
"Aku anter pulang ya?" tanya Rafael saat setelah acara selesai, hanya beberapa orang yang tetap tinggal, bercengkrama satu sama lain.
"Dia bisa pulang sama gue," ucap Rangga yang berdiri disebelah taxi yang sudah ia pesan sebelumnya.
Filla menoleh pada Rangga lalu kembali melihat pada Rafael, "Nggak apa-apa Kak, bisa pulang naik taxi aja, Kakak juga pasti masih banyak hal yang perlu diselesein didalem."
"Yaudah, kamu hati-hati kalau gitu, kabarin kalau udah sampai rumah."
Filla tersenyum, "Yaudah Kak, aku balik dulu," Filla masuk kedalam taxi setelah meraih anggukan Rafael.
Rangga ikut masuk kedalam taxi, mendudukkan diri disebelah Filla, "Nggak usah senyum," ucap Rangga sambil menatap Filla.
Filla mengerutkan kening, "Tambah nggak jelas lo makin malem," ucap Filla kesal sambil melipat tangannya.
Rangga menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi saat taxi mulai berjalan meninggalkan Rafael, "Senyum kamu terlalu manis buat dibagi-bagikan sama semua orang," ucap Rangga dengan mata masih terpejam.
Filla tak menghiraukan ucapan Rangga, dirinya lebih memilih menatap dunia luar dari kaca jendela mobil walau tak bisa ia pungkiri, ucapan Rangga cukup membuatnya terpengaruh.
Rangga yang tidak mendengar jawaban dari Filla membuka matanya, "Aku ngegombal loh ini," ucap Rangga.
Filla menoleh pada Rangga, "Gue nggak peduli," dipalingkannya kembali pandangannya ke kaca jendela mobil.
Supir taxi yang mendengar jawaban dari Filla, berusaha menahan tawanya, namun tetap saja bisa dipastikan mereka mendengar tawa kecil itu.
Rangga menghela napas, lalu kembali menyender.
Dalam diam Filla menahan senyumnya, entah untuk alasan apa, dirinya menyukai waktu yang terasa ingin ia abaikan.
*********
Filla keluar dari taxi tanpa menunggu Rangga, keningnya berkerut saat melihat sebuah mobil terparkir dihalaman rumahnya.
"Ada tamu?" tanya Rangga yang sudah berdiri disebelah Filla.
Filla mengangkat kedua bahunya, "Nih jaket lo, pulang gih," ucap Filla sambil menyodorkan jaket pada Rangga.
"Cuci dulu," Rangga kembali mengembalikan jaketnya kepada Filla.
Filla menghela napas, "Ribet banget hidup lo, sana balik," ucap Filla memaksa sambil mendorong Rangga.
"Aku mau nyapa Mama sama Papamu dulu," Tanpa menunggu Filla, Rangga berjalan masuk kedalam rumah.
"Rangga! Udah pulang aja sana," Filla masih kokoh menarik tangan Rangga.
"Assalamualaikum," ucap Rangga.
Filla dan Rangga sama terdiam saat ruang tamu diisi Vino dan kedua orangtuanya.
"Waalaikumsalam, udah pulang kalian, masuk dulu," ucap mama menengahi.
Filla dan Rangga menyalami para orangtua sebagai sopan santun.
"Filla sudah besar ya, padahal dulu masih sepedaan didepan komplek," ucap wanita paruh baya dengan senyum ramahnya.
Filla hanya tersenyum sambil mengangguk, dirinya tak paham, situasi seperti apa yang ada sekarang, apalagi tatapan tak suka Vino pada Rangga sangat membuat Filla merasa risih.
__ADS_1
"Duduk dulu," ucap papa menepuk sofa disebelahnya.
"Ma, Pa, Rangga pamit pulang ya," ucap Rangga, merasa segan diantara mereka.
"Rangga duduk disebelah Mama, nggak apa-apa," ucap mama menarik tangan Rangga agar duduk disebelahnya.
"Kalian dari mana?" tanya Vino.
Filla memilih diam, dirinya hanya mencoba sopan didepan kedua orangtua Vino.
"Mereka jalan-jalan, biasa anak muda," ucap mama membuat Filla dan Rangga menoleh serentak.
Filla sempat bertemu tatap dengan Rangga, lalu dirinya mengalihkan pandangan.
"Filla masih inget sama Tante? Dulu Filla sering main kerumah loh," ucap wanita paruh baya itu.
Filla tersenyum, "Iya Tante inget kok, Tante sama Om apa kabar?"
"Alhamdulillah, kita semua baik."
Filla hanya mengangguk sambil tersenyum. Filla menoleh pada papa seolah meminta penjelasan.
"Karena Filla sudah ada boleh saya menanyakan pada Filla langsung Om, Tante?" tanya Vino membuat papa mengangguk.
"Fill, Kakak membawa kedua orangtua Kakak berniat melamar kamu," ucap Vino tegas, masih dengan senyum khasnya.
Tentu saja baik Filla ataupun Rangga terkejut dengan ucapan yang Vino lontarkan.
