Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 122


__ADS_3

"Kalian berdua oke?" ucap Agra yang bersiap menaiki sepeda air berbentuk bebek bersama Nindy.


"Kita berdua nggak usah deh Kak," ucap Filla, mengingat duduk bersebelahan dengan Rangga nantinya setelah lama berusaha menjauh.


"Udah dipesen nggak enak sama masnya," ucap Rangga menunjuk pemilik sepeda air.


Filla menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu duduk disebelah Rangga yang sudah lebih dulu.


Terlihat Nindy dan Agra dengan semangat menyusuri danau seperti yang lain. Sedangkan Rangga dan Filla hanya menggowes tanpa bersuara.


"Semangat guys, tegang kek mau ujian kalian," ledek Agra yang membuat Nindy tertawa.


"Iya bener, semangat dong kayak kita," ucap Nindy menambahi.


Filla melirik pada Rangga yang berada disebelah kirinya menatap lurus, lalu Filla beralih menatap sebelah kanannya, sesekali ia tersenyum melihat beberapa orang yang ketakutan menaiki sepeda air.


Rangga menyodorkan cokelat kepada Filla setelah meronggohnya dari kantong.


Filla menoleh lalu mengerutkan kening. Seolah mempertanyakan yang Rangga lakukan.


"Ambil, gue nggak akan ngasih untuk ketiga kalinya," ucap Rangga.


Filla menggeleng, "Nggak perlu kedua atau ketiga kalinya, jawaban gue tetep sama," ucap Filla lalu kembali menatap pemandangan disebelah kanannya.


Rangga menarik tangan Filla lalu melatakkan cokelat tersebut di telapak tangan Filla, "Lo tahu gue nggak suka cokelat, kalau lo nggak ambil terpaksa gue buang," ucap Rangga.


Filla menatap cokelat ditangannya, jika bukan Rangga yang memberikan cokelat tersebut tentu Filla akan sangat senang.


"Udah tahu nggak suka, jangan dibeli," ucap Filla lalu menarih cokelat tersebut didalam tasnya, percuma berdebat dengan Rangga jika ujung-ujungnya Filla lah yang harus mengalah.


Rangga tersenyum melihat Filla akhirnya menerima coklat pemberiannya.


"Lo marah sama gue?" tanya Rangga memberanikan diri. "Gue ngerasa lo berbeda, semarah-marahnya lo sama gue, nggak biasanya bersikap gini," ucap Rangga sambil menoleh.


"Nggak ada yang marah, gue cuma ikutin kemauan lo dan balikin seperti apa yang gue terima," ucap Filla sambil menatap mata Rangga, ia menguatkan diri mengatakannya langsung, lalu kembali menatap kekanan setelah merasa puas.


Rangga diam, dan ia tahu pasti setiap ucapan Filla adalah sebuah kebenaran, "Maaf," ucap Rangga lalu menatap ke sisi kirinya tanpa menoleh lagi kearah Filla.


"Cie, aku curiga kalian pacaran," ucap Agra, mereka sangat dekat dengan Filla dan Rangga.


"Kita berdua temen Kak," ucap Filla.


"Oke," ucap Agra, padahal dirinya dan Nindy mengulum senyum. "Jalan, digayuh masak kalah sama kita," ucap Agra.


"Sini aku foto," ucap Nindy sambil mengangkat ponselnya.


"Nggak usah Kak," ucap Filla sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Ayolah, sebagai kenang-kenangan juga," ucap Nindy dengan wajah penuh harap.


Akhirnya Filla mengangguk, dirinya memasang pose sejuta umat, memamerkan dua jarinya.

__ADS_1


"Oke bagus, nanti Kakak kirim," ucap Nindy, mereka mulai menjauh dari Filla dan Rangga.


Sepersekian detik Filla dan Rangga kontak mata, keduanya langsung menunduk ketika pandangan mereka bertemu.


"Fill kodok," ucap Rangga sambil menunjuk pada kaki Filla dan mengangkat kedua kakinya.


"Mana Rangga," Filla langsung menggeser duduknya mendekati Rangga. "Gue takut Rangga," ucap Filla.


Rangga mengusir kodok tersebut dengan kakinya, "Udah beres," ucap Rangga. "Tangan gue mau dipegang terus?" tanya Rangga.


Seketika Filla tersadar dan melepas pegangannya dari Rangga dengan cepat, "Ge-er, lihat situasi," ucap Filla, lalu kembali membenarkan posisi duduknya.


*********


Setelah puas bermain di danau mereka duduk disalah satu tempat santai dibawah pohon, sambil memakan cemilan yang tadi dibelikan Rangga dan Agra.


"Habis ini kita foto-foto yuk," ajak Nindy. "Di sana ada spot yang bagus," ucap Nindy sambil menunjuk bukit yang sedikit tinggi, bukit yang terbentuk dari tumpukan tanah liat putih yang mengeras.


