Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 101


__ADS_3

Hari cukup cerah saat Rangga dengan motornya keluar dari garasi, Rangga menyampirkan rambutnya kebelakang, setelah memakai minyak rambut dirinya belum sempat merapikan.


"Ngga," panggil bunda yang keluar dari dalam rumah berjalan mendekatinya membawa 2 kotak bekal makanan ditangannya.


"Iya Bun," ucap Rangga sambil menaruh kembali helm yang hampir ia kenakan diatas motor.


Bunda tersenyum, "Bunda habis bikin kue semalem, ini buat kamu, yang satunya tolongin kasih ke Filla ya, dia udah lama minta pengen Bunda buatin," ucap bunda sambil memberikan dua kotak bekal makanan.


Rangga tanpa membantah mengambilnya dan memasukkan kedalam tas, "Makasih Bun, Rangga berangkat dulu," Rangga mencium tangan bunda lalu berangkat setelah bunda masuk kedalam rumah.


Melihat Filla yang keluar dari rumah membuat Rangga menepikan sebentar motornya.


Filla terlihat mengerutkan kening saat Rangga berjalan mendekatinya, "Ada apa?" tanya Filla saat Rangga berada didepannya belum sempat berucap.


Rangga menyodorkan kotak bekal dari bunda pada Filla, "Dari Bunda, katanya lo yang minta bikinin," ucap Rangga.


Filla dengan antusias menerimanya, sudah lama tidak mencoba kue buatan bunda, terakhir mungkin didalam mimpi saat dirinya koma, dan tentu saja Filla tak bisa memastikan kue tersebut masih samakah rasanya.


"Makasih," ucap Filla.


Rangga ikut tersenyum saat melihat Filla yang begitu antusias dengan kue buatan bunda.


Filla menyadari sikap berlebihannya, ia menaruh kotak bekal didalam tasnya, lalu tersenyum kecil pada Rangga, "Yaudah, gue duluan," ucap Filla lalu melangkah masuk kedalam mobilnya setelah meraih anggukan Rangga.


Sepersekian detik Rangga paham, Filla menciptakan jarak yang ia minta, namun entah mengapa terasa sukar menerima perubahan cepatnya.


******


Filla menutup wajahnya dengan buku yang ia bawa saat mendapati Vino duduk di taman sedang berbincang dengan teman-temannya, setelah kejadian malam itu, Filla belum siap untuk bertemu Vino, membayangkan kecanggungan yang tentu akan tercipta membuat Filla bergidik ngeri.


"Fill," teriak Vino dari kejauhan lalu menepuk bahu sahabatnya dan berlari menghampiri Filla.


Filla merutuki mata elang Vino, berusaha menghindarpun Vino akan datang dengan tenang tidak sepertinya.


Filla menurunkan buku yang menutupi wajahnya dan tersenyum kikuk saat mendapati Vino tepat didepannya.


"Kamu menghindar?" tanya Vino to the point.


Filla menggeleng cepat, "Nggak," ucap Filla.


Vino tak bisa menghentikan senyumnya, "Sejak malam itu, Kakak lihat kamu selalu menghindar," ucap Vino.

__ADS_1


Filla tersenyum kikuk, "Sorry Kak, aku nggak tahu harus ngapain kalau ketemu," ucap Filla mencoba jujur.


Vino tertawa lalu mengelus puncak kepala Filla, "Nggak usah canggung, kalau kamu nggak nyaman sama pernyataan kakak malam itu, lupain aja, anggep nggak pernah terjadi," ucap Vino tulus.


Filla terdiam mendengar ketulusan Vino, bener-benar pria idaman pikir Filla, pantas jika seorang Vino diperebutkan, namun Filla tak yakin dengan perasaannya terhadap Vino bisakah berubah, "Aku jahat kan Kak?" Filla menunduk, ia tahu pasti apa yang dirasakan Vino saat seseorang yang kita suka malah menyukai orang lain.


"Bukan salah kamu, berhenti nyalahin diri sendiri, kamu juga nggak mau kan nyakitin siapapun? Ini konsekuensi yang harus aku terima saat menaruh hati buat kamu, tentu aja nggak mudah dan kamu tahu rasanya, tapi seperti kamu, kakak juga akan bisa mengatasinya," ucap Vino sambil menggenggam kedua bahu Filla.


Filla mengangguk.


"Yaudah sana ke kelas," ucap Vino.


"Hari ini bisa temenin aku buat beli buku?" tanya Filla. memberanikan diri, setidaknya Filla akan mencoba untuk membuka hati walau dirinyapun tidak terlalu yakin.


