
Filla tersenyum miris, terulang lagi, batinnya. "Lo percaya sama omong kosong dia? Iya Ngga?" tanya Filla menatap tepat dimanik mata Rangga mencari sesuatu kepercayaan untuknya sekarang tapi tidak ada disana.
Rangga menatap Filla dengan kilat marahnya, melihat Filla seperti suatu yang membuatnya muak, Filla dapat merasakan itu.
"Lo kenal gue Ngga, pernah gue bersikap gitu?" tanya Filla lagi kesal.
"Siapa lagi kalau bukan lo? Disini cuma ada kalian dan lo emang suka ngejahilin Vebi kemarin-kemarin, itu buat gue yakin lo nggak sebaik yang gue pikirin," tekan Rangga benar-benar marah.
"Aku minta maaf Fill kalau ada bikin salah sama kamu, aku nggak maksud," ucap Vebi dengan isak tangisnya dipelukan Rangga.
Filla tak habis pikir dengan situasi ini, semuanya terasa memuakkan.
"Sumpah drama abis," ucap Reya sambil tertawa dengan melipat tangannya.
Vebi memeluk Rangga, "Sumpah Ngga aku nggak tahu kenapa mereka sebenci itu sama aku, mungkin karena mereka pikir aku ngerebut kamu, padahal nggak," ucap Vebi terisak.
"Segitunya Veb minta perhatian? Gue dan Reya bela-belain nolongin lo, dan lo-," ucapan Filla terhenti.
"Gue punya bukti Ngga, mereka sengaja ngerencanain ini semua buat ngejauhin Vebi dari lo," ucap Sinta sambil menunjukkan ponselnya.
Filla diam menunggu adegan apa yang akan terjadi setelah ini.
Sinta memutar rekaman suara di ponselnya.
Mau gue bantuin jauhin Vebi dari Rangga? Gue nggak bercanda kasih tau aja. Terdengar suara Reya dari ponsel milik Sinta.
Filla dan Reya saling pandang, mengingat kapan mereka berbicara masalah itu.
Filla tersenyum sinis, "Perasaan Reya nggak ngomong gitu, ada yang kalian edit?" tanya Filla.
Sinta melipat tangan didepan dada, "Maling mana ada yang mau ngaku, ya sama kayak lo yang nggak mau ngaku setelah ketangkep basah," ucap Sinta sambil mendorong Filla.
"Eh santai, kalau itu beneran percakapan gue sama Filla, kenapa nggak ada suara Filla? Nggak mungkin kan gue ngomong sendiri?" tanya Reya penuh penekanan.
"Cukup Ta, gue nggak apa-apa, selesai disini aja," ucap Vebi menengahi.
"Mau kalian apa sih?" tanya Reya habis kesabaran.
"Cukup! Gue nggak nyangka kalian berdua sebusuk itu," ucap Rangga tegas.
Filla menatap Rangga tak percaya, Rangga menuduhnya sekarang, menulikan telinga untuk semua penjelasan yang Filla lakukan.
__ADS_1
"Gue kecewa sama lo," ucap Rangga menyelesaikan semuanya, lalu memapah Vebi menjauh diikuti Sinta.
"Terserah ...!" teriak Filla frustasi.
******
Rangga membawa Vebi ke ruang kesehatan, sejak tadi Vebi tak berhenti tersenyum didada Rangga, misinya berhasil tanpa Rangga ketahui, "Ini kenapa?" tanya Dokter yang ada diruang kesehatan.
Rangga membantu Vebi berbaring di kasur, "Dia hampir tenggelam di danau Dok," jelas Rangga.
"Kok bisa?" tanya dokter yang tak dijawab Rangga. Dokter memeriksa keadaan Vebi.
Rangga menatap cemas, "Gimana Dok?" tanya Rangga saat dokter selesai memeriksa Vebi.
Dokter tersenyum, "Dia tidak apa-apa hanya syok, kamu tolong ambilkan minyak angin diruang Ibu ya, disini kebetulan minyak anginnya habis," Pinta Dokter.
Rangga mengangguk lalu berlalu meninggalkan ruang kesehatan, sejak tadi pikirannya pada Filla sebenarnya, entahlah mengapa hatinya berkecamuk dan resah melihat Filla yang tadi sangat pucat, tapi ia juga kesal dengan Filla yang bahkan saat sakit masih sempat menjahili Vebi. Lalu dibuangnya jauh-jauh kepusingannya dengan masalah ini dan bergegas mengambil minyak angin karena ia merasa bertanggung jawab atas Vebi yang telah dibuat Filla hampir tenggelam.
Rangga berlari menuju ruang kesehatan sambil membawa minyak angin, langkahnya terhenti saat mendengar tawa keras dari dalam ruang kesehatan, ia tahu pasti itu suara Vebi, tapi yang membuatnya bingung bagaimana bisa Vebi yang tadi lemas bisa tertawa saat baru ditinggal 5 menit saja, apa dia bisa sembuh dadakan pikir Rangga. Saat ia ingin melangkah memastikan, ucapan Vebi menghentikan langkahnya dan memilih berdiri diambang pintu.
