
Jika kau merasa berpijak ditempat yang salah maka pergilah
Karena sekeras apapun kau melakoni kisahnya,
Jika kau bukan bagian dari alurnya,
Maka percuma...
~~
3 bulan berlalu, sikap Rangga masih sama seperti sebelumnya, dingin dan cuek, dan Filla masih tetap berusaha menguatkan diri untuk tetap bertahan didekat Rangga, harapan Filla tetap kuat untuk tahu apakah Rangga hanya lupa dengan ingatan seperti yang ia punya, atau semua itu memang hanya ada padanya tapi tidak untuk Rangga, teka-teki itu masih Filla coba pecahkan walau sulit.
Walau Filla terus mengejar Rangga yang tetap tak ingin menyamakan langkahnya dengan Filla, semakin Filla berlari, Rangga terasa semakin jauh, bahkan saat Filla jatuh, ia hanya perlu kekuatannya sendiri untuk bangkit dan kembali mengejar Rangga, entahlah sampai kapan ia akan bertahan, tapi setidaknya ia berusaha mencoba.
"Ngga, ini sarapan aku buatin buat kamu," kali ini Filla masih kekeh membuatkan sarapan untuk Rangga, tak pernah sekalipun senyum diwajahnya lepas saat menatap Rangga, walau kadang sarapan yang ia buat acapkali Rangga berikan pada oang lain seperti saat ini.
Rangga menarik tangan Bima teman sekelas mereka, yang mengambil mata kuliah sama hari ini, "Ambil ini kalau lo laper," ucap Rangga sambil memberikan kotak bekal dari Filla.
Filla selalu ingin berada didekat Rangga sampai ia harus mengambil matakuliah yang sulit asal bisa mendapat kelas yang sama dengan Rangga walau hanya sekali dalam seminggu.
"Makasih Bro, gue emang belum sarapan," ucap Bima yang senang diberikan makanan oleh Rangga.
Filla hanya menghela napas pasrah, lalu kembali tersenyum, entah terbuat dari apa hatinya, "Yaudah besok aku buat yang lebih enak, aku akan semangat belajar masaknya, biar kamu mau cobain," ucap Filla kembali menghadap kedepan dan membaca bukunya sambil menunggu kelas dimulai.
Rangga memilih bepindah tempat duduk, menjauhi Filla, ia benar-benar muak dengan sikap Filla yang tidak pernah berubah, ia bukan membenci Filla, hanya ia tak suka dengan cerita yang Filla bawa padahal ia tak tahu tentang itu.
Filla diam melihat Rangga yang menjauh, "Sekali lagi kamu bodoh Filla," ucapnya pada dirinya sendiri lalu kembali tersenyum, mungkin hanya senyum yang dapat menguatkan hatinya.
"Hey Fill, masih ngelamun aja, nggak bosen apa?" tanya Reya, ya Reya adalah sahabat Filla saat masuk ke kampus, mereka ospek bersama dan dihukum bersama, dan Reya adalah sahabat yang juga ada di mimpi Filla, semua sama, sikapnya dan semua kebaikannya tidak ada yang berbeda di mimpi hanya saja Reya yang tak mengingat Filla dan mereka bertemu di Bandung bukan Singapura.
__ADS_1
Filla tersenyum melihat kedatangan Reya, "Sarapan yang gue bikinin ditolak lagi," ucap Filla pada Reya.
Sudah menjadi rahasia umum jika Filla selalu ditolak oleh Rangga, semua orang tahu jika Filla selalu berusaha mendekati Rangga tapi selalu ditolak. Dan Reya adalah tempat curhat terbaik, banyak sekali teman mereka yang mengejek Filla karena seperti cewek tidak tahu malu mendekati Rangga, tapi Filla selalu tak menggubris apapun perkataan orang.
"Lo aja yang nggak pake berenti baikin dia," celetuk Reya, kadang benar apa kata Reya, tapi Filla tetap gadis bodoh yang bertahan dengan semua ucapan Rangga.
"Gue bodoh ya?" tanya Filla.
Reya mengenggam kedua bahu Filla agar menatapnya, "Lo nggak bodoh, cuma kurang pintar, dandan lah, lo tu cantik, kenapa sesederhana ini? Cuma pake jins dan baju kaos, coba lo berubah pasti dia nyesel nolak lo," saran Reya dengan semangat berkobar.
"Nggak nyambung, dan lo udah ratusan kali ngomong itu, gue sukanya gini, santai nggak ribet," jawab Filla sekenanya yang berhasil membuat Reya mingkem.
