Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 73


__ADS_3

Filla duduk diayunan halaman rumahnya sambil ditemani secangkir jus buah naga buatan mama, tak lupa dengan laptop dipangkuannya.


Sesekali ia merenggangkan tubuhnya yang terasa penat mengerjakan tugas sejak 2 jam yang lalu.


"Akak," teriak Tita sambil membawa boneka kelinci dalam pelukannya.


"Hmmm," Filla hanya berdehem pelan tanpa menoleh, ia masih fokus dengan beberapa rancangan busana yang menjadi tugasnya untuk minggu ini.


Tita cemberut, "Akak lihat dulu," Tita menarik tangan Filla.


Filla menoleh sambil meletakkan laptopnya dimeja kecil samping ayunan, "Apa dek?" tanya Tita lembut.


"Dikasih Papa," ucap Tita sambil menyodorkan boneka kelincinya pada Filla. "Bagus ndak?"


Filla mengangguk, "Bagus dong," Filla mengacak rambut Tita merasa gemas. "Sekolahnya gimana?" tanya Filla sambil membenarkan dress Tita yang menggulung dibagian bawah.


Tita menunduk, "Maaf Akak, kemaren cuma dapet 8," ucap Tita merasa bersalah.


Filla memegang pipi Tita dengan kedua tangannya, "Itu udah bagus dek, kenapa sedih?" tanya Filla.


"Soalnya Airin dapet 10," Tita seperti merasa bersalah.


Tita memang anak yanh sangat kompetitif, ia selalu ingin menjadi yang terbaik, apalagi ia merasa Airin adalah saingan satu-satunya.


"Dek, lihat Kakak," ucap Filla menarik Tita agar menatapnya. "Kamu harus bersyukur dapet nilai berapun, itu kamu dapet sesuai usaha kamu dek, kalau Airin hari ini nilainya lebih tinggi, besok kamu berusaha lebih keras," ucap Filla.


Tita mengangguk, "Tita besok cemangat," ucap Tita antusias.


"Yaudah sana, main didalem lagi, Kakak mau ngerjain PR," Filla menunjuk laptopnya.


Tita mengguk lalu berjalan masuk kedalam rumah.


Filla kembali mengambil laptopnya dan menaruhnya dipangkuan, sedikit lagi perkerjaannya selesai.


"Fill."


Filla menoleh saat seseorang menepuk bahunya, "Rangga, tumben lo nggak main futsal?" tanya Filla saat Rangga sudah diduduk dikursi sebelahnya.


"Libur dulu," jawab Rangga seadanya. "Nugas?" tanya Rangga.


"Nggak masak," ucap Filla sambil memutar bola matanya malas. "Menurut lo?" tambahnya.


"Sewot bener," Rangga meronggoh ponselnya didalam kantong hoodie.


"Lo nggak ada tugas?" tanya Filla sesekali melirik Rangga.


Rangga menggeleng, "Aman minggu ini."


"Baek banget dosen lo, pengen gue sekali-sekali tukeran sama lo," ucap Filla sambil menghela napasnya.


"Yaudah tukeran aja, apa susahnya?" Rangga masih menatap ponselnya namun kali ini sedikit menyender pada senderan kursi.

__ADS_1


Filla menatap malas, berbicara pada Rangga memang menyebalkan pikirnya.


"Ke Kawah putih yuk," ajak Rangga sambil beranjak dari senderannya.


"Tumben," Filla masih memfokuskan pendangnnya pada layar laptop.


"Seriusan mau nggak? Lo belum pernah kan?" tanya Rangga antusias.


Filla menggeleng, "Udah gue, kan lo yang ngajak."


Rangga mengerutkan keningnya lalu menjentikkan jari setelah teringat sesuatu, "Ah, mimpi?"


Filla mengangguk, "Dan nggak banget tu mimpi," ucap Filla tanpa menoleh pada Rangga.


Rangga menatap penuh tanya, "Kenapa? ada kejadian buruk?" tanya Rangga penasaran.


"Buruk banget, awas aja kalau terulang," ucap Filla menatap Rangga.


"Emang gue ngapain, kasih tahu biar nggak terulang," Rangga mencolek dagu Filla, ia sering sekali melakukannya seperti kesenangan tersendiri untuk Rangga.


"Lemot," ucap Filla malas.


"Terserah deh, pusing gue, jadi mau nggak?" tanya Rangga to the point.


Filla mengangguk, "Boleh, gue juga lagi sumpek rasanya ngerjain tugas terus."


