Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 35


__ADS_3

"Akhirnya kita bisa nongkrong bareng," ucap Dinda saat dirinya, dan kedua sahabatnya duduk disalah satu kafe didalam Mal.


ketidakhadiran Filla biasanya tentu saja membuat mereka excited hari ini, biasanya Dinda dan Freya menghabiskan waktu hanya berdua tanpa Filla.


"Fill jangan sedih dong, kita kan mau have fun hari ini," ucap Freya saat melihat wajah lesu Filla sejak mereka bertemu di lobby.


Filla tersenyum, "Gue nggak sedih kok," ucap Filla sambil menaikkan alisnya.


"Gitu dong, yuk kita pesen makan dulu," Dinda membuka buku menu yang hampir menutupi seluruh wajah ketika diangkat.


Filla menatap arloji dipergelangan tangan kirinya, "Kapan Frey Filmnya tayang?" tanya Filla penasaran karena ia tidak ikut membeli tiket.


"Satu jam lagi Fill, tadi sengaja ambil yang agak sorean biar bisa makan dulu," jelas Dinda.


"Eh keinget sama omongan Bunda tadi, seriusan mama kandung Rain seumuran kita?"


Filla mengangguk, "Iya, aku juga nggak nyangka Frey, kalian tahu sendiri gimana deketnya aku sama Rain, sekarang masih terasa beda kalau inget Rain udah kembali sama Kania dan keluarga."


"Pasti sulit Fill, apalagi Rain hampir selalu ada disetiap momen lo sejak beberapa bulan lalu." Dinda menyesap jus jeruk yang sudah terhidang diatas meja didepannya.


"Eh lucu banget tadi pas Rangga dengan wajah memelasnya minta ikut," celetuk Dinda, mamang sejak mereka mulai berteman sudah bukan hal tabu lagi melihat Dinda yang begitu memuja Rangga.


Filla menghembuskan napas malas, "Darimananya yang lucu, heran gue sama mata lo Frey," celetuk Filla.


"Rangga tuh adalah sebaik-baiknya harapan tau nggak?" ucap Freya tak lupa senyum penuh makna.


"Bukannya itu Rangga?" tanya Dinda sambil menujuk pria dengan jaket navi yang manuju kearah meja mereka.


Filla mengerutkan alis menatap kehadiran Rangga yang sudah mulai duduk sebelah dikanannya, "Ngapain coba nyusul?" tanya Filla penuh penekanan.


"Bosen," jawab Rangga singkat.


"Frey, maaf telat," ucap seorang pria yang membuat semua menoleh tak terkecuali Filla.


Filla membelalakkan mata saat melihat sipa pria dibalik tudung hodie didepan mereka, tanpa sengaja sendok milik Filla jatuh kelantai dan beberapa noda mengenai baju putihnya.


Semua menatap Filla termasuk pria yang ternyata pacar Freya.


"Aku ke toilet dulu," ucap Filla sambil beranjak dari duduknya tanpa meminta psrsetujuan.

__ADS_1


Filla menatap wajahnya didepan cermin, "Adit? " tanyanya pada diri sendiri masih dengan rasa penasaran.


"Fill," sapa Adit saat Filla berjalan keluar dari toilet.


Filla mengerutkan dahinya penasaran.


"Gue mau minta maaf buat masalah yang sudah gue lakukan dalam hidup lo. Please jangan bilang apapun sama Freya, dia gadis baik, gue nggak mau nyaketin dia."


Filla menatap Adit yang memilih menghindari tatapannya, "Asal, lo nggak nyakitin Freya. Gue akan tetep diem."


"Maaf Fill, apapun yang udah gue lakuin gue minta maaf."


Filla mengangguk, "Yang sudah lewat jadikan pelajaran aja."


Mereka kembali bergabung dengan yang lain.


"Kalian ngapain coba? Lama banget ketoilet doang," celetuk Freya saat dirinya sudah menyender dibahu bidang Adit.


"Kita sempet ngobrol tadi, Filla dulu satu sekolah sama aku, ya kan Fill?" ucap Adit meminta persetujuan.


"Wah kalian reunian dadakan berdua dong," celetuk Freya.


******


Filla meyebrangi jalan yang padat kendaraan, saat melihat nenek-nenek yang kesuliatan menyebrang.


"Nek, sini Filla bantuin," Filla menuntun nenek itu sampai keseberang jalan. "Nenek mau kemana?" tanya Filla penasaran.