Filla terdiam saat melihat kedatangan perempuan yang sangat familiar baginya, orang yang membuatnya tidak dipercayai kedua orangtua, orang yang menghancurkan persahabatannya, dan orang yang membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Ya dia Rasti, gadis licik yang merubah hidupnya sampai ia bisa kecelakaan dan koma.
Mata mereka bertemu, Rasti juga terlihat terkejut dengan kehadiran Filla dikampus yang baru ia masuki ini, ia memang pindahan dari kampus di Jakarta karena ayahnya yang pindah tugas ke Bandung.
"Fill, kenapa liatin tu anak? Lo kenal?" tanya Reya heran dengan perubahan sikap Filla.
"Waw, kita ketemu lagi ni? Nggak nyangka gue," ucap Rasti yang baru masuk ke toilet sengaja menyusul Filla.
Filla tak menggubris dan memilih mencuci tangannya.
"Gue denger lo koma? Waw hebat juga bisa bangun lagi, dan kayaknya pilihan gue buat ngulang dan pindah jurusan tepat, akhirnya gue ketemu sama lo, gadis cupu yang sekarang tambah cupu," ucap Rasti sambil tertawa kencang melihat penampilan Filla.
"Jangan cari masalah, gue nggak mau ladenin lo," ucap Filla sambil berjalan hendak keluar dari toilet tapi tangannya ditahan Rasti. Dengan cepat Filla menepisnya.
Rasti tertawa, "Kuat juga, apa karena kelamaan istirahat antara hidup sama mati?" ucapnya senang. "Dan apa sekarang lo miskin, penampilan kok nggak ada berkelasnya sama sekali, gue denger bisnia bokap lo terancem bangkrut gara-gara kabar koma lo, ternyata bukan cuma kabar burung," eejek Rasti sambil memegang kerah baju Filla dengan memasang wajah jijik.
Filla dengan kuat menarik dan melempar tangan Rasti, "Cukup sebelum gue bertindak jauh," Filla tersenyum menatap Rasti yang terkejut dengan tindakannya. "Gue kasih tahu sama lo, nggak ada urusan gue sama lo, lo pikir gue takut, lo salah dateng dihadapan gue, awas aja, berani selangkah, gue hancurin hidup lo seperti lo hancurin hidup gue," ucap Filla tepat diwajah Rasti.
__ADS_1
Rasti tertawa mendengar ucapan Filla, "Waw, takut," ejeknya.
"Gue saranin lo emang harus takut," ucap Filla lalu menghempas tangan Rasti dan mendorongnya ke diding sampai Rasti mengaduh kesakitan. Lalu Filla melangkah keluar.
******
Filla berjalan cepat kembali kedalam kelas, ia hanya menunduk tanpa memperdulikan sekitar, sampai ia menabrak dada bidang pria tanpa sengaja.
"Maaf, saya nggak sengaja," ucap Filla lalu kembali meneruskan langkahnya tanpa mau menoleh.
Filla masuk kedalam kelas dan duduk disebelah Reya, Filla menangkupkan wajagnya kesal.
"Kenapa lo?" tanya Reya yang walau bingung tetap mengunyah snacknya tanpa henti.
"Gue ketemu Rasti," jawab Filla sekenanya.
"Rasti, biang masalah dalam hidup lo?" tanya Reya terkejut, Reya memang tahu betul kisah hidup Filla, Filla mempercayakan apapun pada Reya, menceritakan semua hal tanpa ada yang terlewatkan.
Filla mengangguk, Filla menghembuskan napas kesal.
"Udalah, jangan dijadiin beban, dendam akan bikin lo yang nggak nyaman, jadi ikhlasin aja," ucap Reya sambil menghosok pelan punghu Filla.
Filla menganggu, "Makaaih Rey," Kadang Filla takjub dengan sikap dewasa Reya, membuatnya nyaman menceritakan apapun pada Reya.
Reya mengangguk, "Ngomong-ngomong segitu keslnya gue liat, sampai nabrak Rangga lo nggak berekspresi," ucap Reya meledek.
Filla membulatkan matanya, "Tadi Rangga?" tanya Filla yang kelabakan menatap kebelakang, tapi tak ada jejak Rangga disana. "Lo kok nggak bilang? Mana gue cuma bilang maaf," ucap Filla frustasi.
"Emang mau bilang apa lagi dodol," ucap Reya sambil menjitak kepala Filla.
__ADS_1
"Sakit Reya! Ngeselin," Filla menyusul Reya yang audah meninggalkannya sambil berlari, sepertinya sifat kekanakan mereka terulang lagi.
******