
"Urusannya sama kamu apa?" ucap Filla sambil menatap dalam mata Rangga.
Rangga menghela napas, "Fill, kita sama-sama tahu posisi seperti apa yang kita punya masing-masing, setidaknya ketika kamu memutuskan untuk melupakan aku, pilih orang yang lebih baik dari aku," ucap Rangga.
"Dia nggak ada bedanya sama lo, cuma bisa nyakitin hati orang lain," ucap Filla pedas.
Rangga mengalihkan pandangannya dari Filla, menghirup udara berusaha mengurangi sesak mendengar ucapan Filla, "Ya, semua salah aku yang nggak bisa inget kamu," ucap Rangga. "Tapi aku nggak bisa apa-apa Fill, ingatan itu pergi dan sekarang seenaknya kembali, seperti aku yang berusaha agar kamu jauh dari hidup aku dan sekarang dengan egoisnya ingin kamu kembali."
Filla menatap mata Rangga, tidak ada kebohongan disana namun hatinya sudah terlalu lelah berurusan dengan cinta.
"Gue nggak bisa kembali Ngga, kalau gue kembali menjadikan lo istimewa nggak ada jaminan gue bisa bertahan, terlalu sulit Ngga disamping lo, ketika gue kembali, usaha selama ini sia-sia," ucap Filla lirih.
Mendengarnya ada bagian dari diri Rangga yang hancur, ucapan yang tidak ingin dia dengar dari Filla akhirnya terucap.
Filla menghapus airmatanya, "Please jangan pernah ada di kehidupan gue lagi, cukup lo jadi Rangga yang menganggap gue nggak pernah ada," ucap Filla lalu berbalik hendak meninggalkan Rangga, sampai ucapan Rangga menghentikan langkahnya.
"Andai aku bisa memutar waktu, aku akan memilih untuk tidak pernah bertemu kamu, karena aku awal dari semua rasa sakit yang kamu punya."
Filla menghapus airmatanya lalu melangkah meninggalkan Rangga.
Setelah berjalan cukup jauh, Filla mendudukkan diri di halte bus.
Rangga menatap Filla yang duduk di halte bus, Rangga masih setia melihat pergerakan Filla, jika Filla tidak ingin melihat dirinya maka hanya dengan mengawasi dari jauh yang dapat ia lakukan.
Rangga harus memastikan Filla pulang kerumah dengan selamat, rasanya sesak melihat Filla menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyembunyikan tangisannya.
Airmata Rangga menetes perlahan, rasa bersalah menggerogoti tiap inci hatinya, memori tentang penolakannya terhadap Filla terlalu membekas untuk tidak terputar kembali didalam otaknya.
Filla meronggoh ponselnya didalam tas, sudah banyak panggilan tak terjawab dari sahabat-sahabatnya dan terutama dari Vino, bahkan Salsa juga ikut menghubunginya.
Filla tak memperdulikan semua panggilan yang ada, dirinya mencari nama Pak Mamat dikotak panggillan lalu menghubunginya.
Setelah menelpon pak Mamat, Filla melihat sekeliling, terasa sepi hanya beberapa kendaraan yang lewat.
__ADS_1
Filla menggosok kedua lengannya mengusir ras dingin yang mulai mengusiknya.
Seorang pria duduk disebelah Filla, mulai ada rasa was-was ketika pria itu perlahan mendekati Filla dengan menggeser duduknya.
Filla menoleh ketika jas milik Rangga sudah tersampir di bahunya, Filla hampir melepasnya sampai tatapan dan tangan Rangga menghentikannya.
"Anggep kebaikan sesama manusia," ucap Rangga.
Rangga duduk diantara Filla dan pria tersebut, membuat pria tersebut memundurkan kembali duduknya lalu berjalan meninggalkan Filla dan Rangga tanpa kata.
"Gue nggak butuh kebaikan manusia untuk saat ini," ucap Filla tegas sambil melepas jas Rangga dan menyodorkannya pada Rangga.
"Jangan keras kepala, entar kamu sakit," ucap Rangga kembali memasang jasnya pada bahu Filla. Rangga memegang tangan Filla ketika Filla masih keras kepala melepas jasnya. "Aku nggak mungkin biarin kamu sendiri dan kedinginan Filla, jadi aku mohon kali ini aja," ucap Rangga tegas.
