Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 143


__ADS_3

Rangga membawa Filla duduk disalah satu kursi taman, "Kamu tenang ada aku," ucap Rangga mengelus kepala Filla.


Filla melepas pelukan Rangga, "Maaf Ngga," ucap Filla setelah sadar membasahi kaos Rangga.


Rangga mengangguk, "Kamu tenangin diri dulu."


Filla mengangguk, lalu menyampirkan rambutnya yang berantakan kebelakang telinga.


Rangga menarik dagu Filla pelan, "Kening kamu kenapa?" tanya Rangga khawatir.


Filla meraba keningnya lalu meringgis, "Jatoh," ucap Filla berbohong.


"Kamu tunggu disini," Rangga berlari meninggalkan Filla tanpa menunggu persetujuan.


Filla memegang keningnya yang terasa nyeri, dirinya masih tidak habis pikir dengan sikap Kania.


"Minum," ucap Rangga yang sedikit terengah karena berlari, Rangga mengambil beberapa obat luka untuk Filla. "Sini aku obati."


Filla terdiam tanpa membantah, sekarang wajah mereka sangat dekat membuat Filla menahan napasnya.


"Akan sedikit sakit, tahan ya," Rangga mengobati luka Filla perlahan.


Filla meringis nyeri saat sapuan kapas mengenai lukanya.


"Aku akan pelan-pelan," ucap Rangga sambil meniup luka Filla.


Filla menatap Rangga, masih saja jantungnya berdebar kencang, Rangga memang tidak pernah bisa ia hapus seberapa keras pun dirinya mencoba.


Rangga menempelkan plester di kening Filla, "Udah," ucap Rangga lalu merapikan beberapa obat yang ia beli.


"Makasih Ngga," ucap Filla pelan.


"Hmm," ucap Rangga. "Kamu benaran udah nggak apa-apa?" tanya Rangga.


Filla mengangguk, "Lo bisa tahu gue disana gimana?" tanya Filla, dirinya memang sudah penasaran sejak tadi.


"Nggak penting aku tahu dari mana, kamu tenang aja, Kania nggak akan bisa berbuat seperti ini lagi sama kamu, aku janji," ucap Rangga.


"Gue bisa jaga diri sendiri," ucap Filla sambil menatap kedepan.


"Kalau kamu bisa jaga diri, kamu nggak akan berada disana sambil nangis," ucap Rangga.


Filla diam tak mau menanggapi ucapan Rangga yang memang benar adanya.


"Fill, kurang-kurangi ya juteknya," ucap Rangga lalu mengusap puncak kepala Filla.


Filla terdiam merasakan usapan Rangga, jantungnya benar-benar tak bisa diajak bekerja sama, Filla hanya bisa berharap agar Rangga tidak mendengarnya.

__ADS_1


Filla mengumpulkan keberaniannya melawan perasaannya sendiri, Filla memegang tangan Rangga lalu menurunkannya, "Gue harap lo nggak berbuat lebih," ucap Filla sambil menatap mata Rangga. "Gue nggak berhutang budi sama lo karena kejadian tadi, jadi lo mau apa?" tanya Filla to the point.


Rangga tampak berpikir, "Yaudah, Sabtu ini aku mau jalan-jalan dan minta kamu yang teraktir," ucap Rangga sambil tersenyum.


Filla mengerutkan keningnya, "Itu doang?"


Rangga mengangguk, "Bisa Kan?" tanya Rangga.


Filla akhirnya mengangguk, bukan hal yang sulit juga menurutnya.


*********


Filla menatap bayangannya di cermin, dirinya memakai dress selutut berwarna biru muda dengan rambut yang sengaja ia kuncir setengah dan membiarkan setengahnya tergerai indah.


"Untuk terakhir kali," ucap Filla sambil tersenyum didepan kaca, ia akan melupakan semua yang terjadi dan menghadiahi dirinya sendiri untuk seharian bersama Rangga.


Filla menuruni tangga menuju lantai bawah, "Ma," panggil Filla saat mendapati mama sedang membuat makan malam untuk mereka.


"Mau kemana Kak?" tanya mama.


Filla tersenyum lalu mengambil beberapa masakan mama lalu mencicipinya, "Filla izin keluar ya sama Rangga," ucap Filla.


"Sama Rangga? Kalian baikan?" tanya mama antusias.


"Emang nggak ada yang berantem Ma," ucap Filla sambil meneguk air minum didalam gelasnya. "Papa sama Tita mana?" tanya Filla setelah melihat sekeliling dan tidak mendapati keduanya.


"Pada main game di kamar," jawab mama sambil menyusun piring.


