
Malam di Bangka masih nyaman seperti kemarin, namun tidak untuk Rangga, ucapan Filla sore tadi begitu membekas untuknya, dirinya sekarang menatap layar ponsel dengan tatapan kosong, tidak punya niat membuka apapun di ponselnya.
Rasa penat sehabis piknik di pantai dari pagi sampai jam 4 tadi tidak membuat Rangga terpengaruh.
Rangga melempar ponselnya keatas kasur lalu, berjalan keluar dari kamar, dirinya berdiri dipegangan tangga dan melihat kelantai bawah, seperti biasa para orangtua bercengkrama sedangkan Tita dan Aza bermain dilantai, entah apa yang mereka mainkan.
CEKLEK..
Rangga menoleh kebelakang, dan benar tebakannya, Filla berdiri di ambang pintu, mata mereka sempat bertemu tatap, namun Filla dengan cepat mengalihkan pandangannya.
Filla tanpa berucap menuruni tangga menuju lantai bawah. Sedangkan Rangga masih menatap pergerakannya.
"Sini Kak," ucap bunda yang langsung merangkul Filla dalam duduknya.
Rangga tak berniat turun, drinya hanya melihat kebersamaan keluarga di bawah.
"Rangga mana?" tanya bunda, Rangga yang mendengarnya langsung memundurkan tubuhnya agar tidak terlihat, entah apa yang sedang ia lakukan.
Filla menoleh kelantai atas sambil menunjuk, lalu mengerutkan kening karena tidak mendapati Rangga, "Tadi disana Bun, Filla pikir mau turun," ucap Filla.
"Biarin, mungkin Rangga masih capek, kasian juga, besok kita harus bangun lebih pagi," ucap papa sambil membuka kacang rebus kesukaannya.
"Kalian seriusan pulang besok?" tanya tente Lani dengan wajah lesunya.
"Iya lah Lan, masak bohongan kan udah beli tiket," jawab mama.
"Sepi lagi, anak-anak pada sibuk jarang dirumah, ada kalian rasanya beberapa hari ini rame banget," ucap tante Lani.
Bunda tersenyum, "Nanti kalau ada umur, kita kumpul-kumpul lagi," ucap bunda.
Tante Lani tersenyum lalu mengangguk, "Nanti kita juga ke Bandung kalau gitu, ya kan Pa?" ucap tante Lani meminta persetujuan paman Dani.
Paman Dani mengangguk.
"Harus itu," ucap Mama.
**********
Langit masih terlihat temaram saat Filla dan yang lain keluar dari rumah paman Dani sambil menyeret koper masing-masing, jarak antara rumah paman Dani dan Bandara terhitung cukup membutuhkan banyak waktu.
Filla dan Rangga duduk di kursi belakang, mereka berdua memang berpisah dengan para orangtua, mereka berdua akan diantar oleh Nindy sedangkan yang lain diantar oleh paman Dani dan tante Lina sendiri.
"Yah, kalian udah pada pulang aja," ucap Nindy saat memasuki mobil.
Filla tersenyum, "Kalau Kakak punya waktu main juga ke Bandung, aku bakalan anter Kakak kemana aja," ucap Filla antusias.
__ADS_1
Nindy tertawa, "Boleh tuh, jangan lupa nanti," ucap Nindy sambil menjalankan mobilnya mengikuti mobil di depan.
"Oiya Kak, salam sama Kak Agra," ucap Rangga.
"Siap, dia juga titip salam tadi katanya sorry nggak bisa nganterin soalnya dia ada kerjaan."
Filla dan Rangga tersenyum menanggapi ucapan Nindy.
Ponsel Filla berdering, Filla sudah tahu pasti siapa yang menelponnya, Filla meronggoh ponselnya didalam tas, dan benar layar ponselnya menampilkan nama Vino.
Mungkin dapat Filla katakan itu adalah panggilan ke 30 dari Vino sejak kemarin.
Filla menghela napas. Giliran dicuekin dia yang nelpon terus, kemaren ditelpon bilang sibuk, batin Filla.
Filla mematikan ponselnya lalu memasukkan kembali kedalam tas, ia sedikit kesal dengan sikap Vino, berbicara pada Vino sekarang hanya akan membuatnya emosi.
*******
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka sampai di bandara.
"Hati-hati, nanti main lagi kesini," ucap tante Lina.
