
Rangga tak memperdulikan sikap Filla dan mulai membuka menu mencari menu makan siangnya.
Rangga menutp buku menu ketika teringat sikap Filla didepan Kania, "Lo kenapa tadi sok kenal, malu-maluin aja," ucap Rangga dengan wajah kesal terlihat jelas.
Filla mengerutkan keningnya, "Ya emang kenal, nggak salah dong di sapa?" celetuk Filla sambil membuka buku menu yang ada diatas meja.
"Kenal dari mana? Dan lo tahu Kania juga kenalan gue? Secara kita nggak pernah ketemu Kania diwaktu yang sama," tanya Rangga akhirnya karena dari tadi dia sudah menahan menanyakan hal aneh ini.
"Kamu yang kenalin," celetuk Filla malas.
"Kenalin gimana? Gue juga nggak kenal lo, aneh banget lo bis-," ucap Rangga terpotong saat mengingat sesuatu. "Mimpi?" tanyanya dengan serius.
Filla mengangguk mengiyakan.
Rangga bernapas pasrah, "Masih sama omong kosong lo itu, mimpi selama koma dan ternyata benar dikehidupan nyata? Nggak masuk akal," ucap Rangga kesal, ia bersender dibangkunya merasa lelah dengan omong kosong Filla.
"Nggak percaya ya udah, emang gitu adanya, kalau nggak gitu aku tahu dari mana coba?" tanya Filla sambil menaikkan kedua alisnya.
Rangga mengkerutkan dahinya, "Ada jawaban yang lebih masuk akal, lo stalker -in gue,” celetuk Rangga.
Filla tertawa dibuatnya, "PD amat Mas, ogah banget aku stalker -in orang kayak kamu," ucap Filla masih dengan tawanya.
"Setidaknya lebih masuk akal dari pada penjelasan kamu tentang mimpi," Protes Rangga lalu memilih memanggil pelayan. "Pesen apa?" tanya Ranga ketus.
"Samain aja," ucap Filla. "Lagian Kapan coba aku stalker-in kamu? kita nggak pernah ketumu dan kenal sebelumnya," jawab Filla sambil menuangkan air putih kedalam gelasnya.
"Yang penting lebih masuk akal daripada kebohongan lo tentang mimpi," ucap Rangga.
"Aku nggak bohong ya Ngga," ucap Filla menatap lekat Rangga, tak terima dicap sebagai pembohong.
Rangga menaikkan kedua bahunya tanda tak peduli.
Tak memakan waktu lama makanan mereka datang, Rangga ternyata memesan spageti, jus mangga dan es krim.
"Gue nggak tahu ya lo mau suka atau nggak, kan lo bilang terserah gue," ucap Rangga saat menyantap spagetinya.
"Iya, suka kok," jawab Filla yang juga ikut memakan spagetinya.
Mereka makan dalam diam, mereka sibuk dengan makanan mereka masing-masing, tanpa suara, sesekali Filla mengajak Rangga berbicara tapi Rangga ya tetap pada sikap dinginya yang hanya menjawab dengan deheman.
__ADS_1
Filla selesai dengan makanannya, ia mengambil es krim yang dipesan Rangga, entah sejak kapan Rangga suka es krim pikirnya, mungkin efek cuaca panas.
Saat es krim itu sampai di lidahnya Filla merasa rasa ini familiar, ia mentap Rangga, "Ngga, ini Stroberi?" tanya Filla.
"Hmm," Masih sama, Rangga menjawab dengan deheman dan fokus pada ponselnya.
"Aku ke toilet," ucap Filla cepat sambil berlari.
Rangga hanya menggeleng melihat Filla.
"Kebelet amat," ucapnya sambil menyantap es krim stroberi yang nikmat menurutnya dimakan saat panas terik.
Filla berlari cepat menuju wastafel ia berusaha memuntahkan es krim yang tadi ia makan, tapi tak ada yang keluar, ia masuk kedalam toilet dan duduk lemas disana, sejak kecil ia tidak suka dengan buah kecil itu, lebih tepatnya tubuhnya juga tak menerima buah itu masuk.
Ia alergi, sejak kecil ia tak pernah menyentuh buah itu lagi karena memang ia tidak suka.
