
"Assalamualaikum," ucap Filla dan Iren bersamaan saat masuk kedalam butik milik mama.
"Wah keren banget," ucap Iren berdecak kagum melihat sekeliling, memang bisa dikatakan mama memiliki butik yang cukup besar dan terkenal di Bandung.
"Waalaikumsalam, masuk nak," ucap mama yang sibuk menyusun beberapa gaun di gantungan.
Filla dan Iren menyalami mama dan asistennya bergantian.
"Keren banget Tan butiknya," puji Iren sambil mengacungkan dua jempol.
Mama dan asistennya yang bernama mbak Riri tersenyum menanggapi ucapan Iren.
"Alhamdulillah, semua mulai dari yang kecil dulu," ucap mama.
"Oiya Ma, pengen cari gaun buat ke acara pernikahan Ola. Nanti Caca sama Reya nyusul mereka masih ada urusan di kantornya," ucap Filla sambil melihat beberapa gaun koleksi di butik.
Mama berdiri dengan antusias, "Seneng banget Mama kalau gini, Mama pikir kalian udah desain baju sendiri," ucap Mama sambil mengambil beberapa gaun rekomendasi.
"Nggak sempet Tan kita berdua, kemaren kan sibuk persiapan Jakarta Fashion Week," ucap Iren yang meraih anggukan mama.
"Ri, tolong kamu keluarin juga jas ya," ucap mama yang diangguki mbak Riri.
Filla mengerutkan kening, "Buat apa Ma? Kita cewek semua kok," ucap Filla.
Mama tersenyum, "Rangga sama temennya juga minta Mama siapin jas buat mereka," jawab mama sekenanya.
Iren langsung menyenggol bahu Filla lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih?" tanya Filla sambil berbisik.
Iren hanya mengangkat bahu lalu berjalan melihat beberapa gaun lainnya.
"Oiya, kalian mau kembaran? Atau warnanya aja yang kembaran?" tanya mama.
"Kayaknya warnanya aja Ma, untuk desain dan aksennya dibedakan," ucap Filla.
Mama mengangguk sambil mengambil beberapa gaun bewarna abu-abu, "Ini gimana?" tanya mama menunjuk keempat gaun pilihannya.
"Wah mantep Tan, ini aja," ucap Iren yang langsung mendekat pada mama.
"Iya Ma ini aja, simpel tapi elegan," ucap Filla.
"Assalamualaikum," ucap Rangga dan Samuel berbarengan.
"Waalaikumsalam."
"Mama pikir nggak jadi hari ini Ngga," ucap mama.
Rangga menyalami mama diikuti Samuel dibelakangnya.
"Jadi Ma, cuma maaf ya agak telat," ucap Rangga yang diangguki mama.
Iren seperti biasa menyenggol bahu Filla, "Mama?" tanya Iren terkejut, sedangkan Filla menyibukkan diri dengan gaun-gaun yang akan mereka coba.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Caca dan Reya.
"Waalaikumsalam."
"Wah jadi rame nih, seneng Tante kalau gini," ucap mama saat Reya dan Caca menyalami dirinya. "Yaudah, masing-masing coba gaun dan jasnya ya, bisa ganti di ruang ganti sebelah kanan," ucap mama saat memberi jas milik Rangga dan Samuel.
Samuel dan Reya saling senggol dan menyembunyikan senyum membuat Filla dan Iren mengisyaratkan tanya pada Caca, sedangkan Caca hanya mengangkat bahu dan menatap malas.
"Yaudah Ma, kita coba dulu," ucap Rangga sambil menarik Samuel yang tidak melepas pandangannya dari Reya.
"Mama?" tanya Reya dan Caca sambil berbisik, sama terkejutnya dengan Iren tadi.
Filla mengangkat kedua bahunya, tak ingin menjelaskan sedikitpun.
"Kalian di sebelah kiri Kak," ucap mama sambil menunjuk ruang ganti disebelah kiri mereka.
"Kami coba dulu Tan," ucap Caca sambil menarik Reya yang masih saling tatap pada Samuel walau Samuel hampir menghilang dibalik tirai karena ditarik Rangga.
"Filla sama yang lain nyoba dulu ya Ma," ucap Filla sambil menggosok punggung mamanya.
"Semoga suka ya Kak," ucap mama.
Filla tertawa, "Suka Ma, desain Mama bagus semua," Filla mencium pipi mama lalu berjalan mengikuti sahabat-sahabatnya.
Seperti biasa mereka menghabiskan acara ganti baju dengan membicarakan banyak hal walau dibatasi tirai yang menjadi sekat diantara mereka.
"Rey, balikan?" tanya Filla sedikit membesarkan suaranya karena Reya di bilik ketiga darinya.