Vino mengangguk, "Kamu selesai kuliah jam berapa?" tanya Vino.


Filla melihat arloji dipergelangan tangannya, "Jam satu," ucap Filla.


Vino mengangguk, "Kakak tunggu ditempat biasa," ucap Vino yang meraih anggukan Filla.


*******


Sejak tadi Kania menyender di bahu Rangga sambil membaca beberapa buku, "Ngga, baca deh, lucu banget," ucap Kania sambil menunjuk tulisan didalam buku yang ia baca.


Rangga yang terfokus pada pandangannya hanya mengangguk dan berdehem. Ia masih betah menatap Filla yang tertawa lepas didepan Vino, tawa yang Rangga rasa tidak asing walau belum pernah melihatnya.


Rangga memegang kepalanya saat sekelebat bayangan tawa Filla muncul didalam ingatannya. Itu apa? batin Rangga.


"Rangga, kamu bengong? Aku dari tadi ngajak ngomong kamu cuekin?" ucap Kania kesal sambil beranjak dari senderannya dari tubuh Rangga.


"Eh, enggak," Rangga sedikit tergagap saat mendapati Kania dengan wajah kesalnya. "Kamu cerita apa? Sorry aku lagi nggak fokus," ucap Rangga.


Kania melihat sekeliling, "Kamu lihat apa sih?" tanya Kania.


Rangga menarik bahu Kania agar menatapnya, "Nggak Lihat apa-apa, yaudah yuk kita cari makan," ucap Rangga sambil menarik tangan Kania.


Mereka duduk disalah restoran yang cukup ramai tidak jauh dari toko buku. Rangga membuka buku menu yang sudah ada diatas meja.


"Mau makan apa?" tanya Kania menurunkan buku menu yang menutupi wajahnya.


Rangga mengalihkan pandangannya dari buku menu menatap Kania, "Mie ayam aja," ucap Rangga lalu mencari minuman yang cocok untuknya.

__ADS_1


"Samain aja sama kamu," ucap Kania sambil menutup buku menu dan mengesampingkannya.


Rangga tahu, Kania adalah tipe orang yang bisa berubah mood dengan cepat, Rangga tahu pasti sebabnya adalah dirinya cuek saat ditoko buku, "Masih marah?" tanya Rangga.


Kania menggeleng tapi tak mau menatap Rangga.


Rangga menghembuskan napas sampai matanya terhenti menatap Filla dan Vino masuk kedalam restoran yang sama dengan mereka.


******


"Kak beres," ucap Filla sambil memamerkan paper bag yang didalamnya adalah buku yang ia pilih.


Vino tersenyum, lalu meletakkan buku yang ia lihat-lihat kembali pada rak, "Berapa buku?" tanya Vino.


Filla melihat kedalam paper bag, "Tiga Kak," jawab Filla setelah memastikan


Vino tertawa, "Kamu sendiri yang beli, masak lupa," ledek Vino.


"Ya lupa Kak, tadi kan ada 7 buku jadi lupa ambil berapa," ucap Filla membela diri.


"Kita cari makan yuk, Kakak laper nih," ucap Vino sambil menunjuk perutnya.


Filla mengangguk, ia juga sama laparnya dengan Vino. Mereka keluar dari toko buku beriringan.


"Makan dimana ya? Kamu tahu restoran enak?" tanya Vino.


Filla menimbang sebentar, lalu menjentikkan jari, "Kata Ola, itu restoran enak Kak, tapi aku belum sempet coba, mau?" tanya Filla sambil menunjuk salah satu restoran.


"Kita buktiin ucapan Ola," ucap Vino sambil bercanda membuat Filla tertawa.


Mereka masuk kedalam restoran dengan gaya minimalis didalamnya, Filla mengedarkan pandangan sampai menemukan bangku kosong, memang restorannya cukup ramai.


"Disitu Kak," ucap Filla sambil berjalan cepat tidak ingin kursi yang ia lihat diambil lebih dulu oleh orang lain membuat Vino menggeleng melihat tingkah Filla.


"Santai dek," ucap Vino saat mereka duduk di kursi.


Filla menyengir, "Nggak bisa santai Kak, kalau keduluan gimana?" ucap Filla membela diri.


Filla mengedarkan pandangannya pada sekitar sampai matanya menangkap sosok Rangga dan Kania yang hanya berbeda tiga meja dari mereka, Saat mata mereka bertemu, Rangga lebih dulu membuang pandangan membuat Filla juga melakukan hal yang sama, tidak ada alasan untuk menyapa pikir Filla.


******

__ADS_1


__ADS_2