Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 184


__ADS_3

Filla menerima bunga dari Rafael, "Makasih," ucap Filla sekenanya.


Rafael mengangguk, "Udah lama selesai acaranya?" tanya Rafael.


"Lumayan, udah sejaman, tapi makasih loh udah sempetin dateng," ucap Iren yang mengerti situasi apa yang Filla hadapi.


Rafael tersenyum, "Selamet buat kalian berdua," ucap Rafael.


Iren dan Filla mengangguk.


"Duduk Kak," ucap Reya, dirinya tahu tatapan mata Rangga sangat tidak mengenakan ketika datangnya Rafael, tapi mau bagaimanapun sekarang situasi yang ada seperti ini, mau bagaimana lagi.


Rafael mendudukkan diri di kursi yang ditunjuk Reya, "Nggak apa-apa nih gue gabung?" tanya Rafael ramah.


"Iya nggak apa-apa, santai aja," ucap Iren.


Filla sesekali melirik pada Rangga yang menatapnya dengan tatapan yang sulit Filla artikan.


Ponsel Rangga berdering membuat Rangga meronggoh ponselnya yang berada dalam saku celana. "Saya kesana sekarang," ucap Rangga tegas.


Semua orang menatap Rangga.


"Kenapa?" tanya Samuel yang duduk disebelah Rangga.


"Ada urusan di kantor, gue duluan," Rangga meninggalkan mereka semua keluar dari butik.


Filla langsung beranjak dari duduknya, dirinya refleks ketika Rangga pergi begitu saja, tanpa berpamitan padanya bahkan tanpa menatapnya, "Gue keluar sebentar," ucap Filla membuat yang lain mengangguk sedangkan Rafael mengerutkan kening bingung.


Rangga membuka pintu mobilnya namun dengan cepat ditahan Filla.


"Kamu mau kemana?" tanya Filla.


"Kantor," ucap Rangga dingin.


"Kamu bilang akan nemenin sampai selesai, bahkan hari ini kamu cuti kenapa tiba-tiba ke kantor?"


Rangga hanya dia membelakangi Filla.


"Ngga ayolah jangan kekanakan, apa masalahnya? Aku tahu ada yang nggak beres kan, sampai kamu pergi tanpa pamit."


Rangga berbalik lalu menatap mata Filla, "Kamu nanya aku apa masalahnya? Jangan pura-pura nggak tahu."


Filla menyisir poninya dengan tangan kearah belakang, "Karena Rafael? Dia cuma dateng sebagai tamu Rangga," ucap Filla frustasi.

__ADS_1


"Sebagai tamu yang cuma ngasih bunga ke kamu padahal acara ini milik kamu dan Iren?" tanya Rangga berusaha menahan emosi.


Filla diam, dirinya bahkan belum pernah melihat tatapan Rangga yang penuh dengan kekecewaan.


"Aku masih suami kamu kan Fill? Kapan kamu bisa hargai semua usaha aku buat dapet kata maaf dari kamu? Bahkan kamu undang dia tanpa kasih tahu apapun ke aku."


"Aku cuma ngundang dia karena janji aku dulu Ngga, nggak lebih dari itu, masalah bunga atau apapun, kamu kira aku rencanain, aku juga nggak tahu."


Rangga menghela napas, "Kamu udah cukup dewasa kan buat tahu tatapan dia suka sama kamu! Sesusah itu kasih tahu aku? Aku nggak minta lebih."


"Astaga Ngga, kenapa jadi makin lebar masalah sekecil ini, aku cuma lupa ngasih tahu kamu, banyak hal yang perlu aku urus untuk acara ini, dan kamu tahu itu."


Rangga tersenyum miris, "Kamu lupa ngasih tahu aku yang serumah sama kamu, tapi kamu inget buat undang dia?"


Filla menghela napas, ucapan Rangga benar-benar tak bisa di bantah, apalagi tatapan matanya yang terasa menusuk.


"Aku tahu kaselahan aku ke kamu mungkin nggak bisa kamu maafin, tapi kali ini sikap kamu kelewatan," Rangga membuka pintu mobil.


"Rangga," panggil Filla pelan sambil menahan tangan Rangga. dirinya tak bisa berucap apa-apa lagi sekarang.


Rangga Melepas tangan Filla dari lengannya, "Aku perlu waktu," Rangga masuk kedalam mobil lalu meninggalkan Filla yang berdiri mematung diposisinya.


Filla memegang kepalanya, kali ini Rangga benar-benar marah padanya.


