Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 154


__ADS_3

Filla merangkul ketiga sahabatnya, "Bagaimana pun kalian harus mengakui itu guys," ucap Filla.


"Bodo amat." Ola sambil memutar bola matanya malas membuat yang lain tertawa.


Dari arah pintu keluar gedung, Filla melihat Vino berjalan mendekatinya, dan lagi dirinya harus bertemu dengan pria ini lagi.


"Filla." Panggil Vino sambil berlari mendekati Filla.


"Seriusan dia sampai nyusulin lo ke Jakarta?" tanya Reya sambil berbisik.


Filla hanya diam tanpa mau berkomentar.


Vino berdiri didepan mereka lalu tersenyum, tapi tidak ada yang membalas senyumannya termasuk Iren yang bahkan belum mengenalnya sama sekali, "Bisa kita bicara sebentar?" tanya Vino dengan antusias.


Filla menatap Vino dengan malas, dirinya sangat tidak ingin berurusan lagi dengan Vino, apalagi mengingat Vino sudah mempunyai keluarganya sendiri.


Ola membawa Filla kebelakangnya, "Mau apa lagi sih Kak? Belum cukup nyakitin Filla? Sekarang bukan waktunya buat mulai lagi," ucap Ola.


"Saya tidak ada urusan dengan kamu," ucap Vino sambil meraih tangan Filla.


Filla menarik tangannya cepat, "Yaudah, cuma ngomongkan? Nggak perlu pegang-pegang," ucap Filla.


Ketiga sahabatnya menatap Filla dengan tatapan tak terima atas keputusan Filla.


"Lo gila, mau ngomong apa lagi sama ni orang nggak tahu malu," ucap Reya dengan kesal.


Filla memegang tangan Reya, "Dia udah jauh-jauh ke sini, nggak mungkin gue usir," ucap Filla memberi pengertian pada ketiga sahabatnya. "Ayo Kak, mau ngomong dimana?" tanya Filla.


Tentu saja Vino sangat senang mendengar ucapan Filla, ia merasa usahanya berhasil untuk meraih hati Filla kembali, "Kita ngomong disana," ucap Vino sambil menunjuk taman belakang gedung.


Filla mengangguk, berjalan mengikuti Vino, ia meninggalkan senyuman saat ketiga sahabatnya melarang dirinya utuk pergi.


Filla sempat melihat kearah Rangga, dan masih sama, Rangga masih manatapnya dengan tatapan kecewa yang sangat tidak ingin Filla yakini.


*******


Filla dan Vino duduk disalah satu bangku taman, Filla masih dengan wajahnya yang merasa tidak nyaman dengan sikap Vino.

__ADS_1


"Kamu mau bicara apa?" tanya Filla to the point, tak ingin berlama-lama duduk disebalah Vino, Filla tahu Vino juga pihak yang perlu di maklumi, semua karena dirinya tidak sadar melakukan itu, namun nasi sudah menjadi bubur, mau bagaimanapun, Filla tidak akan mau pada pria yang harusnya bertanggungjawab pada wanita lain.


"Makasih kamu udah kasih Kakak kesempatan buat ngomong," ucap Vino sambil meraih tangan Filla.


Filla menarik tangannya, "Aku udah bilang buat tidak menyentuh, kalau bisa langsung ke intinya," ucap Filla mengingatkan.


Vino mengangguk tanpa membantah, "Fill, Kakak udah lakuin keinginan kamu untuk bertanggungjawab atas Salsa, tapi Kakak rasa tiga tahun udah cukup, Kakak nggak bisa terus sama dia, hati Kakak masih untuk kamu," ucap Vino tulus.


Filla mengalihkan pandangannya lalu kembali menatap Vino, "Tanggungjawab kamu ke anakmu nggak akan pernah selesai Kak, nggak seenteng Kakak ngomong tiga tahun udah bertanggungjawab," ucap Filla tak habis pikir.


"Ya aku akan terus tanggungjawab atas dia, tapi nggak dengan Salsa, semua itu kesalahan Filla, nggak bisa kamu respek dikit, aku terima semua kesalahan kamu, nggak bisa kamu terima juga kesalahanku?" tanya Vino dengan tatapan penuh harap.


Filla menghela napas, "Yang pertama, kehadiran anak Kakak nggak seharusnya kakak bilang kesalahan, dia ada ya karena itu jalan hidup Kakak, aku nggak mau masuk diantara itu, dan yang kedua, aku nggak pernah minta Kakak terima semua kesalahan atau kekuranganku," ucap Filla.


