Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 146


__ADS_3

Dua bulan berlalu, Rangga masih menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Filla, rasa kehilangan menggerogoti Rangga setiap harinya.


Rangga duduk disalah satu cafe, menatap lurus orang-orang yang berjalan melewati cafe dari jendela didepannya. Setiap harinya Rangga selalu duduk termenung disana, menyesali setiap hal yang pernah ia lakukan terhadap Filla.


Diambilnya gelas berisi kopi yang sejak tadi diabaikannya, Rangga menyesap perlahan, dan benar saja kopi itu sudah terlalu dingin untuk dinikmati.


Rangga melihat arloji ditangannya, benda yang tidak pernah ia tinggalkan, arloji tersebut adalah satu-satunya hal yang Filla tinggalkan. Rangga meraup wajahnya, untuk kesekian kalinya sesal kembali terasa, "Harusnya aku tahu maksud kamu ngasih ini ke aku, segitu susahnya Fill kasih tahu aku kalau kamu akan pergi?" ucap Rangga sambil menatap arloji ditangannya.


"Aku harus gimana Fill?" tanya Rangga sambil menatap akun sosial media Filla dari layar ponselnya.


Rangga hanya dapat melihat Instagram Filla tanpa berani mengirim pesan, dirinya berhak dihukum atas rasa sakit yang pernah ia berikan pada Filla.


"Kamu terlihat lebih bahagia," ucap Rangga sambil melihat salah satu foto Filla. Filla tampak tersenyum didalam postingan tersebut berbanding terbalik dengan dirinya.


"Ngga," Samuel menepuk bahu Rangga lalu duduk disisi kanan Rangga, diikuti Putra disebelah kirinya. "Sampai kapan mau kayak gini?" tanya Samuel.


"Lo udah hampir 3 bulan cuma natap setiap foto yang Filla posting, kalau lo emang mau dia kembali, apa salahnya lo hubungi Ngga."


Rangga menghela napas, "Terlalu banyak rasa sakit yang gue kasih ke dia Tra, gue nggak berhak ganggu kebahagiaan dia sekarang."


"Dan membiarkan hidup lo nggak karuan kayak sekarang? Kita nggak pernah tahu Ngga gimana Filla disana, apa salahnya buat coba hubungin," ucap Samuel sambil memegang bahu Rangga. "Di coba biar lo nggak pernah nyesel."


Rangga melihat kearah Samuel lalu kembali menatap lurus jendela di depannya.


*********


Rangga memarkirkan motornya pada garasi, dirinya menghela napas mendapati Kania duduk dikursi teras rumah, hampir 4 bulan Rangga menolak kehadiran Kania, namun Kania masih saja bersikap seolah semua baik-baik saja.


"Ngga, akhirnya kamu pulang," ucap Kania sambil bergelayut manja pada Rangga.


"Lepas Kania!" ucap Rangga malas sambil melepas helmnya.


Kania sedikit memundurkan tubuhnya, "Ngga temenin aku sama Rain ke Mal yuk, aku mau beli perlengkapannya Rain buat masuk ke TK."


"Gue nggak ada waktu, minggir!" bentak Rangga lalu berlalu meninggalkan Kania dengan hentakkan kakinya.


"Rangga," Kania masih saja membuntuti Rangga sampai masuk kedalam rumah.


Rangga tanpa memperdulikan Kania menaiki tangga menuju lantai atas sampai langkahnya terhenti mendengar obrolan bunda.

__ADS_1


"Pasti kamu berubah pikiran, ayo Ngga," ajak Kania antusias.


"Bisa diem?" tanya Rangga dengan tatapan tajam lalu berjalan sedikit dan berdiri diambang pintu dapur.


"Akak, nggak pulang?" Tita menatap penuh harap pada ponsel yang bunda pegang.


"Baru juga sebentar Kakak pergi dek," ucap Filla sambil tertawa.


"Lama Akak, Tita tungguin nggak pulang-pulang," Tita mempautkan bibirnya membuat Filla tertawa.


"Iya nanti pulang," ucap Filla membuat Tita bersorak.


"Kakak masih kuliah musim dingin gitu? Bukannya libur?" tanya bunda.


"Beberapa Universitas memang libur Bun, tapi semester kali ini Filla nggak mau ketinggalan," ucap Filla dari seberang.