Nenek itu mengusap bahu Filla pelan, "Terimakasih, senang bertemu kamu lagi, nak."


Filla mengerutkan alis penasaran, "Bertemu lagi?" tanyanya.


Nenek hanya diam menatap Filla sambil tersenyum, "Nenek pamit, nak," ucapnya lalu berjalan meninggalkan Filla yang penuh dengan tanya.


Filla mengangkat kedua bahunya lalu berjalan menghampiri Rangga dan yang lain.


"Nenek itu?" Filla dengan cepat berbalik dan mengedarkan pandangan diseberang. tapi tak ada apapun disana, ia sedikit penasaran, nenek itu mengingatnya setelah 10 tahun.


"Kenapa?" tanya Rangga ikut mengedarkan pandangan melihat arah tatapan Filla.

__ADS_1


Filla ingat pernah bertemu nenek tua itu saat ia masih kecil, nenek itu menghampirinya yang bermain diteras rumah, lalu menghilang ketika Filla kembali dengan segelas air putih dari dalam rumah, sejak itu nenek ini tak pernah terlihat hanya sebuah dreamcatcher yang nenek itu tinggalkan diatas meja teras.


*****


"Jadi, Filla akan ikut wasiat itu?" tanya Ayah.


Sekarang mereka sedang duduk bersama diruang keluarga, memang setelah kelulusan kemarin bunda sibuk menanyakan kelanjutan pendidikan Filla, dan sekarang tepatnya Filla akan membicarakan ini semua.


Filla mengangguk, "Iya Yah," jawab Filla tegas.


"Terus Kakak mau gimana? Tinggal sama siapa dan siapa yang jagain?" tanya bunda yang mulai menampakkan wajah khawatirnya.


"Tenang Bun, nanti Ayah yang akan urus semuanya kalau Filla memang mau ke Singapura," ucap Ayah menengahi. "Yaudah nanti Filla sewa apartemen temennya ayah, nanti Ayah juga yang bakalan nanggung biayanya," ucap ayah.


"Nggak Yah, untuk semua urusan biaya pendidikan Filla, Filla urus sendiri, Ayah nggak perlu nanggung semuanya. Filla masih punya tabungan dan nanti Filla bakalan belajar mandiri disana," ucap Filla yakin dengan jawabannya.


"Kak, Kakak mau mandiri kayak gimana? Kakak fokus kuliah biar Ayah yang urus," ucap bunda sambil mendekat kearah Filla.


Filla menatap Bunda dan Ayah, "Filla mau belajar mandiri, nanti kalau Filla kesulitan Filla bakalan hubungin Ayah atau Bunda, janji," ucap Filla meyakinkan bunda dan ayah.


"Oke Kak, tapi inget kamu bukan orang asing jadi kapanpun kamu susah hubungi kami," Ayah akhirnya mengalah.


Filla tersenyum, "Makasih Yah, Bun," ucap Filla.


Rangga hanya ikut obrolan ini dan memilih diam, iya juga bingung akan melanjutkan kuliah dimana, bulum ada tujuan sedikitpun untuk sekarang.


"Rangga gimana? Udah ada kampus yang akan kamu pilih," tanya ayah lalu menatap Rangga yang duduk disebelahnya.


"Belum ada Yah, masih bingung," jawab Rangga sekenanya.


"Nah Rangga ikut Filla aja ke Singapura," ucap bunda tiba-tiba. "Itung-itung jaga Filla disana, ya nggak Yah?" tanya bunda pada ayah yang terlihat mempertimbangkan usul bunda.


"Gimana Ngga?" tanya ayah menatap Rangga serius.


Rangga dengan senyum sumrigah mengangguk, "Mau, mau akhirnya keluar negeri," ucap Rangga girang. Membuat yang lain tertawa menatapnya.


"Sudah selesai liburan kalian Ayah anter ke Singapura buat daftarin kalian, Ayah juga punya sahabat disana mereka pasti bisa bantu."


Percakapan kecil sebenarnya tapi keputusan kali ini membuatnya tersenyum sumrigah, kali ini ia tak akan sendiri di negeri orang, setidaknya ada Rangga yang akan menjadi temannya disana. Filla bersyukur sekarang seakan Tuhan mendengar doanya agar ada satu orang saja yang ia kenal nanti yang akan menemaninya di negeri yang asing baginya walau dulu ia sangat sering berlibur ke negara itu tapi belum tentu membuatnya nyaman untuk tinggal disana.

__ADS_1


******


__ADS_2