
Hari ini adalah hari Filla akan bimbingan kedua dengan dosen pembimbingnya, tanpa terasa sekarang Filla sudah berada disemester tua seperti kata kebanyakan mahasiswa diluar sana, tinggal menghitung bulan ia akan lulus dengan predikat sarjana jika berhasil menyelesaikan skripsinya.
Filla dengan setelan celana jins dengan atasan kaos cokelat ditemani kemeja kotak-kotak yang sengaja dibiarkan terbuka. Rambutnya ia biarkan tergerai menambah kesan natural seperti polesan make up diwajahnya.
Filla tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin, "Siap," ucapnya sambil menyampirkan tasnya. Filla berjalan keluar dari kamar tanpa lupa mengambil ponselnya terlebih dahulu diatas meja.
"Gimana Kak kabar skripsinya?" tanya papa sambil mengoleskan selei cokelat diatas rotinya.
Filla tersenyum sambil mengambil piring, "Aman Pa, kemaren cuma dicoret dikit abis itu di ACC," ucap Filla dengan bangga.
Papa mempautkan bibirnya, "Papa dulu nggak pernah kena coret," ucap papa dengan bangga.
"Mana ada, kalau bukan Mama yang neriakin tiap hari, mana bisa Papa lulus tepat waktu," ucap Mama sambil menyiapkan roti untuk Tita.
Filla tertawa, "Bohongnya langsung kebongkar dong," ledek Filla sambil menggigit roti yang sudah ia lipat.
Papa menatap Mama, "Mama nggak bisa kali ya Papa kelihatan baik didepan anak," Papa mempautkan bibirnya.
Mama tanpa memperdulikan papa tetap menyiapkan susu untuk Tita.
Suasana seperti ini yang membuat Filla betah berada dirumah, Mama dengan kesibukannya mengurus Tita dan Papa lebih lama duduk bersama untuk sarapan.
"Yaudah Filla berangkat dulu, entar dosen Filla udah pulang," ucap Filla menyalami Papa dan Mama bergantian.
"Sana cepet," ucap Mama ikut khawatir.
Filla tertawa, "Sebenernya nggak gitu sih, Filla mau mampir ke makam Fanny dulu," ucap Filla sambil mencium Tita dipipi membuat Tita memeluknya.
"Yaudah, hati-hati Kak," ucap mama yang membuat Filla melambaikan tangan dan berjalan keluar menuju garasi.
Filla menekan tombol remote membuat mobilnya berbunyi. Ia membuka pintu mubil dan menaruh tasnya dikursi penumpang.
Filla meronggoh ponselnya yang berdering, Vino mengiriminya pesan, Filla membuka pesan dari Vino sambil menutup pintu mobilnya.
From Kak Vino
Selamat pagi tuan putri
Filla tersenyum, Vino memang terbiasa mengirimi Filla pesan sapaan tiap pagi, siang ataupun ucapan selamat tidur saat malam.
Filla masih saja tertawa setiap kali membaca kata tuan putri dari Vino, panggilan itu adalah panggilan yang Filla paksa untuk Vino lakukan saat mereka masih kecil.
To Kak Vino
__ADS_1
Selamat Pagi tukang kebun.
Filla tertawa melihat balasan cepat dari Vino.
From Vino
Ikhlas dek, mau dipanggil apa aja.
Filla memasukkan kembali ponselnya kedalam tas, ia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya keluar melewati pagar yang sudah dibukakan.
"Makasih Pak," ucap Filla menyapa satpam dirumahnya dengan ramah.
"Pagi Filla."
Filla tersenyum, ia senang jika orang-orang yang bekerja dirumahnya tidak memanggilnya dengan sebutan non, ia lebih suka dipanggil nama seperti sekarang, walau sangat sulit meminta mereka memanggilnya dengan nama langsung.
Filla menekan kelakson pelan saat melewati Rangga dan Kania, sepertinya Kania sering mampir kerumah Rangga saat pagi karena hampir setiap hari Filla melihat keberadaannya.
Filla tak ingin berhenti dan menyapa secara langsung, hatinya belum siap akan itu, Filla menggeleng, "Fokus Filla," ucapnya lalu tersenyum. Ia akan berusaha melanjutkan hidup.
Filla sadar dalam hidup tidak hanya tentang cinta, masih banyak hal yang harus ia lakukan dan capai, apalagi diumurnya yang sekarang, ia hatus bekerja lebih ekstra dari yang lain.
