Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 144


__ADS_3

"Ini kenapa bisa ada udang ya? Kita pesen tanpa udang," ucap Rangga sambil menunjuk pasta milik Filla.


"Maaf Mas, akan kami ganti, maaf atas ketidak nyamanan ini," ucap pria tersebut sambil menunduk.


Setelah Rangga mengangguk pelayan tersebut membawa makanan Filla kembali ke dapur.


Filla menatap tangan Rangga yang sedikit memar, "Tangan lo kenapa?" tanya Filla.


Rangga melihat kearah tangannya, "Biasa anak laki," ucap Rangga berbohong.


Filla mengerutkan kening, "Itu karena lo nolongin gue kemaren kan?" tanya Filla, karena ia yakin pasti memar ditangan Rangga akibat membantunya semalam.


"Cuma luka memar, nggak parah," ucap Rangga.


Filla menghela napas, "Sorry Ngga," ucap Filla merasa bersalah.


Rangga menghentikan makannya, "Kenapa jadi kamu yang minta maaf? Malah ini karena aku, harusnya Kania nggak bersikap gini sama kamu."


"Ini Mbak, maaf sekali lagi atas ketidaknyamanan tadi," ucap pelayan pria tersebut sambil menunduk sopan.


"Iya nggak apa-apa, makasih," ucap Filla sambil tersenyum.


Pelayan tersebut meninggalkan Filla dan Rangga setelah menyelesaikan tugasnya.


"Habis ini ke pasar malem yuk," ajak Rangga sambil menikmati pasta miliknya.


Filla dengan antusias mengangguk, "Boleh, udah lama gue nggak kesana."


Rangga tersenyum, jarak yang Filla ciptakan terasa mulai terhapus pikir Rangga.


*******


"Wah," ucap Filla kagum saat masuk ke dalam pasar malam yang sudah sangat lama tidak ia jumpai.


"Kamu mau main?" tanya Rangga.


Filla dengan antusias mengangguk, "Mau main tembakan," ucap Filla sambil menunjuk permainan tembak kaleng.


Rangga mengangguk, mereka lalu memainkan game tersebut dengan Rangga yang memulai, Filla menonton sambil tertawa mendapati Rangga yang tembakannya selalu meleset, bahkan tidak satupun mengenai target.


"Dari pada ketawa, mending kamu pegang ini," ucap Rangga memberikan jaketnya pada Filla, dirinya merasa tertantang memenangkan tantangan ini.


Filla kembali tertawa saat 5 peluru Rangga tetap saja meleset, "Sini, emang harus gue yang main, lo lihat ya, boneka itu pasti bisa gue bawa pulang," ucap Filla yakin sambil menunjuk boneka beruang ukuran sedang yang tergantung.


"Fill, ini bukan permainan yang bisa kamu menangi, suli-," ucapan Rangga terhenti saat Filla dengan cekatan menumbangkan tumpukan kaleng tanpa bersisa hanya sengan tembakan pertamanya.


Tidak butuh waktu lama Filla berhasil menumbangkan 5 tumpukan membuatnya sangat antusias, "Apa gue bilang," ucap Filla sambil menyenggol bahu Rangga.

__ADS_1


"Eneng hebat bener, pacarnya aja kalah," ucap pria paruh baya pemilik tempat tersebut.


Rangga menatap sengit pria paruh baya tersebut, "Saya cuma lagi kurang fokus," ucap Rangga membela diri membuat Filla dan pria paruh baya tersebut tertawa.


"Ini Neng, kasih pacarnya saja biar tampil beda, biasanya kan pria yang mendapatkan boneka untuk pacarnya, sekali-kali terbalik nggak apa-apalah," ucap pria paruh baya tersebut sambil tertawa.


Filla ikut tertawa, "Makasih Paman," ucap Filla sambil menerima boneka yang disodorkan padanya. Filla menatap Rangga lalu mengangkat kedua alisnya sambil menyodorkan boneka sengaja meledek Rangga.


"Yakali, buat kamu la," Rangga menggenggam tangan Filla lalu melangkah pergi.


Mereka memainkan beberapa permainan disana, dan lagi-lagi masih Filla yang memimpin, dan Rangga akan selalu kesal karena kemampuan bermainnya.


"Mau es krim?" tanya Rangga saat mereka duduk disalah satu bangku yang menghadap pada bianglala yang penuh lampu.


Filla mengangguk, dirinya menatap beberapa orang yang berteriak karena menaiki ombak asmara, Filla tersenyum ketika beberapa orang wanita berpegang erat pada senderan kursi.


"Nih, tanpa stroberi," ucap Rangga menyodorkan es krim dua rasa yaitu coklat dan vanila pada Filla. Sedangkan miliknya memiliki tiga rasa.


Filla tersenyum lalu menerimanya, "Makasih," ucap Filla.


