Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 98


__ADS_3

Baru berjalan 5 langkah meninggalkan meja tempat mereka mengerjakan tugas, Filla memegang kepalanya, pusing yang ia rasakan bahkan membuat tubuhnya lemas.


"Filla!" ucap Alika panik sambil menahan tubuh Filla yang hampir terjatuh.


Rangga yang mendengar teriakan Alika berbalik dan menahan tubuh Filla.


Filla melepas tangan Rangga lalu berusaha berdiri, "Nggak apa-apa," ucapnya sambil memegangi kepalanya.


"Kalau nggak kenapa-kenapa lo nggak akan selemah ini," ucap Rangga lalu menggendong Filla ala bridal style membuat Filla terlonjak kaget.


"Ngga turunin," ucap Filla memaksa sambil memukul dada bidang Rangga. Sekarang mereka menjadi tontonan semua yang berada didalam kelas.


"Lo bisa diem nggak sih? Tinggal nurut doang ribet amat," ucap Rangga sambil mempercepat langkahnya menuju ruang kesehatan.


Filla terdiam, ia hanya berusaha tidak terjatuh saat digendongan Rangga, Filla mengalungkan tangannya ke leher Rangga walau berat ia lakukan.


Filla bisa melihat jelas rahang Rangga, ingin rasanya ia menyentuh, namun dengan cepat Filla memggeleng, sepersekian detik ia akan kembali bodoh seperti kata Reya.


Sampai diruang kesehatan, Rangga langsung menempatkan Filla di kasur pojok kanan, tidak ada orang lain didalam kecuali dokter.


"Apa yang dirasain?" tanya dokter wanita muda cantik sambil memeriksa Filla.


"Pusing Dok," jawab Filla seadanya.


"Dia sempat mimisan Dok," ucap Rangga yang sudah duduk di kursi depan meja dokter.


Dokter mengangguk sambil tersenyum, "Nggak ada yang perlu di khawatirkan, cuma kecapean aja, ditambah banyak pikiran, Kamu harus releks jangan mikirin banyak hal," ucap dokter yang baru Filla ketahui bernama Ranti dari tanda pengenalnya.


"Makasih Dok," ucap Filla sambil tersenyum.


"Pacarnya bisa ditemenin?" tanya dokter Ranti sambil tersenyum pada Rangga.


Rangga mengerutkan keningnya.


"Bukan pacar saya Dok, kita temen," ucap Filla menjelaskan setelah sempat terkejut.


"Oh, saya kira kalian sepasang kekasih," ucap dokter Ranti sambil tertawa. "Saya ada kerjaan diluar sebentar, Kamu bisa jangain?" tanya dokter Ranti.


Filla menggeleng cepat, "Nggak usah, Lagian saya udah nggak apa-apa kok Dok."


"Harus ada yang jagain dong, nanti kalau ada apa-apa bisa menghubungi saya," ucap dokter Ranti ramah.


Filla hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, menatap Rangga saja rasanya bisa fatal apalagi berdua dengan Rangga.


"Saya yang jaga aja Dok," ucap Vino yang baru masuk kedalam ruang kesehatan.


Filla menengok kebelakang dokter Ranti lalu melempar senyum pada Vino, sedikit lega rasanya melihat Vino memecahkan masalah.


"Oh, iya boleh saja."


Vino mengangguk lalu berdiri sebelah kiri Filla, "Udah dibilangin mama jangan kuliah," ucap Vino sambil menaruh tangannya dipuncak kepala Filla.


Filla hanya tersenyum mendengar celotehan Vino.

__ADS_1


"Baiklah saya duluan, Kalau sudah mendingan boleh langsung pulang atau kalau ada apa-apa langsung hubungi saya," ucap dokter lalu berjalan meninggalkan mereka bertiga setelah menepuk bahu Rangga.


Filla terbatuk sambil menutup mulutnya.


"eghm," Vino berdehem sambil mengusap punggung Filla.


Filla terdiam saat dua buah minuman dihadapannya, Rangga dan Vino serentak memberinya minuman.


Bukan hanya Filla yang menoleh bergantian, tapi Rangga dan Vino juga saling tatap, dengan tatapan yang tidak bisa Filla artikan.


Filla mengambil minuman dari Vino, dan meminumnya membuat Rangga memundurkan botol minumannya tanpa berucap.


Tentu saja Filla merasa bersalah pada Rangga, namun harus ia lakukan demi hatinya.


"Gue mau balik, Lo mau bareng atau sama Vino?" tanya Rangga.


"Sama Kak Vino, makasih Ngga," ucap Filla.


Rangga hanya mengangguk lalu meninggalkan Filla dan Vino berdua. Tentu saja Rangga sedikit kesal dengan sikap Filla, terlihat jelas dari raut wajahnya.


Setelah Rangga pergi, Vino duduk di kursi sebelah Filla, "Kamu udah nggak ada kelas kan?" tanya Vino sambil memegang lengan Filla.