******
Sekarang Ola, Caca dan Reya berada didalam kamar Filla, seperti biasanya mereka menghabiskan waktu bergantian kerumah masing-masing. Minggu ini giliran nongkrong dirumah Filla.
Filla menoleh sambil mengerutkan alis, ia sampai lupa melanjutkan mengunyah snack yang sedang ia makan.
"Iya bener tuh, dari pada stuck ke Rangga aja, apalagi Rangga udah sama siapa sih namanya?" ucap Caca sambil menoleh ke Reya.
Reya mendonggak dari buku bacaannya, "Kania," jawabnya singkat lalu kembali membaca buku milik Filla.
"Nah Iya Kania, yang menor banget itu," ucap Caca polos.
Ola menampar tangan Caca, "Sekalian ngatain gue liat-liat."
Caca mengusap tangannya, "Apaansih La, emang menor gimana lagi?" jawab Caca polos.
Ola menggeleng diikuti Reya, sudahlah lebih baik mengiyakan ucapan Caca dari pada perdebatan makin panjang.
"Tapi Iya Fill, kenapa nggak sama Kak Vino?" tanya Reya sambil meletakkan buku Filla kedalam rak buku setelah berhasil menyelesaikan cicilan bacaannya.
"Kalian ngigo?" tanya Filla sambil menyeruput jus alpukat yang mama buat untuk mereka.
__ADS_1
"Nggak Filla, orang ngigo kalau tidur," ucap Caca tanpa menoleh, ia masih fokus menatap layar ponselnya.
"Sumpah, cuma kali ini kelemotan lo gue apresiasi," ucap Reya sambil memeluk leher Caca membuat Ola tertawa.
"Kenapa sih? Bener kan?" tanya Caca yang bingung dengan apa yang dibicarakan Reya.
Ola menepuk kepala Caca pelan berulang, "Bener Ca," ucap Ola sambil memngangguk membuat Caca tersenyum bangga.
"Please deh kalian, Kak Vino tuh udah kayak Kakak buat gue, dia juga pasti anggep gue adeknya," ucap Filla.
"Mulai lagi alasan kakak adean, gue ingetin nih, yang lo pikirin belum tentu sama kayak yang dirasain Kak Vino, kita nggak pernah tahu," ucap Ola sambil menaikkan kedua bahunya.
Reya mengangguk antusias, "Bener banget," ucap Reya.
Caca menatap Filla, "Lagian Mama sama Papa kalian beda, gimana bisa jadi Kakak-Adek? Aneh," ucap Caca sambil mengerutkan alisnya.
Filla dengan kesal melempar Caca dengan pantal yang ia pegang, "Lo yang aneh," ucap Filla membuat Caca mempautkan bibirnya, sedangkan Reya dan Ola tertawa puas dengan polosnya Caca dan kekesalan Filla.
"Patut dicoba sih Fill, lo harus move on dan cara move on terbaik adalah mencari pengganti yang lebih baik."
"Dan Kak Vino jauh lebih baik," ucap Ola menambahi ucapan Reya sedangkan Caca hanya menatap dengan tatapan kosong pada Reya dan Ola bergantian.
Filla mengerutkan alisnya, "Kalian salah, Kak Vino dan gue sebates adik Kakak, gue juga natap Kak Vino kayak abang gue, kalian tahu kan? gue selalu pengen punya abang."
"Tapi Kak Vino Nggak natap lo sebagai adek, itu yg gue liat," ucap Reya yang meraih anggukan kepala dari Ola.
"Ah udah pusing gue, kalian ngaur," ucap Filla sambil mengacak rambutnya.
"Ye dibilangin, awas aja masih nangis-nagis ngarepin Rangga yang nggak seberapa itu, gue botakin juga lo," ancam Reya dengan kesal.
"Tau, lo tuh cantik, kenapa masalah cinta jadi dodol sih? Nggak sejalan sama muka," tambah Ola dengan kesal.
"Kalian berdua kayak netizen," ucap Filla sambil menatap tajam Reya dan Ola.
"Sebentar," teriak Caca sambil merentangkan tangan. "Kalian bahas apa sih? Ajak-ajak dong, dialog gue apaan?" tanya Caca dengan wajah polosnya.
Ola dengan kesal menutup wajah Caca dengan selimut, "Makan tuh dialog," ucap Ola sambil menimpa Caca.
"Ola," teriak Caca.
Bukannya Ola minggir malah Reya dan Filla ikut menimpah Caca, sambil tertawa.
*******
__ADS_1