Mama mengangguk, "Jangan lupa makan malam," ucap mama.


Filla mengangguk lalu menyalami tangan mama dengan mencium punggung tangannya, "Filla pamit, nggak apa-apa kan Filla nggak makan dirumah, tapi sumpah Ma, masakan Mama yang paling enak sejagat raya," ucap Filla sambil mencium pipi mama.


Mama tertawa, "Bisa aja kamu Kak, asal jangan lupa makan," ucap mama.


Filla mengangguk, lalu melangkah meninggalkan mama keluar dari rumah. Filla sedikit terkejut saat mendapati Rangga sudah menunggu didepan rumahnya dengan motor merah kesayangannya.


"Udah siap?" tanya Rangga saat Filla berada disampingnya.


Filla mengangguk, "Kenapa nggak panggil aja? Lo udah lama nunggu?" tanya Filla.


Rangga menggeleng, "Baru sampe, yuk," ajak Rangga sambil memberikan helm pada Filla. "Itu aku beli baru, bukan bekas siapapun," ucap Rangga sambil membelokkan motornya.


Entah mengapa mendengar ucapan Rangga, Filla tak bisa menyembunyikan senyumnya.


Filla berusaha mengunci tali helm di dagunya namun dirinya kesusahan.


Rangga tersenyum lalu menarik tangan Filla agar Filla mendekat, Rangga tanpa segan membantu Filla memakai helmnya.

__ADS_1


Filla terdiam menatap Rangga dari jarak dekat seperti sekarang, hal yang selalu ingin ia rasakan dulu, mata mereka sempat bertemu namun Filla dengan cepat mengalihkan pandangannya. Rangga tersenyum.


Filla menaiki motor Rangga dengan memegang bahu Rangga.


"Siap?" tanya Rangga antusias.


Filla mengangguk, Rangga mengendarai motornya keluar dari halaman rumah Filla.


Tidak memakan waktu lama Rangga memarkirkan motornya pada parkiran sebuah restoran.


Filla turun dari motor Rangga dan melepas helmnya, dirinya merapikan helaian rambut yang sedikit berantakan.


"Yuk," ajak Rangga setelah meninggalkan helm pada motor, Rangga menggenggam tangan Filla.


Filla melihat tangannya yang tergenggam, terasa hangat, dirinya tak berniat melepaskan genggaman Rangga sama sekali.


Rangga melangkah diikuti Filla dibelakangnya, mereka memilih duduk disalah satu meja kosong di bagian tengah.


Filla meletakkan tasnya diatas kursi kosong disebelahnya, "Lo mau pesen apa?" tanya Filla sambil melihat buku menu yang tersedia diatas meja.


Rangga mengikuti gerakan Filla, "Pasta aja," ucap Rangga lalu melihat beberapa pilihan minuman pada lembar berikutnya. "Minumnya lemon tea," ucap Rangga lalu meletakkan buku menu kembali pada meja.


Filla mengangguk, dirinya melambaikan tangan pada pelayan, "Pasta 2 sama lemon tea 2," ucap Filla.


"Baik, mohon ditunggu," ucap pelayan muda itu lalu pergi setelah meraih anggukan dan senyum Filla.


"Lo kenapa lihat gue terus? Ada yang aneh?" tanya Filla sambil melihat penampilannya.


Rangga menggeleng lalu tersenyum, "Kamu cantik," ucap Rangga.


Filla sedikit tertegun, "Emang dari dulu kalau itu, lo nya aja telat nyadar."


Rangga tertawa, menertawai dirinya sendiri didalam sana, "Ya, aku nggak bisa bantah ucapan kamu," ucap Rangga.


"Permisi," ucap seorang pelayan sambil meletakkan pesanan mereka. "Selamat menikmati," ucap pelayan tersebut lalu pergi.


Rangga menyantap pastanya sambil memperhatikan pergerakan Filla, sesekali dirinya tersenyum menatap Filla yang tidak menyadari tatapannya.


"Stop," ucap Rangga saat Filla hampir menyuap pasta kedalam mulutnya.


Filla menatap Rangga heran, "Kenapa?"


"Kamu alergi udang," ucap Rangga sambil menunjuk beberapa udang yang tertutup.


Filla meletakkan kembali sendoknya lalu melihat pastanya, dan benar saja ada beberapa udang dibawah sana, "Kok bisa? Perasaan aku pesen tanpa udang," ucap Filla pada dirinya sendiri.


Rangga melambaikan tangan, membuat seorang pelayan mendekati mereka.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu Mas?" tanya pelayan pria saat berdiri disamping mereka.


*******


__ADS_2