
Bunyi bel rumah terdengar, Filla dengan dress peach selututnya berjalan membukakan pintu.
"Nggak telat kan?" tanya bunda yang datang sekeluarga termasuk adek-adek panti.
Filla tersenyum, "Aman Bun," Filla menyalami bunda dan ayah bergantian lalu mempersilahkan mereka langsung keruang keluarga dimana Tita sudah siap dengan gaun cream-nya.
Saat semua masuk, hanya tersisa Rangga yang masih betah berdiri didepan Filla.
Filla menatap Rangga, lalu mengangkat kedua alisnya, "Masuk Ngga," ucap Filla.
Rangga akhirnya berjalan melewati Filla tanpa kata seperti biasanya, dan Filla mungkin sudah kebal dengan perlakuan Rangga terhadapnya.
Mobil hitam milik Vino terparkir didepan rumah Filla, Filla melambaikan tangan sambil tersenyum saat Vino terlihat dikaca jendela mobil yang terbuka.
Vino memarkirkan mobilnya, lalu keluar menghampiri Filla, "Udah mulai? Sorry telat, tadi ada yang harus Kakak urus dikantor," ucap Vino sambil mengusap keringat di dahinya.
Filla tersenyum, "Belum mulai kok Kak, Bunda dan yang lain juga baru nyampe," ucap Filla.
Vino menunjukkan kado yang lumayan besar yang ia bawa, "Buat Tita, dia suka nggak ya sama bungkusnya?" Tanya Vino, mengingat betapa cerewetnya Tita bahkan dengan pembungkus kado yang orang berikan padanya.
Filla tertawa, "Tenang Kak, Tita suka kok sama Frozen," ucap Filla setelah melihat kadoo yang dibawa Vino terbungkus rapi dengan kertas karakter Frozen.
"Syukurlah," ucap Vino.
Mereka masuk kedalam rumah, saat sampai diruang keluarga tentu saja suasana ramai tercipta, Tita begitu senang mendapat banyak kado dari anak panti dan yang lain, termasuk papa dan mama.
Vino menyalami dan menyapa para orangtua dengan sopan dan senyum khasnya.
"Akhirnya mantuku dateng," ucap mama antusias.
"Mama," tegur Filla sambil menatap mama.
Rangga mengerutkan kedua aliasnya mendengar ucapan mama.
"Apasih Kak? Vinonya aja aman-aman aja, Iya kan Vin?" tanya mama mencari pembelaan.
Vino hanya tersenyum menanggapi celotehan mama.
"Udah ada calon mantu nih?" ledek bunda sambil menyenggol bahu mama.
"Harus dong," ucap mama cepat, membuat bunda tertawa.
"Kak Ino," Teriak Tita lalu berlari dan memeluk lutut Vino.
Vino tertawa lalu berlutut menyamakan tingginya dengan Tita, "Nih sesuai pesanan," ucap Vino membuat yang lain tertawa.
"Bukan ozen kan? Tita suka, tapi dah banyak," ucap Tita ketika melihat bungkus kado yang dibawa Vino.
__ADS_1
"Tenang, cuma bungkus," ucap Vino sambil menaikkan alis.
Tita tersenyum senang sambil memeluk kadonya, "Shopia," tebak Tita dengan mata berbinar.
"Kamu kan bukan mesen Shopia Ta sama Kak Vino, kan kamu pesen tayo," ucap mama.
Tita mempautkan bibirnya, "Maunya Shopia," ucap Tita lemah.
Vino tersenyum sambil mengusap puncak kepala Tita, "Tenang, Kakak udah tahu mau kamu," ucap Vino.
Mata Tita kembali berbinar, "Yey, Shopia," teriak Tita saat mengeluarkan boneka Shopia dari kotak kado, membuat yang lain tertawa. "Acih Kak," ucap Tita sambil memeluk Vino.
"Seneng?" tanya Filla yang langsung meraih anggukan antusias Tita.
"Yasudah yuk kita makan," ajak papa yang beranjak dari duduknya diikuti yang lain.
Meja makan tentu saja penuh, Filla sangat suka jika mereka mengadakan acara rasanya rumah terasa ramai.
"Papa dengar di Universitas kalian ada pendaftaran program beasiswa dalam dan luar negeri Kak?" tanya papa setelah menelan makanannya.
Filla mengangguk.
"Iya, Rangga direkomendasikan ketua prodi buat ikut," ucap bunda menambahi. "Kakak, juga ikutan kan?" tanya bunda.
Filla mengangguk lalu berusaha meneguk makanannya, "Iya, aku juga direkomendasikan dari prodi sama kayak Rangga," ucap Filla lalu tanpa sengaja bertemu tatap dengan Rangga.