"Oke, kite berangkat jam 3 sore," ucap Rangga lalu menepuk bahu Filla pelan. "Gue balik dulu," ucap Rangga lalu melangkah menuju rumahnya setelah mendapat anggukan setuju dari Filla.


******


Filla meronggoh ponsel dalam tasnya, notifikasi pesan Rangga sudah ada disana. Filla berjalan menuju rumah bunda.


Rangga dengan pakaian santainya menunggu Filla diatas motor, "Yuk," ajak Rangga saat Filla hampir sampai didekatnya.


Filla mengangguk dan menempatkan diri duduk dibelakang Rangga. dan Rangga langsung menjalankan motornya meninghalkan halaman rumah bunda.


"Tugas lo udah selesai?" tanya Rangga sedikit mengeraskan suaranya karena terpaan angin.


Fila mendekat, "Udah," jawab Filla lalu kembali memundurkan tubuhnya dari Rangga.


"Pegangan," Rangga mencari tangan Filla.


Filla tanpa membantah memegang baju Rangga dibagian pinggang, sampai ia terkejut saat tangannya dibawa Rangga masuk kedalam saku jaket milik Rangga.


Rangga menahan tangan kanannya didalam sana, Filla tak bisa menyembunyikan senyumnya, perlakuan Rangga yang seperti ini yang selalu ia dambakan.


20 menit berlalu mereka sampai ditempat tujuan, Rangga memarkirkan motornya.


"Yuk," ajak Rangga sambil menggandeng tangan Filla.


Filla mengikuti tanpa membantah.

__ADS_1


Mereka duduk disalah satu kursi santai disana sambil menatap keindahan kawah putih didepan sana.


"Mau es krim?" tanya Rangga.


Filla mengangguk mantap, Rangga menarik Filla ikut dengannya disalah satu warung disana.


Filla mengambil satu es krim cone saat mereka tepat didepan freezer es krim, Filla memberikan uangnya pada Rangga namun Rangga menolaknya. Filla tak banyak membantah dengan perlakuan Rangga.


Mereka berjalan menuju kursi yang mereka tinggalkan tadi dan kembali duduk menikmati es krim dan pemandangan didepan sana.


Filla merutuki dirinya, lagi-lagi ia mengambil eskrim dengan toping stroberi diatasnya, padahal ia yakin tadi es krim ini adalah rasa vanila, Filla menghela napas.


Rangga menukar es krimnya dengan Filla membuat Filla menoleh.


"Udah tahu alergi, untung gue beli yang vanila," ucap Rangga yang langsung menikmati es krim milik Filla yang sekarang beralih menjadi miliknya.


Filla tersenyum, "Lo tahu gue ambil stroberi?" tanya Filla penasaran.


Rangga menunjuk bungkus es krim ditangan Filla, "Gambar segede itu nggak lihat? Lo yang harus periksa mata," ucap Rangga sambil menikmati es krimnya.


Filla mempautkan bibirnya, "Dasar dodol," ucap Filla kesal, Rangga memang pria tidak romantis yang pernah Filla temui dalam hidup.


Tanpa memperdulikan Rangga, Filla menikmati es krim vanilanya, sedangkan Rangga menahan tawanya melihat kekesalan Filla.


"Yuk," Rangga menarik Filla saat mereka selesai menghabiskan es krim masing-masing dua menit yang lalu.


Filla mengikuti Rangga yang menariknya menuju jembatan ponton yang menghubungkan sisi daratan ke tengah-tengah danau kawah putih.


Mereka berdiri diujung jembatan, menikmati pemandangan dan suasana nyaman yang tercipta.


"Bagus banget," ucap Filla senang.


Rangga mengacak puncak kepala Filla gemas.


"Rangga, berantakan," ucap Filla kesal sambil merapikan rambutnya, sedangkan Rangga hanya tertawa melihat kekesalan Filla.


"Rangga," panggil seseorang yang Filla tahu pasti siapa pemilik suara itu.


Rangga menoleh "Kania?" ucap Rangga ketika mendapati Kania berada dibelakang mereka.


Filla tersenyum, Sepertinya akan ada adegan yang terulang, batin Filla.


"Kalian lagi jalan-jalan?" tanya Kania dengan senyuman khasnya.


Rangga mengangguk, "Lo sendiri?" tanya Rangga setelah melihat sekeliling Kania.


Kania mengangguk, "Gue sendiri, boleh gabung sama kalian?" tanya Kania sambil menatap penuh harap pada Rangga dan Filla bergantian.


Rangga menatap Filla dan Filla hanya mengangguk, walau ia kesal jika kejadian lalu akan terulang kembali.


******

__ADS_1


__ADS_2