"Ye, ditanyain juga, lagian lo orang yang sama kan? Yang bilang kalau nggak mau pacaran karena ribet," ledek Filla, karena ia ingat jelas kalau Reya baru saja mengatakan itu padanya.
"Tau lo Rey, kalau sedih aja duluan kita-kita dicari, eh balikan nggak bilang-bilang," celetuk Caca.
"Iya-iya, gue balikan sama Samuel puas?"
"Kok bisa?" tanya mereka bertiga serentak.
"Woy, santuy kali," ucap Reya.
"Ya elo, balikan kek makan kacang, gampang bener, baru juga kemaren ngehindar dari tu cowok," ucap Iren.
Reya menghela napas, "Oke gue cerita, waktu pesta ulangtahun Tita, Samuel minta maaf dan ngajak gue balikan, menurut gue nggak ada salahnya, lagian wajar diumur segini dia dan keluarga pengen hubungan yang lebih serius, pikiran gue aja yang masih anak-anak," ucap Reya.
"Pantesan ke toilet lama bener, berapa episode acara maaf-maafannya tuh?" ledek Filla membuat kedua sahabatnya tertawa.
"Jadi, kalian bakalan nikah?" tanya Caca.
"Ya nggak secepet itu juga, tapi gue nggak akan mengesampingkannya lagi, Sam mau nunggu kok," ucap Reya.
"Alhamdulillah kalau gitu, kita semua ikut seneng," ucap Filla sambil membenarkan rambutnya didepan kaca.
Iren membenarkan baju bagian bawahnya, "Lo sama Rangga kapan baikan?" tanya Iren.
"Bener banget, gue lihat kalian sama-sama nggak bisa move on," tambah Reya.
__ADS_1
"Emang nggak ada yang berantem, buat apa baikan?"
"Berantem langsung sih nggak tapi batin iya," celetuk Iren.
"Udah ah, kok malah jadi bahas gue, please jangan ungkit hal yang bisa jadi harapan buat gue," ucap Filla.
Reya menghela napas, "Kalau itu bukan sebuah harapan tapi takdir gimana?"
"Tau ah gelap," ucap Filla tak ingin membicarakan jauh tentang permasalahan cintanya yang tidak pernah berjalan mulus.
********
Filla dan ketiga sahabatnya berdiri didepan bilik masing-masing, lalu saling menoleh.
"Wah gila cantik bat kita semua," ucap Caca antusias.
Filla tersenyum sambil melihat gaun yang ia kenakan, simpel namun elegan.
"Iya keren banget, bisa kembaran gini, tapi beda-beda model," ucap Iren.
"Gue aneh nggak?" tanya Reya sambil memutar tubuhnya.
"Hilangin gaya tomboi lo, cantik banget kok," ucap Filla karena tahu arah pembicaraan Reya yang akan merasa tidak nyaman dengan gaun panjang, tidak seperti baju yang biasa ia kenakan.
"Kak udah?" tanya mama dari luar.
"Udah Ma," ucap Filla. "Yuk guys."
Mereka berempat keluar dari ruang ganti, saat membuka pintu, Filla mendapati semua orang menatap mereka tanpa berkedip, tapi yang menarik perhatian Filla tentu saja Rangga yang menatapnya tepat di manik mata.
"Ya ampun, udah kayak bidadari," ucap mbak Riri berdecak kagum.
"Lebay Mbak Riri," ucap Caca sambil menepuk bahu mbak Riri disebelahnya. "Sam biasa aja liat Reya-nya nggak akan ilang kok kalau lo kedip," ledek Caca membuat yang lain tertawa.
"Tau Sam, santai kalem," ledek Filla, sengaja bercanda agar bisa mengalihkan pandangannya dari Rangga.
"Beneran cantik lo kalian berempat, Masyaallah," ucap mama kagum.
"Ah Tante, kan jadi malu," ucap Iren sambil tertawa diikuti yang lain.
"Foto dulu yuk, lumayan jadi koleksi," ucap mama sambil mengambil kamera miliknya. "Ayo Ngga, Samuel, gabung disebelah mereka," ucap mama antusias.
Dan lagi Filla harus menetralkan detak jantung, sepertinya Filla selalu dihadapkan dengan situasi seperti ini saat bersama Rangga.
Rangga berdiri disebelah Filla karena Filla berdiri dibagikan paling pinggir sedangkan Samuel berdiri disebelah Reya.
"Oke, satu dua tiga," ucap mama sampai akhirnya mama memotret beberapa kali.
"Kamu cantik," bisik Rangga tepat disebelah telinga Filla.
Filla dengan cepat menoleh kearah Rangga, dan mata mereka bertemu.
********
__ADS_1