Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 181


__ADS_3

Sejak pukul lima pagi, Filla sudah menyibukkan diri di dapur, bagaimanapun dirinya harus ingat pesan mama dan bunda, menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Rangga sudah menjadi tugasnya sekarang.


Pagi ini Filla hanya membuat sarapan yang simpel berupa sandwich dengan isian sayur, sosis dan telur, dirinya sengaja memanggang sebentar roti tawar terlebih dahulu, dulu Rangga pernah mengajarinya membuat sandwich, jika diingat lagi melihat Rangga yang sekarang, cukup mustahil akan mengajarinya.


"Masak apa?" tanya Rangga dengan suara khas bangun tidur.


Filla menoleh, "Sandwich," Filla kembali fokus pada telur yang sedang ia masak.


"Waktu didalam mimpi kamu yang nggak bisa masak, sekarang kok kebalikannya? Malah aku yang nggak bisa masak," Rangga mendudukkan diri dimeja meja makan.


"Itung-itung balas budi, dulu kamu yang sering masakin buat kita sarapan," Filla meletakkan piring berisi sandwich yang ia buat didepan Rangga. "Aku nggak bisa janji soal rasanya, tapi layak dimakan," ucap Filla lalu ikut duduk dihadapan Rangga.


Rangga tersenyum, "Pasti enak," Rangga mengambil garpu dan sendok lalu memakannya.


Filla menatap Rangga, menunggu kepastian tentang rasa makanan yang ia buat.


"Enak banget," Rangga menyuap makanannya dengan lahap.


Filla tersenyum, dirinya juga ikut memotong sandwich miliknya, "Em," Filla mengambil tisu lalu melepeh makanannya. "Telurnya asin Rangga, jangan dimakan," Filla meneguk air putih sampai menyisakan setengah didalam gelas.


"Enak kok," Rangga masih memakan miliknya dengan lahap.


"Itu asin Rangga," Filla menatap tak percaya pada Rangga yang hampir menghabiskan makanannya.


"Apapun yang kamu bikin pasti enak," Rangga mengelus puncak kepala Filla, "Makasih ya."


Filla hanya diam menatap Rangga, tidak ada ekspresi kecewa atau terpaksa yang Filla lihat, Rangga begitu tulus, bahkan tanpa mengkeritik makanan buatannya yang jelas-jelas asin.


"Hari ini aku mau kekantor, kamu mau ikut?" tanya Rangga lalu menyesap jus alpukat yang Filla buat.


Filla menggeleng, "Aku boleh keluar?" tanya Filla.


Rangga mengerutkan kening, "Kemana? Jangan bilang mau ketemuan sama si kamera," wajah Rangga tiba-tiba berubah.


"Apaansih, aku mau ketemu Iren, kemarin Iren ngajakin ketemuan."


Rangga mengangguk, "Kalau itu baru boleh, tapi jangan sampai kemaleman."


"Nggak janji juga sih."


Rangga mendonggak menatap Filla, "Aku serius ya," ucap Rangga penuh penekanan.


Filla menghela napas, "Iya, iya, posesif banget sih."


"Nggak ada salahnya posesifin istri sendiri."

__ADS_1


Filla mengeluarkan telur dalam sandwich-nya, dirinya saja tidak kuat dengan rasa asin yang mendominasi.


"Kamu bawa mobil aja, nanti aku naik motor."


Filla menatap Rangga, "Kamu punya motor?"


Rangga mengangguk, "Iya, digarasi."


"Nggak usah, aku naik taxi aja," Filla kembali menyuap sandwich kedalam mulutnya.


Rangga menggeleng, "Kamu naik mobil, bahaya pake taxi."


"Itukan mobil kamu, masak aku yang pakai dan kamu naik motor?"


Rangga menggenggam tangan Filla, "Setelah menikah, nggak ada yang namanya punya aku atau punya kamu, mobil itu punya kita berdua, kalau kamu nggak tega aku berangkat pake motor yaudah nanti kita beli mobil lagi," ucap Rangga santai.


Filla membulatkan mata, "Ya nggak harus beli mobil juga Ngga. Lagian beli mobil udah kayak beli kerupuk, sombong amat."


"Pokoknya kamu bawa mobil."


Filla hanya diam, percuma jika terus menolak permintaan Rangga.


"Aku mau mandi dulu," Rangga beranjak lalu mendekati Filla. "Mau mandi bareng?" tanya Rangga sengaja menjahili Filla.


