Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 59


__ADS_3

Filla menatap pantulan wajahnya didepan kaca, terlihat sangat berantakan, sejak kejadian kemarin ia mengunci diri didalam kamar sampai sekarang, mama dan papa sudah membujuknya sejak kemarin tapi ia memilih menyendiri, meratapi kebodohan yang ia jalani beberapa waktu lalu.


Disentuhnya mata yang sudah mirip mata panda, "Bener kayak orang gila," ucapnya saat memandang wajahnya sendiri. Ia mengumpulkan air ditangannya lalu meraupnya diwajah, terasa dingin, ia hanya menikmati dingin yang sedikit membantu menenangkan.


Setelah beberapa menit dikamar mandi akhirnya ia selesai membersihkan diri dan sekarang ia memilih duduk di daun jendela besarnya yang langsung menghadap ke kolam berenang, sedikit nyaman berada disana.


Ketukan pintu mengalihkan pandangannya, "Fill, kamu sampai kapan mau ngunciin diri," ucap mama dibalik pintu yang Filla tatap.


Filla beranjak dari duduknya dan membuka pintu, sudah cukup ia membuat kedua orangtuanya kawatir dengan keadaannya.


Mama langsung meraih Filla dalam pelukannya, anak semata wayangnya ini ia tahu pasti sedang mengalami masalah berat, "Kamu berenti bikin Mama sama Papa kawatir Filla," ucap mama pelan sambil mengelus pelan puncak kepala Filla.


Filla mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada mama, hangat yang ia rasakan, "Maaf Ma, Filla cuma mau sendiri semalem," jelasnya setelah pelukan mereka terlepas. Filla berusaha tersenyum melihat mama yang terlihat jelas menaruh khawatir padanya.


Mama mengangguk, Setidaknya ia tenang melihat Filla baik-baik saja, "Sekarang kamu mau cerita?" tanya mama sambil membawa Filla duduk diatas kasurnya.


Filla menatap mamanya sambil tersenyum dan mengangguk, "Aku mau belajar pinter," ucapnya membuat kerutan didahi wanita didepannya.


"Aku selama ini bodoh banget Ma, semalem aku merutuki diri aku sendiri yang memilih terkurung dalam memori milikku sendiri, tanpa mau membagi," Filla memegang tangan Mamanya. "Aku berhenti membawa memori itu untuk kehidupan nyataku, sekarang aku mau hidup tenang tanpa ada kesedihan lagi," jelas Filla sambil tersenyum.


Mama mengangguk, "Apapun keputusan kamu, Mama adalah orang pertama yang akan dukung, kamu jangan sedih karena semua ini, Mama taunya anak Mama itu kuat ngadepin apa saja, jaman dulu aja kamu bisa hajar 3 pereman yang mau nyuri tas Mama, masak hal sepele kayak itu kamu kalah," canda mama.


Filla tertawa mengingat kisah dulu saat mamanya berteriak kencang menyelamatkan tasnya, dirinyalah dengan keberanian bahkan hanya berbekal latihan tekwondo 1 bulan berani melawan 3 preman, mungkin hanya keberuntungannya saat itu, "Mama bisa aja," ucap Filla sambil tertawa.


"Nah gitu dong anak Papa mah, harus tertawa, masak kemaren dateng-dateng mata sembab masuk kamar, Papa kira rebutan boneka sama Anggie," celetuk papa saat masuk kedalam kamar secara tiba-tiba dengan leluconnya.


"Ih, Papa mah gitu terus, garing, lwakan bapak-bapak gitu tuh Ma," celetuk Filla sambil tertawa melihat papanya yang pura-pura cemberut.

__ADS_1


Atas apa yang ia lalui beberapa hari terakhir, Filla tak pernah menyesali setiap detik hidupnya, maupun itu hanya sebuah mimpi atau kenyataan, ia mensyukuri semuanya, Tuhan menakdirkannya menjalani kehidupan ini tentu punya maksud dan tujuan, sekarang tugas Filla menjalani dengan ikhlas dan penuh syukur.


******


Jika mengenalmu adalah takdir


Lalu melupakanmu merupakan pilihan terakhir


Ku harap bisa melakukannya.


~~


Filla sejak jam 4 pagi sudah bangun dan mandi, ia akan membiasakan dirinya untuk bangun pagi dan melaksanakan Shalat, menjalankan kewajibannya kepada sang pencipta dan melakukan banyak hal dipagi hari, sebelum ia berangkat ke kampus, seperti pagi ini, setelah mandi dan salat ia turun dan mencoba memasak sarapan, walau sederhana setidaknya ia harus mencoba.


