Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 132


__ADS_3

Rangga mengerjabkan matanya menetralisir cahaya yang mulai masuk ke dalam matanya, "Filla?" ucap Rangga pelan.


"Lo sadar? Alhamdulillah gue ki-," Filla terbelalak saat merasakan tubuhnya dipeluk kencang oleh Rangga. "Ngga, lo-."


"Gue mohon tetap gini sebentar," ucap Rangga memeluk Filla erat, dirinya dapat mencium aroma lemon dari shampo yang selalu Filla sukai.


Filla terdiam tidak tahu apa yang harus ia lakukan dalam situasi seperti ini, rasanya ia sangat ingin membalas pelukan hangat Rangga namun memikirkan tentang Vino, Filla mengurungkan niatnya.


"Maafin gue Fill," ucap Rangga.


"Ngga, lo nangis? Ada apa? Ada yang sakit?" tanya Filla khawatir, dirinya ingin melepas pelukan Rangga dan mengecek keadaan Rangga, namun Rangga menahan tubuhnya hingga Filla tak bisa berkutik.


"Maaf, melupakan lo selama ini."


Deg..


Tubuh Filla terasa kaku mendengar ucapan Rangga, Artinya dia inget? Batin Filla. Banyak pertanyaan yang berputar di kepala Filla.


"Ma-maksud lo?" tanya Filla gelagapan, dirinya belum bisa mengontrol detak jantungnya.


Rangga menahan tangisnya namun percuma, untuk pertama kalinya Rangga menangis karena perempuan selain bunda, "Pasti nggak mudah buat kamu," ucap Rangga.


Filla ikut terisak, Rangga kembali, Filla bingung menempatkan diri untung senang atau sebaliknya. Filla mendorong tubuh Rangga pelan, "Lo inget?" tanya Filla sambil menatap mata Rangga.


Rangga mengangguk.


"Semuanya?" tanya Filla lagi.


Rangga kembali mengangguk, "Maaf Fill," hanya maaf yang dapat Rangga ucapkan.


"Nggak bisa kayak gini Ngga, lo buat semuanya tambah rumit," ucap Filla sambil terisak.


"Aku tahu semua salah aku," ucap Rangga, ia berkata jujur, semua tentang Filla muncul didalam ingatannya, Rangga merutuki dirinya sendiri tidak mempercayai Filla selama ini.


Filla menangkup wajahnya dan terisak, Filla menghela napas, "Lupain semuanya, gue nggak bisa kembali ke ingatan itu lagi, ada hati yang harus gue jaga," ucap Filla lalu meninggalkan Rangga keluar dari ruangan.


Rangga hanya bisa terisak sambil menatap pintu yang tertutup, menghilangkan Filla dari pandangannya.


**********

__ADS_1


Filla terisak di salah satu kursi di taman rumah sakit, ia tidak memperdulikan beberapa orang yang melihatnya dengan tatapan heran.


Kenapa hidup aku seperti dipermainkan? Filla mepertanyakan semuanya, ia berdebat dengan batinnya sendiri, Filla mengusap kasar wajahnya, merasa lelah dengan semua yang terjadi di hidupnya.


Filla terdiam saat setangkai Lily disodorkan ke hadapannya. Filla memundurkan tubuhnya dikursi saat dengan tiba-tiba mendapati nenek tua disampingnya.


Nenek itu tersenyum sedangkan Filla menatap penuh dendam pada nenek tersebut.


"Mau kamu apa?" tanya Filla to the point, ia muak dengan kemunculan nenek tua ini yang bahkan tidak pernah ia kenal namun selalu menghancurkan hidupnya. "Jangan pernah main-main lagi dengan hidupku, hidupku milikku!" ucap Filla tegas sambil menatap tajam.


Nenek tersebut tersenyum lalu menyodorkan bunga Lily pada Filla, "Semua itu permintaanmu nak," ucap nenek tersebut.


Filla mengerutkan keningnya, "Maksudnya?" tanya Filla sambil menetralkan amarahnya, jika saja bukan seorang nenek yang ia hadapi, rasanya Filla sangat ingin berteriak kencang.


"Nenek cuma membalas kebaikanmu, apa yang terjadi permintaanmu," ucap nenek tersebut sambil tersenyum.


Filla menghela napas, "Permintaan saya? Permintaan seperti apa yang saya ucapkan sampai hidup saya bisa anda permainkan seperti ini, anda Tuhan?" tanya Filla mulai emosi.