Filla menghela napas lalu menatap lurus kedepan tanpa memperdulikan Rangga.
Mereka diam bersama sunyinya malam hanya suara kendaraan yang berlalu lalang.
Tinnn...
Filla mengangguk, "Langsung pulang Pak," ucap Filla sambil berjalan meninggalkan Rangga, namun belum beberapa langkah dirinya kembali pada Rangga sambil melepas jas Rangga yang tersampir dibahunya. "Makasih," ucap Filla lalu kembali berjalan meninggalkan Rangga setelah meraih anggukan.
Rangga menatap mobil Filla yang perlahan menghilang karena jarak, Rangga menghela napas lalu tersenyum saat melihat jasnya.
******
Setelah dua hari kejadian di pesta, Filla masih betah mengurung diri dikamar, dirinya tak berniat keluar sedikitpun bahkan saat sahabat-sahabatnya memaksa sekalipun.
Suara ketukan pintu membuat Filla menoleh.
Mama berjalan mendekati Filla, lalu duduk di ranjang Filla membuat Filla ikut duduk disebelah mama.
"Kenapa?" tanya Filla.
__ADS_1
"Didepan ada Salsa," ucap mama. "Kamu harus terima apapun yang terjadi ya Kak, seperti yang Mama bilang ke kamu, kamu harus bersyukur di tunjukkan hal seperti ini sekarang, dari pada semakin terlambat," ucap mama sambil mengusap puncak kepala Filla.
Filla memang tidak menutupi satu ceritapun pada mama, Filla sudah menceritakan semua yang terjadi pada mama dan papa. Tentu saja keduanya terkejut dengan ucapan Filla namun selalu mendukung dengan apa keputusan yang Filla ambil.
Filla mengangguk, "Iya Ma, Filla akan temui Salsa."
Mama tersenyum, dirinya bangga pada Filla yang memilih untuk tidak menghindar pada masalah yang sedang ia hadapi.
Filla menghentikan langkahnya diambang tangga lalu menghela napas, ia harus benar-benar bersikap dewasa untuk setiap masalah yang ada.
"Kak Filla," ucap Salsa pelan saat Filla duduk dihadapannya.
Filla diam menatap Salsa, dirinya sendiripun tak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang, mungkin terlalu lelah dengan semua yang terjadi.
"Kak Maaf," ucap Salsa sambil menunduk.
"Yang mau aku denger bukan cuma kata maaf, jadi berhenti minta maaf dan katakan apa yang mau kamu sampein sampai datang kerumahku?" ucap Filla dingin.
Salsa mengangguk, "Aku nggak tahu harus ngomong apa ke Kakak selain maaf, ini semua salah aku."
Filla menatap Salsa yang masih belum berani bertemu tatap dengan dirinya.
"Sejak pertama lihat Kak Vino di kampus, aku udah suka sama dia, sampai aku cari tahu semua hal tentang dia, Hari itu, aku liburan di Singapura sengaja karena tahu Kak Vino disana sendiri tanpa Kakak," ucap Salsa lalu memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap mata Filla walau kembali menunduk.
Filla diam, dirinya bahkan tidak bisa memasang ekspresi seperti apapun sekarang.
"Ini semua salahku, aku sengaja cari tahu semua kegiatan Kak Vino selama disana, sampai aku nemuin dia mabuk di sebuah cafe."
Filla Sedikit terkejut mendengar pengakuan Salsa tentang Vino, yang Filla ketahui, Vino adalah tipe lelaki yang tidak pernah menyentuh minuman haram itu sekalipun.
"Dan dengan bodohnya, aku nyamperin dia, berinisiatif bawa dia pulang ke hotel tempat Kak Vino menginap, akhirnya kami melakukan hal yang harusnya tak pernah terjadi," Salsa tak bisa menahan isak tangisnya. "Maaf Kak, gara-gara rasa sukaku, aku menyakiti Kakak dan Kak Vino."
Filla menghela napas, rasanya bercampur aduk ketika seseorang yang dirasa tidak akan pernah menyakiti malah sebaliknya.
__ADS_1
Salsa memegang tangan Filla, menatap mata Filla masih dengan tangisnya, "Aku tahu Kak semua salah aku, tapi aku mohon bantu aku," ucap Salsa pelan nyaris tak terdengar.
********