Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 44


__ADS_3

"Gue ke toilet dulu," ucap Rangga berjalan meninggalkan Filla yang masih menikmati hidangan makan malamnya.


Ponsel Rangga yang tergeletak diatas meja memainkan musik kesukaan Rangga, Filla mendonggak melihat layar ponsel yang menyala terang.


Filla menghembuskan napas saat melihat nama Vebi disana, yang membuat sesak ada *emotico*n hati disamping nama Vebi, harusnya Filla tahu ini ujungnya.


Filla menoleh ke pintu toilet yang tak kunjung menampakkan Rangga sedangkan ponsel Rangga terus berdering.


Filla memberanikan diri mengambil ponsel Rangga dan menjawab panggilan dari Vebi, "Halo Vebi," sapa Filla pelan.


Vebi hanya terdiam sebentar, "Filla?" tanyanya dengan nada tak suka.


"Iya, Rangga lagi di toilet," ucap Filla menjelaskan tanpa diminta.


"Ngapain lo di apartemen Rangga? Rangga masih ngijinin? Jangan bilang lo masih tahu pasword apartemen Rangga?" tanya Vebi, terdengar jelas nada kesal disetiap ucapannya.


"Fill, ngapain?" tanya Rangga sambil menarik ponselnya yang Filla pegang.


Filla terdiam menatap bingung wajah Rangga yang tiba-tiba murka.


"Bi nanti aku jelasin," ucap Rangga terlihat jelas wajah khawatir disana.


Rangga menghembuskan napas kasar, sepertinya Vebi memutuskan hubungan telpon dengan Rangga.


"Fill ngapain sih langcang banget main angkat aja?" tanya Rangga.


Filla bernapas pasrah, "Ponsel lo bunyi dari tadi, dan lo nggak keluar-keluar dari toilet, gue inisiatif angkat," ucap Filla menjelaskan.


"Inisiatif nggak guna lo itu yang selalu bikin gue susah," ucap Rangga lalu berjalan memasuki kamarnya dan membanting pintu.

__ADS_1


Filla terdiam merasakan sesak yang terasa akrab sejak rasa ini mulai tumbuh, Filla menertawai hatinya yang bodoh akan Rangga.


******


Filla dengan langkah gontai menatap pintu apartemennya yang tak kunjung terbuka dan memperlihatkan Rangga, sudah sejak pagi Rangga tidak masuk ke apartemennya seperti biasannya untuk memasak. Mungkin Rangga masih sebal padanya soal semalam, tapi Rangga tidak pernah mendiaminya sampai tidak membuat sarapan untuk mereka berdua.


Perutnya sudah berteriak sejak tadi minta diisi dan sekarang sudah sangat malam dan terlalu malas untuk keluar membeli makanan, memang malam ini dia tidak bekerja, sesekali ia menatap pintu lagi lalu bernapas pasrah.


"Kayaknya harus gue yang kesana atau nggak gue mati kelaparan," ucap Filla berbicara pada dirinya sendiri. Dengan langkah cepat ia keluar dari apartemen dan menghampiri apartemen Rangga.


Tanpa basa-basi ia menekan pasword pintu Rangga dan masuk kedalam.


Filla melihat sekeliling dan menemukan Rangga yang tertidur diatas sofa, "Ngga bangun," Filla menarik tangan Rangga agar Rangga bangun dari tidurnya.


Rangga mengerjapkan matanya beberapa kali, "Apaan sih, sana, gue nggak mau liat muka lo," ucap Rangga sambil membalikkan tubuhnya memunggungi Filla.


"Gitu banget sih Ngga, gue laper ni, lo kok nggak masakin buat gue, ayolah urusan pribadi jangan digabungin sama urusan perut," rengek Filla yang tak digubris Rangga sama sekali.


Rangga bangkit dari tidurnya dan menatap geram Filla, "Bisa nggak, nggak usah kekanakan? Lo harus tahu batasnya, gue bukan Rangga yang akan selalu nurutin apa mau lo, saat lo marah dan gue akan selalu membujuk lo, saat gue yang marah lo akan bersikap biasa-biasa aja dan ngerengek, ada saatnya gue juga capek harus ikutin mau lo!" ucap Rangga tegas.


Filla menatap Rangga lekat, "Lo gitu banget sih? Lo berubah ketika ada Vebi," ucap Filla dengan geram, seresek apapun Rangga, Filla tak pernah mendapati Rangga dengan tatapan itu untuknya.


