
"Kak jawab," pinta Filla tegas saat melihat Vino yang betah dengan kebisuannya.
Vino memegang kedua bahu Filla, "Bukan hak Kakak Fill yang ceritain," ucap Vino.
"Terus siapa yang harus ceritain? Kakak tahu sesuatu kan? Kenapa cuma aku yang nggak tahu?" Filla membentak Vino.
Vino menunduk lalu menatap Filla, "Yaudah Kakak anter ke Mama dan Papa kamu, biar mereka yang ceritain," saran Vino sambil mengusap airmata Filla.
Filla menepis tangan Vino, "Aku bisa sendiri," Filla berlari menginggalkan Vino yang masih meneriakinya.
Dikoridor yang cukup ramai, Filla berlari menuju parkiran, ia tak habis pikir dengan semua orang, apa yang sebenarnya disembunyikan darinya dalam waktu lama. Filla kecewa sekarang.
BRAAAAAK...
"Jalan pake mata bisa?" bentak Rangga saat mendapati Filla terduduk karena bertabrakan dengannya.
Filla memilih tetap pada posisinya dan menangis.
Rangga menunduk melihat Filla, "Lo nggak bisa berdiri sendiri?" tanya Rangga masih dengan nada tidak bersahabatnya.
Filla mencoba mengumpulkan bukunya yang berserakan setelahnya berdiri, "Sorry," ucap Filla lalu menghapus airmatanya dengan tangan dan melewati Rangga.
Tangan Filla tertahan oleh genggaman Rangga, "Lo kenapa?" tanya Rangga mulai khawatir.
Filla melepas genggaman Rangga pada lengannya perlahan, "Gue duluan," ucap Filla lalu benar-benar meninggalkan Rangga menuju parkiran.
Rangga menatap punggung Filla yang naik turun karena menangis, ada rasa khawatir yang menyapanya sekarang.
******
Jalanan terlihat ramai, Filla dengan perasaan kalutnya mendahului tiap mobil didepannya.
Nama Fanny terus berputar diotaknya, mengingatnya Filla merasa bersalah yang teramat namun tidak tahu sebabnya, ia hanya ingin menangis jika wajah Fanny samar-samar ada didalam ingatannya.
CHIIIIIIIIIT......
Tubuh Filla terdorong kedepan saat dirinya mengerem mendadak, Filla mengatur napasnya. hembusan napas lega Filla lakukan saat melihat anak kecil dengan bolanya terduduk didepan mobilnya.
Anak kecil tersebut melompat tiba-tiba kejalanan tepat didepan mobil Filla, untung Filla bisa menginjak rem tepat waktu, ia tak bisa membanyangkan jika anak tersebut kenapa-napa karenanya.
Filla memegang kepalanya yang terasa sakit lalu membuka pintu mobilnya berusaha keluar, "Dek ada yang sakit?" tanya Filla khawatir melihat anak kecil tersebut menangis sambil memeluk bolanya.
__ADS_1
"Zian...!" teriak wanita paruhbaya yang berlari lalu memeluk anak kecil tersebut. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanya wanita tersebut sambil melihat keadaan anaknya.
Banyak orang yang sudah berkumpul mengeliliringi mereka.
"Kamu kalau bawa mobil hati-hati! Kalau ada apa-apa sama anak saya mau tanggung jawab?" bentak wanita tersebut sambil mendorong Filla.
Untung beberapa orang menahan tubuh Filla agar tidak terjatuh.
"Maaf Bu, tapi tadi anak Ibu tiba-tiba masuk kejalan," ucap Filla tenang.
Beberapa orang mengangguk, "Iya benar, saya melihat kejadiannya, anak anda yang lompat kejalan," ucap seorang bapak yang menahan bahu Filla tadi.
Banyak ibu-ibu yang melihat kejadian ikut menyetujui ucapan bapak tersebut.
"Bagaimanapun, anak saya masih kecil, harusnya gadis ini yang berhati-hati!" bentak wanita tersebut sambil menunjuk Filla.
Filla menoleh saat bahunya dirangkul, "Kak Vino?"
"Anda yang harusnya hati-hati dalam menjaga anak, untung adek saya masih bisa injak rem," ucap Vino tegas.
Wanita itu berdiri, "Kurang ajar kalian berbicara pada saya, kalau saya mau, saya tuntut kalian," ancam wanita tersebut sambil menunjuk Vino dan Filla bergantian.