"Mau naik Bianglala? Aku jadi inget Singapore Flyer, walaupun beda jauh," ucap Rangga.


Filla mengangguk, "Boleh, udah lama juga gue nggak naik itu, asal jangan yang itu," ucap Filla sambil menunjuk gelombang asmara lalu tertawa.


Rangga ikut tertawa, "Kamu takut?" tanya Rangga sekaligus meledek.


"Masak?" tanya Rangga meledek.


"Ih seriusan," Filla menepuk punggung Rangga, lalu mereka berdua tertawa.


"Lihat deh, aku yakin bentar lagi minta turun," ucap Rangga sambil menunjuk pria sedikit melambai yang berteriak seiring wahana gelombang asmara menaik.


Filla tertawa, "Jahat," ucap Filla tapi juga ikut tertawa mendengar setiap teriakan tersebut.


"Kamu juga jahat, tuh ketawa mulu," ucap Rangga.


"Ya karena kamu yang ledekin."


"Turuuun, bisa mati ini, mau turuuuuun...!" ucap pria melambai tersebut sambil menghentakkan kakinya diudara.


Filla dan Rangga saling tatap lalu tertawa.


"Udah aku bilang kan," ucap Rangga disela tawanya membuat Filla makin tertawa.


"Mau naik itu sekarang?" tanya Rangga menunjuk bianglala saat mereka sudah bisa mengendalikan diri.


Filla mengangguk, dirinya sempat membuang wadah es krim kedalam tong sampah. Mereka berjalan mendekati tempat pembelian tiket, Filla hanya menunggu disamping Rangga.

__ADS_1


"Kamu duluan," ucap Rangga saat mereka memasuki bianglala. "Awas kepalanya," ucap Rangga sambil melindungi kepala Filla dari besi pintu.


Filla terdiam saat lutut mereka bertemu, perlahan bianglala tersebut menaik keatas, Filla dapat melihat suasana pasar malas dibawah sana.


Filla menaikkan alisnya ketika Rangga menyodorkan jaketnya pada Filla.


"Kamu kedinginan kan? Makanya besok-besok bawa jaket," ucap Rangga.


"Dasar batu es," ucap Filla, memang bagaimanapun situasi Rangga adalah pria dingin menurut Filla, lebih tepatnya pria tanpa ekspresi.


Rangga menyembunyikan senyumnya, lalu memakaikan jaket miliknya pada bahu Filla. Tatapan mereka bertemu, "Di pakai nanti kedinginan nyalahin aku," ucap Rangga tanpa ekspresi.


Filla menatap malas, tapi membiarkan jaket tersebut menutupi tangannya. Filla tersenyum melihat pemandangan dibawah, dirinya meronggoh ponsel didalam tas lalu mengambil beberapa foto.


Rangga menatap Filla, entah mengapa, melihat senyum Filla membuatnya ikut tersenyum.


DUARRRR....


Filla sedikit terkejut saat petir tiba-tiba terdengar, dan beberapa kali kilat terlihat di langit, dirinya terpejam, sejak kecil Filla memang sangat takut dengan petir, namun sangat suka hujan.


Filla lebih terkejut saat tangan Rangga menutup kedua telinganya, Filla membuka mata dan kembali terkejut saat tatapan mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat.


"Kita turun aja," ucap Rangga yang langsung diangguki Filla.


Saat penjaga membuka pintu, hujan malah turun dengan deras, beberapa orang berteduh.


"Malah hujan," ucap Rangga sambil menengok ke langit saat mereka.berteduh dibawah terpal tempat pembelian tiket.


"Nggak apa-apa, malah tambah seru," ucap Filla sambil meletakkan tangan dibawah hujan, membiarkan tangannya basah.


Rangga ikut tersenyum, "Nanti sakit," Rangga mengambil tangan Filla lalu mengeringkannya dengan sapu tangan miliknya.


Filla tertegun dengan perbuatan Rangga, namun tetap diam.


Rangga memakaikan jaketnya ditubuh Filla, lalu menguncinya, jaket tersebut tentu saja menenggelamkan tubuh mungil Filla.


Rangga menarik tudung jaket keatas kepala Filla, "Nah gini kan aman," ucap Rangga sambil tersenyum.


Filla kembali menghadap kedepan tanpa berucap membuat Rangga tersenyum.


"Habis ini gimana?" tanya Filla berusaha menetralkan jantungnya yang berdebar lebih kencang.


"Kita tunggu hujannya reda," ucap Rangga lalu menarik Filla merapat padanya, saat seorang pria sengaja berdiri disebelah Filla. Rangga menempatkan Filla disisi kanannya.


Filla tersenyum melihat perlakuan Rangga, Andai dulu, batin Filla.


********

__ADS_1


__ADS_2