Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 96


__ADS_3

Vino yang sudah memperhatikan mereka sejak tadi, berjalan mendekat lalu merangkul bahu Filla, "Udah basa-basinya? Gue harap nggak akan ada banyak pencitraan ya, ayo Fill," ucap Vino dengan senyum khasnya walau ucapannya benar-benar menyudutkan Kania.


"Maaf gue nggak basa-basi kok," jawab Kania sambil mundur kebelakang tubuh Rangga.


Rangga menahan Kania dibelakangnya, "Maksud lo apa?" tanya Rangga sambil menatap tajam Vino.


Vino tersenyum lalu menepuk bahu Rangga walau dengan cepat Rangga menepisnya, "Cuma kasian sama lo yang nggak bisa bedain mana cewek baik," ucap Vino lalu merangkul Filla meninggalkan mereka berdua.


Baru beberapa langkah pergi, Vino menghentikan langkahnya membuat langkah Filla juga ikut terhenti, Filla mengerutkan alisnya, ia tak pernah melihat Vino dengan wajah itu, terlihat santai namun penuh penekanan.


Vino tersenyum menatap Kania yang masih dibelakang tubuh Rangga, "Dan lo, lebih baik urusin anak lo yang masih butuh kasih sayang dari pada berkeliaran dikampus padahal nggak ada keperluan, yang gue tahu lo bukan bagian dari mahasiswa kan?" setelah mengucapkan kata pedas itu, Vino dan Filla meninggalkan meraka berdua.


"Ber***sek!" teriak Rangga yang masih terdengar namun tak diperdulikan Vino sedikitpun.


******


"Kak, Kenapa bersikap begitu?" tanya Filla saat berdiri didepan Vino, mereka sekarang berada dikoridor depan lab Fisika yang terlihat sepi.


Vino mengalihkan pandangannya, tak mau melihat tatapan Filla.


"Kak," panggil Filla kesal karena tidak mendapat jawaban dari Vino.


"Terus Kakak harus apa? Diem aja gitu? Kamu tahu kan ucapan dia menjatuhkan kamu?" ucap Vino kesal.


Filla menghela napas, "Itu urusanku Kak, Kakak nggak perlu ikut campur."


Vino menatap Filla dengan tatapan tak percaya, "Jadi maksud kamu, kakak nggak berhak ikut campur lagi dalam urusan kamu?" tanya Vino.


"Bukan gitu Kak, Maksud aku-," ucapan Filla terhenti.


Vino menyuruh Filla diam dengan isyarat tangannya, "Oke, aku paham," ucap Vino lalu berjalan meninggalkan Filla yang meneriakinya, tapi tetap saja Vino melangkah tanpa mau menoleh.


Filla mengacak rambutnya kesal, ia sadar ucapannya barusan telah menyinggung Vino, padahal niat Vino sangat baik terhadapnya, namun Filla menolaknya tanpa memikirkan perasaan Vino, Filla menyasali tiap ucapannya untuk Vino tadi.

__ADS_1


Hujan trurun pelan lalu berubah deras, sampai suara apapun teredam, yang terdengar hanya suara hujan, Filla melangkah menuju kelasnya yang berada dilantai atas, sejak mengenal Vino, baru kali ini ia melihat Vino marah padanya, Vino selalu mengalah biasanya namun kali ini sepertinya ucapan Filla benar-benar menyinggungnya.


Filla mendudukan diri disalah satu bangku didalam kelas, beberapa mahasiswa lain juga sudah menempati beberapa tempat duduk, kelas akan dimulai dalam 10 menit, Filla mengeluarkan bukunya dan alat tulis dari dalam tas, ia terbiasa mencatat semuanya dibuku walau hampir semua mahasiswa sudah menggunakan tablet atau laptop untuk mencatat.


"Woy, tuh muka nggak pernah disetrika apa? Kusut amat," ucap Reya yang langsung duduk disebelah Filla.


"Kaget gue," ucap Filla kesal sambil menampar lengan Reya.


"Lo kek nenek gue, kagetan mulu," ledek Reya sambil mengeluarkan tablet dan buku paket.


"Kenapa? Cerita sama gue, masalah Rangga lagi?" tebak Reya dengan wajah malasnya, karena takterhitung berapa kalinya Reya menasehati Filla untuk tidak lagi berhubungan dengan Rangga, apalagi mengharapkannya.


Filla menggeleng, "Bukan, tapi Kak Vino marah sama gue," Filla menangkup wajahnya diatas meja.