"Makasih loh Lin, udah mau direpotin beberapa hati ini," ucap mama sambil cepika-cepiki dengan tante Lina.
Tante Lina tersenyum, "Nggak ada yang ngerepotin, kita malah seneng, yakan Pa, Kak?" ucap tante Lina yang diangguki paman Dani dan Nindy.
"Sama-sama, nanti aku yang main ke Bandung," ucap Nindy sambil tersenyum.
"Harus, ditunggu," ucap Rangga menambahi.
Filla hanya mengangguk sambil tersenyum, jawabannya sudah diwakilkan oleh Rangga.
"Kami masuk dulu, makasih Dan," ucap ayah sambil memeluk paman Dani, mereka sudah seperti keluarga tentu saja pertemuan seperti ini sangat berkesan.
"Main nanti ke Bandung," ucap papa yang juga memeluk paman Dani setelah ayah.
Setelah berpamitan mereka akhirnya masuk kedalam ruang tunggu dalam bandara.
Filla menyempatkan diri menguncir rambutnya saat mereka duduk dikursi ruang tunggu, kuncir rambutnya terlepas membuat Filla melihat sekeliling lantai sambil memegang rambutnya.
"Nih," ucap Rangga sambil memberikan kuncir rambut kepada Filla.
Filla menoleh pada Rangga lalu mengambil kuncirnya, "Makasih," ucap Filla lalu menyelesaikan kuncirannya.
Rangga berjalan mendekati papa dan ayah lalu duduk disana, Filla hanya menatap Rangga yang duduk jauh darinya.
__ADS_1
"Kakak masih musuhan sama Rangga?" bisik bunda yang duduk disebelah Filla.
Filla menggeleng lalu tersenyum, "Kita berdua nggak musuhan kok Bun," ucap Filla, dirinya tidak berbohong karena diantara mereka berdua memang tidak saling membenci.
Bunda memegang tangan Filla, "Rangga memang suka ngeselin Kak, cuma Bunda berani jamin Rangga anak baik," ucap bunda sambil tersenyum.
Filla mengangguk, andai bunda tahu, permasalahan besarnya bukan karena Rangga anak baik atau bukan, melainkan ada pada hatinya yang tidak bisa dikendalikan.
Panggilan untuk mereka segera masuk kedalam pesawat membuat Filla dan yang lain berdiri mengantri.
Rangga berada tepat dibelakang Filla, dorongan dari belakang membuat tubuh Rangga tidak memiliki jarak dengan Filla.
Filla memejamkan matanya saat aroma mint pada Rangga tercium, aroma kesukaannya setelah aroma milik Tita.
Filla melipat tangannya didepan dada, menetralkan detak jantung yang seharusnya tidak berdetak pada orang yang salah.
Seorang pria disebelah Filla membawa kotak yang dipikul dipundaknya, kadang Filla tak habis pikir pada mereka yang rela memikul kotak seperti itu padahal ada bagasi yang bisa dimanfaatkan.
"Woh," ucap pria disebelah Filla, pria tersebut terdorong kesamping membuat kotak dipundaknya bersiap mengenai Filla.
Filla terdiam saat tubuhnya dilindungi oleh Rangga, alhasil kotak tersebut menimpa tekuk Rangga.
"Aw," ucap Rangga.
Filla bisa merasakan deru napas Rangga dihadapannya, mereka begitu dekat sampai Filla lupa caranya bernapas.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Rangga tetap pada posisi yang sama.
Filla mengangguk.
Rangga melepas pelukannya pada Filla.
"Maaf mas, tadi saya ke dorong," ucap pria pemilik kotak tersebut.
"Mas, lain kali hati-hati, bahaya kalau kena orang, mas bisa jinjing aja dari pada dipikul kayak tadi, atau bisa pake bagasi," ucap Rangga sopan.
"Iya Mas, sekali lagi maaf," ucap pria tersebut sambil menunduk.
Rangga tersenyum, "Ya," ucap Rangga lalu kembali pada barisannya dibelakang Filla.
Rangga memegang tekuknya.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Filla sambil menoleh kebelakang.
Rangga mengangguk lalu tersenyum, "Aman," ucap Rangga.
__ADS_1
Filla mengangguk lalu kembali menghadap kedepan, tentu ada rasa tidak enak pada Rangga.
********