"Untung aku nggak tenggelam beneran Tante," ucapnya sambil tertawa bersama Dokter yang ada diruang kesehatan.
"Gimana kamu bisa tenggelem, orang kamu jago berenang," ucap Dokter itu sambil menepuk bahu Vebi. "Lagian kamu, masalah cowok aja pake tenggelam segala," sambungnya.
"Gimana nggak Te, ngakunya mereka saudaraan tapi deket banget kayak perangko, ya kesel aku, makanya sekalian aja aku jebak biar ****** sekalian," celetuk Vebi senang dengan keberhasilan Misinya.
"Jadi kamu fitnah Filla?" tanya Rangga dengan suara tinggi saat masuk kedalam ruangan kesehatan membuat dua orang yang sedang kesenangan terkejut.
"Ngga," ucap Vebi lalu beranjak dan berlari kearah Rangga. "Nggak gitu Ngga, kamu salah denger," ucap Vebi terlihat jelas ia sangat takut.
Rangga menghentakkan tangannya sehingga genggaman Vebi pada lengannya terlepas, "Cukup, gue muak sama lo!" bentak Rangga.
"Dan anda Dokter, saya tidak menyangka anda mendukung tindakan seperti ini," ucap Rangga lalu beranjak meninggalkan Vebi yang sibuk meneriakinya.
Rangga benar-benar bingung dengan situasi ini, ia merasa bersalah karena membentak dan tak percaya dengan Filla, seandainya tadi dia tak mempercayai Vebi dan memilih jalan dengan kepala dingin, semuanya tak akan seperti ini.
"Gue harus minta maaf," ucapnya yakin lalu berlari ke Taman, berharap Filla masih ada disana.
******
Filla terdiam mencerna situasi seperti apa yang Rangga ciptakan. Filla lalu berjongkok membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Ia tak menyangka semuanya seperti ini.
__ADS_1
"Fill," panggil Reya pelan. "Filla, lo nggak usah sedih, nggak penting juga nangisin mereka Fill," bujuk Reya sambil mengusap berulang bahu dan punggung Filla.
Filla menatap Reya nanar, "Kenapa sih Rey semua orang nggak pernah percaya sama aku? Orangtua aku juga bersikap sama kayak Rangga, pergi dan ninggalin aku, apa aku nggak pantes dipercayain?" tanya Filla sambil menangis.
Reya ikut meneteskan airmata melihat sahabatnya seperti ini, tapi ia tahu semua pahitnya hidup Filla, 1 tahun berteman dengan Filla membuatnya paham bertapa sedihnya jadi Filla, Reya memeluk Filla erat menyalurkan kehangatan pada Filla.
"Gue capek Rey, untuk berdiri diposisi ini sulit, kenapa banyak banget hal yang gue alamin, gue capek," ucap Filla lemah, ia lelah dengan keadaan yang selalu menertawainya.
"Ada gue yang akan selalu percaya sama lo," ucap Reya pelan.
Filla dan Reya menoleh saat seseorang dengan langkahnya mendekati mereka, "Makanya, jangan cari masalah sama Vebi," ucap Sinta.
"Ngapain lo balik, pergi!" bentak Reya sambil mendorong Sinta.
Filla memilih menangkupkan wajahnya, lelah dengan sumua yang telah terjadi, ia butuh ketenangan sebentar saja.
Sinta tertawa, "Mau lihat gadis bodoh, tuh," ucap Sinta sambil menunjuk Filla.
Filla berdiri, "Mau lo apa sih? Gue capek, gue pernah cari masalah sama lo?" tanya Filla. menatap lekat manik mata Sinta.
Sinta tersenyum mengejek, "Siapa suruh cari masalah sama Vebi."
"Yang kenal Rangga duluan gue, salah gue kalau gue deket sama Rangga?" tanya Filla sambil berteriak.
"Iya salah lo!" ucap Sinta.
Reya dengan geram mendorong Sinta sampai terjatuh, tangan Sinta terluka mengenai papan jembatan yang mereka pijaki sekarang.
Sinta dengan kesal mendorong Reya kuat ketepian jembatan.
"Cukup Sinta, Reya, bahaya!" teriak Filla melerai mereka bardua.
Reya kehilangan keseimbangan kareka berada tepat dipinggiran jembatan, Filla berhasil menarik Reya agar tidak jatuh, tapi dorongan Sinta malah membuat Filla terdorong jatuh kedalam danau.
"Filla!" terial Reya kencang lalu mendorong Sinta kuat sampai terduduk.
Filla memejamkan matanya, kejadian masa kecilnya kembali terulang, ia phobia dengan keadaan ini, Filla pernah tenggelam saat umurnya 5 tahun, sejak itu ia tidak pernah mendekati sungai, danau ataupun belajar renang dikolam.
"Filla! Pegang tangan gue," teriak Reya sambil mengulurkan tangannya.
"Re-Rey to ... long," ucap Filla terbata.
__ADS_1
"Filla!" Rangga dengan cepat masuk kedalam danau menyelamatkan Filla.
******