Filla memegang dadanya yang terasa sesak, "Tenang Filla, nggak akan ada apa-apa, itu cuma sedikit," ucapnya menghibur diri sendiri.
Filla mengkupkan wajahnya dengan kedua tangan, mentralisir rasa panik yang membuat tubuhnya meringat dingin.
"Kamu nggak akan apa-apa," ucapnya lalu keluar dari toilet dan menghampiri Rangga.
"Udah selesai? Ayo cepetan pulang, gue masih banyak kerjaan, untung aja nggak gue tinggalin," ucap Rangga ketus sambil beranjak.
Filla merasakan napasnya sesak dan pandangannya gelap, sampai akhirnya ia tak tahu apa-apa lagi.
******
Filla membuka matanya perlahan, ia tak mengenali ruangan ini, ruangan yang didominasi warna putih, sampai ia melihat tangannya yang di infus, sudah dipastikan ia dirumah sakit, diedarkannya pandangan, sepi tak ada siapa-siapa selain dirinya.
"Lo udah bangun?" tanya Rangga membuyarkan lamunan Filla.
Filla tak menjawab, kepalanya masih sangat pusing. Filla berusaha duduk dikasur dengan dibantu Rangga, "Aku alergi?" tanya Filla saat dirinya sudah duduk.
Rangga mengangguk, "Kenapa nggak bilang sih kalau alergi stroberi? Kan gue nggak akan pesen kalau gue tahu," oceh Rangga.
"Ya aku juga nggak tahu kamu pesennya rasa stroberi," jawab Filla enteng.
"Nggak nyangka gue separah itu, padahal kan cuma makan sesuap," ucap Rangga mengingat Filla hanya memakan sesendok tapi hampir celaka.
__ADS_1
Filla tersenyum, "Biasalah, akut alerginya, apalagi sejak bangun dari koma, tubuhku rasanya berbeda," jawab Filla sekenanya.
"Oiya Dokter bilang lo udah boleh pulang, ayo gue anterin," tawar Rangga.
Filla terdiam sejenak, "Boleh minta tolong lagi?" tanyanya pada Rangga.
Rangga hanya bernapas pasrah dan mengangguk.
Filla tersenyum melihat anggukan Rangga.
"Jangan bawa aku pulang dulu, kemana aja deh, aku nggak mau buat Papa sama Mama khawatir, sejak aku bangun dari koma, mereka selalu waspada sama apapun tentang aku, kalau mereka tahu aku sampai mati karena makan es krim stroberi gawat Ngga," jelas Filla.
Rangga menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Ya kalau diluar lo kenapa-kenapa lagi gimana?" tanya Rangga khawatir dengan keadaan Filla.
"Cie khawatir nih? Katanya benci sama aku," olok Filla sambil tertawa.
"Udah ya Fill, gue lagi nggak mau berdebat, kalau lo pingsan gue juga yang susah, lagian mau kemana?" ucap Rangga kesal dengan tingkah Filla.
"Santai Ngga, aku juga cuma bercanda," jawab Filla sambil mempautkan bibirnya. "Sensi mulu perasaan," celetuk Filla.
"Ya lo, diabikin malah minta jantung," jawab Rangga sambil melipat kedua tangannya didepan dada. "Jadi mau kemana?"
Filla berfikir sejenak, lalu menjentikkan jarinya, "Ke lapangan futsal aja," ucapnya cepat.
Rangga mengerutkan keningnya, "Lapangan futsal?" tanya Rangga heran.
Filla mengangguk cepat, "Iya lapangan futsal," ucap Filla yakin.
Rangga menatap Filla, "Gue nggak pernah kasih tahu siapa-siapa kalau gue sering ke lapangan futsal, jadi lo tahu dari mana?" tanya Rangga dengan alir terangkat.
Filla tersenyum, "Kamu yang kasih tahu," ucap Filla sekenanya.
"Kapan gue kasih tau?" ucap Rangga lalu menatap Filla. "Mimpi?" tanyanya ketika hal itu terlintas dipikirannya.
Filla mengangguk.
"Buset, tu mimpi atau apaan sih? Semua rahasia orang lo tahu," celetuk Rangga. "Besok-besok cari alasan lain, mimpi mulu jadi alasan lo," ucap Rangga kesal.
Filla tertawa melihat sikap Rangga.
__ADS_1
******