
"Disini makanannya enak, kalian semua harus coba," ucap paman Dani sambil menunjukkan menu.
Mereka sekarang berada disalah satu tempat makan lesehan, yang terkesan sangat nyaman, Filla dapat merasakan rumah makan tersebut memang di desain dengan konsep seperti pondok kayu di perkebunan.
"Anakmu mana Lin?" tanya bunda yang duduk kembali setelah dari toilet.
Tante Lina melihat pintu masuk, "Biasa kayaknya masih di tempat bimbel, dia emang sibuk banget, sampai di rumah kadang udah jam 10."
"Mandiri itu Lin, Alhamdulillah dia kuliah sambil kerja, padahal bapaknya kaya," ledek Ayah.
"Bisa aja kamu Ton, masih kaya-an kamu lah," ucap paman Dani sambil tertawa.
"Sudah, kaya-an saya aja, kalau kalian pada nggak mau dibilang kaya," ucap papa membuat semua tertawa.
Tanpa menunggu lama, makanan pesanan mereka semua sudah terhidang diatas meja.
"Assalamualaikum," ucap perempuan cantik sambil tersenyum menghampiri mereka semua.
"Waalaikumsalam," ucap mereka serempak.
Nindy langsung menyalami papa dan mamanya, "Maaf telambet, tadi ade gawe dikit," (Maaf terlambat, tadi ada kerjaan sedikit) ucap Nindy dengan bahasa Bangka.
"Dak ape-ape, makanan juga baru datang," (Tidak apa-apa,) ucap tante Lina. "Nah, Filla, Rangga, ini Nindy anak Tante," ucap tante Lina sambil tersenyum.
"Hallo Kak, salam kenal," ucap Filla sambil tersenyum, mereka bersalaman bergantian.
"Salam kenal juga," ucap Nindy.
"Yaudah, yuk sekarang kita makan, laper aku," ucap paman Dani membuat yang lain tersenyum.
*******
Filla tersenyum saat mendapati Tita dan Aza duduk di ayunan yang ada di samping rumah makan.
"Ayo pada ngapain?" kejut Filla.
"Akak."
"Tita, kamu kan udah bisa panggil Kakak, kenapa masih Akak?" protes Aza.
Filla tersenyum lalu ikut duduk bersama mereka di ayunan yang cukup besar.
"Nggak gitu Aza, Akak itu panggilan sayang aku buat Akak Filla, kalau panggil Kakak udah biasa," ucap Tita.
__ADS_1
"Jadi sayang nih sama Kakak? Siapa ya yang nggak mau ngaku," goda Filla.
Tita memamerkan gigi rapinya, "Sayang Akak, waktu itu kan kita lagi berantem, makanya aku bilang nggak sayang abis Kakak nakal," ucap Tita.
Filla tertawa, "Ye, kamu juga nakal bocil," Filla mencium puncak kepala Tita, Filla sangat suka aroma harum dari sampo Tita.
Rangga yang melihat Filla duduk bersama Tita dan Aza mengurungkan niatnya melanjutkan langkah keluar, dirinya memilih duduk di kursi dekat pintu keluar. Rangga sesekali tertawa mendengar celotehan mereka.
"Hedeh, perdebatan perempuan," ucap Aza.
Filla tertawa mendengar celetukan Aza, "Emang Aza nggak mau ikut debat?"
"Nggak Kak Filla, debat cuma dilakukan anak kecil," ucap Aza.
Filla tambah tertawa, mengingat umur Aza yang malah jauh darinya, Filla dapat mengatakan Aza adalah bentuk kecil dari Rangga, karena semua sifat Rangga sepertinya dimiliki oleh Aza.
"Kak aku punya tebak-tebakan," ucap Aza tiba-tiba.
"Random banget sih Za, tiba-tiba ngajak tebak-tebakan," ucap Filla.
"Udah Kakak tugasnya cuma jawab," ucap Aza bersiap-siap.
Filla akhirnya mengangguk, dirinya membenarkan posisi duduk Tita dipangkuannya.
Filla tersenyum, seketika ia ingat tebak-tebakan ini pernah ia dengar dari Rangga, saat mereka boncengan dengan motor ketika SMA.
Rangga yang mendengar tebak-tebakan dari Aza terdiam, sekelebat kenangan muncul diotaknya, Rangga belum bisa memastikan apa yang terjadi padanya, yang jelas dalam ingatan tersebut ada Filla dan tebak-tebakan itu, sebuah momen yang tidak Rangga punyai selama ini.