"Naik ke sana? Nggak jatoh Kak?" tanya Filla, melihatnya saja Filla bergidik ngeri, karena secara tidak langsung mereka harus berjalan menanjak.


"Nggak Filla, hati-hari aja, nanti kan ada Agra sama Rangga yang bantuin naik," ucap Nindy sambil tertawa.


Filla meneguk air liurnya sendiri, membayangkannya saja sudah sangat tidak aman untuk proses move on-nya apa lagi langsung terjun kelapangan.


"Mau es krim nggak?" tanya Agra sambil menunjuk es krim keliling dengan musik khasnya.


"Boleh," ucap Nindy.


Rangga mengangguk.


Tidak memakan waktu lama Agra membawa empat es krim ditangannya, dan memberikan pada Filla dan Nindy. "Pilih Ngga, stroberi atau cokelat, soalnya stroberi tinggal satu tadi."


Filla menatap es krim ditangannya, rasa yang benar-benar tidak ia sukai dan lebih tepatnya tidak bisa ia makan.


"Cokelat aja Kak," ucap Rangga.


Agra mengangguk lalu membuka es krim miliknya.


"Nih," ucap Rangga sambil memberikan es krimnya pada Filla dimana tangannya melewati Agra dan Nindy yang berada ditengah-tengah mereka.


Filla menatap eskrim yang di sodorkan Rangga.


"Tukeran, lo nggak bisa makan itu kan?" tanya Rangga.


Filla mengangguk lalu menukar es krim mereka tanpa membantah.


"Kenapa nggak bisa?" tanya Nindy penasaran.


"Aku alergi stroberi Kak," jawab Filla sambil membuka eskrim ditangannya.


"Kenapa kamu nggak bilang? Aku jadi nggak enak," ucap Agra merasa bersalah.

__ADS_1


Filla tersenyum, "Nggak apa-apa Kak," ucap Filla.


"Keren Rangga, kok bisa tahu?" tanya Agra sambil menepuk bahu Rangga.


"Mereka tetanggaan dan satu kampus Agra, ya masa Rangga nggak tahu," ucap Nindy sambil menepuk bahu Agra.


"Santai tukiyem," ucap Agra lalu membalas tamparan Nindy.


"Resek," ucap Nindy sambil menampar Agra.


Terus berulang saja mereka saling gampar membuat Filla dan Rangga tertawa melihatnya.


"Udah cukup," ucap Agra sambil menggosok bahunya. "Dia mah nggak pernah pake hati nampar-nya," ucap Agra.


"Hati tupai maksud lo," ucap Nindy masih sebal.


"Dari pada sebel, yuk foto-foto," ucap Agra.


Semua mengangguk, mereka berjalan menuruni jembatan seperti tadi mereka dapat melihat pemandangan di kanan dan kiri mereka.


Filla melempar senyum pada mereka yang tersenyum pada Filla duluan, Filla dapat merasakan keramahan padahal tidak saling mengenal.


"Tu ganteng," ucap perempuan yang berdiri bersama 3 temannya disisi kanan mereka.


Filla tahu pasti mereka membicarakan Rangga.


"Ganteng uge, gi la ajak befoto," (Ganteng banget, sana ajak foto) ucap perempuan lainnya.


Filla menyembunyikan tawanya merasa lucu, dirinya selalu berada diposisi ini, mendengarkan bisikan mereka yang mengagumi pria disebelahnya, baik Rangga ataupun Vino.


Filla menatap jalan yang harus mereka tanjaki untuk sampai diatas bukit yang memang tidak cukup tinggi namun dapat Filla pastikan sangat sulit mencapainya.


Beberapa orang saling tolong menolong bersama pacar mereka untuk naik keatas, sesekali terdengar tawa.


"Ini seriusan Kak?" tanya Filla.


"Iyalah, gampang kok," ucap Agra yang sudah naik duluan. "Sini Ndy, ucap Agra sambil mengulurkan tangan. "Rangga lo bantu Filla," ucap Agra yang diangguki oleh Rangga.


"Aku nggak naik deh," ucap Filla.


"Ayolah Fill, kita mau foto-foto," ucap Nindy sambil menoleh.


Filla menghela napas.


"Sini, nggak apa-apa aku jagain," ucap Rangga yang mengulurkan tangan.


Filla menatap tangan Rangga, bukannya gue takut, gue nggak mau dibantuin sama lo, batin Filla. Apa perjuangannya melupakan akan berakhir hari ini? Lebih baik dirinya ikut mama dan papa hari ini jika tahu semua ini akan terjadi.


Filla akhirnya memantapkan diri menerima tangan Rangga, dan rasa itu masih sama, getaran yang ia rasakan saat menggenggam tangan Rangga terasa nyaman, Filla merutuki dirinya sendiri karena merasa senang tangannya digenggam.


*******

__ADS_1


__ADS_2