"Tapi aku nggak bisa sama Salsa, Fill, 3 tahun berusaha aku tetap membenci dia dan selalu memikirkan kamu," ucap Vino frustasi.


"Aku nggak bisa Kak, maaf," ucap Filla hendak berdiri namun tangannya ditahan Vino, membuatnya terhenti.


Vino menatap mata Filla dalam, "Kamu nolak karena Rangga kan? Balikan lagi kamu sama dia?" tanya Vino menatap tajam Filla.


Filla mengerutkan kening, "Dari awal, akar masalahnya Kakak, Kakak yang buang kepercayaan yang aku kasih, jangan melibatkan orang lain cuma karena kakak nggak mau disalahkan," ucap Filla tegas.


"Kak lepas! Sakit," ucap Filla sambil berusaha melepas genggaman tangan Vino di pergelangan tangannya. Filla tak habis pikir dengan sikap kasar yang Vino tunjukin sekarang, benar-benar bukan Vino yang ia kenal.


"Terus kamu mau nyamperin Rangga? Gitu?" tanya Vino geram.


"Lapas!"


BRUUK...


Pukulan kuat mendarat diwajah Vino membuat Filla terkejut mendapati Rangga yang melakukannya, tangan Filla beralih pada genggaman Rangga.


"Dia bilang nggak mau kan? Hargai keputusan itu dan pergi, jangan jadi pria pengecut!" bentak Rangga.


Vino tersenyum sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan yang dilayangkan Rangga, Vino berdiri lalu melayangkan pukulan pada wajah Rangga membuat Rangga dan Filla terdorong kebelakang.


"Stop!" teriak Filla.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu pengen belain cowok brengs*** ini?" tanya Vino menatap Filla tajam.


Rangga tidak tinggal diam, dirinya melayangkan satu pukulan kuat membuat Vino kembali tersungkur ditanah, terjadilah perkelahian antara Vino dan Rangga.


"Udah, Please." Filla mengusap kasar wajahnya. Beruntung dua orang satpam melerai mereka dan membawa Vino keluar dari lingkungan gedung.


Filla berjongkok lalu menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut, lututnya terasa lemas melihat kejadian tadi, bagaimana tidak, Vinod an Rangga benar-benar tidak bisa menahan emosi.


Rangga mendekati Filla lalu ikut berjongkok, "Kamu nggak apa-apa?" tanya Rangga khawatir.


Filla mengangkat wajahnya, "Lo kenapa harus selalu ikut campur Ngga?" tanya Filla.


Rangga mengalihkan pandangannya lalu kembali menatap Filla, "Terus kamu mau aku diem aja lihat dia bersikap kasar sama kamu?"


Filla berdiri, lalu menghela napas, "Tolong Ngga, Kali ini aja, biarin gue tenang selama di Indonesia, setelahnya terserah lo, gue juga nggak akan lama disini," ucap Filla tegas lalu meninggalkan Rangga yang memilih diam.


******


Rencananya Iren akan ikut ke Bandung bersama Filla dan yang lain, Mereka sudah merencanakan banyak kegitan di Bandung bersama Ola dan Reya.


Setelah berpamitan dengan keluarga Iren, mereka berniat untuk langsung ke Bandara, karena Filla dan Iren telah mempersiapkan semua barang-barang mereka di bagasi mobil Iren.


"Sekarang gimana?" tanya bunda dengan wajah khawatir. "Berantem sama siapa sih Bang?" tanya bunda.


"Rangga bisa nyetir sendiri Bun, tenang aja," ucap rangga santai.


"Ya, Bundanya yang nggak tenang kalau kamu sendiri, udah Bunda bilangin biar naik pesawat aja, kamu sih pake acara bawa mobil," ucap bunda.


Filla dan yang lain berjalan mendekati keluarga bunda, samar-samar Filla tentu mendengar ocehan bunda pada Rangga.


"Kenapa Ra?" tanya mama saat berada dihadapan bunda.


"Ini Rangga, tiba-tiba udah babak belur, nggak mau bilang lagi berantem sama siapa," ucap bunda kesal.


"Biasa anak laki," ucap papa sambil tersenyum.


"Bukan masalah berantem nya itu loh, ini aku nggak bisa biarin Rangga nyetir sediri pulang ke Bandung," ucap bunda. "Udah di bilangin dari awal naik pesawat aja biar cepet, pake bawa mobil," ucap bunda.

__ADS_1


"Yaudah Tante, biar Iren sama Filla aja yang nemenin Rangga naik mobil, tiket pesawat nanti bisa di urus," ucap Iren dengan santai membuat Rangga dan Filla menatapnya dengan tatapan terkejut.


*******


__ADS_2