"Jaga kesehatan Kak, jangan sampai sakit, kamu sering-sering telpon bunda dong Kak, ini untung Tita lagi main kesini, Bunda kan kangen."


Terdengar suara tawa Filla, "Iya Bun, Filla juga kangen banget," ucap Filla.


"Kamu kok tambah cantik sih Kak?" tanya bunda sambil tertawa.


"Bunda bisa aja, tapi emang udah cantik dari orok sih Bun," canda Filla membuat bunda dan dirinya sendiri tertawa.


"Lama-lama kamu kayak Mama mu," ledek bunda membuat Filla tertawa.


Rangga berdiri mematung diambang pintu, ia hanya bisa menatap bunda yang membelakanginya, Rangga bisa melihat wajah Filla walau tidak jelas dari layar ponsel yang bunda pegang.


"Ngapain sih Ngga?" tanya Kania kesal.


Mendengar suara Kania, bunda dan Tita menoleh kebelakang, "Eh Ngga, sini ada Filla nih," ucap bunda sambil menunjuk ponselnya. "Kak, ada Rangga nih, mau ngobrol nggak?" tanya bunda.


Filla berdehem, "Kayaknya nggak usah deh Bun, kapan-kapan aja, Filla udah ditunggu nih soalnya," ucap Filla dari seberang.


"Oh yaudah Kak, kamu yang rajin belajarnya," ucap bunda.


Rangga tersenyum miris, bahkan Filla menolak mentah-mentah untuk berbicara dengannya, keraguan Rangga untuk menghubungi Filla tambah besar.


"Cepet pulang Akak," ucap Tita yang diangguki oleh Filla.

__ADS_1


Bunda mengembalikan ponsel pada Tita, "Hati-hati turunnya entar jatuh," ucap bunda saat Tita meloncat turun dari kursi.


Tita tertawa, "Siap Bun," Tita lalu berlari kembali keruang keluarga menghampiri Riko yang bermain PS disana.


"Kania, bunda pikir udah pulang," ucap bunda sambil menyusun beberapa piring yang sudah ia cuci tadi kedalam rak.


"Belum Bun, kan belum ketemu Rangga," ucap Kania sambil bergelayut manja pada Rangga.


Rangga menepis dengan kuat tangan Kania.


"Rangga," ucap Kania kesal.


"Berhenti main kesini dan bersikap kita masih punya hubungan, harus berapa kali gue bilang kita nggak ada hubungan apa-apa!"


"Rangga!" teriak kania. "Kamu nunggu Filla? Ia? Bicara sama kamu aja dia nggak sudi!" ucap Kania dengan kasar.


Rangga tanpa memperdulikan ucapan Kania berbalik lalu melangkah pergi namun Kania dengan cepat berdiri dihadapan Rangga menghalangi jalan.


Rangga menghela napas, "Mau kamu apa?" tanya Rangga dengan tatapan malas.


"Aku nggak mau putus dari kamu titik!" ucap Kania tegas.


"Kalian berdua mau tiap hari berantem? Bisa berantem diluar aja sana, pusing Bunda denger kalian berantem, buat contoh yang nggak baik buat adik-adik," ucap Bunda tegas.


"Berantem kayak anak kecil," ucap Tita sambil menatap layar TV melihat Riko bermain.


"Tiap hari Tit," ucap Riko tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Sepertinya Tita lelah memarahi Riko karena memanggilnya Tit sehingga Tita membiarkannya walau sesekali menampar bahu Riko karena kesal.


"Diem kamu anak pungut," ucap Kania tajam membuat Bunda dan Rangga menatapnya sambil menggeleng.


"Nggak punya hati!" ucap Rangga sambil menabrak bahu Kania dan berlalu masuk kedalam kamar.


"Kan aku ngomong fakta, emang dia anak pungut," teriak Kania.


"Kania! Bunda kecewa sama kamu," ucap bunda yang langsung mengajak Tita dan Riko berjalan kelantai atas melewati Kania. "Dan satu lagi, keluar dari sini," ucap bunda lalu benar-benar meninggalkan Kania sendiri diruang keluarga.


"Apaan sih pada nggak jelas emang anak pungut," ucap Kania pelan sambil memutar bola matanya, lalu berjalan keluar dari rumah.


********

__ADS_1


__ADS_2