Filla berusaha membuat nasi goreng dan menggoreng telur, dan akhirnya jadi, ia menata diatas meja dengan senang hati, masakan pertamanya untuk mama dan papa, ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja saat mencicipinya.


Filla yang sejak tadi menyadari kehadiran papanya hanya memasang senyum termanisnya, "Iya dong," ucapnya senang. "Mimpi apa kamu?" tanya Papa sambil meletakkan punggung tangannya ke dahi Filla. "Sakit kamu kayaknya," celetuk papa sambil menggeleng.


Filla menampar lengan papanya, "Ih Papa bukannya bangga malah gitu," ucap Filla sambil cemberut.


"Cemberut mulu, entar nggak ada cowok yang nyangkut loh," celetuk papa sambil menarik kursi dan duduk.


"Aduh Mama kesiangan, kita sarapan apa ini," teriak mama dari tangga mengujutkan Filla dan juga papa, mama setengah berlari menuruni tangga.


Filla hanya menggeleng melihat tingkah mamanya, mamanya memang sangat senang menyiapkan sarapan walau sudah ada beberapa ART dirumah mereka, tapi untuk urusan sarapan mama lebih memilih mengerjakannya sendiri karena hanya diwaktu pagi ia bisa menyempatkan diri keluar dari kesibukannya.


"Santai Ma, ni anak kita udah bisa masak," ucap papa sambil menyendok nasi goreng kepiring, papa dengan hati-hati melihat nasi goreng yang dibuat Filla, ia hanya menyendok sedikit keatas piringnya.

__ADS_1


Mama mengerutkan keningnya, ekspresi sama seperti yang ditunjukkan papa tadi saat tahu sudah ada nasi goreng diatas meja, "Filla masak? Mimpi apa?" tanya mama sambil menarik kursi dan duduk, diikuti Filla disebelahnya.


"Kalian mah aneh, masak cuma aku bisa masak aja heboh," celetuk Filla. "Dan Papa, takut amat, dikit banget ambil nasinya, udah aku coba kok, dan lumayan," ucap Filla meyakinkan.


"Setidaknya Papa harus waspada," ucap papa sambil mengejek. Membuat Filla cemberut, papa menyuapkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya, beberapa detik kemudian ia menoleh kearah mama yang menatapnya menunggu reaksi papa. "Enak loh Ma, sumpah," ucap papa sambil menyenduk nasi goreng kedalam piringnya dengan semangat.


"Kan Filla bilang apa? Filla udah belajar dari buku resep Mama," ucap Filla membanggakan diri.


Mama juga menyuap satu sendok kedalam mulutnya, "Iya enak, wah lebih enak dari masakan Mama kalau gini," ucap mama membandingkan masakannya dengan Filla.


Filla tersenyum bangga dengan keberhasilannya kali ini.


"Oiya Fill, kamu kuliah hari ini?" tanya mama masih asik dengan nasi gorengnya. "Kalau masih sakit nggak udah kuliah dulu, istirahat aja," ucap mama menatap Filla khawatir.


Filla menggeleng cepat, "Aku sehat banget ini, lagian Reya kasian Ma nggak ada temen dikampus, secara temennya cuma aku doang," ucap Filla sambil tertawa. "Oiya, aku boleh bawa mobil nggak?" tanya Filla hati-hati.


"Pakai aja Filla, mobil itu kan Papa beli emang buat kamu, kado ulang tahun kamu, jadi dipake jangan dipajang digarasi, menuh-menuhin aja," ucap papa cepat.


Mama menatap heran, "Bukannya kamu nebeng Rangga?" tanya mama.


Filla menggeleng, "Mama lupa? Filla kan mau jadi pinter, dengan nenbeng Rangga, Filla tambah bodoh dong," ucap Filla kembali murung.


"Udah, bener itu Filla, jadi cewek jual mahal, Papa juga nggak tenang liat kamu dibonceng dia, kalau kamu emang pengen naik motor kayak dulu, Papa beliin deh," jawab papa menengahi.


Mama mengangguk setuju, karena ia tahu, Filla dan motor sangat sulit dipisahkan.


"Nggak usah, Filla vakum dari motor, males, lagian Papa kan udah beli mobil, mubazir kalau nggak dipake jadi biar Filla pake mobil itu aja," jelas Filla.

__ADS_1


__ADS_2