
"Kak, Mama nggak nyangka deh Vino segede itu," ucap mama sambil mengikuti Filla yang masuk kedalam rumah.
"Bisa la Ma, Filla segede gini masak Kak Vino nggak ikut berkembang," ucap Filla sambil tertawa.
Mama ikut tertawa mendengar celetukan Filla, "Ganteng lagi," ucap mama.
"Dari kecil Kak Vino kan udah ganteng Ma," ucap Filla mengingat masa kecilnya dengan Vino.
Mama mengangguk, mereka duduk diruang keluarga sekarang, "Dia bisa ketemu kamu gimana?" tanya mama penasaran.
"Tadi dia di kampus Ma, kayaknya Kak Vino bakalan lanjutin S2 dikampus yang sama dengan Filla," ucap Filla sambil memindahkan saluran TV, mencari film atau acara yang dapat dia tonton.
"Mama suka deh kamu sama Vino, anaknya sopan, dari kecil Mama nggak pernah ngerasa khawatir kalau kamu main sama dia," ucap mama sambil tersenyum.
Filla ikut tersenyum, "Iya Ma, Kak Vino itu sosok Kakak yang Filla idam-idamkan dari dulu," ucap Filla.
Mama tersenyum lalu menepuk bahu Filla pelan, "Mama mau cari Tita dulu," ucap mama lalu meninggalkan Filla ketila meraih anggukan dari Filla.
Dering ponsel notif pesan masuk membuat Filla meronggoh ponselnya didalam tas. Filla tersenyum saat tahu pesan itu dari Vino ketika ia membuka foto profilnya.
From 08xxxxxxxxxx
Save Fill, no Kakak nih.
To 08xxxxxxxxxx
Kakak? Dapet nomor aku dari mana? Kok bisa?
Filla menyimpan nomor Vino, ia sangat suka melihat foto profil Vino yang menunjukkan momen saat Vino bersama keluarganya, benar-benar tipe pria idaman wanita diluar sana pikir Filla.
From Kak Vino
Gampang cuma dapetin nomormu Fill, jangan lupa disimpen loh, kalau nggak awas aja.
Filla tertawa dengan ancaman Vino yang malah membuat Filla gemas.
To Kak Vino
Nggak mau, lihat aja
Filla menutup ponselnya sambil tertawa, Vino benar-benar membuatnya sedikit lupa tentang Rangga, Vino selalu datang disaat yang tepat, begitulah Vino dimata seorang Filla.
*****
"Kaka Vino," ucap Filla antusias saat mendapati Vino berdiri didepan pintu rumahnya.
"Boleh mampir?" tanya Vino sambil tersenyum.
Filla tertawa, "Nggak boleh sih," ucap Filla tapi menarik Vino masuk kedalam rumahnya. "Kakak udah mulai masuk kuliah?" tanyanya sambil menutup pintu.
Vino mengangguk, "Hari ini hari pertama," ucap Vino sambil tersenyum.
"Akak Anteng," teriak Tita yang langsung berlari dan memeluk pinggang Vino.
__ADS_1
Vino menggendong Tita, "Kamu lucu banget Tita," ucap Vino mencubit gemas pipi Tita.
"Berat Kak, turunin aja," ucap Filla.
"Akak cembulu?" tanya Tita sambil meleletkan lidahnya.
"Wah ni anak belajar darimana coba?" Filla menggelitiki Tita yang berada digendongan Vino.
Vino ikut tertawa lalu menurunkan Tita, "Gemes sama kalian berdua," ucap Vino.
"Gemesan aku sih Kak, Tita mah kalah," ucap Filla sengaja mengajak Tita berdebat, karena Filla sangat gemas saat Tita sudah mempautkan bibirnya.
"Sama Akak, Tita kan adik Akak, calau Akak Gemes Tita uga," ucap Tita sambil mempautkan bibirnya.
"Iya gemes," ucap Filla mencubit pipi gembul Tita lalu menciumnya.
"Aduh pagi-pagi udah kayak keluarga bajagia kalian," ucap papa yang menuruni tangga.
Vino tersenyum, lalu menyalami tangan papa, "Apa kabar Paman?" tanya Vino.
"Alhamdulillah, jadi ini Vino yang dulu nangis dikejer kucing?" tanya papa dengan nada bercandanya.
Filla tertawa, benar saja ingatan itu masih ada dalam kepalanya, seorang Vino yang gagah dan tampan adalah lelaki yang takut dengan kucing.
"Paman ingetnya cuma itu?" tanya Vino lalu tertawa mengikuti tawa papa.
"Yaudah yuk sarapan," ucap papa sambil merangkul bahu Vino.
Meraka berjalan menuju meja makan, disana sudah ada mama yang lengkap mengenakan celemeknya.
