
Malam ini adalah malam terakhir mereka berada di vila, besok mereka akan kembali ke aktivitas masing-masing, Ola dan yang lain akan kembali ke Bandung, sedangkan Filla dan Iren bersama pasangan masing-masing akan melanjutkan aktivitas di Jakarta seperti sebelum-sebelumnya.
Iren merapikan kupluk rajut yang ia pakai, "Kapan-kapan kita harus kumpul kayak gini lagi nih," ucap Iren yang langsung diangguki dengan antusias oleh Ola.
"Harus, nanti juga harus ada Caca dan keponakan-keponakan kita."
Mereka memang baru mengetahui langsung dari Caca bahwa Caca mengandung anak kembar, bagaimana Zaki tidak super protektif jika yang sedang ia jaga adalah tiga orang sekaligus.
"Jangan direncanain entar cuma jadi wacana," celetuk Samuel sambil mengupas ubi manis ditangannya.
"Lo emang pesimis Sam, jangan bawa-bawa kita yang penuh dengan semangat ini dalam kesuraman lo," ledek Ola membuat yang lain tertawa.
Samuel hanya mengangkat kedua bahu, lebih baik dirinya tidak lagi menjawab ucapan Ola jika tidak mau perdebatan panjang, memang mereka berdua sangat sering berdebat membuat yang lain selalu tertawa dengan ocehan mereka berdua.
"Hallo."
Mereka semua menoleh saat mendapati suara cempreng Kania yang sudah berdiri disebelah mereka dengan senyuman lebarnya.
Ola dan yang lain hanya saling menoleh, seolah sudah bergosip dari tatapan mata mereka.
Filla merasakan tangannya yang sejak tadi berada digenggaman Rangga semakin digenggam erat seolah Rangga menandakan kepemilikan atasnya.
Filla menoleh pada Rangga yang kembali memasang wajah dingin ketika mendapati kehadiran Kania, Rangga seperti membentengi dirinya dari keramahan untuk Kania.
"Kok pada diem? Boleh gue gabung?" tanya Kania, lebih tepatnya bukan bertanya tapi lebih pada pernyataan karena sekarang Kania malah duduk disebelah Jiel, membuat Ola menatap tajam padanya.
Suasana menjadi canggung, tidak ada yang menjawab ataupun memberikan sikap ramah pada Kania sampai akhirnya Samuel menghela napas.
"Yaudah gabung aja, udah kepalang juga kan? Lo juga udah duduk."
Reya menahan tawanya, bagaimana bisa dirinya menemukan sikap terpendam Samuel yang super dingin dari kebiasaannya yang banyak lelucon biasanya.
"Lo sendiri disini? Konsepnya liburan apa menyendiri?" ucap Jiel sambil menyeruput kopi hitam yang dibuatkan Ola tadi.
Kania tertawa, seolah menganggap pertanyaan Jiel adalah sebuah guyonan, "Gue sama sepupu sih, cuma dia udah balik tadi siang, jadi sendirian sekarang."
"Kenapa nggak ikut pulang aja, ngapain juga disini sendirian," ucap Ola membuka suara.
"Gue masih pengen disini, masih ada kalian juga kan? Bisa gabung," ucap Kania tanpa tahu malu.
Iren memutar bola mata malas, dirinya sekarang paham mengapa sahabat-sahabatnya tidak menyukai sosok Kania selama ini.
__ADS_1
Ola tertawa paksa, "Terserah la ya," ucap Ola yang geli mendapati sikap tak tahu malu yang ditampilkan Kania.
"Kalian tadi bahas apa? Lanjut aja," ucap Kania sambil menyender pada senderan kursi.
"Tau gitu tadi kursi itu gue angkut ke gudang," bisik Ola pada Filla.
Filla menahan tawanya, "Biarin aja," ucap Filla.
"Kamu bosen nggak?" tanya Rangga sambil berbisik ditelinga kanan Filla.
Filla menggeleng, "Biasa aja," ucap Filla.
"Kamu emang manusia yang selalu bilang biasa aja," ledek Rangga.
"Udah kali bisik-bisiknya, dunia masih milik rame-rame loh," ledek Samuel sambil melempar kulit kacang pada Rangga.
"Bilang aja iri," ucap Rangga dingin lalu kembali melempar kulit kacang pada Samuel membuat Samuel menghindar.
Kania memutar bola mata malas.
"Gue juga punya kali," Samuel merangkul Reya membuat Reya menampar lengannya.
