Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 88


__ADS_3

Filla menatap pemandangan dari kaca jendela bus, hampir 20 menit ia melakukannya namun masih saja ia betah.


Filla tersentak saat bahunya terasa berat, pelan-pelan ia menoleh dan mendapati aroma rambut Rangga memenuhi penciumannya.


Rangga tertidur dibahunya sekarang, rasanya Filla ingin berjingkrak jika tidak dalam kondisi ini sekarang, Rangga terasa begitu dekat sampai Filla melupakan janjinya pada diri sendiri untuk melupakan rasanya pada Rangga.


Filla tersenyum melirik wajah Rangga, Rangga begitu tampan ketika diam dengan wajah polosnya, wajah yang sering Rangga tunjukkan adalah wajah dingin yang menjadi image-nya dimanapun, namun kali ini wajah Rangga yang Filla minati terlihat jelas.


"Kenapa takdir sesulit itu membuat kamu berada disisiku," ucap Filla pelan hampir tak terdengar, setetes airmatanya jatuh, Filla dengan cepat menghapusnya lalu kembali menatap pohon-pohon yang tertinggal karena laju bus, membiarkan Rangga tetap dalam posisinya tanpa berniat mengganggu.


******


Filla merebahkan tubuhnya diatas kasur yang selama 2 hari tidak ia jumpai, ia baru sadar ternyata kasurnya adalah tempat ternyaman.


"Akak," panggil Tita lalu mendudukan diri keatas kasur Filla.


Filla beranjak dari baringnya, "Iya Ta," Filla mengusap puncak kepala Tita seperti sudah menjadi rutinitas saat berbicara dengan Tita.


Tita menunjukkan sebuah kotak kayu, "Ini apa?" tanyanya sambil menatap Filla menunggu jawaban.


Filla mengerutkan alis, "Tita dapet dari mana?" tanya Filla penasaran.


"Di kamal Mama, Ini mainan kan?" tanya Tita.


Filla mengambil kotak kayu tersebut dan perlahan membukanya, Filla terdiam saat melihat miniatur komedi putar bergerak memutar dan mengeluarkan musik yang sangat indah.


"Wah, ada lagu na," ucap Tita antusias sambil bertepuk tangan.


Filla melihat wajah anak kecil didalam ingatannya namun sangat samar, sampai wajah itu perlahan menghilang, Filla memegang kepalanya yang terasa sakit, dan napasnya yang terasa sesak.


"Akak Kenapa?" tanya Tita khawatir.


Filla memegang kepala sambil menatap kotak musik ditangannya.


Tita berlari keluar dari kamar meninggalkan Filla.


"Siapa?" tanya Filla pada dirinya sendiri, semakin ia mencoba mengingat wajah anak kecil tersebut, kepalanya terasa akan pecah.


"Kak kenapa?" tanya mama yang berlari menghampiri Filla diikuti Tita dibelakangnya.


Filla menatap mama, "Ini punya siapa?" tanya Filla to the poin.

__ADS_1


Mama terdiam, memperhatikan kotak musik ditangan Filla, "Kakak dapet dari mana?" tanya mama heran.


"Tita yang bawa Ma, tadi Tita temu di kamal," ucap Tita polos.


Mama menatap Tita lalu terdiam, "Itu mainan kamu waktu kecil," ucap mama sambil tersenyum.


"Mama serius? Aku nggak inget pernah punya ini," ucap Filla sambil mengerutkan alisnya.


"Kamu masih kecil Kak, Udah, kamu perlu istirahat kan, sini kotak musiknya Mama simpen," ucap mama sambil mengambil kotak musik dari tangan Filla.


"Da ... Akak," ucap Tita saat mama membawanya keluar dari kamar Filla.


Filla terdiam melihat mama yang memilih menghindar atas pertanyaannya, Filla penasaran apa yang sebenarnya disembunyikan mama dibalik kotak musik tersebut.


******


"Kamu kenapa Fill," tanya Vino sambil melihat Filla.


Filla memggeleng, "Nggak apa-apa Kak," jawab Filla sekenanya.


Vino metap jalanan, "Kamu boleh cerita Fill, nggak akan enak mendem sesuatu sendirian."


Filla diam sebentar lalu menoleh kearah Vino yang sedang menyetir, "Semalem aku inget wajah seseorang, tapi aku nggak tahu siapa, semakin aku inget, rasanya kepalaku makin sakit," jelas Filla.