"Nggak ada orang yang merubah apapun, gue cuma mau lo mandiri, kan lo yang bilang pengen mandiri. Ini madiri apaan ngurus makan sendiri aja nggak bisa," ucap Rangga benar-benar tegas menatap manik mata Filla.


Filla beranjak dari duduknya, "Oke gue nggak akan minta bantuan lo, dan maaf selalu ngerepotin!" ucap Filla lalu meninggalkan Rangga.


Saat dikamar Filla menitikkan airmatanya, entahlah, tatapan Rangga tadi seperti memutuskan semua yang sudah terjadi diantara mereka. Diambilnya jaket dan berjalan meninggalkan apartemennya, saat ini dia butuh udara segar.


Filla menatap lurus sungai yang ada didepannya, menatap Singapure Plyer yang sangat terang, sekarang ia duduk dibangku kosong, sendiri didinginnya malam, cahaya hanya remang-remang dari lampu disekeliling pagar sungai. Memang banyak orang disekelilignya, walau sudah sangat malam tapi begitulah tempat ini, masih ramai orang-orang yang menikmati malam setelah lelah bekerja disiang hari.

__ADS_1


"Semuanya berubah hanya dengan satu kalimat," ucapnya masih menatap lurus kedepan. Sejak tadi ia menangis mengingat ucapan Rangga, memang bukan hal yang besar untuk ditangisi, tapi ucapan Rangga seperti menancap kuat pada hatinya hingga membuatnya merasa sesak.


Filla beranjak dari duduknya dan berjalan menyusuri jalan yang temaram, sudah cukup ia menangis dan kedinginan, sudah seharusnya ia melangkah pulang. Fokusnya hanya tertuju pada ucapan Rangga, "Apa selama ini aku menyusahkannya?" tanyanya pada diri sendiiri.


"Apa dia selalu merasa terbebani?" tanyanya lagi, lalu ia menunduk mengingat semua ucapan Rangga, dan sekarang ia paham, Rangga juga butuh ketenangan tanpanya. Ya, sejauh ini dia selalu bergantung pada Rangga, menyusahkan Rangga.


Filla menyipitkan matanya saat melihat Rangga dengan beberapa orang berdiri dibawah lampu jalan ditengah lorong yang sempit.


Kerah baju Rangga sepertinya ditarik, Filla mempercepat langkahnya menghampiri Rangga. "Rangga!" teriak Filla saat Rangga terduduk setelah melayangnya satu lukulan dari pria tinggi didepan Rangga.


"Filla lari," teriak Rangga dengan napas terengah.


Filla tak menghiraukan dan mempercepat langkahnya menghampiri Rangga, tapi tangannya dicekal kuat sehingga langkahnya terhenti, "Lepas!" bentaknya keras sambil menghentak kuat tangannya sehingga terlepas dari genggaman pria tinggi didepannya.


"Orang Indonesia Bro," ucap pria itu pada temannya sepertinya mereka juga orang Indonesia pikir Filla. Lalu mereka mendekat pada Filla.


Filla berusaha menjauh dengan terus berjalan mundur, "Jangan, atau saya teriak," ancam Filla yang membuat lelaki itu tertawa keras.


"Teriak aja, lo pikir ada yang dengar?" ucapnya meremehkan Filla yang terlihat sangat ketakutan. Sekarang mereka memang berada ditempat yang sangat sepi, karena jalan ini termasuk jalan gang sempit yang sepi.


Pria itu mendekat dan mencekal tangan Filla sambil tertawa, Filla masih berusaha melepaskan tangan dua pria tersebut, tapi tenaganya tidak cukup kuat mengalahkan mereka yang berbadan besar.


"Lepaskan dia!" bentak Rangga keras dalam keadaan duduknya sambil memegang dada.


Pria itu tertawa, dengan cepat pria tinggi berkumis melemparkan satu pukulan pada Rangga, lalu pria itu menarik pisau dari pinggangnya dan bermaksud menyerang Rangga.


"Berhenti," ucap Filla sambil menghalangi pisau itu mengenai Rangga, alhasil pisau itu menggores pergelangan tangannya, "Aw ...!" Filla mengaduh kesakitan, menggenggam pergelangan tangannya yang semakin banyak mengeluarkan darah segar.


"Filla ...!" teriak Rangga sambil berdiri menghampiri Filla.

__ADS_1


Pria itu berlari melihat Filla yang mengaduh kesakitan.


__ADS_2