
"Ni minum dulu," ucap Filla sambil menyodorkan segelas teh jahe buatannya.
Rangga mengerutkan kening, "Kamu tahu darimana kalau aku sering minum teh jahe kalau lagi sakit?" tanya Rangga.
"Bunda tadi telpon, tiba-tiba nanyain tentang kamu, terus dia bilang kalau musim hujan gini kamu sering demam, bisa pas gitu padahal aku nggak ngasih tahu kalau kamu sakit."
Rangga mengangguk lalu menyesap teh jahe buatan Filla, "Enak, rasanya sama kayak buatan bunda."
"Emang resepnya dari bunda, tapi bener ya kata orang kalau ikatan ibu sama anak kuat banget, sampai tanpa dikasih tahupun bunda seolah tahu kalau kamu lagi sakit."
"Aku yakin kamu juga gitu nanti sama anak-anak kita," ucap Rangga sambil tersenyum.
Wajah Filla seketika memerah, "Apaansih?"
"Kamu emang nggak mau punya anak sama aku?" tanya Rangga, sengaja menjahili Filla.
"Tau ah berisik!" Filla beranjak dari duduknya namun tangannya ditahan oleh Rangga. "Lepas Rangga, aku mau ke dapur."
Rangga menarik tangan Filla membawa Filla untuk ikut berbaring bersamanya.
"Rangga!"
Rangga mencium kening Filla, "Udah gengsinya, aku capek bujuknya, hari ini aja," ucap Rangga dengan mata terpejam.
Filla akhirnya menyerah, membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Rangga. Sampai mereka berdua sama-sama terlelap.
*******
"Beres," Iren merenggangkan tubuhnya.
"Alhamdulillah, akhirnya," ucap Filla sambil duduk dan menyenderkan tubuh pada senderan sofa.
Dalam dua minggu mereka mempersiapkan pembukaan butik, membeli bahan sampai mencari semua kebutuhan untuk kedepannya.
"Besok mulai jam delapan?" tanya Filla.
Iren mengangguk antusias, "Lo tenang aja, gue udah persiapin semuanya dengan mulus, besok kita tinggal fokus sama acara grand opening butik ini."
Filla mengangguk sambil tersenyum, "Gue nggak nyangka banget, bisa buka butik ini sama lo, padahal omongan kita dulu cuma bercandaan aja."
"Emang banyak hal dalam hidup, nggak bisa di tebak, sama kayak lo yang tiba-tiba nikah sama cowok yang pengen lo lupain," ledek Iren sambil menyenggol bahu Filla.
"Kan udah gue ceritain awal mulanya."
Iren mengangguk, "Gue cuma mau ngingetin lo, jangan terlalu maksain mentingin ego, gue lihat Rangga serius sama lo dan lo juga masih punya rasa itu untuk Rangga, jangan nanti lo malah nyesel setelah semuanya berubah."
Filla menatap Iren, "Bijak banget lo," Filla menyenggol bahu Iren.
"Ye, dibilangin, gue udah susah-susah buat serius, eh lonya kek gini," Iren melipat tangan didepan dada dengan wajah sebalnya.
Filla tertawa, Wajah Iren benar-benar lucu sekarang.
"Oiya Fill, besok Caca nggak bisa dateng, dia nggak diizinin suaminya."
"Wajar, Caca kan hamil muda, lagian jauh banget perjalanan Bandung-Jakarta."
__ADS_1
Iren mengangguk, "Iya, biasa bumil, eh lo kapan kasih gue ponakan?"
Filla membulatkan mata, "Gila lo."
Iren tertawa, "Lah bener kan? Abis nikah mah tinggal nunggu momongan, bener dong, gue bakalan jadi aunty-nya?"
"Terserah lo lah Ren, yang ada lo dulu nikah, bikin anak sendiri jangan nungguin dari gue," celetuk Filla.
"Lihat aja, gue punya gebetan baru buat digandeng besok."
Filla memutar bola matanya malas, "Palingan juga bertahan seminggu, abis itu ganti lagi."
"Oh tenang, kali ini berbeda, dia terlalu sempurna kalau cuma buat coba-coba."
"Alah, Minggu kemaren bilangnya juga gitu, sama orang berbeda lagi, terus aja tambahin cowok sempurna lo itu."
"Bilang aja iri, lo cuma dapet musuh hati lo sendiri."
"Resek."
Iren tertawa merasa puas ketika berhasil membuat Filla bungkam.
*********
Filla keluar dari walk in closet dengan mengenakan dress peach kesukaannya, dibiarkan rambutnya tergerai sempurna. Filla menatap dirinya sendiri di cermin, lalu tersenyum.
