Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 195


__ADS_3

Filla mendudukkan diri, dirinya baru saja terbangun karena sinar matahari yang mulai menyilaukan, Filla melirik pada Rangga yang sedang memasang arloji dipergelangan tangannya. Rangga dengan pakaian rapi siap berangkat ke kantornya.


"Kamu masih pake jam itu?" tanya Filla.


Rangga menoleh lalu tersenyum, "Kamu udah bangun? Harus dipake kan dari istri," ucap Rangga sengaja ingin membuat pipi Filla memerah.


"Itukan udah lama banget, nanti aku beliin yang baru deh."


"Walau kamu beli yang baru, jam ini tetep aku pake."


"Suka-suka kamu lah," Filla akhirnya mengalah, toh tidak ada salahnya jika Rangga menyukai arloji itu.


Rangga tersenyum lalu mendekati Filla, "Kamu pulang jam berapa nanti?" tanya Rangga yang sudah mendudukkan diri dikasur sebelah Filla.


Filla menarik tangan Rangga lalu melihat arloji yang Rangga kenakan membuat Rangga tersenyum melihat tindakan Filla. "Sekitar jam empat sore, hari ini ada meeting dengan klien."


Rangga mengangguk, "Aku udah buatin sarapan," ucap Rangga sambil membawa nampan berisi sandwich dan susu coklat yang berada di meja sebelah mereka.


"Harusnya aku yang buatin kamu sarapan," ucap Filla merasa bersalah karena dirinya bahkan baru saja bangun.


"Siapa aja boleh bikin sarapan, lagian kamu pasti capek karena liburan kemarin."


Rangga menyodorkan segelas susu coklat pada Filla.


"Makasih," Filla juga mengambil sandwich buatan Rangga dan mulai melahapnya, Filla menatap Rangga, "Kok enak?" tanya Filla yang sekali lagi menyuap sandwich kedalam mulutnya.


Rangga tertawa, "Seenggak enak itu biasanya?" tanya Rangga.


Filla memamerkan gigi rapinya lalu mengangguk pelan membuat Rangga mengacak rambutnya. "Kayaknya bakat masak kamu didalem mimpi udah mulai terlihat."


"Semoga aja ya, biar bisa bikinin kamu makanan enak kayak dulu."


"Kamu nggak sarapan?" tanya Filla masih mengunyah sandwich.


"Nanti aja dikantor."


Filla mengambil sandwich baru diatas piring lalu menyodorkannya didepan mulut Rangga.


"Itu buat kamu," ucap Rangga menolak.


Filla menggeleng, "Aku udah kenyang."


Rangga akhirnya mengangguk saat melihat wajah memelas Filla yang begitu imut menurutnya.


"Gimana enak?" tanya Filla antusias.


Rangga mengangguk, "Lumayan, nggak enak-enak banget, cuma bisa ditelen aja," Rangga mengambil segelas susu coklat ditangan Filla lalu meminumnya. "Udah, nggak usah dimakan lagi," ucap Rangga setelah tahu sandwich buatannya jauh dari kata enak.


Filla tertawa, "Enak kok," Dimakannya lagi sandwich yang sempat ia abaikan.


"Kalau kamu bisa bilang ini enak, berrti kemaren-kemaren kamu benar-benar tersiksa sama masakanku."


Filla tertawa melihat wajah khawatir Rangga, "Beneran enak kok, lagian dari dulu kan aku emang suka masakan kamu, mukanya jangan gitu," Filla mencubit gemas pipi Rangga membuat Rangga mengacak rambut Filla gemas.

__ADS_1


********


Rangga memarkirkan mobil didepan butik milik Filla dan Iren, "Makan siang nanti aku jemput."


Filla mengangguk, "Kamu hati-hati dijalan," ucap Filla sambil mencium tangan Rangga, walau masih canggung, Filla selalu membiasakan diri melakukannya.


Rangga langsung mencium puncak kepala Filla, "Shamponya wangi."


Filla tertawa, "Apasih Ngga? Random banget."


Rangga ikut tertawa.


"Yaudah aku masuk dulu, kamu hati-hati," Filla membuka pintu mobil namun tangannya ditahan Rangga.


Filla mengerutkan kening, "Kenapa?" tanyanya heran.


Rangga malah mendekatkan diri pada Filla lalu mencium kening Filla.


"Rangga," Filla menyembunyikan wajahnya setelah Rangga memundurkan tubuhnya.


Rangga tersenyum, "Gih sana, tuh Iren udah nungguin, semangat kerjanya istriku," ucap Rangga.


"Aku duluan," Filla dengan wajah semerah tomat akhirnya keluar dari mobil meninggalkan Rangga yang tanpa ia ketahui juga salting karena ulahnya sendiri.