Rangga tersenyum, lalu mencium puncak kepala Filla, setelahnya berjalan meninggalkan Filla menuju kamar mandi setelah membuat wajah Filla tambah merona.


Tidak bisa Filla pungkiri, tindakan Rangga masih saja membuatnya salah tingkah.


*********


"Parah sih, akhirnya kalian malah dipersatukan oleh takdir, kelamaan gengsi sih," ucap Iren saat Filla selesai menceritakan semuanya tentang dirinya dan Rangga.


Mereka berada disalah satu cafe di Mal, Filla memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari sahabat-sahabatnya.


"Ya bukannya gengsi, gue kan udah mantapin diri buat move on, setelah gue berusaha malah jadi gini."


Iren melipat kedua tangannya sambil menyender dikursi, "Ya bagus, orang yang berusaha lo lupain akhirnya dateng dengan sendirinya, dan lo, gue rasa cuka sembunyi di balik kata move on, 3 tahun tinggal sama lo, gue belum pernah lihat lo bener-bener move on."


Filla menghela napas, bagaimanapun apa yang dikatakan Iren ada benarnya, selama tiga tahun dirinya hanya bersembunyi di balik kata move on. "Rangga sekarang aneh Ren, lebih perhatian dan romantis," Filla bergidik ngeri.


"Itumah dari dulu, lo nya aja nggak sadar."


"Dari dulu? Nggak mungkinlah, Rangga itu bisa dibilang batu es berjalan, jangankan perhatian, senyum aja jarang."


"Lo nya aja yang nggak peka dodol, bahkan saat dia nganterin gue ke Jakarta waktu itu, yang cuma dia bicarain sepanjang jalan ya cuma lo."

__ADS_1


Filla mengerutkan kening, "Gue kira kalian lagi pdkt."


"Gue harap sih lo mikirnya gitu, eh malah lo ketemuan sama cowok lain, kan jadi gatot rencana gue bikin lo cemburu."


"Kan gue udah cerita kalau dia cuma kakak tingkat gue waktu kuliah."


"Gue rasa, lihat cara cowok itu natap lo, dia juga suka sama lo," Iren menyesap jus jeruk dihadapannya yang masih bersisa setengah gelas.


"Nggak mungkin," Filla mengibaskan tangan.


"Nggak pekanya dikurang-kurangin Fill, gue yang jadi sebel sendiri sama lo."


"Gue mau cerita, kemaren Rafael chat gue, dan Rangga langsung marah-marah, padahal yang jadi masalah itu sepele banget, cuma karena gue ngomong sama Rafael pake aku-kamu dan sama dia pake gue-elo, simpel kan?"


"Ya wajarlah dia cemburu, Rangga tuh suami lo Fill, sekarang punya tempat dihidup lo, dan apapun yang lo rasa simpel belum tentu buat orang lain juga sinpel, lagian apa susahnya turutin aja."


"Ya canggung, gue udah nyoba tetep aja belibet."


"Pelan-pelan."


Filla diam sejenak, "Udahlah ganti topik, gimana kerjaan lo sekarang?" tanya Filla.


Iren menghela napas, "Gue mau risign, udah gue coba dalam beberapa bulan ini untuk tetep bertahan, tapi nggak nyaman, semuanya beda sama perinsip gue."


Filla menghela napas, "Ini mah elo yang butuh cerita, dari tadi malah denger masalah hidup gue yang nggak penting."


Iren tersenyum lalu menyenderkan tubuhnya.


"Lo udah pikirin mateng-mateng? Setelah lo risign, lo mau ngapain? Udah ada rencana?"


Iren menggeleng, "Gue belum ada rencana apapun kedepannya, lo tahu kan gua paling nggak bisa maksain apapun dalam hidup, gue udah yakin."


"Gue dukung apapun pilihan lo, selalu," ucap Filla sambil tersenyum.


"Itu kalimat yang mau gue denger, emang cuma lo yang bisa ngomong kayak gitu," ucap Iren.


Filla tertawa, Filla diam sejenak, "Kenapa lo nggak buka usaha sendiri aja? Terserah lo mau ngapain kalau lo bosnya."


Iren mengerutkan kening, lalu menjentikkan jari, "Bener banget, kenapa gue nggak kepikiran, kita join, buka butik bareng, gimana?"


Filla membulatkan mata, "Lo serius?"


Iren mengangguk dengan antusias, "Tiba-tiba banyak ide diotak gue."


**********

__ADS_1


__ADS_2