Filla tersadar dari lamunannya, "Eh Iya Kak, udah selesai semua," ucap Filla. "Kakak masih ada kelas?" tanya Filla sambil menatap Vino.


Vino menggeleng, "Baru selesai tadi," Vino menegak minuman ditangannya, walau minuman itu bekas Filla ia tetap meminumnya membuat Filla sedikit tertegun.


"Itu kan bekasku Kak, Kakak nggak apa-apa?" tanya Filla.


Filla tertawa, "Ya nggaklah Kak," ucap Filla.


"Yaudah, kalau gitu kenapa harus kenapa-napa?"


"Kak balik yuk," Filla mengambil tasnya yang diletakkan Rangga dimeja sebelahnya.


"Beneran udah nggak lemes?" tanya Vino khawatir.


Filla menggeleng cepat, "Aman Kak, aku nggak suka disini, bau obat, makin pusing aku," ucap Filla manja.


Vino mencubit pelan pipi Filla gemas, "Yaudah yuk," Vino membantu Filla turun dari ranjang. "Pelan-pelan," ucap Vino yang diangguki oleh Filla.


******


"Makasih Kak," ucap Filla saat Vino membuka pintu mobil untuknya.


Vino mengangguk lalu memapah Filla masuk kedalam rumah.


"Kakak, kan kata Mama apa? Mending nggak usah kuliah," ucap mama sambil berjalan cepat dan meraih tangan Filla.


Filla tersenyum, "Nggak apa-apa Ma, kata dokter aman kok, cuma kecapean," jawab Filla.


"Yaudah Fill, Ma, Vino pamit kekantor ya," ucap Vino sambil menyalami mama. ia juga diminta mama memanggil sama dengan Filla membuat Vino tidak bisa menolak.


"Kamu nggak makan siang dulu Vin," tanya mama.

__ADS_1


"Gampang Ma, nanti bisa dikantor, Yaudah, istirahat dek jangan banyak pikiran," ucap Vino sambil mengusap puncak kepala Filla.


Filla mengangguk, "Makasih Kak."


Vino mengangguk sambil tersenyum.


"Malem ini jangan lupa loh Vin," ucap mama mengingatkan.


Vino mengerutkan kening, berpikir sejenak.


"Nah kan lupa, itu ulangtahun Tita," ucap mama mengingatkan


Vino tertawa, "Oiya, lupa Ma, siap pasti dateng, Tita kan nomor satu," ucap Vino membuat mama tertawa.


"Yaudah, sampai jumpa nanti malem," ucap Vino pada Filla.


Filla mengangguk, "Hati-hati Kak, semangat kerjanya," ucap Filla sambil mengepalkan tangan.


Vino mengangguk lalu meninggalkan Filla dan mama.


Mama membawa Filla duduk diruang keluarga setelah pulangnya Vino, "Beneran udah nggak apa-apa Kak?" tanya mama khawatir.


Filla mengangguk mantap meyakinkan mama, "Aman kok Ma."


Mama mengangguk, "Itu Vino dari kampus Kak?" tanya mama.


"Iya," jawab Filla seadanya.


"Mama bangga banget sama Vino, diumur muda dia bisa mengatur waktu jadi mahasiswa sekaligus pengusaha muda," ucap mama.


Filla mengangguk setuju, "Iya Ma, Filla jadi iri, Kak Vino emang hebat," ucap Filla sambil tersenyum.


Mama mengusap kepala Filla, "Makanya jadiin Vino pacar dong, Mama dukung," ucap mama sambil menaikkan kedua alisnya.


Filla tertawa, "Mama sama anehnya kayak Ola dan Reya, jodoh-jodohin aku sama Kak Vino, Mama kan tahu Kak Vino udah kayak Kakak, dan pasti juga Kak Vino anggep aku adeknya," ucap Filla tersenyum.


Mama tertawa, "Kamu polos banget sih Kak, kalian bukan saudara kandung, jadi nggak menutup kemungkinan buat salah satu diantara kalian jatuh cinta."


"Mama ngaco, nggak mau ah, aku mau tidur siang aja," ucap Filla sambil meraih tasnya yang tergeletak di atas meja.


Mama tertawa puas, "Kak, Mama dukung loh, kapan lagi punya mantu kayak Vino, nunggu Tita masih lama," ucap Mama sedikit keras agar Filla yang sudah menaiki tangga mendengar ucapannya.


"Ngaco Ma," Filla mempercepat langkahnya masuk kedalam kamar dan menematkan diri dikasurnya.


******


Haloo semuanya, makasih ya udah jadi pembaca, dan memberikan banyak suport serta saran untuk "Mengejar Cinta Rangga"


Maaf belum bisa produktif dalam menulis cerita ini, dikarenakan aku lagi sibuk persiapan UAS dan beberapa hari ini kurang enak badan, makasih buat yang udah nungguin dan meninggalkan jejak, semuanya aku baca kok, dan buat aku tambah semangat nulisnya.


Aku akan usahain yang terbaik, makasih banyak


Selamat membaca....

__ADS_1


__ADS_2