutup rasa senangnya saat melihat bunga pemberian Rangga.
Rangga memarkirkan mobil milik Filla, "Yuk," ajak Rangga saat mobil Filla bernar-benar dalam kondisi mati.
Filla mengangguk mengikuti langkah Rangga. "Danau lampion?" tanya Filla saat memasuki jembatan.
Rangga mengerutkan keningnya, "Lo pernah kesini, padahal gue mau bikin lo takjub," ucap Rangga sedikit kecewa.
"Kan lo yang ajakin," celetuk Filla.
"Kapan?" Rangga terdiam saat teringat sesuatu. "Oh di mimpi," ucap Rangga paham.
Filla mengangguk.
"Yaudah yuk, pura-pura aja lo belum pernah," ucap Rangga sambil menarik Filla menuju danau.
Mereka naik keatas perahu, tempatnya masih sama, makan malam diatas perahu ditemani lampion yang mengapung diatas air, menambah kesan hangat disana.
__ADS_1
Filla seperti biasa memainkan air dengan tangannya.
"Udah dingin nanti," ucap Rangga menarik tangan Filla dan memasukkannya kekantong jaketnya.
Filla menyembunyikan senyumnya, "Tempatnya masih sama," ucap Filla sambil menatap langit.
Rangga tersenyum, "Maaf Fill buat kamu mengingat sendiri," ucap Rangga tulus.
"Lo percaya?" tanya Filla menoleh cepat pada Rangga.
Rangga mengangguk, "Sebenernya gue inget beberapa adegan, mungkin gue alami minpi yang sama kayak lo, tapi gue nggak bisa inget semuanya," jelas Rangga berusaha jujur.
Filla membulatkan mata sambil tersenyum senang, "Berarti gue nggak halu kayak lo bilang kan? Otak lo aja lemot," ucap Filla senang.
"Bisa nggak usah sambil ngatain?" tanya Rangga.
Filla tertawa, "Sorry," ucap Filla lalu kembali menatap sekitarnya.
******
Filla tak berhenti tersenyum, apalagi saat dirinya menatap setangkai mawar dari Rangga.
"Kak, ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya mama yang kebetulan lewat diruang tamu saat menuju kamar.
Filla mengangkat wajahnya dan menetralkan rasa senangnya, "Nggak biasa aja," ucap Filla sambil berjalan mendekati mama.
"Jadian sama Rafael?" tanya mama sambil mengangkat berulang kedua alisnya.
Filla sedikit kecewa dengan tebakan mama, "Nggak Ma, Filla juga nggak jadi jalan tadi," jawab Filla jujur.
"Kok nggak jadi malah seneng, terus kemana aja dari tadi?" tanya mama penasaran.
Filla menatap mama, ada rasa takut jika ia menceritakannya mama akan marah, "Sebenernya Filla jalan sama Rangga," ucap Filla sambil menunduk.
"Pantesan," celetuk mama sambil tertawa.
"Mama nggak marah?" tanya Filla takut-takut.
Mama menggeleng, "Apapun yang bikin kamu senyum, Mama dukung Kak," ucap mama tulus.
Filla memeluk mama erat, bodoh sekali rasanya dulu ia selalu membentak mama dan selalu berprasangka buruk tentang mama, padahal mama adalah sosok ibu yang terbaik.
"Makasih Mama, Filla janji nggak bakalan sedih lagi," ucap Filla tulus.
"Astagfirullah," teriak papa mengagetkan. "Kalian ngapain, bikin takut aja, idupin dulu lampunya baru peluk-pelukan," ucap papa sambil menguap.
Filla dan mama tertawa, memang benar kata papa mereka sekarang berpelukan dalam keadaan remang, mungkin siapa saja akan terkejut.
******
__ADS_1