Rangga menggenggam kuat jarinya, geram dengan ucapan yang keluar dari mulut Vino.
Papa menggenggam tangan Filla, seolah memberi Filla ketenangan.
"Begini Filla, Vino berniat baik melamarmu, seperti Vino, kami juga menyukaimu iya kan Ma?" ucap papa Vino sambil tersenyum.
"Benar sekali Filla, Tante malah seneng waktu dengar Vino memberitahu niatnya pada Tante."
"Maaf sebelumnya Om, Tante, yang Filla tahu Kak Vino sudah menikah bahkan memiliki seorang anak."
"Aku sudah menceraikan Salsa, dan dia menerima keputusanku untuk melanjutkan hidup sama kamu," ucap Vino.
Filla menarik napas lalu menatap Vino, "Maaf Kak, hubungan kita berakhir saat Kakak memilih Salsa, lamaran ini, aku tidak bisa menerimanya, maaf Om, Tante," ucap Filla tegas.
Terlihat jelas wajah kecewa Vino, dirinya menatap tak percaya pada Filla.
Mama Vino menghela napas, "Tante tahu pasti sulit nerima Vino dengan statusnya, tapi Vino serius sama kamu Fill," ucap mama Vino meyakinkan.
"Dan Filla serius dengan jawaban Filla Tante, maaf," ucap Filla tegas.
"Apa salahnya? Bukannya kamu juga belum memiliki pasangan?"
Filla menghela napas, jika sudah seperti ini dirinya tak punya jawaban.
"Filla punya pasangan, perkenalkan saya Rangga calon suami Filla," ucap Rangga tegas membuat semua orang menoleh padanya.
Filla tak habis pikir, situasi seperti apalagi yang menantinya, ucapan Rangga benar-benar membuat jantungnya seolah berhenti berdetak apalagi tatapan Rangga begitu tegas dan serius.
__ADS_1
"Kamu jangan ngaku-ngaku, Filla ketemu sama kamu aja muak," ucap Vino tak terima.
"Bisa tanyakan langsung pada Filla."
Mama menyenggol papa lalu tersenyum tipis mendengar ucapan tegas Rangga.
Filla membulatkan mata saat semua orang menatapnya, sekarang semua orang menunggu jawabannya, tentu saja Filla ingin membantah ucapan Rangga, namun disituasi seperti ini ia harus mengiyakan.
Filla mengangguk. Keputusan yang ia anggap paling tepat sekarang.
"Nggak mungkin! Fill jujur sama aku, ini cuma alasan kamu buat nolak lamaranku kan?" tanya Vino mendesak.
Filla memberanikan diri menatap Vino, "Kamu udah denger kan? Kami nggak perlu mengulangi apapun," ucap Filla.
Filla sempat bertemu tatap dengan Rangga, dan ia membenci senyum Rangga sekarang, Filla benar-benar tidak tahu harus dimana menyembunyikan wajahnya, mengiyakan ucapan Rangga.
*********
"Nggak nyangka Papa, kamu bisa tegas juga Ngga," ucap papa menepuk bahu Rangga.
Keluarga Vino akhirnya memilih pulang setelah penolakan Filla.
Rangga tertawa, "Sebelumnya maaf ya Pa, kayaknya itu satu-satunya cara buat mereka nggak menyudutkan Filla."
"Mama malah pengen ngucapin makasih sama kamu Bang, gedek banget Mama, tanpa tahu malu mereka dateng dan bukannya meminta malah memaksa."
Filla hanya diam tanpa mau ikut bergabung dengan obrolan orangtuanya dan Rangga.
"Yaudah, Rangga pulang dulu," Rangga menyalami kedua orangtua Filla.
"Pamit dulu calon istri," ledek Rangga sambil mengacak rambut Filla.
"Rangga!"
Rangga malah tertawa mendengar teriakan kesal Filla. "Yaudah pulang dulu Pa, Ma," Rangga berjalan keluar rumah setelah meraih anggukan papa dan mama.
"Fill, anterin, jangan lupa bilang makasih, kalau nggak ada Rangga, bisa-bisa kamu nikah sama tuh anak," ucap mama bergidik ngeri.
"Rumah cuma disebelah," Filla tetap mengikuti Rangga walau dengan wajah kesalnya.
"Nggak perlu dianter kok, calon suami bisa sendiri," ucap Rangga saat mereka berada di teras rumah.
"Cukup ya Ngga, gue tabok juga lo lama-lama," ucap Filla kesal.
Rangga malah tak bisa menahan tawanya.
"Makasih, tapi nggak seharusnya lo bilang calon suami," ucap Filla tak terima.
Rangga tersenyum, "Kan udah kamu ACC, buktinya kamu membenarkan tadi," ucap Rangga sambil mengangkat kedua alisnya berulang.
"Ngarep, karena terdesak aja tadi," ucap Filla membela diri.
"Anggep aja doa, siapa tahu dikabulin."
Filla menatap Rangga, Rangga benar-benar membuat jantungnya seolah berhenti berdetak untuk kedua kalinya.
__ADS_1
********