Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 42


__ADS_3

Filla mermas jarinya sejak 10 menit lalu, ia sekarang berada dihadapan Vino, mereka duduk dibagian pojok kanan ruangan salah satu kafe tervaforit.


"Ada apa dek? Katanya mau ada yang diomongin, tapi malah diem," tanya Vino sambil menyesap capucino yang ia pesan.


Filla tersenyum kikuk, "Sebenernya," Filla menghembuskan napas menetralisir rasa tidak enak yang sejak tadi ada.


Vino menaikkan kedua alisnya menunggu pernyataan Filla selanjutnya.


"Temen aku suka kakak," ucap Filla akhirnya memberanikan diri.


Vino tak memberikan ekspresi apapun, hanya wajah datar yang tidak pernah Filla lihat sebelumnya, "Terus?" tanya Vino sambil membenarkan posisi duduknya.


"Dia minta aku buat comblangin kalian," ucap Filla jujur, bersama Vino rasanya kebohongan yang disusun rapi akan terlihat jadi Filla hanya akan berkata jujur walau terasa berat dihadapan Vino.


Vino tersenyum, "Kamu yakin kakak bakalan suka dia?" tanya Vino.


Filla mendonggakkan kepalanya, "Nggak tahu, tapi dia baik kok kak, dia sahabatku jadi aku nggak mungkin kenalin kakak ke sembarang orang," jawab Filla.


Vino mengangguk, "Yaudah, kapan kakak bisa ketemuan?" tanya Vino santai.


Filla tersenyum lebar, "Seriusan? Kakak mau? Nggak bercanda kan?" tanya Filla antusias.


"Segitunya pengen kakak kenalan sama temenmu, kamu nggak bakalan kehilangan kakak gitu?" tanya Vino serius.


"Kakak kan bakalan tetep jadi kakaknya aku, lagian Reya nggak mungkin jauhin kakak dari aku," jawab Filla masih dengan senyuman khasnya.


Vino mengangguk, memilih mengabaikan jawaban Filla, ia melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


"Jadi, kalau minggu ini kakak punya waktu?" tanya Filla semangat. "Temenku udah nanyain mulu, malah dia sempet ngatain aku suka sama kakak, padahal kan nggak mungkin."


Vino menatap Filla tepat dimanik matanya.


"Kenapa?" tanya Filla saat merasa Vino tidak menatapnya seperti biasa.


Vino menggeleng lalu tersenyum, "Nggak apa-apa dek, atur aja," ucap Vino.


Filla mengangguk cepat, "Nggak boleh dibatalin lo," ucap Filla sambil memberikan jari kelingkingnya.


Vino tertawa, Filla tak pernah berubah, untuk hal sekecil membuat janji pun ia akan bersikap seperti anak-anak.


******

__ADS_1


"Hari ini nggak kerja?" tanya Rangga sambil memakan menu makan siangnya.


Saat ini Filla dan Rangga duduk disalah satu restoran dekat kampus, Filla yang baru gajian berinisiatif mentraktir Rangga.


Filla mengangguk, "Hari ini ada acara keluarga pemilik di Kafe, jadi setelah semua beres tadi langsung dibolehin pulang," jawab Filla sekenanya.


"Ngga itu enak?" tanya Filla sambil menunjuk makanan Rangga.


"Mulai pengen minta," celetuk Rangga yang sudah menutup makanannya dengan tangan.


Filla tertawa, "Pelit amat sih, kan cuma mau nyobain," pinta Filla memasang wajah penuh harap.


Rangga mengalihkan tangannya yang menutup makanan, "Dikit ya, ini karena lo yang teraktir, awas aja besok-besok minta," ucap Rangga yang mulai mendorong makanannya didepan Filla.


Filla tersenyum puas dan mulai menyuapi makanan milik Rangga kedalam mulutnya, "Kok enak?" tanya Filla polos.


"Ya enak lah, udah cukup," Rangga menarik lagi piringnya saat Filla sudah menyendok sesuap lagi makanannya.


Filla cengengesan, "Nyesel nggak pesen itu," ucap Filla yang mulai memakan makanannya kembali.


Rangga hanya tertawa melihat wajah Filla yang memperhatikannya makan.


"Aaaw...!" Sendok yang Filla pegang berdenting keras mengenai piringnya. Filla memegang tangan kanannya yang terasa keram.


Filla menggeleng lalu tersenyum, ia tak bisa menbuat Rangga mengkhawatirkannya, "Nggak, tangan gue tiba-tiba keram, kayaknya karena kurang istirahat," ucap Filla meyakinkan.