"Oya Kak?" tanya papa terkejut.
"Itu kamu harus bikin esay kan Fill?" tanya Vino menanggapi.
Filla mengangguk, "Akan ada penilaian dari IPK terakhir, tes tertulis, esay dan juga wawancara," jawab Filla lalu memakan makanannya.
"Program yang bagus," ucap papa.
"Iya Pa, waktu aku di S1 kemaren juga gitu, dan cuma beberapa orang yang kepilih jadi rekomendasi, Filla sama Rangga hebat," ucap Vino.
Filla tertawa melihat tingkah Vino yang aneh bin ajaib. Sedangkan Rangga menatap datar pada mereka berdua, lalu menyesap air putih dalam gelas disampingnya.
"Rangga ambil kampus mana?" tanya papa sambil memotong steak-nya.
Rangga mendonggak, "ITB Paman," ucap Rangga.
Papa mengangguk, "Arsitektur?" tanya papa yang meraih anggukan Rangga. "Semoga keterima ya Ngga, yang penting doa, siapa tahu jalan kamu," ucap papa menyemangati.
"Aamiin," ucap bunda lalu diikuti yang lain, bunda menepuk bahu Rangga pelan, lalu menatap Filla. "Kalau Kakak? Bandung apa Jakarta?" tanya bunda.
Filla mendonggak menatap bunda, lalu tersenyum, "Polytechnic University Of Milan," ucap Filla.
__ADS_1
"Maksud Kakak mau kuliah diluar negeri?" tanya mama sedikit terkejut.
Rangga juga meletakkan sendoknya diatas piring setelah mendengar pernyataan Filla.
Filla mengangguk yakin.
Vino menatap Filla yang ada disampingnya, belum ada omongan dari Filla tentang ini, tentu saja Vino sedikit terkejut sama seperti yang lain.
"Kakak kan tahu disana nggak ada keluarga," ucap mama.
Filla mengangguk, "Bukan berarti nggak ada keluarga disana jadi alasan buat menyerah sama yang aku mau kan Ma?" tanya Filla balik.
Mama diam, "Kakak serius?" tanya mama meyakinkan.
Filla mengangguk, "Serius, tapi Filla cuma mau coba aja, belum tentu juga dapet," ucap Filla.
"Kalau kamu mau, Papa dukung Kak, walaupun bukan beasiswa Papa juga insyaallah sanggup," ucap papa yakin.
Filla tersenyum, setidaknya ada satu orang yang mendukungnya.
"Walau berat, Mama juga akan dukung," ucap mama.
"Tapi kalau nggak dapet beasiswanya Filla tetep kuliah di Bandung atau nggak Jakarta kok, cuma mau coba aja," ucap Filla menenangkan.
"Semangat Fill, kita nggak pernah tahu kan?" ucap Vino sambil mengusap bahu Filla, membuat Rangga menatap lekat tangan Vino, entah apa yang ia pikirkan, yang jelas ia tidak berniat menyentuh makanannya lagi.
"Bakalan sepi," ucap bunda.
Filla tertawa, "Nggaklah Bun," ucap Filla.
******
"Sejak kapan berpikir buat kuliah di Milan?" ucap Vino.
Sekarang mereka duduk di ayunan taman samping rumah, papa memang mendesain samping rumah mereka untuk menjadi taman kecil dengan beberapa pohon agar terasa asri.
Filla terlihat berpikir mendapati pertanyaan dari Vino, "Aku pengen belajar dengan ilmu yang lebih luas, pengen tahu budaya disana, dan Milan cukup terkenal dengan lulusan Fashion Designer terbaik," ucap Filla.
Vino mengangguk, "Kamu hebat, tahu apa yang kamu pengenin dan butuhin," ucap Vino sambil mengusap puncak kepala Filla.
Filla tersenyum lalu menyenderkan tubuhnya diayunan, "Kakak yang hebat, aku kadang suka iri sama pencapaian Kakak sampai hari ini, Kakak melakukan banyak hal dan buat aku jadi kagum," ucap Filla dengan mata berbinar.
"Kamu emang hebat ngomong," ucap Vino sambil mencubit pipi Filla gemas.
"Kakak, merah nanti pipiku," Filla menampar lengan Vino, alhasil mereka sibuk bercanda.
Sementara Rangga yang duduk disofa ruang keluarga, menatap pada jendela transparan yang memperlihatkan taman samping, Rangga fokus pada Vino dan Filla yang sibuk bercengkrama.
__ADS_1
Tanpa ia sendiripun sadari, tangannya mengepal lalu menepuk meja.
*********