"Nenek bukan Tuhan, kamu yang meminta untuk memiliki hidup seperti orangtuamu, tugas nenek selesai, sekarang tugasmu menjalani hidup sesuai pilihanmu nanti," nenek tersebut kembali menyodorkan bunga Lily dan dreamcatcher pada Filla.


"Hidup seperti orang tuaku? Maksud nenek apa?" tanya Filla tambah bingung dengan semua yang nenek itu ucapkan.


Walau ragu, Filla menerimanya.


"Selamat tinggal, ingat, apapun yang kamu pilih adalah hidupmu," ucap nenek tersebut lalu meninggalkan Filla yang masih diam menatap punggung nenek itu yang perlahan menghilang.


Filla menatap dreamcatcher dan bunga Lily ditangannya, lalu menangkup wajahnya dengan tangan.


Filla membulatkan mata saat teringat dengan mama, "Kalau Rangga inget berarti Mama?" Filla dengan cepat mengambil ponselnya dan membuat panggilan pada nomor mama.


"Kenapa nggak diangkat?" Filla menghentakkan kakinya berulang saat hanya suara operator yang terdengar.


Filla dengan cepat mencari nomor papa dan membuat panggilan telpon, ia mencoba berulang sampai akhirnya suara serak papa terdengar.


"Assalamualaukum, Ada apa Kak?" tanya papa dengan suara khas orang bangun tidur.


"Waalaikumsalam, Mama baik-baik aja kan Pa?" tanya Filla.


Papa terdiam sejenak, "Iya, nih Mama lagi tidur disebelah Papa, kenapa?"

__ADS_1


Filla menghela napas lega, "Kalau ada apa-apa kabarin Filla ya Pa."


"Harusnya kamu yang ngabarin kami nak, kamu masih di rumah sakit? Kamu mimpi buruk?" tanya papa terdengar nada khawatir di setiap pertanyaannya.


"Iya Pa, Filla cuma mimpi buruk tadi, langsung keinget kalian, Filla masih di rumah sakit nungguin Rangga, besok pagi-pagi Filla pulang, tadi Filla udah kasih tahu mama."


"Yaudah, masalah mimpi jangan dipikirin, itu cuma bunga tidur aja, Mama baik-baik aja, kamu hati-hati disana, langsung tidur setelah ini."


Filla mengangguk walau tak bisa dilihat oleh papa, "Iya Pa, Filla lanjut tidur, selamat tidur, Assalamualaikum," ucap Filla lalu panggilan setelah mendapat jawaban dari papa.


Filla menghela napas, "Semoga nenek itu benar, setelah ini hidupku adalah pilihanku," ucap Filla sambil meraih bunga dan dreamcatcher yang mungkin menjadi hal terakhir yang Filla dapat dari nenek tua itu.


*******


Koridor rumah sakit masih cukup ramai walau malam sudah semakin larut, Filla menyusurinya untuk kembali ke kamar Rangga.


Filla memberanikan diri membuka pintu setelah lama berdebat dengan dirinya sendiri. Filla hanya berharap, Rangga tertidur agar dirinya tidak menjumpai Rangga untuk sekarang.


Namun sepertinya permintaan Filla tak terkabul, Rangga masih setia duduk dikasurnya dengan bantal yang ditumpuk sebagai senderan.


Saat Filla masuk kedalam ruangan, Rangga tak bisa melepas tatapannya pada Filla.


"Ayah sama Bunda, besok pagi dateng, tadi mereka pulang karena Fida demam tinggi," jelas Filla tanpa perlu di tanya.


"Fill, masalah-," ucapan Rangga terhenti.


"Masalah itu, lupain, gue bukan Filla yang dulu lagi, ada hati yang perlu gue jaga, gue harap lo paham dengan situasi yang ada," ucap Filla sambil memberanikan diri menepuk bahu Rangga, ia tersenyum salam didalam sana terasa sesak ketika mengucapkan semua itu.


Rangga diam menatap Filla.


Filla tersenyum, "Sebaiknya lo istirahat," Filla membantu Rangga kembali berbaring pada posisinya.


Rangga masih menatap Filla yang enggan menatapnya, Rangga tahu situasi seperti apa yang mereka hadapi, namun hatinya tidak bisa berbohong bahwa selalu Filla didalam sana, hatinya.


"Gue juga tidur, selamat malam," ucap Filla sambil melangkah menuju sofa. Dia mencoba tenang walau perasaannya berbanding terbalik, tentu saja semua yang terjadi berpengaruh besar untuknya.


Filla membaringkan diri lalu memejamkan matanya, berusaha melupakan semua yang terjadi hari ini walau semua masih melekat dalam ingatannya.


********

__ADS_1


__ADS_2