Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 38


__ADS_3

"Fill, Rangga tuh," ucap Reya menunjuk Rangga yang sedang berjalan didaerah danau kampus dengan Vebi. Reya adalah sahabat Filla sejak pertamakali bertemu disupermarket 5 bulan yang lalu, bertabrakan adalah alasan utama mereka mulai mengobrol, sampai mereka dipertemukan kembali saat perkenalan kampus dan ajaibnya mereka dalam kelas yang sama.


"Temben banget lo sekarang nggak pernah sama Rangga lagi," celetuk Reya lalu menatap Filla setelah menutup bukunya, memang sejak tadi mereka sedang belajar bersama ditaman.


Filla mengangkat bahunya, "Nggak semuanya bisa dan harus dijelasin," ucap Filla sekenanya.


"Lo marahan sama Rangga? Atau Rangga ninggalin lo begitu aja karena si Vebi itu?" tanya Reya mulai kepo dengan salah satu sahabatnya ini.


Filla menggeleng masih fokus dengan buku yang ia baca.


Reya menggoyangkan bahu Filla dengan tangannya, merasa kesal karena Filla tak menggubris pertanyaannya, "Filla, gue lagi ngomong ini," serunya kesal.


Filla menutup bukunya lalu menatap Reya sebal, "Nggak penting juga petanyaan lo, nggak harus gue jawab Ya," ucap Filla ikut sebal karena tingkah Reya.


"Bosen," jawaban lo gitu mulu, udah lo nggak usah ngelak, lo suka kan sama Rangga, nggak peduli deh sama hubungan kalian yang katanya saudara, keliatan Fill, lo natap mereka sambil sedih gitu kayak kucing kehilangan induknya," celetuk Reya sambil menoyor kepala Filla.


"Ih, nggak pake noyor bisa kan?" teriak Filla kesal, sedangkan Reya tertawa melihat Filla yang kelihatan sebal. "Nggak usah sok tahu, gue sama Rangga ya saudara nggak lebih, terserah dia kalau udah punya cewek atau apalah itu dan akhirnya jauh dari gue, ya gue tau itu konsekuensinya," jelas Filla menatap Reya serius, walau semua ucapannya bertolak belakang dengan hatinya.


Reya mengosok pelan rambut Filla, "Yaudah, semangat pura-pura tegarnya ya," ejek Reya lalu berlari menjauh, bisa-bisa ia jadi sambel kalau masih berada disana.


Filla dengan cepat berlari mengejar Reya. Ia sebal dengan tingkah Reya yang selalu menjahilinya, sahabatnya yang satu ini selalu tahu apa isi hatinya walau ia selalu mengelak, seakan Reya adalah isi pikirannya, semua yang ia pikirkan selalu jadi celetukan Reya, kadang Filla sendiri bingung apakah Reya bisa membaca pikiran.


Saat mengejar Reya, tak sengaja Filla menabrak Vebi yang sedang membawa minuman, dan alhasil minuman itu membasahi baju Filla dan rok Vebi.


"Sorry Veb, gue nggak sengaja," ucap Filla merasa bersalah.


Vebi sibuk membersihkan roknya, "Kalau jalan bisa dong matanya dipake," ucap Vebi dan menatap Filla tajam.


"Iya maaf, gue tadi nggak liat lo," jawab Filla masih santai. Untung saja dia yang salah, kalau tidak udah dibejek ni cewek, batin Filla.


Rangga dengan berlari menghampiri mereka, "Kenapa?" tanya Rangga ikut menatap rok Vebi yang basah.


"Gue tadi nggak sengaja nabrak Vebi," jelas Filla yang sejak tadi sibuk membersihkan bajunya dengan tisu.


"Nggak papa Ngga, Filla nggak sengaja, tadi aku yang salah jalannya nggak hati-hati," ucap Vebi menjelaskan pada Rangga.


Filla membulatkan matanya menatap gadis licik ini. Baru juga Rangga yang datang sikap arogannya hilang, terlihat jelas cuma modal jual muka pikir Filla.


"Hati-hati kek Fill, kenapa sih suka banget gerasak-gerusuk," bentak Rangga.


"Santai dong, gue juga udah minta maaf kali," ucap Filla lalu berlalu dan menabrak keras bahu Rangga dengan sebal.


Rangga dengan tatapan tajamnya berteriak, "Filla, dasar cewek preman," ucapnya dari kejauhan.

__ADS_1


Filla berbalik mendengar teriakan Rangga dan malah meleletkan lidahnya pada Rangga, mengejek Rangga dari kejauhan, "Syukurin," ucapnya tanpa bersuara.


Rangga yang melihat menatapnya tajam. "Dasar kekanakan," teriak Rangga.