Filla memgangguk, "Anak kecil," ucap Filla yakin. "Anak kecil yang tertawa riang sambil bawa kotak musik," ucap Filla sambil mengingat-ingat.


Vino terdiam lama sampai tangan Filla menepuk lengannya, "Mu-mungkin itu kamu waktu kecil," ucap Vino gugup.


"Bisa jadi sih Kak, Mama bilang kotak musik itu punyaku, tapi kenapa aku lupa."


"Kamu masih kecil waktu itu, tentu saja ada yang kamu lupakan," jawab Vino meyakinkan


Filla mengangguk walau ada sesikit penolakan dihatinya tentang pernyataan Vino.


******


Filla menghentikan langkahnya saat melihat Rangga dan Kania bercanda di kursi dekat koridor kampus.


Filla menghembuskan napasnya mengimbangi rasa sesak saat ia melihat keakraban mereka.


"Hai Kania, Rangga," sapa Filla saat dirinya hampir melewati mereka berdua.

__ADS_1


"Oh Hai Fill, ada kelas?" tanya Kania sambil tersenyum.


Filla mengangguk, "Yaudah gue duluan," ucap Filla lalu melangkah meninggalkan dua orang yang membuat sesak saat menjalani rasa pada hatinya.


Filla memasuki kelas yang sudah mulai ramai mahasiswa yang duduk dibangku. Filla belum mendapati Reya didalamnya, mungkin seperti biasa, Reya akan telat dan menitipkan absennya pada Filla.


Filla duduk disalahsatu bangku kosong dibagian tengah, ia mulai membuka buku dan memasang headset di telinganya.


Filla mendonggak saat dengan kasar Rasti mencabut paksa headset-nya. Rasti dengan wajah tanpa merasa bersalah melipat tanggan didepan dada.


"Mau lo apa?" tanya Filla kesal sambil berdiri dari duduknya.


"Gue liat nyaman banget hidup lo setelah bunuh adik lo sendiri," ucap Rasti sambil tersenyum.


Filla mengerutkan keningnya, "Bunuh? Adik gue? Maksud lo apaa?" tanya Filla.


Rasti tertawa, "Segitunya keluarga lo ngerahasiain," ucap Rasti. "Lo harus terimakasih sama gue pembunuh," Rasti memberikan dengan kasar pada Filla kertas dengan gambar koran yang ia bawa.


"Pembunuh? Maksud lo apaan sih, tarik omongan lo sebelum gue bikin hidup lo nggak tenang," ucap Filla kesal.


"Bisa baca Kan, goodluck jadi pembunuh," ucap Rasti sambil tertawa lalu menginggalkan Filla yang berdiri mematung tidak memperdulikan semua mata yang menatapnya sejak Rasti datang dan membuat keributan.


Filla terduduk menatap kertas ditangannya, kumpulan kertas tersebut adalah kumpulan berita dari koran yang diterbitkan 14 tahun yang lalu. Filla menutup mulutnya ketika mendapati wajah anak kecil yang beberapa hari ini selalu muncul dalam ingatannya.


Anak tersebut bernama Fanny Agatha, Filla menutup mulutnya dengan tangan, nama panjang anak itu sama dengan namanya, ia tak bisa memahami situasi apa yang tercipta sekarang.


"Filla," panggil Reya mengguncang tubuh Filla.


Filla mendonggak menatap Reya, lalu tanpa berpikir menarik jaketnya yang tersampir dikursi dan mengambil tasnya lalu berlari meninggalkan kelas dengan teriakan Reya yang tak ia gubris.


Filla menarik tangan Rasti yang berjalan menyusuri koridor, "Ini apa? Maksud lo apa?" tanya Filla penuh penekanan.


"Bisa baca kan?" jawab Rasti sambil tersenyum meledek.


"Lo dapet dari mana?" tanya Filla sambil menunjukkan koran ditangannya.


Rasti tertawa, "Rahasia," ucap Rasti sambil menepuk bahu Filla lalu melangkah pergi membiarkan Filla meneriakinya.


Filla menatap kertas ditangannya, ia tak bisa mengingat apapun saat ini, ucapan Rasti tentang dirinya adalah sorang pembunuh memenuhi pikirannya, apa yang sebenarnya Rasti ketahui.


"Fill," panggil Vino memegang bahu Filla.

__ADS_1


Filla memberikan kertas pada Vino, "Kaka pasti tahu ini apa, tolong jelasin," pinta Filla menatap mata Vino penuh harap.


******


__ADS_2