"Udah cantik," ucap Rangga yang baru keluar dari toilet.
Filla tersenyum, setidaknya mendengar ucapan Filla rasa cemasnya mulai reda.
"Rangga! Ngapain?" tanya Filla berusaha melepaskan diri.
"Kamu terlalu cantik hari ini, kalau bukan karena grand opening, aku nggak bakalan ngizinin kamu pakai dress ini," ucap Rangga.
Filla menggeleng, "Cuma kamu deh kayaknya paling nggak suka aku terlihat cantik, orang itu dimana-mana, seneng kalau istrinya cantik, biar nggak malu dianak jalan."
Rangga tersenyum, "Aku kan beda," Rangga mempererat pelukannya pada tubuh Filla.
"Rangga, udah, kita bisa telat," Filla berusaha melepas tangan Rangga yang melingkar diperutnya.
Rangga mengalah, dirinya melepas pelukannya pada Filla, "Liburannya jadi?" tanya Rangga yang sudah mendudukkan diri di kasur.
"Jadilah, kan kita udah rencanain jauh-jauh hari, lagian Reya, Samuel, Filla dan Jiel udah nginep di hotel."
Rangga mengangguk, "Kita nggak packing?"
"Aku udah siapin beberapa barang dikoper, belum semua sih, tapi dikit lagi," Filla memoles bibirnya dengan lip cream kesukaannya.
Rangga mengangguk, "Sore kita ke mall yuk, aku mau beli beberapa jaket buat aku sama buat kamu juga," ucap Rangga.
Filla hanya mengangguk sambil berjalan menuju rak sepatu miliknya.
*******
Filla dan Rangga berjalan keluar dari mobil, didalam butik sudah ada sahabat-sahabatnya, bahkan dirinya malah keduluan.
__ADS_1
Acara berjalan hampir 3 jam, acara yang tidak terlalu besar namun sangat membanggakan bagi Filla dan Iren.
Setelah acara selesai, Filla dan yang lain duduk di cafe, mengobrol santai, bertukar cerita, tidak bertemu hampir dua bulan membuat banyak sekali bahan obrolan yang mereka bicarakan.
"Akhirnya, lo menetap di Jakarta," ucap Ola antusias.
"Lo udah ngomong itu berapa kali La?"
"Biarin, gue kan seneng, Ngga hebat juga lo bisa bikin Filla memilih tinggal dari pada pergi ke Milan."
Rangga tertawa, "Lo nggak tahu aja gimana ngebujuknya," ucap Rangga membuat Jiel dan Samuel tertawa.
"Percaya gue mah, anak keras kepala ini butuh lo biar kepalanya sedikit lembek."
"Apaansih La?" ucap Filla sebal, membuat yang lain tertawa.
"Bisa dong baju pernikahan gue kalian yang desain," Reya menaikkan kedua alisnya.
Filla, Ola dan Iren saling pandang, "Nikah?" tanya mereka serempak. Lalu menatap Samuel bersamaan.
"Beneran? Kalian mau nikah?" tanya Ola.
Iren mengangguk sambil menunjukkan cincin dijari manisnya.
Filla menutup mulutnya dengan tangan, diikuti Ola dan juga Iren, mereka seperti kembar tiga dengan gerakan yang sama.
"Wah, selamet Bro," ucap Rangga sambil menepuk bahu Samuel.
"Parah sih, akhirnya setelah sekian purnama," ucap Jiel.
Samuel tersenyum, "Biasalah, Reya mah malu-malu kucing aja dulu, makanya bisa nolak gue."
"Ih kepedean," ucap Reya.
"Et, udah, entar nggak jadi lagi," ucap Iren menengahi.
"Udah nentuin tanggal belum nih?" tanya Ola sambil menatap Samuel dan Reya bergantian.
Reya kembali tersenyum lalu mengangguk.
"Kapan-kapan?" tanya Filla dan Ola serentak.
"Rahasia, nanti juga kalian pada tahu."
Walau memasang wajah kecewa, baik Filla dan Ola akhirnya mengangguk, membuat yang lain tertawa.
"Assalamualaikum," ucap seseorang dari luar.
Ola, Iren dan Reya saling pandang saat mendapati Rafael dengan senyuman khasnya mendekat.
"Maaf telat Fill," Rafael memberikan buket bunga pada Filla.
Filla merasakan hawa panas dari tatapan Rangga, namun bagaimana lagi dirinya harus menghargai pemberian dari Rafael yang rela datang dari Bandung.
********
__ADS_1