******


"Fill, ni coklat pesenan lo," Rangga melempar sebuah bungkusan kearah Filla yang berbaring disofa dengan memainkan ponselnya.


Filla mendonggak, lalu tersenyum sumrigah saat ia melihat isi dalam bungkusan tersebut, coklat kesukaannya sejak kecil, "Makasih Rangga Ganteng seantero jagat raya," Filla sibuk membuka bungkus coklat lalu memakannya dengan senyum yang tak bisa lepas dari wajahnya.


"Jangan lo abisin, males gue dititipin mulu," ucap Rangga yang sudah berdiri didepan kulkas milik Filla.


Filla hanya mengangguk tanpa peduli.


"Dan inget gue serius waktu bilang jangan ngusilin Vebi," ucap Rangga yang sudah duduk disofa depan Filla dengan segelas air yang masih ia genggam.


Filla menoleh malas, "Gue nggak pernah ngusilin dia," ucap Filla lalu kembali menatap layar ponselnya.


"Pagi tadi apa?"


"Nggak sengaja ketabrak, apa lagi?" tanya Filla.


Rangga menggeleng, "Terserah yang penting gue udah ingetin," Rangga menyenderkan punggungnya ke senderan sofa.


Rangga menggeleng, "Makan dirumah biar hemat."


Filla mempautkan bibirnya, "Ayolah Ngga, sekali-sekali, kita kan juga nggak tiap hari makan diluar."


"Yaudah," ucap Rangga menyerah.


Filla dengan cepat berdiri dan berlari kekamarnya membuat Rangga menggeleng melihat tingkahnya.


Filla keluar dengan jaket dan tas yang sudah ia pakai, "Lets go."


Rangga mengikuti Filla berjalan keluar dari apartemen.


******


Rangga diikuti Filal masuk kedalam salah satu tempat makan yang tidak jauh dari apartemen mereka hanya memakan waktu 10 menit dengan berjalan kaki.


Rangga memilih duduk dipojok kanan diikuti Filla didepannya.


"Mau makan apa?" tanya Filla yang sudah mulai membuka menu dihadapnnya.

__ADS_1


"Samain, gue lagi males milih," ucap Rangga yang mulai mengeluarkan posel dan memainkannya.


Filla mengangguk tanpa mempermasalhkan.


Beberapa menit berlalu makanan yang Filla pilih tepat berada didepan mereka, terlihat sangat menggiurkan.


"Filla," ucap seorang pria saat mereka sedang asik menikmati makanan.


Filla menoleh diikuti Rangga yang juga menatap heran pada seseorang yang baru saja memanggil Filla.


"Iya," kawab Filla seadanya, ia memfokuskan pandangannya pada pria yang berdiri disamping kirinya.


"Lo luoa sama gue dek?" tanya pria itu sambil tersenyum.


Filla tersenyum kaku, spertinya ia semakin tua, terbukyi ingatannya saat ini benar-benar buram tentang pria dihadapannya. "Maaf siapa?" tanya Filla akhirnya.


Pria itu tersenyum, "Vino."


Filla membulatkan matanya, "Kak Vino?" tanyanya setelah mengenali pria dihadapannya.


Pria itu masih dengan senyumannya dan kali ini makin merekah.


Filla dengan cepat memeluk pria itu, sudah lama ia tidak bertemu dengan Vino, mungkin terhitung 7 tahun lamanya, Vino adalah sahabat sekaligus kakak untuk Filla, Filla yang anak tunggal tentu saja mengharapkan kehadiran saudara dan Vino mengisi keingan itu.


Vino mengelus lembut puncak kepala Filla, menyalirkan rindu yang lama ada, begitupun Filla.


Rangga berdehem pelan menghentikan acara pelukan mereka.


"Oiya Kak, ini Rangga, temenku," jelas Filla sambil menunjuk Rangga.


Vino mengajak Rangga bersalaman dan disambut Rangga, "Kalian udah lama?" tanya Vino yang mulai duduk deisebelah Filla.


"Baru 10 menitan," jawab Ranga, "Makan Bro," ucap Rangga sambil menunjukk makanan didalam mangkuknya.


Vino tersenyum dan mengangguk, "Aku gabung nggak apa-apa nih?" tanya Vino sambil melihat kearah Filla dan Rangga bergantian.


Rangga mengangguk.


"Boleh lah kak, banyak yang mau aku tanyain ke kakak," ucap Filla semangat.


"Iya, tapi satu-satu ya," jawab Vino lembut sambil mengelus puncak kepala Filla, hal yang sangat sering ia lakukan dulu.


Tanpa mereka sadari tatapan Rangga tak pernah lepas dari senyum senang Filla karena kehadiran Vino.

__ADS_1


******


__ADS_2