Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 150


__ADS_3

Filla memainkan ponselnya, sebenarnya tidak ada yang ia lakukan, hanya berusaha menyibukkan diri agar waktu cepat berlalu dan membiarkannya bernapas lega.


"Hmm," dehem Rangga.


Filla tahu pasti Rangga ingin mencairkan suasana yang terasa canggung namun Filla lebih memilih mengabaikannya.


"Fill," panggil Rangga.


Filla menoleh, "Hmm," dehem Filla sambil menatap Rangga.


"Kamu masih marah atau nyinpen dendem sama aku?" tanya Rangga.


Filla mengerutkan keningnya, lalu menggeleng, "Buat apa?"


Rangga tersenyum, "Syukurlah kalau gitu," Rangga kembali menatap jalanan. "Makasih ya udah milih aku tadi," ucap Rangga masih dengan senyumnya.


Filla menghela napas, "Gue cuma nggak punya pilihan lain tadi."


Ada rasa kecewa yang dirasakan Rangga saat mendengar jawaban Filla, "Kamu bisa bareng dia," ucap Rangga.


"Dan jadi omongan orang? Nggak punya waktu gue," ucap Filla.


"Fill, aku masih berharap sama hubungan kita," ucap Rangga memberanikan diri.


Filla sedikit terperangah mendengar pengakuan Rangga, didalam sana terasa berdegup kencang, sekali lagi dinding jarak yang Filla bangun begitu tinggi terasa goyah.


"Aku serius," tambah Rangga sambil menatap Filla disebelahnya yang tak bergeming.


Filla menatap Rangga lalu berusaha tersenyum "Kita udah sama-sama dewasa Ngga, dan hubungan yang lo maksud adalah masa lalu," ucap Filla lalu mengalihkan pandangannya.


Rangga terdiam, ia lebih baik mendapat umpatan dari Filla dari pada mendengar ucapan tegas dari Filla. "Bagiku kamu bukan masa lalu."


"Ngga-," ucapan Filla terhenti saat Rangga menatapnya.


"Hak aku Fill," ucap Rangga tegas membuat Filla hanya bisa menghela napas dan memilih diam.


*******


Mobil Rangga memasuki halaman rumah Filla, setelah percakapan terakhir mereka memilih diam satu sama lain.


Filla melepas sabuk pengamannya, "Makasih," ucap Filla sambil membuka pintu mobil lalu keluar. Filla mendekati bagasi mobil Rangga.


"Biar aku aja," ucap Rangga sambil membuka bagasi dan menurunkan beberapa koper Filla.


Filla mengambil kopernya dari Rangga, "Aku bisa sendiri, makasih," ucap Filla lalu menarik kopernya masuk kedalam rumah meninggalkan Rangga, Namun dirinya tentu saja kesusahan membawa dua koper sekaligus.

__ADS_1


Rangga mengikuti Filla dibelakang, dirinya tak bisa menyembunyikan senyum melihat tingkah Filla, "Sini biar aku aja," ucap Rangga sambil mengambil koper dari Filla.


Filla ingin menggeleng dan merebut kembali kopernya, namun sepertinya ia harus mengalah kali ini. "Makasih, sampai sini aja," ucap Filla sambil mengambil kembali kopernya, lalu berdiri diambang pintu.


Filla menoleh saat mendapati Rangga masih berdiri dibelakangnya lalu mengerutkan keningnya, "Lo mau masuk?" tanya Filla.


Rangga mengangguk, "Ayo, nunggu apa?" ucap Rangga berjalan melewati Filla masuk kedalam rumah.


Sekarang malah Filla yang membuntutinya dengan wajah penuh tanya.


"Assalamualaikum," ucap mereka bersamaan.


"Waalaikumsalam, Filla," teriak mama terlihat jelas dirinya begitu senang melihat Filla akhirnya pulang.


"Mama," ucap Filla sambil tersenyum, mereka berpelukan cukup lama melepas rindu. "Mama kangen," ucap Filla sambil mencium pipi mama.


"Mama juga kangen banget Kak, kamu susah banget kalau disuruh pulang," celetuk mama.


Filla tertawa mendengar ocehan mama.


"Papa, cepetan ini Filla udah nyampe," ucap mama sambil sedikit berteriak.


Terdengar langkah kaki papa, "Kok nggak bilang sih? Kakak," ucap papa yang langsung merentangkan tangan.


"Makan terus Kak, gimana nggak gemuk," ucap mama.


"Yang penting sehat," ucap papa tak mau kalah membuat mama dan Filla tertawa. "Kalian pasti capek, ayo duduk dulu di ruang keluarga," ajak papa sambil merangkul Filla dan Rangga.