Samuel menampar paha Jiel, "Sama reseknya lo bro sama Rangga," ucap Samuel kesal membuat yang lain tertawa.
Filla membuka snack lalu menyodorkannya pada Rangga, "Mau?" tanya Filla.
"Lo nggak tahu Fill? Rangga kan nggak suka snack itu," ucap Kania membuat yang lain ikut menoleh pada Filla dan Rangga.
Filla hanya diam lalu menoleh pada Rangga.
"Masak lo nggak tau sih? Dari kecil Rangga udah nggak suka sama makanan apapun dengan kacang polong didalamnya, Rangga tuh sukanya-," ucapan Kania terhenti.
Rangga memakan snack yang sejak tadi menganggur ditangan Filla, lalu tersenyum menatap Filla.
Filla menatap mata Rangga, "Kalau kamu nggak-," ucapan Filla terhenti karena Rangga mengusap rambutnya.
"Suka sayang, kamu lupa Kita sering nyemilin ini dulu?"
Filla tersenyum, lalu mengangguk, perlakuan kecil dari Rangga benar-benar membuatnya berbunga.
"Udah kali tatap-tatapannya, sumpah kita kayak ngekos, tapi sweet deh kalian," ucap Ola sengaja menekan setiap kata-katanya agar didengar oleh Kania.
__ADS_1
Jangan ditanya bagaimana wajah Kania sekarang, tentu saja menyimpan dendam melihat perlakuan Rangga terhadap Filla.
"Bukannya kamu nggak suka Ngga? Terakhir kita ketemu di panti juga kamu nolak," ucap Kania masih kekeh.
Rangga membenarkan duduknya menghadap pada Kania, wajahnya kembali dingin, sangat berbeda ketika menatap Filla, "Gue bukan mempermasalahkan snack tapi dengan siapa gue makannya," ucap Rangga singkat.
Filla menoleh pada Rangga, Rangga memang tahu caranya membuat seorang Filla salah tingkah.
"Uh sosweet," Iren memukul pelan lengan Glen membuat Glen tertawa.
"Harusnya lo nggak memaksakan karena atas dasar nggak enak sih menurut gue," ucap Kania masih tak mau kalah.
Reya memutar bola mata malas, bagaimana bisa dirinya melihat secara langsung seorang wanita tidak punya malu seperti Kania, dirinya pikir wanita seperti itu hanya ada disinetron, nyatanya sekarang nyata didepannya.
Rangga melipat tangan didepan dada, lalu menatap tepat manik mata Kania, "Dan harusnya lo nggak maksain gabung ditempat yang sejak awal nggak terima tamu," ucap Rangga benar-benar menusuk sampai tulang.
Kania menghela napas menahan emosi, dirinya benar-benar tersudut oleh ucapan Rangga.
"Lo keren," bisik Samuel ditelinga Rangga.
Suasana tiba-tiba hening, ucapan Rangga yang tegas disukai semua orang kecuali Kania, Kania bangkit dari duduknya, "Kayaknya udah malem, besok gue balik ke Jakarta, jadi mau istirahat, gue duluan," ucap Kania.
"Hati-hati dijalan, semoga selamet sampai tujuan besok," teriak Ola saat Kania sudah meninggalkan mereka. "Gue suka gaya lo Ngga," Ola menepuk lengan Rangga dengan bangga membuat yang lain tertawa.
"Parah sih, cewek kayak gitu emang butuh dikasih ucapan pedas seorang Rangga kayak tadi," ucap Iren.
"Heran gue nggak ada urat malu atau gimana sih tuh cewek," Reya bergidik ngeri.
"Bisa julid juga kekasih gue ternyata," ucap Samuel sambil mencolek dagu Reya.
"Emang udah julid dari lahir itu mah Sam, cuma depan lo aja dia pura-pura kalem," Semua tertawa mendengar ucapan Ola kecuali Reya yang menatap tajam pada Ola.
"Kamu kedinginan?" tanya Rangga saat Filla menggesek telapak tangannya.
Filla menoleh, "Lumayan."
Rangga meraih tangan Filla lalu membawanya kedalam saku jaket miliknya, "Istriku nggak boleh kedinginan."
Filla menyembunyikan pipinya yang mungkin sudah semerah tomat, dirinya sekarang tahu kenapa orang sangat terlihat bucin saat pacaran, ketika merasakannya sendiri Filla bisa mengatakan bahwa bucin hanya kata yang sering diucapkan seseorang tanpa pasangan bukan orang yang merasakannya.
*******
__ADS_1