Rangga kembali duduk, "Sejak kapan?" tanya Rangga masih jelas terdengar nada khawatir dalam ucapannya.


"Belum lama, mungkin karena gue sering angkat nampan yang berat jadi biasalah," ucap Filla santai sambil tersenyum.


"Jangan bilang waktu di apartemen semalem tangan lo juga keram, sampai sedok jatoh," tebak Rangga tambah khawatir.


"Nggak, itu murni gue teledor aja," ucap Filla berbohong, ia tak ingin Rangga tahu keadaannya dan memberitahu Ayah, Bunda di Indonesia, Filla tak ingin membuat siapapun khawatir.


Rangga menatap tak percaya, ia merasa bersalah membentak Filla semalam, jika ia tahu, tak mungkin membentak Filla sekeras itu semalam, "Secepatnya priksa, jangan sampai ada apa-apa," ucap Rangga serius.


Filla tersenyum, "Sejak kapan lo punya muka sedewasa itu?" tanya Filla dengan nada mengejek.


"Berisik, mulai lagi gue tampol," ucap Rangga yang malah membuat Filla tidak bisa berhenti ketawa.


Filla mengambil sendoknya dan kembali terjatuh diatas piring, tanganya benar-benar membuat Filla khawatir, sudah seminggu ia merasakannya, Filla berinisiatif menggunakan tangan kirinya.

__ADS_1


"Sini, gue suapin," ucap Rangga yang mengarahkan sendok dengan makanan kearah mulut Filla.


Tanpa berfikir panjang Filla membuka mulut dan tersenyum, "Manis banget lo," celetuk Filla.


Rangga tak menggubris, "Makan yang bener nggak bisa apa?" tanya Rangga sambil mengambil nasi diujung bibir Filla.


Filla terdiam, ada paa dengan jantungnya yang berdetak cepat, Filla merutuki rasa ini, yang ia ketahui tidak seharusnya ada, "Hem, iya," ucapnya kikuk.


"Jadi kalian kalau dibelakang aku gitu? Ngakunya saudara tapi kok suap-suapan?" tanya seseorang yang sudah berdiri disamping kiri Filla dan Rangga.


Refleks Rangga dan Filla menoleh.


Rangga berdiri dan memegang kedua bahu Vebi, menatap Vebi dalam, "Nggak gitu, aku bisa jelasin," ucap Rangga.


Filla ikut berdiri, "Iya Veb, kita bisa jelasin, Tadi Rangga cuma-," ucap Filla menggantung karena bentakan Vebi.


"Cuma suap-suapan kayak pasangan kekasih?" tanya Vebi dengan membentak.


"Santai Veb, nggak usah teriak-teriak bisa? Punya sopan santun kan?" tanya Filla yang mulai kesal dengan sikap arogan Vebi.


Vebi melipat tangannya didepan dada lalu tersenyum sinis.


"Bi, Filla udah aku anggap saudara nggak lebih, berapa kali aku harus jelasin?" ucap Rangga lembut.


Filla menatap Rangga yang penuh kelembutan saat berhadapan dengan Vebi berbanding terbalik saat Rangga bersamanya.


"Saudara ketemu gede?" tanya Vebi sinis. "Bener keputusan gue buat nggak terima lo," ucap Vebi lalu berjalan meninggalkan Rangga.


"Kenapa sih Fill nggak bisa biarin gue sama cewek yang gue suka?" tanya Rangga kesal.


Filla menunjuk dirinya, "Gue, kapan gue-," tanya Filla sambil mengerutkan kening.


"Munafik," ucapnya sambil berlalu mengejar Vebi.


Filla terdiam mematung, menerjemah apa yang Rangga ucapkan padanya, satu kata yang membuat sesak, "Salah gue apa?" tanya Filla pelan, terdengar jelas lelah dengan semua keadaan.


Filla memilih duduk dan menatap kursi kosong milik Rangga yang baru saja meninggalkannya. Filla menatap lurus jalan Raya yang terlihat dari jendela kaca kafe.


Filla cukup sabar menghadapi sikap Rangga yang selalu berubah, kadang ia bingung menempatkan diri saat bersama Rangga.


Kali ini ia pasatikan terjatuh, terjatuh dalam keberadaan Rangga, terjatuh dalam rasa yang kian tumbuh tanpa diminta.

__ADS_1


******


__ADS_2