Setelah mobil Rangga keluar dari halaman butik, Filla memegang wajahnya, "Sadar Filla," Filla menepuk pelan pipinya sendiri.


"Gue liat-liat lagi berbunga keknya," ledek Iren yang sedang merapikan beberapa busana.


"Gimana nih perkembangan hubungan lo sama Rangga si batu es? Apakah beku kayak sikapnya?" Iren menyenggol lengan Filla.


"Rangga nggak sebeku itu kok," Filla kembali tidak bisa mengondisikan senyumnya.


Iren tersenyum meledek, "Ini Rangga yang nggak beku atau lo yang berperan mencairkan?"


"Apasih Ren? Udah ah, lanjut kerja," Ucap Filla berusaha menghindar agar Iren tak lagi menjadikan saltingnya sebagai ledekan.


******


"Udah waktunya makan siang," ucap Iren sambil melihat arloji dipergelangan tangannya.


Filla ikut melihat arloji putih dipergelangan tangannya.


"Mau makan apa nih?" tanya Iren antusias.


Filla tersenyum pada Iren, "Sorry, gue udah janji sama Rangga buat makan siang bareng."


"Ih, tau gitu gue ajak Glen, lo mah mentang-mentang punya suami, makan siang aja sama suami," ucap Iren sambil melipat tangan.


"Sorry, tadi pagi Rangga yang ngajakin," Filla memasang wajah merasa bersalah.


"Biasa aja kali, gue juga mau makan siang sama Glen," ucap Iren santai.


Filla tanpa segan menampar lengan Iren, "Resek lo, gue udah ngerasa bersalah."

__ADS_1


Iren tertawa, "Gih sana, tuh Suami lo udah nunggu diluar."


Filla ikut menoleh pada mobil yang berhenti didepan butik mereka, "Gue duluan, lo jangan lupa makan juga," Filla memegang bahu Iren.


Iren mengangguk, "Iya bawel, gih sana," Iren mendorong tubuh Filla membuat Filla tertawa. "Jangan lama-lama, inget jam makan siang cuma sampai jam satu," teriak Iren.


Filla hanya menyatukan telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O dan membiarkan ketiga jarinya berdiri, seolah isyarat mengiyakan ucapan Iren.


*******


Filla dan Rangga duduk disalah satu restoran yang cukup terkenal di Jakarta.


"Kamu mau makan apa?" tanya Rangga sambil melihat menu yang berjejer dibuku menu.


"Steak, minumnya-," Filla belum sempat menyelesaikan ucapannya.


"Jus alpokat," tebak Rangga.


Filla mengangguk, Rangga lalu memesan makanan yang Filla dan dirinya inginkan.


"Kamu tahu darimana aku suka jus alpokat?" tanya Filla penasaran.


"Kalau itu rahasia."


Filla menghela napas, mau bagaimana lagi? Dirinya menikahi pria tanpa ekspresi ini yang artinya menerima semua sikap menyebalkan yang ada.


"Gimana kerjaan di butik?" tanya Rangga.


"Alhamdulillah lancar, kerjaan kamu?" tanya Filla, sambil mengaduk jus alpokat yang duluan datang diatas meja.


"Aman terkendali."


Akhirnya makanan mereka berdua datang, Filla yang memang sangat menyukai steak tanpa menunggu lama langsung memotongnya.


Rangga malah menukar makanan miliknya yang sudah dipotong dengan makanan Filla, "Makan yang banyak," ucap Rangga sambil tersenyum.


"Makasih," Perlakuan seperti ini yang membuat Filla berbunga didalam sana, Rangga memang pria dingin tanpa ekspresi dimanapun, namun sangat perhatian membuat Filla meleleh.


"Nanti pulangnya aku jemput, jangan pake taxi online atau ojek, tunggu aku, terlalu bahaya kalau kamu sendirian," ucap Rangga sambil memotong steak miliknya.


Beginilah sikap Rangga, selalu over protektif terhadap Filla, namun Filla sangat menyukainya, "Besok-besok aku bawa mobil aja, kamu nggak perlu jemput juga, kasian kamunya beda arah."


Rangga menggeleng, "Aku bisa jemput, bahaya kamu nyetir sendiri," ucap Rangga lembut.


"Kamu lupa aku pernah jadi anak rantau, diluar negeri lagi, jadi naik taxi atau nyetir sendiri aku udah biasa," ucap Filla tak mau kalah, sebenarnya dirinya kasian dengan Rangga harus menjemputnya setiap hari.


"Karena kamu dulu mandiri, sekarang aku mau kamu bergantung sama aku, aku suka jemput kamu kalau pulang kerja," ucap Rangga.


Filla tersenyum, "Iya deh nyerah, suka-suka kamu."


"Nah gitu dong, kan tambah cantik," Rangga mengusap puncak kepala Filla sambil tersenyum senang.


********

__ADS_1


__ADS_2