Orang-orang yang menonton menggeleng dan menyoraki wanita tersebut.
"Untung saya tidak ingin memperpanjang," ucap wanita tersebut lalu melangkah pergi tanpa bersikap baik, semua orang meneriaki wanita tersebut.
"Orang gila itu Mbak, Mas," celetuk ibu-ibu yang menggendong anaknya.
Vino tersenyum, "Makasih lo Pak, Bu, sudah menolong adik saya," ucap Vino.
Mereka mengangguk lalu melangkah pergi.
"Fill, nggak kenapa-napa kan?" tanya Vino khawatir melihat Filla yang diam dengan wajah pucatnya.
Filla menopang tubuhnya pada tangan Vino, kepalanya semakin sakit sekarang, Fanny muncul lagi dalam ingatannya, kali ini bukan Fanny yang ceria seperti beberapa hari ini Filla ingat, namun Fanny yang berlumuran darah.
"Fill," panggil Vino khawatir karena tubuh Filla benar-benar lemas.
Filla mengatur napasnya, "Anter aku pulang Kak," ucap Filla masih berpegangan pada Vino.
Vino mengangguk lalu memapah Filla masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Fill, kite kerumah sakit ya?" ajak Vino saat dirinya sudah duduk dikursi kemudi, ia sangat khawatir melihat Filla dengan wajah pucat dan napas yang tidak teratur.
Filla menggeleng, "Antar aku pulang," ucap Filla.
Vino mengangguk tak ingin membantah Filla lagi.
Filla menangkup wajahnya dengan kedua tangan, sekarang ia ingat siapa Fanny, gadis kecil yang selalu muncul diingatannya.
"Fill, kenapa?" tanya Vino saat melihat Filla terisak.
Filla tak menggubris pertanyaan Vino, rasa bersalah memenuhinya sekarang, benar kata Rasti, Fanny meninggal karenanya, kecelakaan 14 tahun lalu merenggut nyawa Fanny adik kandung Filla.
Filla merutuki dirinya sendiri melupakan Fanny selama ini, ia benar-benar merasa bersalah melupakan Fanny dalam hidupnya.
Vino mengusap puncak kepala Filla mencoba menenangkan, ia tahu pasti jika Filla sudah mengingat kejadian pahit 14 tahun silam yang mereka rahasiakan selama ini.
******
Filla berjalan cepat diikuti Vino dibelakangnya memasuki rumah, mencari keberadaan mama dan papa.
"Ma, Pa Filla mau ngomong," ucap Filla serius sambil menempatkan diri duduk didepan mama dan papa.
Terlihat mama dan papa mengerutkan keningnya, karena tidak biasanya Filla meminta berbicara dengan nada serius.
"Bi," panggil mama memanggil bibi. "Tolong ajak Tita main kekamar ya," ucap mama mengetahui situasi yang tidak memungkinkan Tita mendangar pembicaraan mereka nantinya.
"Aku pulang aja ya Fill," ucap Vino tak enak berada diobrolan Filla dan kedua orangtuanya.
Tita menahan tangan Vino, "Aku yakin Kakak juga tahu, jadi tetep disini," ucap Filla tanpa mau dibantah.
Vino mengangguk setelah mendapat isyarat dari mama dan papa untuk tetap berada disana.
"Siapa Fanny?" tanya Filla to the poin.
Tidak bisa dipungkiri wajah mama dan papa mengekspresikan keterkejutan mereka dengan pertanyaan Filla.
"Ma, Pa, jawab, sampai kapan kalian mau nyembunyiin semua tentang Fanny dari Filla?" tanya Filla dengan mata berkaca.
"Kak, tenang dulu, kamu tahu darimana tentang Fanny?" tanya mama menahan tangisnya, menyembunyikan tentang Fani bertahun-tahun membuat luka yang tertutup kembali terasa nyeri.
"Nggak penting Filla tahu darimana, kenapa kalian nggak pernah ungkit Fanny, dia adik aku kan? Kenapa kalian tega menghapus dia," Filla tak bisa menahan tangisnya, ia meluapkannya sekarang, rasa bersalahnya pada Fanny benar-benar membuncah sekarang.
__ADS_1
Vino mengusap punggung Filla memberi ketenangan, Vino tak bisa berbuat lebih.
******