"Makasih Tante," ucap Vino.
Mereka duduk melingkar mengikuti bentuk meja makan, masakan mama yang terlihat enak memenuhi meja makan.
"Ayo dimakan," ucap mama antusias.
Filla menatap meja mengelilingi tiap makanan yang tersaji, "Mama, ini sarapan atau makan siang? Ada acara apa ngomong-ngomong?" ucap Filla menoleh kearah mama yang masih menatap Vino.
"Baru Papa mau komplen," ucap papa ikut memperhatikan masakan mama.
"Harus dong, biar sehat, yuk makan," ucap mama antusias.
"Kata Mama, Akak Vino mau dateng jadi harus macak banyak," ucap Tita yang sibuk memakan makanannya.
"Tita nggak bisa jaga rahasia," ucap mama pura-pura ngambek.
Semua tertawa dengan ucapan polos Tita, "Maaf Ma," ucap Tita dengan wajah penuh harapnya.
Mama mencubit gemas pipi Tita, "Nggak bisa diajak kompromi kamu tuh, tapi gemes," ucap mama.
"Yaudah yuk makan," ajak papa yang mulai mengambil makanannya. "Vino kesibukan sekarang apa?" tanya papa.
"Kerja sambil lanjutin kuliah Paman," jawab Vino sekenanya.
__ADS_1
"Wah, Kamu hebat, mengimbangi keduanya," ucap papa kagum dengan Vino.
Vino tersenyum, "Masih belajar Paman, sambil bantuin Papa urus cabang-cabang kecilnya di Indonesia, lumayan jadi pengalaman juga," ucap Vino.
Papa mengangguk, "Anak muda perlu berpikiran kayak gitu Vino, Paman yakin kamu akan sukses," ucap papa.
Vino tersenyum, "Makasih Paman."
"Oiya, kalian satu kampus?" tanya papa menatap Filla dan Vino bergantian.
Filla mengangguk, "Iya Pa, Kak Vino mulai hari ini resmi jadi anak kampus lagi," ucap Filla antusias.
"Malah kamu yang kegirangan Kak," celetuk papa yang membuat Mama dan Vino ikut tertawa.
"Iya dong, Filla jadi bisa kuliah bareng sama Kak Vino," ucap Filla antusias.
"Fill mau bernagkat bareng?" tanya Vino.
"Wah pasti," ucap Filla semangat.
Papa menggeleng, "Nggak ada jual mahal kek Kak sedikit, mikir sebentar kek," ledek papa.
"Kan emang mau berangkat sama Kak Vino, nggak usah pake mikir," celetuk Filla sambil tersenyum, membuat yang lain tertawa mendengar ucapannya.
Filla merasa lengkap sekarang, ia punya Kakak, punya adek, seperti keinginannya sejak lama, sepertinya tuhan memberikannya lebih banyak kebahagiaan terlepas perubahan sikap Rangga.
*****
"Eh ketemu lagi," ucap Kania yang dibonceng Rangga.
Mereka sekarang berdiri didepan pagar rumah Filla, saat Filla dan Vino keluar dari rumah menuju mobil Vino yang terparkir diluar, Filla sudah tahu pasti kehadiran Rangga dan Kania akan memperburuk suasana paginya yang menyenangkan sejak tadi.
"Iya, pagi Kania, pagi Rangga," ucap Filla menyapa mereka.
Dan Filla tahu pasti, tatapan Rangga yang tak menyukainya akan selalu ia dapatkan tiap harinya.
"Rain apa kabar Kania?" tanya Filla teringat ia tak pernah lagi melihat Kania bersama Rain.
Wajah Kania berubah, "Rain ikut ayahnya," ucap Kania ketus.
Filla mengerutkan keningnya.
"Sok Polos banget lo!" Rangga menatap tajam Filla.
"Maaf, aku nggak bermaksud-," ucapan Filla terhenti.
"Basi banget, nggak usah pura-pura merasa bersalah," ucap Rangga dengan tatapan yang menatap Filla dengan tajam.
Filla meneteskan airmatanya, sebenarnya sudah biasa menerima ucapan menyakitkan dari Rangga, namun ketika Rangga melakukannya didepan banyak orang rasanya benar-benar menyakitkan.
"Maksud lo apapaan? Jaga bicara bisa kan? Gue rasa nggak ada yang salah sama pertanyaan Filla, kalau merasa tersinggung tanya pada diri sendiri dimana kesalahan yang lo buat," ucap Vino tegas lalu menarik Filla dan membawa Filla masuk kedalam mobilnya.
Tatapan Vino tak kalah tajam dengan Rangga, "Berani lo nyakitin Filla, berhadapan sama gue!" ucap Vino tajam lalu masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Rangga dan Kania.
__ADS_1
******