"Kamu seriusan tanya Kakak? Itu tebakan dari abangmu kan? Kalender," ucap Filla sambil tertawa.
Mendengar ucapan Filla, Rangga menoleh dengan cepat, dirinya belum paham dengan ingatan yang muncul padahal Rangga merasa tidak pernah melewatinya, namun ucapan Filla seolah memori itu memang ada.
"Maksudnya ingatan ini beneran nyata?" tanya Rangga pada dirinya sendiri.
"Ah Bang Rangga bilang cuma kasih tahu ke Aza, ternyata Kak Filla juga?" tanya Aza.
Filla tertawa melihat wajah Aza yang kesal, "Harusnya Kakak pura-pura nggak tahu aja ya?" ucap Filla sedikit merasa bersalah walau dirinya tidak bisa menahan tawa.
"Makanya Bang, tebak-tebakan bikin sendiri jangan minta Bang Rangga," ledek Tita.
"Ngeselin nih anak," ucap Aza bersiap mengejar Tita yang lebih peka dan berlari duluan.
Filla tertawa melihat tingkah mereka berdua, mengingatkannya pada masa kecil yang tak akan ia jumpai lagi.
__ADS_1
"Maksudnya apa?" tanya Rangga yang sudah berada didepan Filla.
Filla tersentak, "Ngagetin banget sih," ucap Filla.
"Maksud tadi apa?" tanya Rangga menuntut.
"Apa?" tanya Filla heran dengan ucapan Rangga.
"Kapan gue kasih tebak-tebakan itu sama lo?" tanya Rangga.
Filla menghela napas, "Nanya itu doang serius amat, ya waktu kita SMA lah kapan lagi?" ucap Filla.
Rangga mengerutkan kening, "SMA? Lo nggak salah? Kita kenal waktu di rumah sakit, dan kita nggak pernah ketemu waktu SMA," ucap Rangga.
Filla terdiam, dirinya lupa dengan situasi, "Nggak maksud gue waktu di rumah sakit," ucap Filla.
Rangga menatap Filla dengan tatapan menyelidik, "Lo nyembunyiin sesuatu dari gue?" tanya Rangga penasaran.
Filla menggeleng, "Lo ngomong apa sih Ngga, Nggak jelas," ucap Filla lalu mencoba meninggalkan Rangga, namun tangannya tertahan.
"Jangan menghindar, lo selalu gitu, kasih tahu ke gue apa yang lo sembunyiin?" ucap Rangga memaksa. "Gue yakin ada sesuatu yang aneh, tadi sebuah memori muncul diingatan gue, dan itu tentang kita berdua boncengan naik motor," ucap Rangga.
Filla menatap Rangga dengan tatapan tak percaya, "Lo inget?" tanya Filla heran, karena ia ingat jelas ucapan nenek tua terakhir kali, bahwa Rangga tidak akan pernah mengingat momen apapun nantinya.
"Jadi memori itu bener?" tanya Rangga. "Apa yang lo sembunyiin dari gue Filla?" tanya Rangga mulai geram.
Filla tersenyum sinis, "Sembunyiin? Nggak ada yang gue tutupin, lo yang lupa semuanya, dan cukup, jangan pernah inget apa-apa lagi," ucap Filla lalu meninggalkan Rangga kembali bergabung dengan yang lain.
Rangga menatap punggung Filla, banyak hal yang harus ia cari tahu.
Filla duduk disebelah mama yang mengobrol dengan bunda dan tante Lina. Dirinya masih tidak habis pikir dengan situasi tadi, sebenarnya permainan seperti apa yang akan ia hadapi kedepannya.
Filla sudah cukup lelah dengan semua ingatan dan takdir yang ia lalui.
Filla melihat ke arah Rangga yang masih duduk di ayunan sambil meraup wajahnya.
Filla menatap layar ponselnya yang menampilkan fotonya dan Vino, senyum Vino membuat Filla merasa bersalah seperkian detik berharap Rangga mengingat semuanya.
Filla menggeleng, nggak, kamu harus tahu Filla, ada hati yang harus kamu jaga, batin Filla.
Filla memantapkan diri, ia harus benar-benar menghapus Rangga, apapun yang terjadi nantinya.
********
__ADS_1