"Terus? Kek dia ngggak pernah ngambek aja, santai aja kali," ucap Reya santai.


"Emang Kak Vino nggak pernah marah sama gue, makanya gue bingung sekarang," ucap Filla dengan kesal.


Reya mengangguk sambil ber-oh-ria, "Minta maaf kalau gitu," ucap Reya santai.


Reya terdiam sebentar lalu menjentikkan jarinya, "Gampang," ucap Reya lalu mendekatkan diri ke telinga Filla, lalu membisikkan idenya.


"Lo yakin bakalan dimaafin?" tanya Filla ragu.


Reya mengangguk antusias. "Yakin, pasti bakalan langsung dimaafin," ucap Reya yakin sambil mengangguk.


******


"Duh basah," ucap Filla saat dirinya berdiri di lobby aparteman setelah menerobos hujan. Salahnya lupa membawa payung, alhasil dari parkiran apartemen Filla menerobos hujan.


Filla menunduk sopan pada satpam yang berjaga didepan pintu masuk, Filla langsung menuju lift dan menekan tombol dengan angka 7. Filla ingat jika Vino sempat memberitahunya nomor apartemen tempat tinggalnya.


Pintu lift terbuka, Filla melangkah keluar dan mendapati lorong yang sepi, ia mencari pintu dengan nomor 702. Filla sengaja tidak menghubungi Vino karena ia ingin Vino sedikit terkejut dengan kedatangannya, namun alhasil karena keputusannya, sepertinya Vino tidak ada diapartemen setelah terhitung banyaknya Filla menakan bel.

__ADS_1


Filla menyerah dan duduk didepan pintu, setiap pintu lift terbuka ia akan berdiri dan berharap Vino yang akan keluar dari sana, namun sudah 4 kali ia mendapati orang lain yang keluar dari sana.


Lift berbunyi namun Filla masih kekeh dengan duduknya dilantai menunggu kehadiran Vino, bagaimanapun ia harus mendapat maaf Vino hari ini.


"Filla?" panggil Vino sedikit terkejut dengan kehadiran Filla, apalagi dengan keadaan sedikit basah.


Filla mendonggak mendapati Vino dengan stelan kantornya, baru pertama kali Filla melihat penampilan Vino yang terlihat lebih dewasa, Filla berdiri lalu tersenyum, "Kakak," panggilnya senang.


Filla mengeluarkan kertas dari dalam tasnya, ia menunjukkan satu persatu kertas yang sudah ia tulis dengan permintaan maaf. Filla memasang wajah penuh harap ketika kertas terakhir sudah dibaca Vino.


"Maaf Kak, aku nggak maksud ngomong kayak gitu, aku cuma nggak mau Kakak terlibat sama setiap urusanku yang nggak penting," ucap Filla sambil menunduk.


Vino menarik Filla dalam pelukannya, "Siapa yang suruh kesini sambil hujan-hujanan lagi?" ucap Vino.


Filla tersenyum sambil memeluk Vino erat, rasanya lega jika Vino sudah bersikap seperti biasanya, "Jadi dimaafin kan?" tanya Filla setelah melepas pelukannya dari Vino.


Vino mengangguk, "Maaf juga, Kakak yang kayaknya terlalu sensi," ucap Vino.


Filla tersenyum.


"Ayo masuk, kamu kenapa hujan-hujanan, kan bisa besok minta maafnya," ucap Vino sambil membuka pintu apartemannya lalu menarik Filla masuk kedalam.


Filla cengengesan, "Abis hujannya tiba-tiba, aku lupa bawa payung," ucap Filla sambil meletakkan tasnya di sofa.


"Itu kertas bukan ide kamu kan?" tanya Vino sambil memberikan handuk pada Filla.


Filla tertawa, "Kaka tahu darimana coba? Tapi beneran itu ide Reya, katanya dijamin bakalan dimaafin," ucap Filla masih tertawa.


Vino tertawa, "Ada-ada aja, kedepannya kalau mau kesini bilang dulu sama Kakak, jangan nunggu didepan pintu kayak tadi," pinta Vino.


Filla mengangguk paham tanpa mau membantah.


"Nih, pake baju Kakak dulu," ucap Vino sambil memberikan kaos dan celana panjang miliknya. "Kakak nggak punya baju cewek," ucap Vino jujur.

__ADS_1


"Makanya pacaran Kak," ledek Filla sambil berjalan kearah kamar mandi membuat Vino tertawa.


******


__ADS_2