Filla sedikit terkejut melihat kedekatan papa dan Rangga, namun dirinya membuang jauh semua tentang Rangga. Hanya dua minggu Fill, pasti bisa, batin Filla.


Filla duduk disebelah mama, mama sejak tadi tersenyum menatap Filla membuat Filla ikutan tersenyum sambil mengusap tangan mama. "Oiya, Tita mana?" tanya Filla sambil melihat sekeliling.


"Les Kak, hampir aja maksa buat bolos, mau nungguin kamu, paling bentar lagi pulang," ucap mama sambil melihat arloji di pergelangan tangannya.


"Akak," teriak Tita yang langsung memeluk leher Filla.


Filla memegang tangan Tita lalu tersenyum, "Sini," ucap Filla menarik Tita agar berada dihadapannya. "Kakak kangen banget," ucap Filla memeluk Tita erat sambil menciumi Tita dengan gemas.


"Tita juga kangen banget," ucap Tita memeluk Filla dengan manja membuat yang lain tersenyum. "Kakak udah lama sampai? Mama sih, Tita kan cuma pengen bolos sehari doang," ucap Tita memasang wajah cemberut menatap mama.


"Baru kok Ta, lagian nggak boleh bolos dong, kan buat Tita juga biar pinter," ucap Filla sambil mengusap puncak kepala Tita.


Tita akhirnya tersenyum, "Iya deh, tapi benaran kan baru sampe? Serius Bang?" tanya Tita pada Rangga yang duduk disebelah papa.


Rangga mengangguk, "Iya Ta," ucap Rangga membuat Tita tersenyum lalu memeluk Filla erat.

__ADS_1


"Udah pelukannya, kita makan siang dulu, kalian belum makan kan? Kenapa nggak makan siang dulu di perjalanan?" tanya mama.


"Filla nggak mau Ma," adu Rangga.


Filla mengerutkan kening, sejak kapan Rangga memanggil mamanya dengan sebutan mama, tiga tahun membuat Filla mendapat banyak kejutan sepertinya.


"Yaudah, yuk makan dulu, Mama udah masak banyak," ucap mama sambil berjalan menuju dapur.


Mereka semua akhirnya berjalan menuju meja makan dan menempatkan diri pada posisi masing-masing, Rangga duduk tepat disebelah Filla membuat Filla sedikit merasa canggung, padahal banyak kursi kosong lainnya yang bisa Rangga tempati.


Filla beranjak dari duduknya lalu berjalan ke dapur lebih baik membantu mama sekarang, tidak baik untuk jantungnya jika terus berdekatan dengan Rangga.


"Ma, sini Filla bantu," ucap Filla sambil berjalan mendekati mama yang menyiapkan beberapa lauk, memindahkannya kedalam mangkuk.


"Udah, kamu tunggu aja Kak, pasti capek kan?"


Filla menggeleng, "Filla sempet tidur di mobil kok, jadi aman," ucap Filla jujur.


"Yaudah, tunggu bentar mama siapin lauknya dulu," ucap mama sambil berjalan mengambil mangkuk.


"Oiya, Bi Surti mana?" tanya Filla karena biasanya bi Surti lah yang akan menyiapkan makan siang walau mama yang memasak.


"Bi Surti pulang kampung Kak, kasian udah lama nggak jumpa keluarga, jadi Mama izinin pulang," jelas mama sambil menaruh lauk diatas meja.


Filla mengangguk, "Ma, kenapa Rangga yang jemput?" tanya Filla memberanikan diri.


Mama menoleh sebentar lalu tersenyum, "Kamu keberatan?" tanya mama.


Filla memilih diam, karena menjawab tidak jujur pun mama pasti akan bisa membacanya.


"Dia sendiri yang minta," ucap mama.


Filla mengerutkan kening, "Bukannya karena Pak Mamat nggak bisa jemput?" tanya Filla penasaran.


Mama berdiri disebelah Filla lalu tersenyum, "Pak Mamat bisa jemput kok, cuma karena Rangga memaksa sejak kemarin, dan minta izin sama papa dan mama jadi apa salahnya," jelas mama. "Kenapa? Rangga baik kok Kak, selama kamu nggak ada, dia selalu nemenin mama dan Tita," ucap mama. "Dia juga sering bantuin kerjaan Papa di kantor."


Mendengarnya tentu saja Filla sedikit terkejut, "Hmm," dehem Filla, dirinya tidak tahu harus berkata apa.


"Kamu masih marah sama Rangga?" tanya mama sambil menatap Filla.


Filla menggeleng lalu tersenyum, "Nggak kok Ma, cuma aneh aja," Filla mengangkat kedua bahunya.


Mama tersenyum lalu mengacak rambut Filla.


*******

__ADS_1


__ADS_2