********


"Kenapa lo?" Iren ikut mendudukkan diri dihadapan Filla setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Filla menghela napas, "Rangga marah, karena gue undang Rafael."


"Lo nggak ngasih tahu dia? Gue lihat tadi dia kaget waktu Rafael datang."


Filla mengangguk "Gue lupa Ren, lo tahu sendiri kita sesibuk apa," Filla memijit kepalanya pelan.


Iren menghela napas, "Lo emang salah, harusnya Rangga orang pertama yang tahu kalau lo ngundang Rafael," Iren menyenderkan tubuhnya pada senderan sofa.


Filla menatap Iren tak percaya, "Lo kok malah belain Rangga, gue kan lupa, lagian antara gue sama Rafael nggak ada apa, cuma tepatin janji aja."


"Lo egois Fill, sorry tapi gue harus ngomong kayak gitu biar lo sadar, sabar seseorang ada batasnya Fill, gue awalnya nggak mau ikut campur, tapi diposisi Rangga nggak mudah, dan lo harus tahu itu, posisiin diri lo jadi Rangga," Iren beranjak lalu menepuk bahu Filla. "Lo pulang aja, bujuk Rangga, biar gue urus semuanya hari ini."


Filla diam menatap Iren, bagaimanapun apapun ucapan yang keluar dari mulut Iren ada benarnya, kali ini Filla sadar bertapa egois dirinya hari ini. "Makasih Ren."


Iren mengangguk, "Hati-hati dijalan, gue udah pesenin lo taksi tadi."

__ADS_1


Filla tersenyum, "Lo emang sahabat gue paling the best." Filla memeluk Iren.


Iren mengusap punggung Filla, "Gue cuma nggak mau lo nyesel nantinya, jangan mentingin ego dan gengsi ya."


Filla melepaskan pelukannya dari Iren, "Makasih," Filla mencubit gemas pipi Iren.


"Cukup ya, tambah tembem pipi gue," Iren mempautkan bibirnya sebal.


Filla tertawa melihat betapa gemasnya wajah Iren.


********


Filla mengeringkan rambutnya dengan handuk, saat berjalan keluar dari kamar mandi. Sepi tentu saja yang ia rasakan saat membuka pintu, rumah tadi Rangga bahkan belum pulang, rasa cemas tentu saja Filla rasakan apalagi kemarahan Rangga benar-benar tidak dirinya duga.


Filla menghela napas sambil menatap dirinya dicermin, "Kemana, lagi tuh anak?" Filla melihat pada jendela yang tertutup tirai.


Suara mobil Rangga membuat Filla mendekat dan menyibakkan tirai, senyuman terpancar dari wajahnya, akhirnya Rangga pulang, membuat dirinya merasa lega.


Filla mendudukkan diri di kursi depan meja rias, jantungnya terasa deg-degan menunggu Rangga masuk ke dalam kamar.


Ceklek...


"Assalamualaikum."


Filla dapat merasakan hawa dingin dalam ucapan Rangga, "Waalaikumsalam, kamu ud_," ucapan Filla terhenti saat Rangga langsung masuk kedalam kamar mandi tanpa memperdulikan dirinya.


Filla menghela napas, Rangga benar-benar marah padanya sekarang, dan Filla tak tahu harus melakukan apa.


Lima belas menit berlalu, Rangga keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawah.


"Ngga, kamu masih marah?" tanya Filla namun tak digubris oleh Rangga sedikitpun, malah Rangga langsung berjalan keluar dari kamar.


Filla menghembuskan napas, "Mati gue," ucap Filla pelan. Filla menutup wajahnya dengan bantal, menerima sikap cuek Rangga benar-benar menyiksa ternyata.


Filla kembali duduk saat Rangga masuk kedalam kamar dengan membawa segelas kopi. Rangga malah mendudukkan diri di meja kerja kecil sebelah lemari.


Filla memberanikan diri berjalan mendekati Rangga, lalu berdiri tepat disamping Rangga yang duduk dihadapan laptopnya tanpa memperdulikan Filla.


Filla mengulurkan tangannya dihadapan Rangga, "Maaf," ucapnya serius. "Aku nggak betah kalau kamu cuekin kayak gini, mendingan marah aja nggak papa," ucap Filla namun masih tak digubris oleh Rangga.


Filla menghela napas namun tidak menyerah, dirinya membiarkan tangannya tetap berada dihadapan Rangga.


"Ngga maaf, aku ngaku salah, aku tahu aku egois, tapi seriusan, aku beneran lupa bukan nggak mau ngasih tahu kamu."

__ADS_1


Rangga menghela napas lalu menatap Filla.


********


__ADS_2